Benyamin Lakitan

Beranda » Article » My Opinion 04: Aturan Perberasan (Jangan) Abaikan Petani

My Opinion 04: Aturan Perberasan (Jangan) Abaikan Petani


Sudah lama dipahami bahwa beras bukan hanya merupakan barang ekonomi, tapi ia juga mempunyai banyak dimensi lain -sosial, politik, kultural dan psikologis- yang sudah menyatu padu dengan bangsa ini. Sedemikian strategisnya posisi beras hingga harusnya kebijakan perberasan perlu pencermatan dari berbagai dimensi tersebut, termasuk sosiokultural dan politik.

Untuk produksi beras, masalah sesungguhnya bukan terletak pada skala ekonominya, tetapi lebih terletak pada masalah stabilitas dan kepatutan harga gabah yang dihasilkan petani. Jika harga stabil dan pantas -sehingga menjamin peningkatan kesejahteraan petani, produksi akan meningkat karena petani termotivasi untuk melakukannya …..

Untuk artikel lengkapnya, silahkan klik disini

Iklan

4 Komentar

  1. pasarjogja.com berkata:

    Saya sudah baca artikelnya, menarik karena tentang petani, lahan yang berkurang, dan masalah stabilitas harga.
    Muncul di benak pertanyaan:
    -Bisakah pertanian di kelola secara profesional?
    -Bisakah petani bertani tanpa isu musim?
    -Bisakah petani setiap saat kerja menggarap lahan pertaniannya seperti halnya orang-orang
    yang kerja di industri?
    -Bisakah petani selalu panen tanpa harus panen raya?
    -Bisakah petani lepas dari jeratan tengkulak?
    -Bisakah Menjadi “Petani” menjadi Cita-cita anak-anak Kita?
    (Belum pernah dengar anak kecil ditanya, nanti kalo besar mau jadi apa? kemudian menjawab:
    “PETANI”).
    Bila ini berlanjut, maka tanah yg subur, akan kehabisan “Petani” karena tidak ada yg
    bercita-cita jadi petani.

    Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan menggelitik seputar pertanian ini.

    Semoga pemerintah menurunkan “dana riset” yang sangat besar untuk penelitian tentang pertanian ini, agar kedepan menjadi “Petani” adalah salah satu pilihan Cita-cita Anak Bangsa… amin.

    Mohon ma’af bila ada kata yang salah,

    Salam,

    • blakitan berkata:

      Kuncinya adalah peluang petani untuk sejahtera harus terbuka lebar. Ada 2 pilihan upaya, yakni harga komoditas pertanian termasuk pangan dinaikkan atau pemerintah mensubsidi besar-besaran untuk mengurangi beban petani untuk komponen ongkos produksi. Pertanyaannya: maukah dan mampukah Indonesia melakukannya?

      • pasarjogja.com berkata:

        Kalo saja desicion maker, pengurus dan pengemban amanah rakyat di negeri tercinta ini benar-benar berpikir untuk rakyat, untuk petani, menerapkan usulan ahli-ahli, menerepkan hasil penelitan, menggabungkan semua resources yang dimiliki anak bangsa ini… pertanyaan mampukah indonesia akan terjawab.

        Sebagai awam, hanya mampu berdo’a, semoga “petani” sejahtera, semoga pemikir dan orang yang peduli petani mampu memperbaiki kondisi menjadi jauh lebih baik, dan semoga beliau-beliau yang tergerak nuraninya diberikan kemudahan…amin
        salam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: