Benyamin Lakitan

Beranda » 2014 » Januari

Monthly Archives: Januari 2014

Slide 47: Penguatan Iptek untuk Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan


Indonesia adalah negara maritim, 2/3 wilayahnya adalah laut, tetapi ironisnya jumlah akademisi, peneliti, dan perekayasa teknologi di Indonesia hanya sedikit. Jauh lebih sedikit dibandingkan dengan tenaga akademisi, peneliti, dan perekayasa yang menggeluti wilayah daratan. Juga hanya sedikit perguruan tinggi di Indonesia yang punya program studi kelautan dan perikanan. Demikian pula lembaga riset kelautan dan perikanan juga sangat kurang. Maka tak mengherankan jika publikasi hasil riset kelautan dan perikanan masih relatif jauh lebih sedikit. Riset kelautan di wilayah Indonesia lebih banyak dilakukan oleh peneliti dan lembaga riset asing, berarti mereka lebih tahu dan paham tentang potensi kelautan kita dibandingkan kita sendiri. Sedihkan?

Tapi kesedihan tak akan mengubah keadaan. Yang perlu adalah kesungguhan akademisi, peneliti, dan perekayasan kelautan dan perikanan untuk mengembangkan iptek yang fokus dan relevan untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan sumberdaya kelautan yang kita miliki. Institusi pengelola keuangan negara perlu mengalokasikan anggaran yang lebih proporsional untuk mendukung riset dan pengembangan teknologi kelautan. Kebijakan dan regulasi perlu lebih efektif untuk mewujudkan keberpihakan pada upaya perkuatan iptek kelautan, tidak hanya bidang perikanan, tetapi juga energi, transportasi, wisata bahari, dan pemeliharaan ekosistem dan biodiversitas. Di laut seharusnya kita jaya …

Slide lengkapnya bisa dilihat atau diunduh disini

Hasil Jajak Pendapat 04: Meningkatkan Alokasi APBN untuk Penelitian


Pada Jajak Pendapat 04 (JP4) ditanyakan:

Menurut dugaan anda, mengapa pemerintah belum mau meningkatkan alokasi anggaran untuk penelitian di Indonesia?

Berdasarkan jawaban dari 115 (seratus lima belas) responden (voter), maka rekapitulasi hasilnya adalah:

Poll 04

Dari total responden, 32,17% menduga bahwa pemerintah belum meningkatkan alokasi anggaran untuk penelitian karena banyak sektor pembangunan lain yang lebih perlu diprioritaskan. Ungkapan ini merupakan cara lain untuk mengatakan bahwa pemerintah menganggap bidang iptek belum perlu diprioritaskan saat ini. Hal ini kontradiktif dengan apa yang dicantumkan dalam dokumen formal yang menjadi panduan kebijakan dan peraturan perundangan yang telah diterbitkan pemerintah, misalnya MP3EI yang menempatkan secara jelas pembangunan SDM dan iptek sebagai salah satu dari 3 strategi utama untuk percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia. Demikian pula dalam RPJP 2025.

Secara hakiki, tidak ada yang dapat membantah bahwa kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas SDM yang dimiliki serta relevansi dan kualitas iptek yang dikuasai. Namun demikian, keengganan pemerintah menaikkan alokasi anggaran penelitian dalam konteks saat ini adalah karena penelitian yang dilakukan (di masa lalu dan sampai saat ini terkesan) tidak relevan dengan realita persoalan dan kebutuhan sehingga tidak berdampak nyata pada pembangunan perekonomian, sebagaimana yang diduga oleh 38,26% responden pada jajak pendapat ini.

Tak terlalu banyak responden yang menduga bahwa keengganan pemerintah menaikkan anggaran tersebut terkait dengan kualitas ilmiah hasil penelitian yang rendah, sehingga tidak nyata berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan (15.65%) maupun karena pemerintah tidak yakin kementerian/lembaga/universitas mampu mengelola anggaran yang lebih besar (13.91%).

Berdasarkan hasil jajak pendapat ini maka diduga keengganan pemerintah untuk menaikkan anggaran lebih disebabkan karena belum dirasakan kemanfaatan dan kontribusi iptek terhadap pembangunan dibandingkan karena persoalan kualitas ilmiah dan kapasitas pengelolaan kelembagaan iptek.

Rekomendasi logisnya adalah komunitas pengembang iptek perlu lebih memperhatikan realita kebutuhan dan persoalan nyata pembangunan bangsa sebagai referensi dalam memilih dan memfokuskan kegiatan penelitian di masa yang akan datang. Tentu dengan tetap berpegang teguh pada kaedah ilmiah dan etika akademik, sehingga kegiatan penelitian tidak hanya bermutu tinggi secara akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan dan persoalan bangsa sehingga akan lebih bermanfaat bagi pembangunan.

Jika komunitas iptek berkontribusi nyata dan signifikan terhadap kemajuan peradaban bangsa dan kesejahteraan rakyat, maka sangat diyakini aliran anggaran penelitian akan juga lebih lancar dan signifikan. Hanya saja hubungan sebab-akibat ini layaknya harus dimulai dari pihak pengembang iptek dan mulai dari sekarang.

Ucapan Terima Kasih: [Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh 115 responden (voters) yang telah meluangkan waktunya untuk berpartisipasi pada jajak pendapat ini. Semoga apa yang telah kita lakukan bersama melalui jajak pendapat ini bisa memperkaya pengetahuan kita dan teman-teman lainnya yang tertarik dengan pengelolaan iptek]

Survey 01: Eco-Innovation Survey 2014


Mohon kesediaan teman-teman untuk berpatisipasi pada survei tentang ‘Eco-innovation’ atau inovasi yang selain untuk memperoleh keuntungan ekonomi/finansial dan/atau keuntungan sosial, juga untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Untuk berpartisipasi silahkan klik

Project 2014 ITBA 02: Menyoal Tridharma Perguruan Tinggi yang Pincang


Pendidikan akan meningkatkan dan memperkaya ilmu pengetahuan yang dikuasai seseorang; sedangkan penelitian utamanya diharapkan bermuara pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat. Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) ini yang kemudian diabdikan kepada masyarakat. Tridharma perguruan tinggi itu sangat indah. Sayangnya saat ini tiga kaki tridharma ini masih pincang. Boleh dibilang kegiatan pendidikan dan pengajaran masih sangat dominan di semua perguruan tinggi di Indonesia.

Apa yang terjadi jika dukungan terhadap pendidikan berjalan baik tetapi kegiatan penelitian tidak mendapat dukungan yang memadai? Jawaban lugunya adalah kualitas intelektual SDM akan meningkat tetapi teknologi domestik tidak berkembang. Dalam kaitan dengan kontribusinya terhadap pembangunan ekonomi, perguruan tinggi di Indonesia lebih nyata kontribusinya dalam menyiapkan SDM terdidik ketimbang teknologi yang dibutuhkan.

Tridharma - SINas
Skema Ketimpangan Tridharma yang berbuah SDM Terdidik tetapi Tenggantung pada Teknologi Asing dalam Mendorong Pembangunan Ekonomi (Lakitan, 2013)

Ketimpangan ini jarang mendapat perhatian di Indonesia. Mungkin juga di negara-negara berkembang lainnya. Tapi untuk sementara kita gak usah pusing dengan apa yang terjadi di negara lain, karena urusan negara kita sendiri saja sudah mumet banget kan? Tak banyak yang melihat persoalan ketimpangan ini sebagai masalah serius. Termasuk pakar pendidikan yang hebat-hebat di negeri ini. Saya kok melihat ini sebagai sesuatu yang serius untuk mendapat perhatian di republik ini. Mengapa?

Begini ceritanya: kalau kualitas intelektual SDM meningkat maka kebutuhan (dan ketergantungan!) SDM tersebut terhadap produk teknologi atau ambil contoh produk teknologi yang popular sekarang, yakni peralatan telekomunikasi komunikasi. Anak muda sekarang lebih suka menyebutnya ‘gadget’. Ketergantungan pada gadget ini akan semakin tinggi bagi SDM terdidik tersebut agar bisa unjuk kinerja. Betul kan? Kalau anda bilang pernyataan ini tidak betul, maka cerita saya hentikan sampai disini. Titik.

Tetapi saya yakin betul bahwa banyak diantara teman-teman yang membaca tulisan ini akan membenarkan pernyataan di atas. Lha, mana mungkin hari gini gak butuh gadget untuk bisa unjuk kinerja yang optimal apalagi untuk maksimal. Masih gak percaya? Silahkan cek ada apa di dalam tas kerja para profesional muda saat ini … I’m stunned if you do not find any gadget inside that bag! Saya akan terperangah-perangahnya jika tidak ada laptop, i-pad, i-pod, atau minimal telepon cerdas di dalam tas mereka!

Hebatnya lagi, produsen gadget itu selain sudah pasti akan menjaring kaum intelektual dan/atau professional yang memang butuh, juga secara super cerdas mengemas produknya agar lebih ‘user-friendly’ sampai anak TK pun mudah untuk menggunakannya. Pernah liat anak TK pake telepon seluler kan? Saat ini bukan cuma tenaga professional yang punya ketergantungan tinggi terhadap teknologi, tetapi juga sudah menjangkiti seluruh lapisan masyarakat. Di Jakarta, mayoritas asisten rumah tangga dan tukang sayur punya telepon seluler. Ini harusnya masuk dalam ‘Ripley’s Believe It or Not!’

Rasio antara jumlah telepon seluler dengan jumlah penduduk terus meningkat hampir di semua negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. Dari satu sisi ini bagus-bagus saja, tetapi harusnya sebagian dari ‘kita’ wajib merasa miris, karena diantara bejibun gadget yang digunakan masyarakat tersebut, adakah yang buatan Indonesia dengan mengaplikasikan teknologi sendiri? Dalam konteks ini, anda boleh memilih apakah memasukkan diri anda dalam kelompok ‘kita’ tersebut atau bukan. Gadget yang masih prototype atau masih digarap di laboratorium tak usah dihitung, karena sering ceritanya hanya berakhir sebagai artefak teknologi …

Kalau seandainya, umpamakan, mungkin ada yang kurang berkenan dengan pernyataan yang terakhir ini maka berarti bagus, berarti kita masih ada harapan. Tidak perlu maki-maki, karena makian pembelaan diri itu cuma akan mempertegas posisi anda berada dimana dalam rentang spektrum harapan tersebut.

Gadget tersebut hanyalah salah satu contoh. Pada dasarnya apapun profesi dari kaum intelektual tersebut dia akan butuh teknologi. Semakin sophisticated jenis pekerjaannya, maka semakin tinggi ketergantungan pada teknologi. Semakin tinggi tingkat intelektualitasnya, maka semakin tinggi pula ketergantungan pada teknologi untuk bisa unjuk kinerja sebagaimana yang ditumpukan kepadanya. Wis, sederhananya begini: keberhasilan pendidikan dalam ‘memproduksi’ SDM terdidik, profesional, atau intelektual adalah sangat baik. Dilihat secara parsial, tidak ada yang salah dengan ini. Acung dua jempol untuk ini. Akan tetapi menjadi salah jika keberhasilan ini tidak diimbangi dengan upaya sungguh-sungguh untuk mewujudkan kemandirian teknologi nasional. Jika ketimpangan ini tidak segera diseimbangkan, maka sekumpulan orang pintar yang dihasilkan itu hanya akah dilihat oleh produsen produk teknologi sebagai pasar yang sangat potensial.

Saat ini, sisi lain yang sering dilihat, digunjingkan, didiskusikan biasanya terkait dengan persoalan ketergantungan pada teknologi asing telah menghilangkan peluang kita untuk menikmati nilai tambah dari bahan baku industri yang melimpah tersedia dari bumi pertiwi (misalnya bahan tambang) atau mudah dan murah diproduksi (misalnya komoditas pertanian). Ini juga menjadi argumen untuk mendorong kemandirian teknologi nasional.

Biasanya pihak yang dituding sebagai biang keladi ketidakberhasilan kita membangun kemandirian teknologi nasional adalah pemerintah, alasannya karena pemerintah lebih suka membeli teknologi asing yang sudah tersedia daripada membiayai penelitian untuk mengembangkan teknologi yang dibutuhkan. Tak perlu ada pembelaan disini, karena banyak yang mensinyalir hal ini benar adanya. Para akademisi dan peneliti gandrung menggunakan alasan ini jika ditanya tentang mengapa iptek kita sampai saat ini tidak berkontribusi nyata terhadap pembangunan, secara sosial maupun ekonomi, hampir di semua sektor. Walaupun perlu diakui ada beberapa titik terang diantara sektor-sektor pembangunan tersebut. Berdasarkan observasi lapangan, teknologi domestik bidang kesehatan dan pertanian terlihat lebih baik kontribusinya dibanding bidang lainnya.

Sesungguhnya dunia usaha juga sama dengan perilaku pemerintah dalam hal impor teknologi ini. Badan usaha di Indonesia juga sangat doyan impor teknologi dan hanya memandang sebelah mata terhadap teknologi domestik. Lalu siapa yang salah dalam hal ini. Mari jangan main tuding-tudingan. Saya pernah diperagakan oleh teman dengan tampilan jari jemari tangannya saat melakukan tudingan. Ternyata (saya pura-pura terkejut :D) hanya telunjuk yang mengarah ke pihak yang dituding; sedangkan jari tengah, manis, dan kelingking semua mengarah ke diri pihak yang menuding; sedangkan ibu jari yang bijak menunjuk ke atas. Tafsirnya adalah sebelum menuding pihak lain, sebaiknya kita introspeksi diri sebanyak tiga kali lipat intensitasnya, selain kita diingatkan untuk bermunajat kepada ‘Yang Di Atas’.

Mungkin para akademisi, peneliti, dan perekayasa perlu melakukan introspeksi tersebut. Bukankah hampir semua alat, instrumen, atau mesin yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan penelitian juga adalah produk impor atau hasil aplikasi teknologi asing? Termasuk alat-alat penelitian yang sederhana? Bukankah hal ini juga dapat ditafsirkan bahwa lembaga riset dan perguruan tinggi juga lebih suka mengimpor teknologi asing daripada membuat sendiri?

Ah, sudahlah. Realitanya, menghentikan impor teknologi asing dan menggantikannya dengan teknologi domestik yang belum siap atau jauh kalah kompetitif rasanya juga hampir mustahil akan terjadi secara instan. Gimana kalau begini saja. Tingkatkan kemampuan kita untuk mengembangkan dan memproduksi teknologi yang dibutuhkan oleh pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat agar secara berangsur ketergantungan pada teknologi asing dapat dikurangi; paralel dengan itu, alokasi dana untuk penelitian secara berangsur juga terus ditingkatkan sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi nyata teknologi domestik terhadap pemenuhan kebutuhan dalam negeri yang telah berhasil dicapai dari tahun ke tahun. Pendekatan ini terkesan lebih realistis, intelek, dan bermartabat daripada memaksakan agar anggaran ditingkatkan tetapi tidak dibarengi dengan upaya meningkatkan kemanfaatan teknologi yang dihasilkan.

Lagi pula siapa yang berani menjamin bahwa pelipat-gandaan anggaran penelitian akan menghasilkan teknologi yang secara teknis lebih handal dan secara ekonomi lebih kompetitif bagi pemenuhan kebutuhan nasional. Sebagai contoh kasus, sejak 2009 anggaran pendidikan sesuai amanah konstitusi telah dialokasikan sebesar minimal 20 persen dari total APBN. Nah, perlu kita telaah, apakah kebijakan peningkatan alokasi anggaran setelah 5 tahun berjalan ini telah dirasakan berdampak nyata pada peningkatan produktivitas, kualitas, dan relevansi pendidikan kita? Wallahu a’lam bish-shawabi.

[Uraian ini akan dibaca ulang dan disunting lagi … entah kapan baru akan dianggap tuntas 😛 ]

Catatan: Tulisan ini merupakan ‘living document’ yang dinamis. Akan terus selalu ditambah dan diedit. Silahkan memberikan masukan, koreksi, atau pengkayaan materi yang dirasakan perlu diakomodir dalam project ini.

Hasil Jajak Pendapat 2: Keseriusan Pemerintah Mendukung Pengembangan Teknologi


Pada Jajak Pendapat 2 (JP2) ditanyakan:

“Seriuskah Pemerintah mendukung pengembangan teknologi nasional?”

Jawaban dari 93 (sembilan puluh tiga voter) adalah:

Poll 02

Planet Earth 74: Modern Buildings in London


London adalah kota tua penuh sejarah. Banyak sekali bangunan tua yang menjadi ikon kota London, tetapi agar tidak lupa bahwa London juga tidak imun terhadap pengaruh arsitektur modern. Selain itu, peningkatan kebutuhan ruang kerja dan hunian yang terus bertambah, tidak memungkinkan bagi kota metropolitan sebesar London untuk terus mengandalkan batu alam dan kayu sebagai bahan bangunan.

Ekploitasi sumberdaya alam sudah semakin terbatas dan dibatasi. Desakan untuk membuat bangunan yang lebih berwawasan ekologis (green building) karena lebih hemat dalam pemakaian energi di satu sisi; dan dari sisi lain, kemajuan teknologi telah mampu menghasilkan bahan bangunan sintetis atau hasil fabrikasi yang lebih kuat, lebih mudah diolah, relatif lebih murah di bandingkan bahan alam, dan ekologis telah bermuara pada transformasi arsitektur bangunan dari goethic yang kaya ornamen ke gaya minimalis yang lebih mengutamakan aspek fungsional bangunan. Dimulailah periode gedung berbentuk geometris dengan dinding luar didominasi bahan kaca. Dinding kaca untuk negara empat musim akan lebih hemat energi untuk pemanas udara dan penerangan, terutama pada musim dingin, karena kaca dapat berfungsi memerangkap energi dari cahaya matahari (greenhouse effect).

Gedung-gedung dalam foto-foto ini berlokasi di pinggir Sungai Thames antara London Bridge dan Tower Bridge dan pada satu kawasan dengan The Shard, menara tertinggi di London dan Eropah Barat.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Sisipan 21: Mendaki Gunung Gede-Pangrango


Mendaki Gunung Gede Pangrango 2010

Secara tidak sengaja ketemu foto ini, ketika saya (ketiga dari kanan) mendaki Gunung Gede-Pangrango tahun 2010 bersama anak saya (kedua dari kanan) dan teman2 anak saya …

%d blogger menyukai ini: