Benyamin Lakitan

Beranda » 2013 » Oktober

Monthly Archives: Oktober 2013

Working Visit 04: Swedish National Museum of Science & Technology


Museum ilmu pengetahuan dan teknologi Swedia ini didirikan tahun 1924 oleh the Royal Swedish Academy of Engineering Sciences bersama-sama dengan beberapa lembaga lainnya. Bangunan yang ada pada saat ini merupakan hasil rancangan arsitek Ragner Hjorth dengan gaya fungsionalistik. Dibuka untuk publik pada tahun 1936, dikelola oleh yayasan mulai pada tahun 1947, tetapi kemudian sejak 1946 pengelolaan dan pemeliharaannya dibiayai oleh pemerintah.

Nama Museum Iptek ini dalam bahasa Swedia adalah Tekniska Museet. Museum teknologi ini difungsikan sebagai aktualisasi dari upaya preservasi terhadap warisan sejarah teknologi dan industri Swedia. Luas total ruang pajang (galeri) pada museum ini mencapai sekitar 10.000 m2 untuk menampung sekitar 50.000 barang atau artefak teknologi, 600 meter rak buku untuk menampung 50.000 buku atau dokumen, plus sekitar 200.000 lembar gambar, dan 620.000 foto. Museum ini dikunjungi sekitar 170.000 pengunjung per tahun.

Kunjungan ke museum ini dilakukan pada hari Selasa 29 Oktober 2013. Beberapa hal yang menarik berdasarkan observasi pada saat kunjungan adalah:

[1] Mayoritas pengunjung adalah anak-anak usia sekolah dasar yang ditemani oleh orang tua atau datang berkelompok sesama anak usia SD tersebut, mengindikasikan bahwa ketertarikan pada ilmu pengetahuan dan teknologi telah tumbuh sejak usia dini;

[2] Walaupun untuk menikmati dan mengamati dari dekat benda atau artefak yang dipamerkan ini dikenakan biaya masuk, namun tidak secara ketat dibatasi bahwa yang dapat masuk ke dalam museum adalah pengunjung yang telah mempunyai tiket masuk (lokasi pembelian tiketnya sendiri sudah berada di dalam gedung). Kesannya pembelian tiket tersebut lebih diposisikan sebagai ‘donasi’ untuk meringankan pembiayaan dari pemerintah, tetapi tidak untuk membatasi hasrat pengunjung untuk mengakrabi iptek. Pengunjung yang membeli tiket ditandai dengan penempelan stiker kertas bulat berwarna tanpa tulisan atau tanda lain pada stiker tersebut;

[3] Sebagian besar benda yang dipamerkan boleh disentuh kecuali hanya beberapa yang diberi pembatas agar tidak tersentuh oleh pengunjung. Kesannya agar pengunjung bisa betul-betul mengoptimalkan keakrabannya dengan iptek;

[4] Sebagian besar benda yang dipamerkan adalah alat, instrumen, atau mesin yang memang dimanfaatkan dalam kehidupan nyata bukan alat peraga untuk memudahkan konsep pemahaman tentang teori atau fenomena tertentu, terutama yang inventornya adalah bangsa Swedia; dan

[5] Di dalam museum disediakan juga ruangan untuk orangtua/guru dan anak atau sesama anak untuk mendiskusikan apa yang dilihatnya.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Catatan: Bagus juga jika PP Iptek mengumpulkan hasil inovasi akar-rumput (grassroots innovations) di seluruh penjuru tanah air, walaupun berupa alat atau mesin sederhana, tetapi semua adalah hasil inovasi bangsa sendiri dan mungkin dapat mengilhami para perekayasa untuk mengembangkannya menjadi alat dan mesin yang lebih modern (lebih handal, lebih efisien). Yang pasti setiap inovasi akar-rumput tersebut sudah terbukti ada kebutuhan masyarakat untuk itu sehingga pasti berguna, hanya saja harus disesuaikan juga dengan kapasitas absorpsi dari masyarakat sebagai pengguna potensialnya.

(Naskah oleh Benyamin Lakitan; Foto oleh Benyamin Lakitan dan Mulyanto)

Iklan

Working Visit 03: Kungliga Tekniska Hogskolan (KTH)


Padanan nama untuk Kungliga Tekniska Hogskolan (KTH) dalam bahasa Inggeris adalah Royal Institute of Technology. Kampus utama KTH berlokasi di Stockholm dan merupakan perguruan tinggi terbesar, tertua (didirikan tahun 1827), dan paling dikenal di dunia internasional yang ada di Swedia. Paling kurang 1/3 kegiatan riset dan pendidikan teknik pada tingkat universitas di Swedia diselenggarakan oleh KTH. Program pendidikan mencakup S1, S2, dan S3 dalam berbagai cabang ilmu teknik, termasuk arsitektur, manajemen industri, dan perencanaan perkotaan. Jumlah mahasiswa S1 mencapai lebih dari 12.500 mahasiswa, sedangkan untuk mahasiswa pasca sarjana mencapai lebih dari 1.800 mahasiswa.

Pertemuan Delegasi Ristek (Mulyanto, Benyamin Lakitan, Shidki Wahab, Malikuz Zahar, dan Vemmie D. Koswara) plus pejabat/staf Kedubes RI Stockholm (Iskandar Hadrianto dan Agustin Arijanti) dengan pihak KTH dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2013, jam 13.30 s/d 15.00 bertempat di Kampus KTH, Stockholm.

Beberapa informasi yang menarik diperoleh melalui presentasi yang disampaikan oleh Prof Ramon Wyss (Vice President of KTH for International Affairs) dan Prof Peter Goransson (Aeronautical and Vehicle Engineering) antara lain:

SONY DSC Prof Ramon Wyss (kiri) dan Prof Peter Goransson (kanan)

[1] Total anggaran riset dan pengembangan yang dikelola KTH mencapai 410 juta Euro dan hanya separuhnya yang berasal dari anggaran pemerintah, separuhnya lagi berasal dari sumber non-pemerintah yang didapatkan melalui proses yang kompetitif;

[2] Riset yang dilakukan di KTH bukan hanya untuk pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga riset untuk kepentingan industri (industrial-oriented research);

[3] KTH menjalin kerjasama dengan industri untuk peningkatan kualitas SDM industri sekaligus melaksanakan kerjasama penelitian melalui program S3 (Ph.D) yang khusus dirancang untuk ini. Industri mengirim staf untuk mengikuti pendidikan S3 dan mengusulkan topik riset untuk disertasinya dengan biaya penuh dari industri baik untuk proses pendidikan maupun pelaksanaan risetnya. Namun demikian, standar akademik tetap dipegang penuh oleh pihak KTH sesuai jenjang pendidikan yang ditempuh;

[4] Struktur organisasi KTH bersifat dinamis dan responsif terhadap kebutuhan, sekarang terdapat 10 fakultas, termasuk penambahan baru (atau pengembangan dari struktur sebelumnya) fakultas biotechnology (lebih fokus pada bioteknologi terkait kesehatan), pendidikan dan komunikasi untuk ilmu-ilmu perekayasaan (education and communication in engineering sciences) terutama dikaitkan untuk peningkatan pemahaman publik tentang ‘sustainability’, serta perekayasaan dan manajemen industrial (industrial engineering and management);

[5] Walaupun penduduk tumbuh, kesejahteraan masyarakat meningkat, dan aktivitas industri meningkat; namun konsumsi energi Swedia relatif stabil, malah emisi CO2 menurun, karena sumber energi yang lebih banyak digunakan adalah energi listrik yang dibangkitkan melalui energi air dan nuklir.

Pelajaran bagi Indonesia: [1] Perguruan tinggi perlu merancang kerjasama yang bersifat mutualistik (bukan sekedar seremonial) dengan industri melalui kegiatan riset yang berorientasi pada pengembangan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan atau dapat menjadi solusi bagi permasalahan teknis yang dihadapi oleh industri. Dengan demikian, maka kontribusi industri dalam pembiayaan penelitian dan pengembangan diharapkan dapat meningkat, sehingga ketergantungan pada pemerintah sebagai penyedia anggaran penelitian akan berkurang; [2] Struktur organisasi dan kurikulum pendidikan tinggi perlu bersifat dinamis menyesuaikan dengan realita kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi Indonesia. Setelah peran perguruan tinggi nyata dirasakan kontribusinya terhadap pembangunan nasional dan dalam menyelesaikan persoalan bangsa, seharusnya baru dicanangkan upaya ‘menuju world class university‘ yang sekarang latah dilakukan oleh banyak perguruan tinggi di Indonesia, baik PTN maupun PTS.

SONY DSC

(Naskah oleh Benyamin Lakitan; Foto oleh Benyamin Lakitan dan Agustin Arijanti)

Working Visit 02: VINNOVA – Swedish Government Institution for Innovation Systems


Vinnova adalah badan pemerintah Swedia yang mengurusi sistem inovasi yang mempunyai misi untuk mempromosikan pertumbuhan yang berkelanjutan melalui perbaikan kondisi untuk mendorong tumbuh-kembang inovasi dan sekaligus membiayai riset yang sesuai kebutuhan (needs-driven research). Visi Vinnova adalah menjadikan Swedia sebagai negara terkemuka dalam penelitian dan inovasi, serta menjadi tempat yang menarik untuk berinvestasi dan melakukan kegiatan bisnis.

Vinnova mendorong dan memfasilitasi kolaborasi antara badan usaha, universitas, lembaga riset, dan sektor publik (pemerintah) melalui stimulasi agar hasil riset dimanfaatkan, mendukung pembiayaan penelitian jangka panjang yang prospektif serta menyiapkan ‘ruang’ pertemuan antara para pihak yang terkait inovasi, termasul kerjasama internasional.

Setiap tahun Vinnova ikut terlibat membiayai berbagai inisiatif dengan nilai investasi sekitar 2 milyar SEK, dengan catatan bahwa aktor lain yang terlibat juga ikut membiayai minimal sebesar dukungan pembiayaan yang dialokasikan oleh Vinnova. Pengambilan keputusan untuk ikut membiayai diputuskan oleh panel pakar nasional dan internasional. Terhadap setiap kegiatan yang dibiayai dilakukan pemantauan selama kegiatan berjalan (ongoing monitoring) dan evaluasi terhadap hasil kegiatan. Vinnova secara reguler melakukan analisis dampak dari setiap kegiatan yang dilakukan atau ikut dibiayai oleh Vinnova.

Secara organisasi, Vinnova didirikan pada bulan January 2001, berada di bawah Ministry of Enterprise, Energy and Communications, memperkerjakan sekitar 200 staf yang dipimpin oleh Charlotte Brogren sebagai direktur jeneral-nya.

Pertemuan Delegasi Ristek (Mulyanto, Benyamin Lakitan, Shidki Wahab, Malikuz Zahar, dan Vemmie D. Koswara) plus pejabat/staf Kedubes RI Stockholm (Iskandar Hadrianto dan Agustin Arijanti) dengan pihak Vinnova dilakukan pada tanggal 28 Oktober 2013, jam 13.00 s/d 14.00 bertempat di Kantor Vinnova, Stockholm. Pihak Vinnova diwakili oleg Dr. Yoakim Appelquist (Direktur Kerjasama dan Jaringan Internasional). Ada beberapa isu penting yang disampaikan oleh Dr. Applequist, diantaranya adalah:

[1] Walaupun telah diakui dunia bahwa Swedia merupakan salah satu negara yang paling inovatif, namun pihak Vinnova mencermati bahwa pada tahun-tahun terakhir terasa bahwa walaupun dari sisi input (pembiayaan, SDM, fasilitas) untuk inovasi sangat baik, namun dari sisi outcomes dirasakan biasa-biasa saja (average). Untuk menjaga agar Swedia tetap kompetitif secara global maka banyak hal yang perlu terus diperbaiki dan ditingkatkan;

[2] Kendala yang mendapat perhatian dalam rangka meningkatkan kinerja inovasi Swedia antara lain adalah (a) ketergantungan yang tinggi pada hanya beberapa perusahaan multi-nasional (MNC), (b) pertumbuhan usaka kecil dan menengah (SME) yang dirasakan lamban, (c) Public sector lock-in, (d) Risk aversion, (e) short termism lean organization, dan (f) ketidakseimbangan antara pengetahuan yang dikembangkan dengan komersialisasi;

[3] Memahami kendala tersebut (butir 2), maka Vinnova merasa perlu melakukan upaya untuk antara lain meningkatkan dampak dari kegiatan dan hasil riset, serta lebih fokus pada permintaan ‘pasar’ di masa yang akan datang dan tidak terpaku pada pengembangan bidang-bidang yang dianggap sebagai prioritas pada saat ini;

[4] Keterbatasan anggaran yang dikelola oleh Vinnova menyebabkan lembaga ini secara cerdas mengembangkan program yang memberikan ‘Halo Effect’, yakni dengan memberikan dukungan pembiayaan yang tidak signifikan tetapi dapat mendongkrak reputasi lembaga yang dipilih Vinnova tersebut untuk mendapatkan sumber pembiayaan lain yang dilebih besar, sehingga kegiatan yang diberi stimulasi oleh Vinnova dapat memberikan dampak yang lebih besar.

Pelajaran bagi Indonesia: [1] Pemerintah melalui semua kementerian dan lembaga yang melakukan atau membiayai kegiatan penelitian dan pengembangan, perlu mendorong dan mengawal agar kegiatan riset yang didanai dari APBN (sebagian dari dana ini bersumber dari pajak masyarakat) fokus pada kegiatan riset untuk menghasilkan teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat, tidak hanya sebagai academic exercises; [2] Dana pemerintah untuk riset hanya diberikan jika ada dana yang sebanding atau lebih besar (matching grant) dari dunia usaha atau masyarakat untuk mendukung kegiatan riset yang sama; dan [3] Pemerintah perlu membangun wibawa agar dukungan pembiayaan kepada institusi pelaksana kegiatan riset lebih dilihat sebagai ‘pengakuan’ pemerintah atas kelayakan dan kredibilitas institusi yang bersangkutan, sehingga institusi yang bersangkutan dapat memperoleh sumber pembiayaan non-pemerintah dari berbagai mitra kerjanya (‘Halo Effect’).

Catatan: Fenomena ‘Halo Effect’ ini sudah dirasakan oleh beberapa pusat unggulan yang ditetapkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi. Walaupun alokasi dana dari Kementerian Riset dan Teknologi tidak terlalu besar, namun dengan penetapan sebagai pusat unggulan tersebut maka institusi yang bersangkutan mampu menjalin kerjasama dengan berbagai pihak dan mendapat dukungan pembiayaan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan dana yang dikucurkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi tersebut.

(Naskah oleh Benyamin Lakitan; Foto oleh Malikuz Zahar)

Working Visit 01: Indonesian Embassy in Stockholm


Republik Indonesia dan Kerajaan Swedia telah menandatangani Letter of Intent (LoI) di Stockholm tanggal 27 Mei 2013 untuk menjalin kerjasama dalam pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (disamping juga untuk bidang kesehatan dan lingkungan). Pihak Indonesia diwakili oleh Dewa Made Juniarta Sastrawan (Duta Besar RI untuk Swedia) dan dari pihak Swedia diwakili oleh Ewa Polano (Duta Besar Swedia untuk Indonesia). LoI belum merupakan kesepakatan yang secara hukum mengikat. Sebagai tindak lanjut dari LoI ini, maka sebelum MoU atau bentuk kesepakatan yang lebih formal diambil, perlu dilakukan penjajakan untuk memahami lebih teknis tentang kemungkinan jenis, sifat, dan ruang lingkup kegiatan atau program bersama yang bersifat mutualistik dapat diformulasikan.

Working visit oleh tim kecil dari Kementerian Riset dan Teknologi (Mulyanto, Benyamin Lakitan, Shidki Wahab, Malikuz Zahar, dan Vemmie D. Koswara) diawali dengan pertemuan diskusi di Kedutaan Besar RI di Stockholm, tanggal 28 Oktober 2013, jam 10.30 s/d 12.30; dihadiri langsung oleh Bapak Dubes Dewa Made Juniarta Sastrawan dengan didampingi Iskandar Hadrianto dan staf yang terkait, bertempat di ruang tamu Duta Besar dan dilanjutkan sambil makan siang.

SONY DSC

SONY DSC

Beberapa butir penting yang dapat dipetik dari diskusi ini adalah:

[1] peran swasta sangat dominan (sekitar 3/4 bagian) dalam membiayai kegiatan riset dan pengembangan di Swedia;

[2] Peranan swasta yang paling menonjol dalam pembiayaan riset ini adalah oleh The Knut and Alice Wallenberg Foundation. Yayasan ini telah mengeluarkan dana sekitar 5 milliar SEK untuk membiayai riset terutama untuk perguruan tinggi di Swedia selama 5 tahun terakhir. Riset yang dibiayai adalah [a] riset yang potensi ilmiahnya tinggi, [b] riset untuk mendukung kepentingan nasional, dan [c] riset yang dilakukan oleh peneliti/ilmuwan terkemuka; sedangkan bidang penelitian yang banyak mendapat dukungan adalah ilmu alamiah (natural sciences), pengembangan teknologi, dan kesehatan. Dana yang diberikan dapat digunakan untuk pengadaan peralatan dan biaya kegiatan;

[3] Riset di Swedia lebih fokus untuk mengembangkan teknologi yang dibutuhkan untuk memproduksi barang atau jasa yang memang dibutuhkan. Karena Swedia adalah negara yang jumlah penduduknya kecil, maka pengembangan teknologi Swedia diorientasikan pada kebutuhan global (sebagai pasar sasarannya) agar secara ekonomi feasible. Pengembangan teknologi yang berorientasi kebutuhan (demand-driven) ini tercermin juga dari jumlah paten yang didaftarkan dalam setahun dapat mencapai sekitar 2.600 paten; dan

[4] Spektrum teknologi yang dikembangkan sangat lebar, dari teknologi untuk mendukung produksi baran-barang kebutuhan sehari-hari yang sederhana (korek api, ritsleting, kemasan pangan/produk) sampai pada teknologi untuk pengembangan pesawat tempur.

Pelajaran untuk Indonesia: [1] Teknologi yang dikembangkan dapat di bidang apapun, dari teknologi sederhana sampai yang sangat maju, namun yang lebih penting adalah teknologi yang dikembangkan tersebut harus berbasis pada kebutuhan nyata (bukan cuma berdasarkan hasrat pribadi peneliti), serta harus pula berbasis pada sumberdaya nasional; dan [2] berbeda dengan Swedia yang lebih berorientasi pada pasar global karena pasar domestiknya yang sangat kecil, Indonesia saat ini perlu lebih fokus pada upaya pemenuhan kebutuhan dalam negeri karena pasar domestik Indonesia yang sedemikian besar yang sampai sekarang masih dibanjiri oleh teknologi dan produk teknologi asing.

(Naskah oleh Benyamin Lakitan; Foto oleh Malikuz Zahar)

Planet Earth 42: Skansen – the First Open Air Museum in the World


Skansen merupakan museum terbuka (open-air museum) yang pertama di dunia. Didirikan pada tahun 1891 oleh Artur Hazelius, menempati hamparan lahan seluas 75 acre di Pulau Djurgården dalam wilayah Kota Stockholm. Berbagai bangunan tradisional dan suasana pemukiman perdesaan yang merepresentasikan berbagai wilayah, dari utara (Sami Camp) sampai selatan (Skane farmstead) Swedia ditampilkan disini. Dilengkapi pula oleh kebun binatang yang menampilkan hewan liar (beruang, srigala, lynx) yang ditemui di Swedia maupun ternak peliharaan. Juga merepresentasikan kondisi sosial masyarakat mulai abad 16 sampai abad 20.

Skansen dibuka sepanjang tahun termasuk pada musim dingin. Skansen merupakan tempat rekreasi keluarga sekaligus mempelajari sejarah dan budaya Swedia. Banyak pilihan untuk menuju ke Skansen, tapi yang paling asyik naik tram S7 dari Norrmalmstorg ke arah Waldemarsudde, turun di Skansen.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Planet Earth 41: Vasamuseet in Stockholm


Vasamuseet (dalam bahasa Swedia museet artinya musium) adalah museum kelautan yang berada di Pulau Djurgården, salah satu pulau dalam wilayah Kota Stockholm, Swedia. Keunikan dari museum ini adalah karena di dalamnya terdapat kapal perang asli Swedia abad ke 17 yang terbuat dari kayu dengan 64 meriam yang hampir utuh diangkat dari dalam laut. Kapal ini tenggelam pada pelayaran perdananya tahun 1628. Hampir seluruh badan kapal ini diukir dengan ornamen yang sangat detil dan indah. Kapal ini sudah diawetkan dengan menggunakan polyethylene glycol. Bagian kapal yang hilang atau rusak berat diganti dengan buatan baru, namun bagian yang dibuat baru tersebut sengaja tidak dicat/diwarnai sehingga mudah dikenali dan dibedakan dari bagian aslinya yang terlihat lebih gelap karena telah terendam di dasar laut selama 3 abad.

Desain Museum Vasa ini dirancang oleh Marianne Dahlbäck and Göran Månsson, yang memenangkan kompetisi yang diadakan oleh Pemerintah Swedia pada tahun 1981, diikuti oleh 384 arsitek. Inaugurasi pembangunannya dilakukan oleh Pangeran Bertil pada tanggal 2 November 1987. Kapalnya sendiri dimasukkan ke dalam bangunan museum yang masih sedang dibangun pada bulan Desember 1988 dan mulai diperkenankan pengunjung melihatnya pada musim panas 1989 dan sudah dikunjungi oleh sekitar 228.000 pengunjung walaupun museumnya belum sepenuhnya selesai dibangun. Museum Vasa ini diresmikan pada tanggal 15 Juni 1990. Sekarang merupakan museum yang paling banyak dikunjungi di Skandinavia, telah dikunjungi lebih dari 25 juta pengunjung.

Dari pusat kota Stockholm, museum ini bisa dicapai dengan naik tram S7 ke arah Waldermarsudde atau Bus No.44

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Planet Earth 40: SkyView on Ericsson Globe


SkyView terdiri dari dua buah gondola yang berbentuk seperti ‘bola kaca’ pada dua lintasan rel untuk bisa naik ke atas atap bangunan the Ericsson Globe yang juga berbentuk bulat, diklaim sebagai ‘the largest spherical building in the world. Masing-masing gondola mampu menampung 16 orang pengunjung (tetapi saat ini kebijakannya hanya mengangkut 14 pengunjung sekali jalan). Pada saat mencapai puncak ketinggiannya mencapai 130 meter di atas permukaan laut, menyajikan pemandangan lansekap ke 360 derajat arah di sekitarnya, terutama yang menarik adalah pemandangan ke arah panorama kota Stockholm.

SkyView ini berlokasi di kawasan Stockholm Globe Arenas, Globen, di selatan pinggiran kota Stockholm. Cara termudah mencapai tempat ini adalah dengan naik Metro (kereta bawah tanah) dari Central Station (T-Centralen) di pusat kota Stockholm menuju ke arah Hagsatra dan turun di stasiun Globen. SkyView hanya beberapa langkah dari stasiun ini.

Tur SkyView berlangsung sekitar 30 menit, termasuk tayangan film singkat (10 menit) tentang sejarah dan deskripsi SkyView ini sebelum masuk ke gondolanya. Tiket seharga 145 SEK untuk dewasa dapat dibeli melalui internet atau datang langsung.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

[Saya tidak beruntung pada saat pengambilan foto ini (pagi, 27 Oktober 2013) karena cuaca sedang tidak cerah, hujan gerimis]

%d blogger menyukai ini: