Benyamin Lakitan

Beranda » Article » Slide 31: Diversifikasi Usaha Pe(Tani) dan Konsumsi Pangan

Slide 31: Diversifikasi Usaha Pe(Tani) dan Konsumsi Pangan


Masyarakat Indonesia dengan keragaman suku dan kondisi agroekosistemnya, pada awalnya mengkonsumsi pangan pokok yang beragam. Masyarakat di kawasan timur Indonesia yang bermukim di wilayah pesisir pada awalnya terbiasa mengkonsumsi sagu sebagai pangan pokok; sedangkan di pedalaman Papua lebih terbiasa mengkonsumsi ubi jalar. Kawasan timur dan tengah Indonesia yang beriklim kering terbiasa mengkonsumsi jagung dan sebagian juga mengkonsumsi sorgum. Masyarakat yang secara ekonomi kurang beruntung di Jawa terbiasa mengkonsumsi singkong. Pada wilayah Indonesia yang lainnya sejak awal terbiasa mengkonsumsi beras.

Sebelum era Revolusi Hijau (1940-an sampai 1960-an), diversifikasi pangan pokok sudah terwujud di wilayah Indonesia. Pada tahun 1954, komposisi pangan pokok baru hanya 53.5 persen beras, selebihnya singkong sebesar 22,26 persen, jagung sebesar 18,9 persen, dan sisanya adalah berbagai pangan pokok lainnya (BKP, 2012). Namun, keberhasilan Indonesia meningkatkan produksi beras dan mencapai status swasembada beras telah mendorong pergeseran pola pangan masyarakat Indonesia dari yang tidak terbiasa mengkonsumsi beras menjadi konsumen beras. Pada tahun 1987, proporsi konsumsi beras meningkan menjadi 81,1 persen, sedangkan konsumsi singkong turun sampai 10,02 persen dan demikian pula dengan jagung yang turun menjadi 7,82 persen. Selanjutnya, pada tahun 1999 konsumsi singkong dan jagung terus turun menjadi masing-masing 8,83 persen dan 3,1 persen (BKP, 2012).

Pergeseran budaya makan ini berlangsung nyaris tanpa resistensi. Hal ini diyakini karena kondisi pada waktu itu ada dikotomi yang kentara antara masyarakat konsumen beras yang secara ekonomi dan sosial lebih maju; sedangkan masyarakat yang pangan pokoknya bukan beras umumnya adalah lapisan masyarakat yang status sosial ekonominya lebih rendah.

Beras pada saat itu diasosiasikan dengan masyarakat yang lebih maju. Beras bukan hanya sebagai sumber karbohidrat tetapi juga sebagai simbol status sosial. Dengan demikian, maka faktor pendorong pergeseran pola konsumsi ini diyakini adalah keinginan untuk mendapat pengakuan atas status sosial yang lebih baik daripada keinginan untuk mengubah sumber karbohidrat.

Setelah beban untuk memenuhi kebutuhan beras masyarakat Indonesia mulai dan semakin dirasakan berat. Lebih lanjut, Indonesia kehilangan pengakuan sebagai negara yang mampu mewujudkan swasembada beras. Kemudian pemerintah mulai mengkampanyekan upaya diversifikasi pangan pada awal tahun 1960 melalui gerakan ‘Operasi Makmur’. Secara resmi, Indonesia mulai mencanangkan program diversifikasi pangan pada tahun 1974 melalui Inpres Nomor 14 Tahun 1974 tentang Perbaikan Menu Makanan Rakyat. Kemudian dilanjutkan dengan Inpres Nomor 20 Tahun 1979 tentang Menganekaragamkan Jenis Pangan dan Meningkatkan Mutu Gizi Makanan Rakyat.

Selain secara kontinyu melakukan berbagai kegiatan dengan payung program Diversifikasi Pangan dan Gizi maupun dengan penamaan program yang lain, upaya formal juga tetap dilakukan yakni dengan menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 22 tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumberdaya Lokal.

Namun berbagai upaya mendorong diversifikasi pangan tersebut tetap tidak mampu membendung arus ‘berasisasi’ pangan rakyat. Malahan, pada tahun 2010, konsumsi singkong dan jagung yang semakin menghilang. Beras sebagai pangan pokok mendapat pendamping baru, yakni gandum. Konsumsi gandum Indonesia pada tahun 2010 mencapai 10,92 kg/kapita/tahun (BKP, 2012).

Slide lengkapnya bisa dilihat disini

Cover Slide 31

Iklan

4 Komentar

  1. naradina2013 berkata:

    Om…, mimta izin ikut baca

  2. Budi Raharjo berkata:

    Bagus pak, terobosan pemikiran bagaimana mensejahterakan petani Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: