Benyamin Lakitan

Beranda » Article » Working Visit » Working Visit 04: Swedish National Museum of Science & Technology

Working Visit 04: Swedish National Museum of Science & Technology


Museum ilmu pengetahuan dan teknologi Swedia ini didirikan tahun 1924 oleh the Royal Swedish Academy of Engineering Sciences bersama-sama dengan beberapa lembaga lainnya. Bangunan yang ada pada saat ini merupakan hasil rancangan arsitek Ragner Hjorth dengan gaya fungsionalistik. Dibuka untuk publik pada tahun 1936, dikelola oleh yayasan mulai pada tahun 1947, tetapi kemudian sejak 1946 pengelolaan dan pemeliharaannya dibiayai oleh pemerintah.

Nama Museum Iptek ini dalam bahasa Swedia adalah Tekniska Museet. Museum teknologi ini difungsikan sebagai aktualisasi dari upaya preservasi terhadap warisan sejarah teknologi dan industri Swedia. Luas total ruang pajang (galeri) pada museum ini mencapai sekitar 10.000 m2 untuk menampung sekitar 50.000 barang atau artefak teknologi, 600 meter rak buku untuk menampung 50.000 buku atau dokumen, plus sekitar 200.000 lembar gambar, dan 620.000 foto. Museum ini dikunjungi sekitar 170.000 pengunjung per tahun.

Kunjungan ke museum ini dilakukan pada hari Selasa 29 Oktober 2013. Beberapa hal yang menarik berdasarkan observasi pada saat kunjungan adalah:

[1] Mayoritas pengunjung adalah anak-anak usia sekolah dasar yang ditemani oleh orang tua atau datang berkelompok sesama anak usia SD tersebut, mengindikasikan bahwa ketertarikan pada ilmu pengetahuan dan teknologi telah tumbuh sejak usia dini;

[2] Walaupun untuk menikmati dan mengamati dari dekat benda atau artefak yang dipamerkan ini dikenakan biaya masuk, namun tidak secara ketat dibatasi bahwa yang dapat masuk ke dalam museum adalah pengunjung yang telah mempunyai tiket masuk (lokasi pembelian tiketnya sendiri sudah berada di dalam gedung). Kesannya pembelian tiket tersebut lebih diposisikan sebagai ‘donasi’ untuk meringankan pembiayaan dari pemerintah, tetapi tidak untuk membatasi hasrat pengunjung untuk mengakrabi iptek. Pengunjung yang membeli tiket ditandai dengan penempelan stiker kertas bulat berwarna tanpa tulisan atau tanda lain pada stiker tersebut;

[3] Sebagian besar benda yang dipamerkan boleh disentuh kecuali hanya beberapa yang diberi pembatas agar tidak tersentuh oleh pengunjung. Kesannya agar pengunjung bisa betul-betul mengoptimalkan keakrabannya dengan iptek;

[4] Sebagian besar benda yang dipamerkan adalah alat, instrumen, atau mesin yang memang dimanfaatkan dalam kehidupan nyata bukan alat peraga untuk memudahkan konsep pemahaman tentang teori atau fenomena tertentu, terutama yang inventornya adalah bangsa Swedia; dan

[5] Di dalam museum disediakan juga ruangan untuk orangtua/guru dan anak atau sesama anak untuk mendiskusikan apa yang dilihatnya.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Catatan: Bagus juga jika PP Iptek mengumpulkan hasil inovasi akar-rumput (grassroots innovations) di seluruh penjuru tanah air, walaupun berupa alat atau mesin sederhana, tetapi semua adalah hasil inovasi bangsa sendiri dan mungkin dapat mengilhami para perekayasa untuk mengembangkannya menjadi alat dan mesin yang lebih modern (lebih handal, lebih efisien). Yang pasti setiap inovasi akar-rumput tersebut sudah terbukti ada kebutuhan masyarakat untuk itu sehingga pasti berguna, hanya saja harus disesuaikan juga dengan kapasitas absorpsi dari masyarakat sebagai pengguna potensialnya.

(Naskah oleh Benyamin Lakitan; Foto oleh Benyamin Lakitan dan Mulyanto)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: