Benyamin Lakitan

Beranda » Article » Paper 15: Mewujudkan Sistem Inovasi Pertanian Daerah

Paper 15: Mewujudkan Sistem Inovasi Pertanian Daerah


Perguruan tinggi dengan kewajibannya melaksanakan Tridharma (pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat), jelas merupakan tumpuan harapan berbagai pihak untuk dapat mengembangkan teknologi yang dapat secara nyata berkontribusi terhadap upaya kolektif untuk menyejahterakan rakyat. Komunitas akademik diyakin mampu untuk mengemban tugas mulia ini, namun demikian secara de facto peran ini belum secara optimal ditampakkan.

Kebijakan riset di perguruan tinggi perlu reorientasi, dari yang selama ini sangat kental nuansa supply-push menjadi lebih bersifat demand-driven. Pengembangan teknologi yang selama ini lebih banyak didasari ‘hasrat akademis’ para dosen harus digeser ke arah yang lebih berorientasi untuk memenuhi kebutuhan nyata atau untuk memberikan solusi bagi persoalan nyata yang dihadapi para (calon) pengguna teknologi yang potensial, yakni para pelaku produksi barang dan/atau jasa (masyarakat dan industri) dan pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas layanan publik dan menjaga kesatuan dan keutuhan negara.

Saat ini sangat diperlukan sikap yang bijak untuk memposisikan kegiatan riset sebagai bagian integral dari sistem yang lebih besar, yakni sistem inovasi, yang dapat diposisikan pada ruang lingkup nasional (Sistem Inovasi Nasional, disingkat SINas) atau pada tingkat daerah (Sistem Inovasi Daerah, disingkat SIDa).

Perubahan mindset memang tidak akan dapat direalisasikan secara instan, karena akan ada keengganan untuk berubah dari berbagai pihak yang terkait, terutama pihak-pihak yang merasa nyaman dengan kondisi saat ini. Akademisi yang sebelumnya memilih topik penelitian sesuai keinginan dan keahliannya, kemungkinan akan merasa terbebani karena harus memahami terlebih dahulu kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat sebelum menentukan topik/tema penelitiannya. Peneliti yang selama ini hanya menyiapkan laporan sebagai bentuk akhir pertanggung jawaban, tentu akan merasa mendapat beban tambahan jika harus menghasilkan teknologi yang bermanfaat. Sayangnya, perubahan sering hanya dilihat sebagai tambahan beban, bukan sebagai peluang untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar….

Selengkapnya dapat dibaca disini

Iklan

2 Komentar

  1. agusfianda berkata:

    Reblogged this on ROADS TO ACEH.

  2. blakitan berkata:

    It is OK to quote as long as you mention the source …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: