Benyamin Lakitan
Follow Benyamin Lakitan on WordPress.com

Top 5 Posts

Slide 64: Prasyarat Memberhasilkan Pengabdian


Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh sivitas akademika belum memberikan dampak yang signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat. Mungkin ini juga disebabkan karena secara institusional kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan unsur tridharma perguruan tinggi yang dianggap kurang penting. Tercermin dari kredit poin yang ‘asal-ada’ untuk promosi jabatan fungsional akademik dan alokasi anggaran yang minimal untuk kegiatan ini. Walaupun secara tegas dan jelas bahwa konstitusi telah mengamanahkan bahwa pembangunan iptek (termasuk yang dilakukan oleh perguruan tinggi) adalah untuk meningkatkan kesejahteraan umat dan pemajuan peradaban bangsa.

Secara substansial juga ada persoalan, kebanyakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh sivitas akademika lebih merupakan upaya untuk berbagi ilmu dan pengenalan teknologi yang diketahui oleh komunitas akademik tersebut, bukan apa yang diharapkan oleh masyarakat, serta sangat jarang dalam pemilihan iptek yang akan dibagi dan diperkenalkan tersebut mempertimbangkan aspek kapasitas adopsi masyarakat, keuntungannya bagi masyarakat, dan aspek preferensi dan kebiasaan masyarakat. Akibatnya, banyak kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang ‘berlalu-tanpa-kesan’

Slide bahan diskusi ini bisa diunduh disini:20170331 Prasyarat Memberhasilkan Pengabdian

Pertanian Berbasis Sumberdaya & Kearifan Lokal 07 – Pasar Terapung


Kearifan lokal tidak hanya terkait dengan suatu produk fisik, seperti rakit pembibitan padi. Di Kalimantan Selatan, ada pasar terapung, dimana masyarakat kawasan rawa lebak berkumpul di Sungai Martapura, di Desa Lok Baintan untuk menjual hasil-hasil pertaniannya dan membeli produk lainnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau sarana produksi pertanian. Masyarakat datang dari berbagai penjuru dalam kawasan lebak tersebut, dimana prasarana transportasi darat pada mulanya belum tersedia. Walaupun sekarang sudah mulai terbangun jalan akses dalam kawasan ini, namun sampai saat ini kegiatan pasar terapung ini masih tetap hidup dalam masyarakat kawasan rawa lebak ini. Malah kegiatan perdagangan tardisional yang unik ini sekarang menjadi salah satu atraksi wisata andalan Provinsi Kalimantan Selatan.

Bahan untuk kuliah ke tujuh ini bisa diunduh disini: pertanian-berbasis-sumberdaya-kearifan-lokal-07

Pertanian Berbasis Sumberdaya & Kearifan Lokal 06 – Budidaya Sayuran Terapung


Kearifan lokal punya paling tidak tiga keunggulan yang sudah teruji, yakni: (1) merupakan solusi bagi realitas persoalan yang dihadapi masyarakat; (2) masyarakat mampu untuk mengaplikasikannya; dan (3) akrab lingkungan karena sudah terbukti dapat diimplementasikan secara berkelanjutan turun-temurun. Berdasarkan keunggulan-keunggulan tersebut, kearifan lokal bisa menjadi inspirasi atau referensi dalam mengembangkan teknologi yang relevan dengan realitas kebutuhan atau persoalan masyarakat. Teknologi dapat dirancang agar kinerja kearifan dapat ditingkatkan, misalnya menjadi lebih produktif, lebih efisien, atau digunakan untuk kepentingan yang lebih beragam.

Pembibitan padi secara terapung menggunakan rakit rumput rawa (berondong) telah menjadi inspirasi bagi saya dibantu oleh beberapa mahasiswa untuk mengembangkan sistem budidaya terapung untuk tanaman sayuran. Karena umur tanaman sayuran lebih lama dibandingkan bibit padi, maka diperlukan bahan yang lebih tahan lama dibandingkan biomaterial rumput berondong yang hanya bertahan sekitar 1 bulan. Pilihan jatuh pada pemanfaatan daur ulang botol plastik kemasan air minum yang dikumpulkan dari sampah padat perkotaan, atau bisa beli dari pemulung dengan harga yang super murah. Botol bekas ini diikat dan ‘dibalut’ dengan anyaman kawat nyamuk sehingga sulit untuk tercerai-berai. Agar bentuk rakit menjadi lebih kokoh digunakan rangka dari pipa PVC. Rakit yang dibuat dengan menggunakan 69 botol plasti bekas berukuran 1,5 liter mampu menahan beban sekitar 120 kg. Dengan demikian rakit bisa menahan beban 24 polibeg yang telah diisi media tanam seberat 5 kg, 15 polibeg dengan berat media 8 kg, atau 12 polibeg dengan berat media 10 kg.

Uji coba kinerja rakit sudah dilakukan untuk budidaya cabai terapung dan telah memberikan hasil yang memuaskan. Berbagai aspek teknis yang lebih rinci akan diberikan pada kuliah yang ke enam ini. Bahan materi kuliah bisa diunduh disini: pertanian-berbasis-sumberdaya-kearifan-lokal-06

Pertanian Berbasis Sumberdaya & Kearifan Lokal 05 – Pembibitan Padi Terapung


Salah satu contoh kearifan lokal dalam budidaya pertanian di lahan rawa lebak adalah pengunaan rakit untuk pembibitan padi. Pembibitan padi secara terapung ini menggunakan rakit yang dibuat dari rumput ‘berondong’ (nama lokal untuk daerah Pemulutan, Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Rumput ini dapat mengapung di permukaan air karena pada bagian pangkal daunnya yang tebal terbentuk rongga-rongga udara. Bahan biomaterial pembuat rakit tersedia secara lokal, karena tumbuh dengan subur pada ekosistem rawa lebak. Media tanam untuk pembibitan padi ini menggunakan tumbuhan air yang juga banyak tumbuh liar di dalam air rawa lebak setempat. Petani lokal menyebut tumbuhan air ini sebagai “reamun”. Biomassa tumbuhan reamun ini mudah terdekomposisi, menyerap air, sehingga media dari bahan alami ini selalu dalam keadaan lembab jika bersentuhan langsung dengan permukaan air. Rumput berondong dan tumbuhan reamun ini cepat membusuk, sehingga rakit hanya digunakan dalam waktu kurang dari satu bulan. Bibit padi sudah dipindah tanam pada umum 2-3 minggu. Dengan demikian maka rumput berondong dan reamun yang terdekomposisi dalam waktu 1 bulan merupakan suatu keuntungan, karena setelah bibit dipindah tanam, maka rakit pembibitan juga dapat segera dibenamkan ke dalam tanah sebagai sumber bahan organik.

Bahan kuliah kelima ini bisa diunduh disini: pertanian-berbasis-sumberdaya-kearifan-lokal-05

Pertanian Berbasis Sumberdaya & Kearifan Lokal 04 – Kearifan Lokal


Kearifan lokal merupakan suatu aktivitas yang dipraktekkan oleh suatu kelompok masyarakat atau produk yang dihasilkan dan digunakan oleh suatu masyarakat yang telah berlangsung secara turun-temurun karena memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang bersangkutan. Kearifan lokal banyak terkait dengan pertanian, tetapi tidak terbatas hanya pada bidang pertanian. Bisa terkait dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat. Kearifan lokal umumnya bersifat spesifik lokasi namun dapat juga berkembang di lokasi lain yang terpisah secara geografis tetapi mempunyai kemiripan bentang alam dan budaya masyarakatnya. Kearifan lokal umumnya sulit ditelusuri tentang siapa yang paling awal mempraktekkannya atau menciptakan produknya.

Bahan kuliah keempat ini bisa diunduh disini: pertanian-berbasis-sumberdaya-kearifan-lokal-04

Pertanian Berbasis Sumberdaya & Kearifan Lokal 03 – Sumberdaya Pertanian Lokal


Sumberdaya lokal bermakna sumberdaya yang berada di lokasi setempat dan mudah untuk didapatkan, diakses, atau dikelola. Sumberdaya pertanian dapat berupa sumberdaya alam (SDA), manusia (SDM), ekonomi, dan teknologi. Sumberdaya alam yang paling penting untuk pertanian adalah bentang lahan atau lansekap yang potensial untuk dikelola menjadi lahan pertanian yang produktif. Sumberdaya manusia dalam konteks pertanian adalah tenaga kerja yang tersedia atau dibutuhkan untuk berbagai kegiatan/aktivitas pertanian, mulai dari kegiatan penyiapan lahan; proses budidaya tanaman, ternak, atau ikan; dan kegiatan-kegiatan pendukung lainnya. Sumberdaya ekonomi yang dimaksud adalah kemampuan finansial pelaku pertanian dan/atau akses untuk mendapatkan modal usaha tani. Sumberdaya teknologi yang dimaksud adalah teknologi yang dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas, mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, dan/atau untuk meningkatkan efisiensi proses produksi pertanian.

Substansi yang dicakup pada kuliah ketiga ini secara lengkap dapat diunduh disini: pertanian-berbasis-sumberdaya-kearifan-lokal-03

Pertanian Berbasis Sumberdaya & Kearifan Lokal 02 – Urgensi, Legalitas, Konsepsi


Pada kuliah pertama telah disampaikan tata tertib perkuliahan, ulasan ringkas tapi menyeluruh (overview) tentang substansi yang akan disampaikan, dan tata cara evaluasi hasil pembelajaran mata kulian ini.

Pada kuliah yang kedua ini disampaikan tentang urgensi, aspek legalitas, dan konsepsi dasar tentang pertanian yang berbasis sumberdaya dan kearifan lokal. Sejalan dengan berjalannya waktu, semakin menguatkan kekhawatiran terkait dengan kecenderungan yang tengah berlangsung saat ini. Teknologi pertanian semakin maju tetapi kemajuan tersebut tidak mempengaruhi tingkat kesejahteraan petani, sebagai aktor utama pembangunan pertanian, termasuk sebagai pelaku utama produksi pangan. Perkembangan teknologi dirasakan semakin menjauh dari realitas kebutuhan dan daya jangkau petani atau dengan kata lain teknologi yang dikembangkan sering tidak relevan dengan kebutuhan petani dan tidak sepadan dengan kapasitas adopsi petani. Akibatnya teknologi tidak mampu digunakan petani.

Harusnya teknologi dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, kapasitas adospi, dan preferensi petani, serta berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Upaya mewujudkan teknologi yang relevan bagi petani, akan lebih realistis jika teknologi dikembangkan berbasis pada kondisi sumberdaya lokal dan dikembangkan lanjut dari kearifan lokal yang sudah sangat dikenali petani.

Secara lengkap bahan kuliah ini bisa diunduh disini pertanian-berbasis-sumberdaya-kearifan-lokal-02

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 5.429 pengikut lainnya

Calendar

April 2017
S S R K J S M
« Mar    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Visitor

free counters

Blog Stats

  • 196,796 hits
%d blogger menyukai ini: