Benyamin Lakitan

Beranda » Article » Project 2014 ITBA 00: Pengantar

Project 2014 ITBA 00: Pengantar


SONY DSC
Pertama, dari awal sekali saya ingin menjelaskan bahwa walaupun tulisan ini pake judul ‘project’ tapi sepeserpun gak diniatkan untuk pake dana publik untuk melaksanakannya. Ini murni sebagai wadah untuk menyalurkan hasrat pribadi, yakni menulis. Saya sulit untuk bisa menahan hasrat untuk menulis. Sama sulitnya dengan menahan pipis saat sudah kebelet banget. Begitu kira-kira. Soal nanti ada yang mau membacanya atau tidak, itu persoalan lain.

Kedua, saya jelaskan kenapa pake 2014. Penjelesannya super sederhana, yakni karena ulah saya ini dimulai berbarengan dengan awal tahun 2014. Sehabis nonton kembang api di Bunderan HI, tiba-tiba saja saya kepikiran. Penjelasannya gitu aja. Titik.

Ketiga, sekarang lagi musim singkatan. Semua disingkat. Untuk efisiensi kata atau memang sengaja bikin orang lain bingung atau biar terkesan ekslusif untuk kalangan tertentu saja, yakni kalangan orang yang paham tentang singkatan itu. Saya tidak ‘fobi’ singkatan tapi juga tidak ‘cinta’ betul dengan singkatan. Dalam tulisan ini saya menggunakan singkatan ITBA cuma karena alasan malas kalau harus mengetik frasa ‘Inovasi Teknologi dalam Bahasa Awam’ berulang-ulang. Hey, sekaligus berarti sudah saya jelaskan juga bahwa ITBA itu singkatan dari Inovasi Teknologi dalam Bahasa Awam kan?

Kadang-kadang saya agak inovatif dalam cara memberikan penjelasan. Kadang-kadang membosankan. Mohon dimaklumi saja. Saya menulis lebih karena adanya gejolak dalam benak dan kadang bathin saya yang akan lebih menentramkan jiwa saya kalau itu disalurkan. Secara formal, pelajaran mengarang saya berakhir dengan berakhirnya mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 3 SMA. Itu kalau tidak silap. Kemudian saya praktekkan saat menulis skripsi, tesis, dan disertasi. Disela-sela tenggat waktu itu, kadang saya menulis puisi, cerpen, opini di koran, berbagai laporan praktikum, artikel ilmiah di jurnal. Ada yang dalam bahasa Inggris juga. Weleh. Oya, dulu juga sering tulis surat cinta untuk calon isteri saya waktu itu. Pacaran jarak jauh gitu. Ups, saya mulai ngelantur.

Substansi yang akan disampaikan disini adalah ‘berat’. Inovasi teknologi. Saya harus dan perlu serius. Biar lebih terkesan intelektual. Selanjutnya juga kalau serius mudah-mudahan para pakar dan intelektual berkenan membacanya juga. Walaupun memang tulisan ini lebih dirancang agar masyarakat awam juga bisa menikmatinya. Agar masyarakat awam tidak alergi mendengar kata ‘teknologi’ atau ‘inovasi’. Namun jika dipantau di ranah publik saat ini, hampir semua kalangan sudah menggunakan dan akrab dengan kata inovasi. Misalnya, juri lomba nyanyi juga bilang ke peserta seperti ini:”Wah, kalau minggu depan kamu tampil gak ada inovasi maka kamu bisa tereliminasi”.

Kata inovasi sudah mewabah. Kata inovasi digunakan dalam bahasa pergaulan sehari-hari, dituturkan oleh masyarakat dari berbagai kalangan, bukan cuma oleh komunitas iptek semata. Iklan produk komersial di media cetak dan media elektronik juga sering menyisipkan kata inovasi. Lha terus mengapa mesti repot? Masalahnya, jika kata inovasi itu diasosiasikan dengan konteks teknologi, maka ia harus dimaknai secara pas. Persoalannya, saat ini kata inovasi itu dalam komunitas iptek masih sering digunakan secara tidak pas. Sering ditukar-padankan dengan kata invensi. Padahal dalam pakem teknologi, invensi dan inovasi itu berbeda. Eits, bahasa yang saya gunakan mulai ribet. Apa itu tukar-padan? Tapi sudahlah gak perlu dibahas terlalu mendalam. Maksud saya kata inovasi sering ditukar dengan kata invensi atau sebaliknya. Kedua kata ini sering dianggap sepadan. Kata inovasi kadang diposisikan sebagai sinonim dari invensi. Nah ini jelas keliru. Perlu diluruskan.

Belum lagi pemahaman tentang makna inovasi di kalangan komunitas iptek di Indonesia juga kadang masih belum sama. Apalagi tentang ‘Sistem Inovasi’. Namun demikian, istilah sistem inovasi nasional (sering disingkat dengan SINas) atau sistem inovasi daerah (disingkat SIDa) sudah ditebar ke seluruh pelosok nusantara. Semua fasih melafaskan SINas dan SIDa, tetapi saya berprasangka bahwa dalam benak banyak pihak tersebut, pemahaman tentang sistem inovasi masih beranekaragam. Ada yang pemahamannya sudah pas, tapi tak sedikit juga yang belum.

Yang lebih merepotkan adalah jika pemahaman yang keliru atau kurang pas tentang inovasi dan sistem inovasi ini melekat dalam benak orang-orang yang oleh masyarakat dianggap sebagai pakar di bidang ini, atau pejabat yang berwenang memformulasikan kebijakan terkait inovasi dan sistem inovasi. Hal ini bukan mustahil terjadi, karena mereka yang dianggap pakar dan/atau mereka yang berwenang membuat kebijakan tersebut juga manusia kan? Mereka bisa keliru, bisa kurang paham, atau bisa juga diberi masukan yang keliru. Jika ini terjadi, maka pemahaman yang kurang pas ini dapat berkembang biak dengan cepat, karena para pakar mudah mempengaruhi komunitasnya dan para pembuat kebijakan berpotensi menggiring publik ke alur pemahaman yang keliru tersebut.

Wabah ‘keliru’ ini sulit diberantas jika arogansi jabatan dan/atau gengsi akademik telah merasuki jiwa para pakar dan pembuat kebijakan. Tidak jarang (maaf saya koreksi saja menjadi kadang-kadang ya …) ada pakar yang menggunakan tameng dengan pernyataan seperti ini:”Saya inikan guru besar yang telah menggeluti masalah ini sekian tahun” atau “Saya memperoleh gelar doktor di bidang ini dari universitas terkemuka di dunia” atau “Wah, saya jelek-jelek gini sudah dipercaya mengerjakan hal ini lebih dari 15 tahun” atau ungkapan lain yang serupa untuk mempertahankan pendapatnya yang keliru atau bisa juga untuk mengamankan ‘sumber pendapatannya’ (insert: smiley icon disini) dari orang yang dianggapnya sebagai pesaing. Bukan sebagai orang yang tulus membantu meluruskan pemahaman. Aneh? Ya, gak usah terlalu surprise, kehidupan memang kadang aneh.

Saya mau kasih anekdot. Tapi kalau kamu gampang marah atau tersinggung, maka bagian anekdot ini gak usah dibaca. Lewatkan saja. Begini: ada unta yang seumur hidupnya di gurun Saudi Arabia, tapi tetap saja gak bisa bahasa Arab. Jika anda tersenyum habis baca anekdot ini berarti anda orang baik dan bijak; tapi jika tersulut emosi, anda jangan marah-marah ke saya ya … karena sudah saya sarankan untuk tidak baca dan lewatkan saja bagian ini.

Pendek kata, pemahaman yang tepat tentang inovasi dan sistem inovasi itu penting. Ini alasan saya berpayah-payah untuk menyiapkan tulisan ini. Demi kebaikan aku dan kamu para sahabatku. Percayalah.

[Uraian ini akan dibaca ulang dan disunting lagi … entah kapan baru akan dianggap tuntas 😛 ]

Catatan: Tulisan ini merupakan ‘living document’ yang dinamis. Akan terus selalu ditambah dan diedit. Silahkan memberikan masukan, koreksi, atau pengkayaan materi yang dirasakan perlu diakomodir dalam project ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: