Benyamin Lakitan

Beranda » Article » Paper 18: Inovasi Teknologi untuk Mewujudkan Ketahanan dan Kedaulatan Pangan

Paper 18: Inovasi Teknologi untuk Mewujudkan Ketahanan dan Kedaulatan Pangan


Semangat untuk menjadi negara maju telah berhasil menjerumuskan banyak negara berkembang ke dalam krisis pangan atau ketergantungan pangan pada impor. Persoalan pokoknya adalah kemajuan suatu negara sering diukur berdasarkan kemajuan sektor industrinya, sehingga banyak negara berkembang yang semula menumpukan perekonomiannya pada sektor pertanian tergopoh-gopoh beralih prioritas pembangunannya untuk lebih mendorong sektor industri.

Sesungguhnya, tidaklah salah mendorong pertumbuhan sektor industri karena nilai tambah yang lebih besar akan dapat diperoleh dari sektor ini; tetapi menjadi kurang tepat jika industri yang didorong perkembangannya tidak sinergis dengan sektor pertanian. Apalagi jika pengembangan industri dilakukan dengan menelantarkan sektor pertanian. Harusnya, industri yang pertama didorong perkembangannya oleh negara agraris adalah agroindustri yang berbasis pada komoditas pangan dan pertanian yang dihasilkan di dalam negeri.

Sekarang sektor pertanian kembali menarik perhatian berbagai pihak, baik pada tataran global maupun lokal, terutama karena harga pangan yang cenderung terus naik akibat peningkatan permintaan pangan; sementara upaya untuk meningkatkan produksi pangan menghadapi kendala multi-dimensi, tidak hanya aspek teknis-agronomis, tetapi juga persoalan sosial, ekonomi, hukum, politik. Keberlanjutan produksi pangan tidak lagi hanya dikaitkan dengan isu ekologis/lingkungan, tetapi juga dapat terancam oleh isu-isu ekonomi dan sosial kemanusiaan.

Walaupun mulai semakin tumbuh pemahaman dan kesadaran akan pentingnya menyikapi persoalan pangan ini secara komprehensif multi-dimensi, namun realita aksinya masih terlalu terfokus pada upaya teknis-agronomis untuk menggenjot peningkatan produksi dan hanya mempertimbangkan faktor ekologis/lingkungan sebagai ancaman bagi keberlanjutan proses produksi pangan. Isu sosial-ekonomi seperti penyejahteraan atau pemberdayaan petani memang sering disebut dalam berbagai konsepsi pembangunan pertanian, tetapi sampai saat ini masih belum kentara terlihat dalam aksi nyata. Dimensi sosial-ekonomi tersurat pada tataran kebijakan pokok, masih terdeteksi dalam strategi implementasi kebijakannya, selanjutnya mulai tergerus dalam rumusan program, dan akhirnya terkikis (hampir) habis pada kegiatan-kegiatan yang dilakukan.

Makalah lengkapnya bisa dibaca disini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: