Benyamin Lakitan

Beranda » Article » Paper 13: Teknologi Hijau: Pertumbuhan Ekonomi, Keberlanjutan Pembangunan, dan Kesejahteraan Rakyat

Paper 13: Teknologi Hijau: Pertumbuhan Ekonomi, Keberlanjutan Pembangunan, dan Kesejahteraan Rakyat


Pada dasarnya konsepsi dan upaya untuk menyerasikan antara kemajuan ekonomi dengan kelestarian fungsi ekosistem bukanlah sesuatu yang baru. Paling tidak konsepsi tentang upaya menetralisir ‘perseteruan’ antara ekonomi dan ekologi ini telah diungkap oleh Fairfield Osborne melalui bukunya ‘Our Plundered Planet’ yang terbit pada tahun 1948. Sudah lebih dari separuh abad yang lalu.

Walaupun demikian, kelihatannya upaya menyerasikan ekonomi-ekologi ini belum sepenuhnya memuaskan. Sebagian besar –jika tidak hampir semua- kasus perseteruan ini dimenangkan oleh kepentingan-kepentingan ekonomi.
Banyak pula istilah atau terminologi yang digunakan untuk memayungi upaya penyerasian tujuan ekonomi-ekologi ini, misalnya pernah populer istilah pembangunan berkelanjutan (sustainable development), pembangunan berwawasan lingkungan (environmentally-sound development) atau pembangunan yang berwawasan ekologis (ecologically-sound development), dan sekarang populer istilah ekonomi hijau (green economy). Mungkin besok akan muncul istilah lainnya. Kesimpulannya, secara de facto persoalan ini sampai sekarang masih belum dapat direalisasikan dengan baik dan konsisten.

Lalu muncul pula terminologi teknologi hijau (green technology). Sebagian merasa ini sebuah gagasan baru yang cemerlang, tetapi ini lebih pas dimaknai sebagai kesadaran yang agak terlambat datang. Mestinya dari dulu juga teknologi perlu dikembangkan untuk mendorong pertumbuhan dan perluasan ekonomi dengan mempertimbangkan dampak aplikasinya terhadap kelestarian fungsi lingkungan (fisik dan sosial), sehingga pembangunan dapat lebih terjamin keberlanjutannya.

Jaminan keberlanjutan tak dapat direduksi hanya pada dimensi ekologi, tetapi juga perlu diintegrasikan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mengurangi ketimpangan pendapatan. Pertumbuhan dan pemerataan perlu disetarakan prioritasnya.

Makalah lengkapnya bisa dibaca disini

Iklan

4 Komentar

  1. Lyta Permatasari, M.Si berkata:

    Salam kenal untuk bapak… artikelnya manis sekali. Simpel namun penuh makna. Saya jadi terinspirasi untuk melakukan penelitian tentang green technology berkaitan dengan “calon” disertasi saya nanti. terimakasih pak benyamin…

    • blakitan berkata:

      Sedang S3 dimana? Bidang studi apa? Terima kasih sudah mampir.

      • Lyta Permatasari, M.Si berkata:

        hehehe…… alhamdulillah email lyta dibalas… triiiimss banget… Lyta kuliah di UB (Univ. Brawijaya) Malang pak… bidang yg diambil.. PDKLP = program doktor kajian lingkungan dan pembangunan. Senang sekali bisa kontak dengan bapak…. senaaang sekaliiii…… kapan2 bisa ketemu kan pak? Oya Lyta bekerja di BAPPEDA Kab. Banjar (Kalsel) Pak… jadi studi ini dalam rangka izin belajar. Lyta tetap aktif bekerja tapi, bolak-balik ke Malang untuk kuliah… asyik tapi capek hehehe….. oya PDKLP ini bukan kelas reguler.. tp kelas kerjasama. maksudnya adalah kerjasama antara UNLAM dan UB… begitu pak… mungkin bapak kenal di UB dengan Prof. maryunani? Beliau adalah dosen S-3 Lyta di UB….

      • blakitan berkata:

        Saya 6-7 Februari akan menghadiri International Conference on Global Resource di Universitas Brawijaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: