Benyamin Lakitan

Beranda » Article » Working Visit » Working Visit 03: Kungliga Tekniska Hogskolan (KTH)

Working Visit 03: Kungliga Tekniska Hogskolan (KTH)


Padanan nama untuk Kungliga Tekniska Hogskolan (KTH) dalam bahasa Inggeris adalah Royal Institute of Technology. Kampus utama KTH berlokasi di Stockholm dan merupakan perguruan tinggi terbesar, tertua (didirikan tahun 1827), dan paling dikenal di dunia internasional yang ada di Swedia. Paling kurang 1/3 kegiatan riset dan pendidikan teknik pada tingkat universitas di Swedia diselenggarakan oleh KTH. Program pendidikan mencakup S1, S2, dan S3 dalam berbagai cabang ilmu teknik, termasuk arsitektur, manajemen industri, dan perencanaan perkotaan. Jumlah mahasiswa S1 mencapai lebih dari 12.500 mahasiswa, sedangkan untuk mahasiswa pasca sarjana mencapai lebih dari 1.800 mahasiswa.

Pertemuan Delegasi Ristek (Mulyanto, Benyamin Lakitan, Shidki Wahab, Malikuz Zahar, dan Vemmie D. Koswara) plus pejabat/staf Kedubes RI Stockholm (Iskandar Hadrianto dan Agustin Arijanti) dengan pihak KTH dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2013, jam 13.30 s/d 15.00 bertempat di Kampus KTH, Stockholm.

Beberapa informasi yang menarik diperoleh melalui presentasi yang disampaikan oleh Prof Ramon Wyss (Vice President of KTH for International Affairs) dan Prof Peter Goransson (Aeronautical and Vehicle Engineering) antara lain:

SONY DSC Prof Ramon Wyss (kiri) dan Prof Peter Goransson (kanan)

[1] Total anggaran riset dan pengembangan yang dikelola KTH mencapai 410 juta Euro dan hanya separuhnya yang berasal dari anggaran pemerintah, separuhnya lagi berasal dari sumber non-pemerintah yang didapatkan melalui proses yang kompetitif;

[2] Riset yang dilakukan di KTH bukan hanya untuk pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga riset untuk kepentingan industri (industrial-oriented research);

[3] KTH menjalin kerjasama dengan industri untuk peningkatan kualitas SDM industri sekaligus melaksanakan kerjasama penelitian melalui program S3 (Ph.D) yang khusus dirancang untuk ini. Industri mengirim staf untuk mengikuti pendidikan S3 dan mengusulkan topik riset untuk disertasinya dengan biaya penuh dari industri baik untuk proses pendidikan maupun pelaksanaan risetnya. Namun demikian, standar akademik tetap dipegang penuh oleh pihak KTH sesuai jenjang pendidikan yang ditempuh;

[4] Struktur organisasi KTH bersifat dinamis dan responsif terhadap kebutuhan, sekarang terdapat 10 fakultas, termasuk penambahan baru (atau pengembangan dari struktur sebelumnya) fakultas biotechnology (lebih fokus pada bioteknologi terkait kesehatan), pendidikan dan komunikasi untuk ilmu-ilmu perekayasaan (education and communication in engineering sciences) terutama dikaitkan untuk peningkatan pemahaman publik tentang ‘sustainability’, serta perekayasaan dan manajemen industrial (industrial engineering and management);

[5] Walaupun penduduk tumbuh, kesejahteraan masyarakat meningkat, dan aktivitas industri meningkat; namun konsumsi energi Swedia relatif stabil, malah emisi CO2 menurun, karena sumber energi yang lebih banyak digunakan adalah energi listrik yang dibangkitkan melalui energi air dan nuklir.

Pelajaran bagi Indonesia: [1] Perguruan tinggi perlu merancang kerjasama yang bersifat mutualistik (bukan sekedar seremonial) dengan industri melalui kegiatan riset yang berorientasi pada pengembangan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan atau dapat menjadi solusi bagi permasalahan teknis yang dihadapi oleh industri. Dengan demikian, maka kontribusi industri dalam pembiayaan penelitian dan pengembangan diharapkan dapat meningkat, sehingga ketergantungan pada pemerintah sebagai penyedia anggaran penelitian akan berkurang; [2] Struktur organisasi dan kurikulum pendidikan tinggi perlu bersifat dinamis menyesuaikan dengan realita kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi Indonesia. Setelah peran perguruan tinggi nyata dirasakan kontribusinya terhadap pembangunan nasional dan dalam menyelesaikan persoalan bangsa, seharusnya baru dicanangkan upaya ‘menuju world class university‘ yang sekarang latah dilakukan oleh banyak perguruan tinggi di Indonesia, baik PTN maupun PTS.

SONY DSC

(Naskah oleh Benyamin Lakitan; Foto oleh Benyamin Lakitan dan Agustin Arijanti)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: