Benyamin Lakitan

Beranda » Photography » Architecture » Indonesia 63: Kampung Suku Bajo

Indonesia 63: Kampung Suku Bajo


Suku Bajo merupakan salah satu suku yang tergolong unik di Indonesia. Masyarakat suku ini tidak hanya menggantungkan hidupnya dari sumberdaya kelautan, tetapi juga hampir sepenuhnya tinggal di laut. Mereka umumnya membangun rumah di atas laut dangkal, bukan di pantai. Ada yang mengatakan bahwa leluhur suku Bajo mewasiatkan kepada seluruh orang Bajo untuk tetap hidup di laut, sehingga sangat jarang orang Bajo membangun rumahnya di daratan/lahan pantai.

Kampung suku Bajo yang terbesar populasinya terdapat di Pulau Wangiwangi, Kabupaten Kepulauan Wakatobi, ditaksir mencapai sekitar 20.000 jiwa. Suku Bajo menyebar di kawasan pesisir Pulau Sulawesi dan Kalimantan, serta pulau-pulau kecil di wilayah tengah dan timur Indonesia. Matapencaharian utama masyarakat Bajo adalah menangkap ikan. Selain itu mereka juga sangat terampil dalam membuat perahu dan kapal kayu. Mayoritas suku Bajo beragama Islam.

Observasi di kampung Bajo Wakatobi menunjukkan bahwa sebagian rumah secara fisik tidak lagi berada langsung di atas air. Kemungkinan bagian bawah rumah yang tadinya air mulai ditimbun dengan pasir dan pecahan batu karang. Pengambilan batu karang inilah yang kadang dianggap masalah, karena dikhawatirkan akan merusak habitat dan kembang-biak ikan karang dan biota laut lainnya.

Diyakini bahwa pada awalnya suku Bajo tinggal sepenuhnya di atas perahu yang diberi dinding dan atap dari daun rumbia (sejenis tanaman palma), disebut ‘palema’. Perahu ini tidak bermesin, sehingga untuk menggerakkannya hanya mengandalkan tenaga manusia dengan alat dayung. Kejelasan asal-usulnya menjadi topik perdebatan. Ada yang mengatakan bahwa mereka berasal dari Laut Cina Selatan, Filipina, atau sebagai turunan suku Sameng dari Semenanjung Malaysia. Sebagai suku nomaden di laut, kemungkinan rekaman jejak pengembaraannya tidak meninggalkan artefak atau bukti fisik, sehingga asal-usulnya masih spekulatif diperdebatkan. Dalam perkembangannya, sekarang masyarakat suku Bajo pada umumnya sudah menetap di beberapa lokasi, dengan membangun rumah panggung di atas laut dangkal.

Kehidupan suku Bajo ini pernah dijadikan latar belakang film layar lebar berjudul ‘The Mirror Never Lies’ yang digarap oleh Kamila Andini (puteri Garin Nugroho), dibintangi oleh Atiqah Hasiholan dan Reza Rahadian. Film ini didukung oleh WWF Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Wakatobi, pada saat Ir. Hugua sebagai bupatinya.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Iklan

2 Komentar

  1. Rizt Naq Same berkata:

    Puto lamu aku keturunan same likka ma philipin….
    aku generasi ka 5 likka’ ma Mbo Manguntare…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: