Benyamin Lakitan

Beranda » 2012 » November

Monthly Archives: November 2012

My Opinion 29: Kesejahteraan Petani dan Kedaulatan Pangan


Petani harus diposisikan sebagai subjek, bukan objek atau hanya diperlakukan sebagai komponen mesin produksi. Petani perlu diberi insentif agar termotivasi untuk meningkatkan produksi pangan. Bentuk insentif yang paling efektif ialah peningkatan kesejahteraannya. Bukankah tujuan utama pembangunan ialah untuk menyejahterakan rakyat? Rakyat yang kesejahteraannya paling perlu diprioritaskan melalui pembangunan sektor pertanian tentunya adalah petani.

Ukuran keberhasilan pembangunan pertanian sering dikaitkan dengan keberhasilan mencapai swasembada pangan atau terwujudnya kondisi ketahanan pangan. Mari kita cermati definisi ketahanan pangan versi Food and Agriculture Organization (FAO) berikut ini, Food security exists when all people, at all times, have physical and economic access to sufficient, safe and nutritious food that meets their dietary needs and food preferences for an active and healthy life.

Ringkasnya, ketahanan pangan tercapai jika semua konsumen mendapatkan pangan yang cukup, tetapi tak sedikit pun menyinggung kesejahteraan petani sebagai produsen pangan. Banyak yang menyatakan `toh’ petani selain produsen juga konsumen pangan. Itu betul 100%. Namun, persoalannya bukan di situ.

Persoalannya ialah jika jasa para petani dalam memproduksi pangan tidak diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan, mereka cenderung akan menjadi petani subsisten. Petani akan memproduksi pangan hanya untuk kebutuhan sendiri, tidak akan termotivasi untuk berpartisipasi dalam program pemerintah untuk meningkatkan produksi pangan nasional.

Untuk tambahan pendapatannya, petani cenderung melakukan diversifikasi pekerjaan, misalnya membudidayakan tanaman perkebunan (karet, kopi, dan sekarang sawit). Justifikasinya ialah banyak lahan sawah yang tadinya ditanami padi sekarang dikonversi menjadi lahan kebun sawit. Opsi lain yang dipilih petani setelah kebutuhan pangan pokoknya dirasakan mencukupi ialah memilih pekerjaan tambahan sebagai buruh konstruksi (untuk wilayah sekitar perkotaan) atau pekerjaan informal lain di kota.

Jika petani ditanya tentang alasannya mengapa tidak penuh mendedikasikan pekerjaannya pada budi daya tanaman pangan, salah satu jawaban yang mungkin patut direnungkan ialah, “Tidak ada satu orang di desa kami yang naik haji karena bertanam padi, tapi yang mampu naik haji itu adalah para petani yang punya kebun kopi atau sawit … ”

Secara lengkap artikelnya bisa didownload disini

Iklan

Paper 23: Penguatan Kapasitas Lembaga Litbang – Strategi untuk Indonesia


Disinyalir, banyak kegiatan riset yang dilakukan masih bersifat ‘academic exercise’ dan belum secara sensitif merespon realita kebutuhan dan/atau persoalan yang dihadapi. Fungsi ideal lembaga pengembang iptek di Indonesia belum terwujud. Freeman dan Soete (2009) menyatakan bahwa: “The main theoretical for the separation of the R&D function from related scientific activities was the distinction between novelty and routine”. Sejatinya, ada perbedaan antara pelaksanaan fungsi litbang yang sesungguhnya, dengan hanya melaksanakan kegiatan rutin. Lembaga litbang dan perguruan tinggi di Indonesia banyak yang sesungguhnya hanya mengerjakan sesuatu yang sesungguhnya rutin, tetapi dibuat seolah-olah mengerjakan suatu kegiatan litbang.

Memang harus pula adil memberikan judgement. Masih rendahnya kontribusi iptek terhadap pembangunan nasional secara umum dan upaya menyejahterakan rakyat khususnya juga terkait dengan beberapa faktor/kondisi lainnya, termasuk: [a] pengguna teknologi di dalam negeri (terutama industri besar) lebih percaya pada teknologi asing yang kadang juga lebih murah dan sudah tersedia; dibandingkan harus menunggu pengembangan teknologi oleh lembaga litbang domestik; [b] regulasi dan kebijakan belum mendorong terwujudnya ekosistem yang kondusif untuk tumbuh-kembang inovasi di dalam negeri, contohnya PP35/2007 yang sampai sekarang belum dapat sepenuhnya diimplementasikan; dan [c] sangat rendahnya alokasi anggaran litbang dari pemerintah dan sulitnya menggandeng swasta untuk melakukan kolaborasi kegiatan litbang (Lakitan, 2012a).

Akan tetapi tak sepatutnya akademisi, peneliti, dan perekayasa yang berstatus PNS berkelit bahwa bukanlah tanggung jawab mereka jika iptek nasional tidak mampu berkontribusi nyata terhadap upaya menyejahterakan umat, karena PTN dan lembaga litbang pemerintah merupakan institusi yang tidak luput dari tanggung jawab mengemban amanah konstitusi tersebut: memajukan iptek dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk memajukan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

Makalah lengkap bisa dibaca disini

Indonesia 33: Pantai Kota Balikpapan


Pantai di kota Balikpapan juga ternyata indah, asalkan selalu dijaga kebesihannya dari sampah perkotaan. Mulai ada perahu-perahu yang disiapkan untuk disewakan, dicat dengan warna-warna terang. Kegiatan nelayan menjala ikan di pagi hari juga menarik untuk dilihat, tapi kadang kalo lagi apes, tak ada ikan yang mendekat ke pantai kata nelayannya … Paling tidak indahnya sunrise bisa selalu dinikmati, karena mentari tak pernah ingkar janji …





Paper 22: Technology’s Perspective on Maize-based Agribusiness in Indonesia


Prospect for maize-based agribusiness in Indonesia is bright, considering that up to present Indonesia is importing significant amount of this multiple usage commodity to satisfy its domestic demand. In 2011, Indonesia spend more than USD 1 billion for importing maize, both for food industries and for animal feed, but not for biofuel. Since Indonesia has been a net petroleum importer, it is probable that maize also be used for production of bioethanol in the future. Even though, cassava might be economically more feasible for bioethanol production in the tropics. Nevertheless, three possible usages of maize as food crop, animal feed, and raw material for biofuel are major advantage for selecting this crop.

Main physical limitation in developing agricultural activities in Indonesia is limited infrastructure network, especially land transportation. To overcome the possibly high transportation cost for the bulky commodity produced, it could be solved by including on-site processing industry; therefore, only high-value, small-volume processed products will be transported out of the site. In this scenario, technology will play its role!

Future maize-based agribusiness should not be designed to transport corn ears out of the field, except for sweet corn for fresh market, or export corn grains, but be better off doing upstream and downstream activities on-site and transporting out only value added products such as corn flake, corn syrup, poultry feed, bioethanol, or even pharmaceutical proteins.

As of any other agricultural activities, on-farm maize-based agribusiness will also face serious agronomic and climatic challenges, now and even more in the future. Land and water availabilities will become less and less. Portions of agricultural lands are continuously converted for other purposes and some are degradated due to chemical contamination or serious mismanagement, as also happens to water. Climate changes become harder to predict and frequency of crop damages due to climate extremes increase. Technology has to catch up with these challenges.

Full paper may be downloaded here

Paper 21: Meneropong Masa Depan Bahan Bakar Nabati Indonesia


Kebijakan Energi Nasional (KEN) merupakan ungkapan niat Pemerintah Indonesia untuk mendorong pengembangan bahan bakar nabati (BBN). Kebijakan ini jika diimplementasikan dengan cermat dan konsisten maka akan sangat membantu Indonesia dalam mengurangi ketergantungan sumber energi (terutama untuk sektor transportasi) pada bahan bakar minyak (BBM), mengurangi emisi gas rumah kaca (sebagai bentuk kepedulian Indonesia terhadap masalah perubahan iklim yang menjadi isu global saat ini), dan membuka peluang bagi petani untuk membudidayakan tanaman pada lahan-lahan sub-optimal, terutama lahan kering.

Kontribusi BBN pada saat ini belum signifikan (5% kontribusi BBN dalam bauran energi nasional pada tahun 2025. Melihat kemajuan yang dicapai pada saat ini, maka target 5% tersebut kelihatannya akan sulit untuk tercapai.

Saat harga BBM meroket pada awal tahun 2008 yang lalu, semangat memacu pengembangan BBN dalam negeri juga menggelora. Akademisi ramai-ramai melakukan seminar tentang BBN dan beberapa mulai melakukan riset ke arah ini. Pemerintah menerbitkan KEN yang pro-pengembangan BBN. Politisi sebagaimana biasa, ikut arus kebijakan yang populis. Akan tetapi, semangat ini kemudian mereda saat harga BBM menjadi relatif normal kembali.

Makalah lengkap bisa dibaca atau download disini

Paper 20: Riset untuk Kemandirian Pangan yang Berkelanjutan


Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama dan pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Berdasarkan Rancangan Undang-Undang tentang Pangan yang telah disahkan melalui sidang pleno Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia pada tanggal 18 Oktober 2012, pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan Pangan, bahan baku Pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman.

Ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan pangan Indonesia dinilai belum kokoh. Hal ini diindikasikan oleh tingginya impor produk pangan. Nilai impor pangan tahun 2011 mendekati Rp 60 triliun (Permana 2011). Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya ketahanan pangan masih terfokus pada ketersediaan dan konsumsi, dan belum berorientasi pada sisi produksi, kemandirian dan kedaulatan pangan. Ketersediaan pangan seharusnya lebih berorientasi pada peningkatan kapasitas produksi dalam negeri, baru kemudian distribusi/aksesibilitas dan konsumsi. Dengan demikian, maka ketergantungan pada produk luar dapat dieliminasi dan kemandirian dan kedaulatan pangan dapat diwujudkan.

Makalah lengkap bisa dibaca disini

%d blogger menyukai ini: