Benyamin Lakitan

Beranda » 2013 » September

Monthly Archives: September 2013

Slide 31: Diversifikasi Usaha Pe(Tani) dan Konsumsi Pangan


Masyarakat Indonesia dengan keragaman suku dan kondisi agroekosistemnya, pada awalnya mengkonsumsi pangan pokok yang beragam. Masyarakat di kawasan timur Indonesia yang bermukim di wilayah pesisir pada awalnya terbiasa mengkonsumsi sagu sebagai pangan pokok; sedangkan di pedalaman Papua lebih terbiasa mengkonsumsi ubi jalar. Kawasan timur dan tengah Indonesia yang beriklim kering terbiasa mengkonsumsi jagung dan sebagian juga mengkonsumsi sorgum. Masyarakat yang secara ekonomi kurang beruntung di Jawa terbiasa mengkonsumsi singkong. Pada wilayah Indonesia yang lainnya sejak awal terbiasa mengkonsumsi beras.

Sebelum era Revolusi Hijau (1940-an sampai 1960-an), diversifikasi pangan pokok sudah terwujud di wilayah Indonesia. Pada tahun 1954, komposisi pangan pokok baru hanya 53.5 persen beras, selebihnya singkong sebesar 22,26 persen, jagung sebesar 18,9 persen, dan sisanya adalah berbagai pangan pokok lainnya (BKP, 2012). Namun, keberhasilan Indonesia meningkatkan produksi beras dan mencapai status swasembada beras telah mendorong pergeseran pola pangan masyarakat Indonesia dari yang tidak terbiasa mengkonsumsi beras menjadi konsumen beras. Pada tahun 1987, proporsi konsumsi beras meningkan menjadi 81,1 persen, sedangkan konsumsi singkong turun sampai 10,02 persen dan demikian pula dengan jagung yang turun menjadi 7,82 persen. Selanjutnya, pada tahun 1999 konsumsi singkong dan jagung terus turun menjadi masing-masing 8,83 persen dan 3,1 persen (BKP, 2012).

Pergeseran budaya makan ini berlangsung nyaris tanpa resistensi. Hal ini diyakini karena kondisi pada waktu itu ada dikotomi yang kentara antara masyarakat konsumen beras yang secara ekonomi dan sosial lebih maju; sedangkan masyarakat yang pangan pokoknya bukan beras umumnya adalah lapisan masyarakat yang status sosial ekonominya lebih rendah.

Beras pada saat itu diasosiasikan dengan masyarakat yang lebih maju. Beras bukan hanya sebagai sumber karbohidrat tetapi juga sebagai simbol status sosial. Dengan demikian, maka faktor pendorong pergeseran pola konsumsi ini diyakini adalah keinginan untuk mendapat pengakuan atas status sosial yang lebih baik daripada keinginan untuk mengubah sumber karbohidrat.

Setelah beban untuk memenuhi kebutuhan beras masyarakat Indonesia mulai dan semakin dirasakan berat. Lebih lanjut, Indonesia kehilangan pengakuan sebagai negara yang mampu mewujudkan swasembada beras. Kemudian pemerintah mulai mengkampanyekan upaya diversifikasi pangan pada awal tahun 1960 melalui gerakan ‘Operasi Makmur’. Secara resmi, Indonesia mulai mencanangkan program diversifikasi pangan pada tahun 1974 melalui Inpres Nomor 14 Tahun 1974 tentang Perbaikan Menu Makanan Rakyat. Kemudian dilanjutkan dengan Inpres Nomor 20 Tahun 1979 tentang Menganekaragamkan Jenis Pangan dan Meningkatkan Mutu Gizi Makanan Rakyat.

Selain secara kontinyu melakukan berbagai kegiatan dengan payung program Diversifikasi Pangan dan Gizi maupun dengan penamaan program yang lain, upaya formal juga tetap dilakukan yakni dengan menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 22 tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumberdaya Lokal.

Namun berbagai upaya mendorong diversifikasi pangan tersebut tetap tidak mampu membendung arus ‘berasisasi’ pangan rakyat. Malahan, pada tahun 2010, konsumsi singkong dan jagung yang semakin menghilang. Beras sebagai pangan pokok mendapat pendamping baru, yakni gandum. Konsumsi gandum Indonesia pada tahun 2010 mencapai 10,92 kg/kapita/tahun (BKP, 2012).

Slide lengkapnya bisa dilihat disini

Cover Slide 31

Iklan

Slide 32: Posisi dan Arah Riset Pembangunan Indonesia


Konstitusi jelas dan tegas mengamanahkan bahwa pembangunan iptek adalah untuk memajukan peradaban dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Rakyat Indonesia tentunya. MP3EI telah pula menyatakan bahwa salah satu dari 3 strategi utama untuk percepatan pembangunan ekonomi Indonesia adalah dengan penguatan SDM dan iptek, selain pengembangan ekonomi sesuai potensi sumberdaya pada masing-masing koridor dan konektivitas nasional. Sistem Inovasi Nasional (SINas) jelas mengindikasikan bahwa pengembangan teknologi selayaknya berorientasi pada kebutuhan nyata atau realitas persoalan yang dihadapi, atau bersifat demand-driven agar lebih berpeluang untuk diaplikasikan dala proses produksi barang ataupun untuk meningkatkan kualitas layanan jasa.

Dengan demikian maka riset pembangunan Indonesia sepatutnya dipandu agar bermuara pada teknologi yang sesuai kebutuhan untuk mengelola sumberdaya yang potensial pada masing-masing koridor ekonomi agar dapat berpeluang untuk dimanfaatkan sehingga dapat secara nyata berkontribusi terhadap upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memajukan peradaban bangsa Indonesia …..

Slide lengkapnya bisa dilihat atau diunduh disini

Cover Slide 32

Slide 30: Penguatan Lembaga Litbang di Daerah


Di daerah sudah ada beberapa lembaga/institusi yang melaksanakan fungsi penelitian dan pengembangan, yakni badan penelitian dan pengembangan daerah (dulu dikenal sebagai Balitbangda, sekarang menggunakan singkatan BPP), beberapa perguruan tinggi negeri (PTN) maupun swasta (PTS), beberapa unit pelaksana teknis (UPT) kementerian dan lembaga pemerintah non-kementerian (LPNK), unit penelitian yang dimiliki badan usaha milik negara (BUMN) dan industri/bisnis, dan kadang juga telah terbentuk lembaga riset masyarakat. Namun sayangnya lembaga/institusi ini jarang berkomunikasi satu sama lain. Selain itu, walaupun masing-masing lembaga/institusi tersebut telah memiliki kejelasan tentang ruang lingkup tugas/fungsinya, namun kadang juga lembaga/institusi tersebut melaksanakan kegiatan di luar tugas/fungsi pokoknya.

Presentasi ini mengusulkan skenario untuk mensinergikan lembaga/institusi penelitian dan pengembangan di daerah tersebut.

Slide lengkap bisa dibaca dan diunduh disini

Cover Slide 30

Slide 29: Iptek, SINas, dan MP3EI


“Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bertumpu pada sumberdaya alam, belum bersumber pada inovasi” demikian pernyataan Bapak Wakil Presiden RI Boediono dalam arahannya pada Peringkatan Hari HKI, 8 Mei 2012.

Pernyataan tersebut bagi yang memahami anatomi pembangunan iptek di Indonesia sebetulnya tidak mengagetkan. Itu merupakan realita yang terjadi saat ini. Sahih. Karena banyak kegiatan yang diklaim sebagai riset di Indonesia sesungguhnya hanyalah ‘routine academic exercise’, yakni kegiatan yang patuh pada kaidah metodologi penelitian tetapi secara substansial tidak memberikan kontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan/atau juga tidak menghasilkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan.

Slide lengkapnya bisa dilihat dan diunduh disini

Cover Slide 29

Indonesia 70: Menara Phinisi Universitas Negeri Makassar


Menara Phinisi Universitas Negeri Makassar (UNM) ini merupakan kantor pusat administrasi atau rektorat, terletak di Kampus 1 UNM Gunung Sari, Jl Andi Pangerang Pettarani, Makassar. Menara ini terdiri dari 17 lantai. Dirancang oleh tim yang dipimpin oleh Yu Sing dengan mengadopsi bentuk perahu khas Bugis-Makassar, yang memenangkan sayembara desain gedung tersebut pada tahun 2008. Dimalam hari, lampu pada eksterior menara berubah-ubah warna secara teratur, rotasi dari 12 warna yang mewakili 12 fakultas yang ada di UNM. Gedung ini baru digunakan pada tahun 2013 ini.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Indonesia 69: Maghrib di Masjid Amirul Mukminin Makassar


Masjid Amirul Mukminin ini tergolong masih baru di Makassar, diresmikan pada tanggal 21 Desember 2012. Kapasitas masjid ini dapat menampung sekitar 400 jamaah. Masjid ini memiliki dua menara dan dua kubah dengan diameter 9 meter. Nama ‘amirul mukminin’ dari bahasa Arab yang berarti pemimpin kaum mukmin. Dibangun di kawasan wisata pantai Losari, di tengah kota Makassar. Dibangun di atas laut, sehingga oleh masyarakat disebut sebagai masjid terapung (floating mosque). Akan terlihat seperti terapung pada saat pasang tinggi. Seluruh bangunan dan jembatan akses menuju bangunan masjid ditopang dengan tiang/kolom beton.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Slide 28: Kontribusi Riset Unggulan Terhadap Kemandirian Bangsa


Ada dua hal penting yang terkait dengan kontribusi hasil riset: [1] riset wajib berorientasi pada kebutuhan nyata atau realita persoalan yang dihadapi bangsa untuk menghasilkan teknologi yang relevan; dan [2] hanya teknologi yang dimanfaatkan yang berpeluang untuk berkontribusi terhadap upaya memajukan peradaban bangsa dan kesejahteraan rakyat Indonesia

Slide lengkapnya bisa dilihat dan diunduh disini

Cover Slide 28

%d blogger menyukai ini: