Benyamin Lakitan

Beranda » Article » Paper 28: Kebijakan Sistem Inovasi dalam Membangun Pusat Unggulan Perternakan

Paper 28: Kebijakan Sistem Inovasi dalam Membangun Pusat Unggulan Perternakan


Perlu diakui bahwa masih banyak persoalan budidaya dan industri pengolahan hasil peternakan yang belum terselesaikan, baik dari dimensi teknis, ekonomi, dan sosial. Dari sisi lain, banyak pula riset yang telah dilakukan oleh akademisi di perguruan tinggi dan peneliti/perekayasa di lembaga riset pemerintah maupun non-pemerintah. Pertanyaan awal yang muncul adalah apakah intensitas penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan masih rendah? Ataukah karena kualitas kegiatan penelitian tersebut yang belum prima; karena kendala teknis, metodologis, ketersediaan fasilitas riset, sumber pembiayaan, dan/atau kapasitas/integritas pelakunya? Atau lebih disebabkan karena pengabaian relevansi antara substansi yang diteliti dengan realita kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi?

Jawaban diplomatis yang sangat mungkin muncul adalah bahwa masing-masing komponen tersebut (intensitas, kualitas, dan relevansi) berkontribusi terhadap kebelum-berhasilan dalam membangun sistem produksi dan pengolahan hasil peternakan yang mampu memenuhi kebutuhan konsumsi domestik. Saat ini, rasanya terlalu awal untuk membicarakan tentang ekspor hasil/produk peternakan.

Mungkin juga saat ini tidak perlu menguras energi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Lebih baik energi tersebut dicurahkan sepenuhnya pada hal-hal yang mendasar yang perlu mendapat perhatian. Misalnya, sejak awal konstitusi Indonesia mengamanahkan bahwa pembangunan iptek (artinya termasuk semua kegiatan riset dan pengembangan yang dilakukan) untuk memajukan peradaban serta kesejahteraan umat manusia dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan (menjaga) persatuan bangsa.

Oleh sebab itu, sesuai amanah konstitusi, maka semua kegiatan riset dan pengembangan harusnya bermuara pada dihasilkannya ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan dengan realita kebutuhan dan/atau tepat untuk menjadi solusi bagi persoalan nyata yang dihadapi; sehingga teknologi yang dihasilkan tersebut lebih berpeluang untuk digunakan. Perlu dipahami bahwa hanya teknologi yang digunakan saja yang dapat secara nyata berkontribusi terhadap upaya menyejahterakan umat dan memajukan peradaban bangsa.

Pendapat Edgerton (2006) berikut ini patut untuk direnungkan: “History is changed when we put into in the technology that counts, not only the famous spectacular technologies but also the low and ubiquitous ones”. Dengan kata lain, jika ingin mengubah sejarah maka para akademisi, peneliti, dan perekayasa perlu mengembangkan teknologi yang bermanfaat dan digunakan. Tidak harus hanya berorientasi pada teknologi canggih, tetapi juga perlu mengembangkan teknologi sederhana yang memang dibutuhkan. Pernyataan ini menekankan bahwa untuk mengubah sejarah bukanlah persoalan kecanggihan atau sederhananya teknologi yang dikembangkan, tetapi diyakini lebih ditentukan oleh apakah teknologi yang dihasilkan digunakan atau tidak digunakan …..

Makalah lengkap bisa dibaca dan di-download disini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: