Benyamin Lakitan

Beranda » Article » Slide 27: Kebijakan Inovasi Teknologi untuk Pengelolaan Lahan Suboptimal

Slide 27: Kebijakan Inovasi Teknologi untuk Pengelolaan Lahan Suboptimal


Indonesia saat ini tidak lagi punya banyak pilihan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional selain memanfaatkan lahan-lahan suboptimal yang masih tersedia dan memungkinkan untuk dikelola sebagai lahan produksi pangan, karena upaya peningkatan produktivitas sudah semakin sulit secara teknis agronomis dilakukan dan juga semakin tidak ekonomis untuk diusahakan. Namun demikian, perlu dipahami bahwa lahan-lahan yang tergolong suboptimal mempunyai beragam karakteristik dan potensinya. Oleh sebab itu, perlu diprioritaskan pada pengembangan teknologi yang secara teknis relevan untuk masing-masing karakteristik lahan suboptimal tersebut, secara ekonomis terjangkau oleh petani setempat, serta diharapkan juga selaras dengan preferensi dan sosio-kultural masyarakat setempat.

Dua pendekatan yang dapat secara paralel dan interaktif dilakukan adalah [1] optimalisasi sifat fisik, kimia, dan (mikro)biologi tanah yang dibarengi dengan optimalisasi pengelolaan sumberdaya air agar efektif dan lebih efisien; dan [2] seleksi jenis komoditas yang sesuai dan pengembangan varietas yang adaptif secara spesifik untuk masing-masing karakteristik lahan suboptimal. Untuk mewujudkan keberlanjutan pengelolaan lahan suboptimal, maka semua upaya teknis dan teknologis yang dilakukan harus pula mempertimbangkan kemungkinan dampak ekologisnya, kesesuaian sosiokultural dengan masyarakat lokal, selain tentunya menguntungkan secara ekonomi bagi petani sebagai pelaku utamanya.

Slide lengkapnya bisa dilihat dan diunduh disini

Cover Slide 27

Iklan

2 Komentar

  1. naradina2013 berkata:

    Om…, salah seorang rekan saya yang sangat dekat dengan penentu kebijakan mengusulkan mendapatkan lahan untuk tanaman padi yang akan diolah secara modern, dalam rangka mengatasi kelangkaan pangan dan juga menocegah impor beras…..usulan ini beranjak dari data bhw banyak lahan yang terbiarkan, yang mungkin bisa dimanfaatkan…tapi kecele..

    Dari data bpn, ternyata tidak ada lagi tanah yang terbiarkan atau nganggur, karana sdh dimiliki secara perorangan, cilakanya ada yang punya tanah sampai jutaan hektar… Itu katanya….

    Gawaaat ya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: