Benyamin Lakitan
Follow Benyamin Lakitan on WordPress.com

Top 5 Posts

Slide 63: Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Program Studi Agroekoteknologi


Program studi agroekoteknologi atau agroteknologi merupakan program studi di lingkungan fakultas pertanian yang ‘diciptakan’ sebagai respon terhadap semakin merosotnya minat lulusan SMA yang berminat untuk mendaftar pada program-program studi konvensional yang ditawarkan oleh fakultas-fakultas pertanian di Indonesia setelah memasuki era abad ke 21. Namun pada tahun 2015 mulai banyak PTN yang ‘menghidupkan kembali’ program-program studi yang sebelumnya menjadi pilar penopang Program Studi Agroekoteknologi, yakni Program Studi Agronomi, Program Studi Ilmu Tanah, dan Program Studi Hama dan Penyakit Tumbuhan. Dengan adanya dinamika ini dan keharusan untuk minimal 60 persen matakuliah harus berbeda antara program studi yang ada dalam institusi yang sama, maka kurikulum S1 Program Studi Agroekoteknologi perlu ditata ulang.

Berikut ini bahan lokakarya dalam kaitan dengan revisi kurukulum tersebut. Bahan presentasi dapat diunduh disini: Lokakarya Revisi Kurikulum AET 2016

Paper 33: Menelusuri Realitas Kebutuhan Petani Menggunakan Grounded Theory dan Pengembangan Teknologi dengan Pendekatan Transdisciplinary


Satu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah banyaknya hasil riset dan pengembangan teknologi di Indonesia yang tidak atau belum dimanfaatkan oleh para pihak yang menjadi pengguna sasarannya, termasuk di bidang pertanian. Hal ini sering disebabkan karena substansinya tidak relevan dengan realita kebutuhan petani; atau secara substansial sudah relevan tetapi terlalu mahal investasi awal atau biaya operasional untuk penggunaannya; atau penggunaan teknologi tersebut tidak memberikan keuntungan lebih baik dibandingkan dengan praktek yang selama ini telah digunakan petani; atau secara teknis kalah andal dibandingkan dengan teknologi serupa yang sudah ada di pasar. Oleh sebab itu, selayaknya sebelum setiap riset direncanakan, perlu terlebih dahulu dipahami secara tepat dan komprehensif tentang realita kebutuhan dan kapasitas adopsi petani, analisis keekonomiannya, serta pembandingan keandalannya secara objektif dengan teknologi tersedia yang potensial menjadi kompetitornya. Upaya menelusuri realita kebutuhan petani dapat dilakukan dengan berpedoman pada prinsip grounded theory. Selanjutnya, berbasis pada pemahaman yang tepat dan komprehensif tentang kebutuhan ini, kemudian dikembangkan teknologi berbasis kebutuhan (demand-driven) melalui pendekatan transdisciplinary dengan mengintegrasikan perspektif ekologi, ekonomi, dan sosiokultural sebagai tiga pilar utama untuk mewujudkan keberlanjutan (sustainability) sistem produksi pertanian. Teknologi yang dihasilkan ditargetkan memenuhi kriteria: substantially-relevant, economically-profitable, dan socially-inclusive.

Secara lengkap makalahnya bisa dibaca atau diunduh disini: Menelusuri Realita Kebutuhan Petani Menggunakan Grounded Theory dan Transdisiplin

Matrikulasi ITN 02: Pertanian Produktif, Ekologis, dan Menyejahterakan


Persoalan pertanian saat ini bukanlah hanya terkait dengan upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman atau produksi nasional semata, tetapi harus juga secara komprehensif dan terintegrasi dengan upaya melestarikan fungsi ekosistem agar usaya produksi pertanian ini dapat berkelanjutan. Selanjutnya, usaha pertanian yang produktif dan akrab-ekologi belum tentu dapat dijamin keberlanjutannya, jika tidak mampu sekaligus membuka peluang bagi semua pihak yang potensial untuk dapat berpartisipasi langsung dan aktif.

Ibaratkan tungku dengan tiga kaki, pertanian berkelanjutan harus secara harmonis dan proporsional didukung oleh tiga pilar iptek, yakni teknologi yang secara substansial relevan, secara finansial terjangkau, dan secara sosial-politik bersifat inklusif.

Bahan matrikulasi tentang pertanian yang produktif, ekologis, dan menyejahterakan petani dapat dilihat, dibaca, atau diunduh disini: 20160114 Pertanian produktif, ekologis, dan menyejahterakan

Matrikulasi ITN 01: Soil-Water-Crop-Atmosphere Continuum


Fungsi tanah dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman, serta kegiatan produksi komoditas pertanian, telah banyak diajarkan di berbagai institusi pendidikan tinggi. Demikian juga dengan fungsi air dan unsur-unsur iklim. Tetapi umumnya pembelajaran dilakukan secara tercerai dan tidak dilihat sebagai sebuah sistem yang saling terkait, apalagi untuk memberikan penekanan tentang keterkaitan antara tanah, air, dan iklim yang mempengaruhi tumbuh kembang tanaman. Aspek keterkaitan ini sebetulnya merupakan pemahaman yang perlu diberikan sejak awal, terutama pada jenjang pendidikan magister, apalagi program doktor.

Bahan matrikulasi tentang keterkaitan tanah-air-tanaman-iklim dapat dilihat disini: 20160112 Soil-Water-Crop-Atmosphere Continuum

Pengantar Ilmu Pertanian 13: Pertanian Berkelanjutan


Pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) adalah sistem budidaya pertanian yang mengupayakan hasil yang optimal diimbangi dengan upaya melestarikan fungsi ekologis lingkungan dan peningkatan kesejahteraan petani pelakunya. Pertanian berkelanjutan menjaga keserasian antara tujuan ekonomi (produktivitas) dengan kesadaran ekologis (sustainabilitas) dan kesempatan bagi petani untuk berperan aktif (inklusivitas) sehingga dapat meningkatkan kesejahteraannya secara berkelanjutan. Pertanian berkelanjutan adalah pertanian dengan pendekatan ekosistem.

Keuntungan pertanian berkelanjutan antara lain: [1] Preservasi lingkungan, karena penggunaan agrokimia (pestisida, pupuk anorganik) ditekan seminimal mungkin, tidak menggunakan benih GMO, dan praktek pengelolaan tanah, air, dan sumberdaya alam lainnya yang dapat menyebabkan degradasi kualitas lingkungan; [2] Kesehatan masyarakat, karena residu agrokimia sangat minimal, produk yang dihasilkan aman dikonsumsi, proses budidaya aman bagi petani, dan tidak mencemari lingkungan perairan. Untuk ternak, antibiotik dan pemacu pertumbuhan yang digunakan juga tidak mengandung unsur atau senyawa yang beresiko bagi kesehatan manusia; [3] Kesejahteraan ternak (animal welfare), karena ternak diperlakukan dengan baik (care and respect). Kesehatan dan kenyamanan ternak diperhatikan. Ternak dapat bergerak bebas dan berprilaku alami (instinctive) di alam terbuka serta mengkonsumsi pakan sehat dan alami sehingga ternak tidak mengalami stres; dan [4] Kesejahteraan dan kenyamanan atmosfer kerja, karena petani/pekerja menerima upah yang wajar dan fair serta lingkungan kerja yang sehat.

Slide untuk materi kuliah ini bisa diunduh disini: Materi 13 Pertanian Berkelanjutan

Pengantar Ilmu Pertanian 12: Aplikasi Bioteknologi di Bidang Pertanian


Bioteknologi merupakan aplikasi teknologi yang menggunakan sistem biologis, organisme hidup, atau derivatifnya untuk membuat atau memodifikasi produk atau proses untuk tujuan tertentu. Secara substansial bioteknologi sudah sangat lama diaplikasikan dalam bidang pertanian, produksi pangan, dan kesehatan. Namun demikian, istilah bioteknologi pertama digunakan oleh Karoly Ereky (perekayasa Hungaria) pada tahun 1919. Bioteknologi ‘modern’ mulai pesat berkembang sejak akhir abad ke 20, ditandai dengan mulai berkembangnya rekayasa genetik dan kultur jaringan/sel.

Aplikasi bioteknologi sudah sangat umum dilakukan di bidang kesehatan, produksi pangan dan pertanian, produksi produk non-pangan dari tanaman (bioplastik, biofuel, senjata biologis), dan pengelolaan lingkungan (bioremediasi).

Isu populer dan kontroversial terkait aplikasi bioteknologi antara lain adalah penggunaan genetically-modified organism (disingkat GMO). GMO adalah organisme (termasuk tanaman, ternak, dan ikan) yang DNA-nya telah dimodifikasi dengan teknik rekayasa genetik. Umumnya dilakukan untuk menambahkan /memodifikasi suatu sifat/karakteristik baru pada organisme tertentu yang tidak terjadi secara alami atau sulit dilakukan dengan teknik pemuliaan secara konvensional.

Slide panduan untuk topik ini bisa diunduh disini: Materi 12 Aplikasi Bioteknologi di Bidang Pertanian

Landscape Ecology 9-10: Ecology of Mangrove Forest


Mangroves are various large and extensive types of trees (up to medium height) and shrubs that grow in saline coastal sediment habitats in the Tropics and Subtropics. Located mainly between latitudes 25°N and 25°S. Remaining mangrove forest areas of the world was estimated around 137,760 km² in 2000, and declining since then. Found in 118 countries and territories.

Mangroves frequently perceived at three different meanings: [a]most broadly to refer to the habitat, i.e. mangrove forest biome, mangrove swamp and mangrove forest; [b] to refer to all trees and large shrubs in the mangrove swamp; and [c] narrowly to refer to the mangrove within the family of Rhizophoraceae, or even more specifically just to trees of the genus Rhizophora.

Mangrove trees are salt tolerant (halophytes), adapted to live in harsh coastal conditions, characterized by: [a] A complex salt filtration system to cope with salt water immersion; [b] A complex root system to withstand wave action; and [c] Adaptable to the low oxygen (anoxic) conditions of waterlogged mud. About 110 species are considered ‘mangroves’, in the sense of being a tree that grows in such a saline swamp, though only a few are from the mangrove plant genus, Rhizophora.
A given mangrove swamp typically features only a small number of tree species. It is not uncommon for a mangrove forest to feature only three or four tree species.

The mangrove biome, or mangal, is a habitat characterized by depositional coastal environments, where fine sediments were accumulated in areas protected from high-energy wave action. The saline conditions tolerated by various mangrove species range from brackish water, through pure seawater (3.0 to 4.0%), to water concentrated by evaporation to over twice the salinity of ocean seawater (up to 9.0 %). The high salinity creates major limitations to number of species able to thrive in this habitat.

Complete slides on this topic can be downloaded here: Landscape Ecology 09-10

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 5.409 pengikut lainnya

Calendar

Desember 2016
S S R K J S M
« Mei    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Visitor

free counters

Blog Stats

  • 173,154 hits
%d blogger menyukai ini: