Benyamin Lakitan

Beranda » 2012 » Oktober

Monthly Archives: Oktober 2012

Hasil Jajak Pendapat 1: Prioritas Agar Teknologi Berkontribusi Terhadap Pembangunan Nasional


Pada Jajak Pendapat 1 (JP1) ditanyakan:

“Apa prioritas yang perlu dilakukan agar teknologi nasional dapat berkontribusi nyata dan signifikan terhadap pembangunan nasional?”

Jawaban dari 180 (seratus delapan puluh voter) adalah:

Poll 01

Jajak Pendapat 02: Dukungan Pemerintah untuk Teknologi Nasional


Mohon keihklasannya untuk berpartisipasi pada jajak pendapat ini … Hanya butuh waktu 1 menit saja

Paper 19: Kebijakan dan Strategi Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam rangka Meningkatkan Daya Saing Bangsa Indonesia


Sebelum mengulas secara komprehensif tentang kebijakan dan strategi yang tepat untuk pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) agar dapat secara nyata berkontribusi terhadap peningkatan daya saing bangsa, maka perlu terlebih dahulu dipahami bahwa daya saing suatu bangsa tidak hanya tergantung pada kemajuan ipteknya semata, tetap banyak faktor lain yang akan juga ikut menentukan, termasuk faktor-faktor yang terkait dengan kebutuhan dasar pembangunan, yakni: [1] eksistensi kelembagaan yang sesuai dengan kebutuhan dengan kinerja yang baik serta berpedoman pada prinsip-prinsip good governance; [2] kualitas dan jaringan infrastruktur fisik maupun non-fisik yang efektif, efisien, dan ekstensif; [3] kondisi makroekonomi yang kondusif; dan [4] ketersediaan tenaga kerja terampil, terdidik, dan produktif.

Selain empat faktor kebutuhan dasar, daya saing suatu bangsa akan pula ditentukan oleh berbagai faktor lainnya yang dibutuhkan agar pembangunan dapat dilaksanakan secara efisien, termasuk: [1] kualitas institusi pendidikan tinggi dan lembaga pelatihan yang baik dengan kapasitas tampung yang sesuai kebutuhan; [2] mekanisme pasar barang dan jasa yang efisien; [3] ketersediaan, keterjangkauan, dan keamanan layanan jasa-jasa keuangan; [4] kesiapan teknologis, terutama untuk dukungan kelancaran aliran informasi dan komunikasi, serta proses transfer dan adopsi teknologi; dan [5] kapasitas pasar domestik yang besar.

Selanjutnya ada dua faktor lagi yang menjadi kunci daya saing suatu bangsa, yakni [1] kapasitas inovasi, dan [2] kecanggihan bisnis. Kapasitas inovasi tercermin dari eksistensi lembaga riset dan pengembangan teknologi yang berkualitas dan berkelas, belanja riset yang relatif besar yang dialokasikan oleh industri, kerjasama yang intensif dan produktif antara pengembang dan pengguna teknologi, perlindungan terhadap Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI), dan beberapa indikator lainnya. Sedangkan kecanggihan bisnis tercermin dari kuantitas dan kualitas pebisnis lokal/nasional, kecanggihan proses produksi, jaringan distribusi yang luas dan mampu dikuasai, menunjukkan keunggulan kompetitif, profesionalisme pelaku bisnis, dan lain-lain.

Dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa, maka iptek selayaknya memberikan kontribusi langsung melalui paling tidak tiga faktor, yakni: [1] meningkatkan jumlah dan kualitas tenaga terampil, terdidik, dan berdedikasi tinggi yang relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional; [2] meningkatkan kesiapan teknologis dengan tidak hanya terkait ketersediaan dan jangkauan jaringan infrastruktur telekomunikasi, transportasi, dan energi; tetapi juga melalui penyiapan tenaga-tenaga operatornya serta peningkatan kandungan nasional pada teknologi-teknologi yang dibutuhkan tersebut; dan [3] meningkatkan kapasitas inovasi nasional.

Makalah lengkap bisa dibaca disini

Indonesia 32: Yogyakarta


Yogyakarta adalah kota bersejarah, kaya akan ragam budaya tradisional, dan kehidupan masyarakatnya terkesan sederhana. Tradisi budaya Jawa masih sangat kental terasa. Tidak mengherankan jika Yogyakarta menjadi kota tujuan wisata utama bagi banyak wisatawan mancanegara dan juga wisatawan nusantara. Buat yang biasa tinggal di Jakarta atau kota besar lainnya di Indonesia, kadang waktu terasa berjalan lebih lambat di Yogyakarta …

Beca masih menjadi alat transportasi yang populer (dan murah), delman masih menjadi alat transportasi yang umum digunakan, bukan hanya sarana rekreasi saat liburan. Produk seni mudah dijumpai seluruh wilayah Yogyakarta, mulai dari batik, kerajinan kulit, perak, sampai pada hasil karya seni kontemporer. Industri kreatif merupakan sektor ekonomi penting di kota ini.

Dulu banyak sekali sepeda di Yogyakarta, tapi sekarang sudah jauh berkurang, diganti sepeda motor. Sepeda onthel sudah dijual di toko barang antik …








My Opinion 28: Tiga Tantangan Satu Tujuan Inovasi Pertanian


Paling tidak ada tiga tantangan besar yang membutuhkan inovasi pertanian, yakni [1] tantangan untuk meningkatkan produksi pangan dan komoditas pertanian lainnya (tantangan agronomis); [2] tantangan untuk menurunkan kehilangan hasil pada fase pascapanen (tantangan pascapanen); dan [3] tantangan untuk memenuhi kebutuhan konsumen/penduduk yang terus tumbuh (tantangan demografis).

Teknologi dapat memberikan kontribusi terhadap upaya menjawab tiga tantangan tersebut. Namun teknologi bukan merupakan solusi tunggal bagi tantangan-tantangan tersebut, karena masing-masing tantangan bersifat multi dimensi dan tidak hanya bersifat teknis semata. Oleh sebab itu, perlu didukung regulasi dan kebijakan publik yang sesuai; alokasi anggaran yang memadai; dan sumberdaya manusia dengan keahlian yang relevan, memahami dan sensitif terhadap realita persoalan, serta mempunyai intergitas tinggi.

Demikian pula, tidak semua strata dan jenis teknologi akan efektif berkontribusi. Hanya teknologi yang relevan secara teknis dan sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna yang akan berpeluang untuk secara nyata berkontribusi dalam upaya menjawab tiga tantangan tersebut.

Satu hal lagi yang tidak boleh diabaikan adalah amanah konstitusi yang secara jelas dan tegas menyatakan bahwa pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia dan memajukan peradaban. Hal ini juga selaras dengan semangat kebijakan pembangunan yang bersifat inklusif, yakni memberikan kesempatan bagi semua pihak untuk berpartisipasi dan sekaligus juga untuk membuka peluang bagi para pihak tersebut untuk ikut menikmati hasil-hasil pembangunan, yakni berupa peningkatan kesejahteraannya.

Selayaknya apa yang sudah diamanahkan oleh konstitusi untuk menyejahterakan rakyat perlu dijalankan secara konsisten dan persisten, baik demi alasan legal-formal maupun karena mengikuti hati nurani.

Artikel lengkapnya dapat dibaca disini

Paper 18: Inovasi Teknologi untuk Mewujudkan Ketahanan dan Kedaulatan Pangan


Semangat untuk menjadi negara maju telah berhasil menjerumuskan banyak negara berkembang ke dalam krisis pangan atau ketergantungan pangan pada impor. Persoalan pokoknya adalah kemajuan suatu negara sering diukur berdasarkan kemajuan sektor industrinya, sehingga banyak negara berkembang yang semula menumpukan perekonomiannya pada sektor pertanian tergopoh-gopoh beralih prioritas pembangunannya untuk lebih mendorong sektor industri.

Sesungguhnya, tidaklah salah mendorong pertumbuhan sektor industri karena nilai tambah yang lebih besar akan dapat diperoleh dari sektor ini; tetapi menjadi kurang tepat jika industri yang didorong perkembangannya tidak sinergis dengan sektor pertanian. Apalagi jika pengembangan industri dilakukan dengan menelantarkan sektor pertanian. Harusnya, industri yang pertama didorong perkembangannya oleh negara agraris adalah agroindustri yang berbasis pada komoditas pangan dan pertanian yang dihasilkan di dalam negeri.

Sekarang sektor pertanian kembali menarik perhatian berbagai pihak, baik pada tataran global maupun lokal, terutama karena harga pangan yang cenderung terus naik akibat peningkatan permintaan pangan; sementara upaya untuk meningkatkan produksi pangan menghadapi kendala multi-dimensi, tidak hanya aspek teknis-agronomis, tetapi juga persoalan sosial, ekonomi, hukum, politik. Keberlanjutan produksi pangan tidak lagi hanya dikaitkan dengan isu ekologis/lingkungan, tetapi juga dapat terancam oleh isu-isu ekonomi dan sosial kemanusiaan.

Walaupun mulai semakin tumbuh pemahaman dan kesadaran akan pentingnya menyikapi persoalan pangan ini secara komprehensif multi-dimensi, namun realita aksinya masih terlalu terfokus pada upaya teknis-agronomis untuk menggenjot peningkatan produksi dan hanya mempertimbangkan faktor ekologis/lingkungan sebagai ancaman bagi keberlanjutan proses produksi pangan. Isu sosial-ekonomi seperti penyejahteraan atau pemberdayaan petani memang sering disebut dalam berbagai konsepsi pembangunan pertanian, tetapi sampai saat ini masih belum kentara terlihat dalam aksi nyata. Dimensi sosial-ekonomi tersurat pada tataran kebijakan pokok, masih terdeteksi dalam strategi implementasi kebijakannya, selanjutnya mulai tergerus dalam rumusan program, dan akhirnya terkikis (hampir) habis pada kegiatan-kegiatan yang dilakukan.

Makalah lengkapnya bisa dibaca disini

Indonesia 31: Palangka Raya


Palangka Raya is the capital city of Central Kalimantan Province. This province was established on 23 May 1957.
Palangka Raya was developed after the province was established and considered to become new capital of Indonesia at that time by the first Indonesian President. However, since then, development of this city has not been significant.





%d blogger menyukai ini: