Benyamin Lakitan

Beranda » Article » Jajak Pendapat 04: Meningkatkan Alokasi APBN untuk Penelitian

Jajak Pendapat 04: Meningkatkan Alokasi APBN untuk Penelitian


Alokasi anggaran negara untuk program dan kegiatan penelitian dan pengembangan di Indonesia tergolong rendah dan kondisi ini sudah berlangsung lama. Tentu ada pertimbangan dari pihak pemerintah (terutama instansi yang merancang pembangunan, mengelola keuangan negara, dan wakil rakyat) terkait mengapa alokasi anggaran untuk mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan iptek tersebut tak kunjung meningkat.

Iklan

27 Komentar

  1. sofwan effendi berkata:

    Perlu penyatuan dana riset oleh satu lembaga, sehingga dana riset dikelompokkan menjadi direct funding dan competitive funding.

    • blakitan berkata:

      Penyatuan pengelolaan dana riset secara akuntabel dan dikawal agar secara konsisten fokus mendukung kebijakan riset untuk menghasilkan iptek yang relevan dengan kebutuhan dan persoalan bangsa sehingga sistem inovasi yang efektif dan produktif dapat diwujudkan …

  2. Agusdin berkata:

    Riset yang dilakukan masih banyak sekedar pemenuhan kebutuhan project, misal buat memenuhi persyaratan kenaikan pangkat, dan menghabiskan dana, atau bahkan untuk mencari uang tambahan.

    • blakitan berkata:

      Sedih memang kalau akademisi, peneliti, dan perekayasa kita masih seperti yang digambarkan oleh pak Agusdin. Pendapat seperti ini sering juga saya dengar di berbagai kesempatan, baik melalui obrolan santai maupun pada forum ilmiah dalam komunitas akademik sendiri. Berarti ini memang bagian dari realita kehidupan akademik di negara kita. Saya sering mengatakan bahwa kalau kita ‘meneliti’ hanya untuk mendapatkan uang, maka pasti hanya uang yang didapatkan; tetapi jika kita meneliti secara sungguh-sungguh dan beretika maka kita bisa publikasikan (berarti dapat credit point untuk promosi jabatan fungsional), bisa dipatenkan hasilnya yang jika juga relevan dengan realita kebutuhan, maka paten tersebut lebih berpeluang untuk diadopsi oleh industri atau pihak pengguna lainnya, berarti akan mendapat royalti atau bentuk kompensasi finansial lainnya, berarti juga akan dapat uang yang kemungkinan dalam jumlah yang lebih signifikan dan lebih memberikan ketenangan bathin dalam menerima uangnya …

  3. M.Yamin Hasan. berkata:

    Karena hasil riset itu sendiri kalau di Indonesia tidak merupakan acuan penting bagi pengelolaan APBN. Banca’an APBN di negeri ini ditentukan oleh hasil kompromi dari elit-elit politik yang berkuasa dengan mepertimbangkan kalau dana APBN dialokasikan sedemikian rupa maka target yang akan dicapai adalah mereka akan mendapatkan apa.
    Disamping itu ya para akademisi,mengapa setiap depisit anggaran APBN di Indonesia ini,selalu disandarkan kepada kemampuan dana dari masyarakat untuk mengatasinya sehingga masyarakat menjadi terbebankan.Mengapa pajak-pajak dinaikkan,mengapa minyak dan gas sebagai hajat hidup orang banyak dinaikkan.Mengapa tidak diatasi dari meningkat hasil devisa negara,mengapa tidak menambah volume ekspor,mengapa tidak menaikkan pajak tambang yang dikelola oleh swasta asing dlsb.
    Saya tidak habis pikir apa yang dikerjakan oleh para menteri di bidang perekonomian sehingga negara ini sepertinya jalan sendiri dan tidak ada yang mengurusnya.

    • blakitan berkata:

      Logika sederhananya adalah kalau suatu negara kaya dengan sumberdaya alam, tetapi rakyatnya miskin, tentu ada yang salah dengan pengelolaannya …

      • eriyanto berkata:

        Riset tujuan adalah kemaslahan kemakmuran, elit politik tujuannya juga sama, sebaiknya pemerintah atau elit politik punya cita cita yang mulia bagai mana negara jadi makmur, negara maju. dan pemikiranya bukan hanya sesaat tetapi menuju cita cita seperti gemerlapnya bintang dilangit.

      • blakitan berkata:

        Saya setuju.

        Sebetulnya sudah jelas konstitusi UUD 1945 kita mengamanahkan bahwa pembanguan iptek adalah untuk memajukan peradaban bangsa dan menyejahterakan umat (Pasal 31 ayat (5).

  4. Ema Damayanti berkata:

    Pak Benjamin…sekedar sharing…
    Yang saya rasakan sebagai peniliti Junior, sepertinya kita lebih banyak berjuang sendiri2 utk melakukan riset dan mencari anggaran utk mendanai.
    Perencanaan/renstra sudah kita susun berdasarkan dokumen2 resmi yang dikeluarkan pemerintah seperti RPJMN, Masterplan dll. Tapi pada prakteknya banyak disesuaikan dengan ketukan palu oleh orang2 yang mungkin seperti digambarkan Bapak M Yasin Hasan di atas.
    Pemerintah belum berani menginvestasikan dana besar utk riset karena mungkin dianggap belum ada hasil langsung/signifikan.
    Tapi jika tidak dimulai kapan kita akan berdaulat/mandiri.
    Pemerintah masih lebih yakin menggunakan teknologi produk Luar Negeri (ready to use)…
    Pengalaman kecil saya training di Lembaga riset di China.
    Disana tampak kementerian sangat terkoordinir utk bekerjasama mencapai 1 tujuan yang sama meningkatkan perekonomian bangsa.
    Lembaga riset pemerintah, Universitas dan Industri melakukan riset yang saling mendukung dan jelas hasil risetnya ada yang menunggu utk digunakan.

    • blakitan berkata:

      Saya setuju bahwa agar penelitian memberikan dampak atau kontribusi yang lebih signifikan dibutuhkan anggaran yang lebih memadai. Namun dukungan anggaran yang lebih besar tidak otomatis dan pasti meningkatkan dampak positif penelitian terhadap pembangunan perekonomian. Artinya selain dukungan anggaran, maka penelitian juga harus difokuskan pada upaya memenuhi realita kebutuhan atau menjadi solusi bagi persoalan nyata yang dihadapi agar dapat berkontribusi nyata terhadap pembangunan. Bukan hanya sekedar ‘academic exercise’.

      Di negara maju, pembiayaan riset tidak hanya bersumber dari dana pemerintah. Umumnya hanya sekitar 1/3 berasal dari dana pemerintah; sedangkan 2/3 dari swasta. Di Indonesia, penelitian masih sangat bergantung pada dana pemerintah. Bagi pihak swasta, pembiayaan riset adalah investasi. Nah, agar pihak swasta mau berpartisipai dalam pembiayaan riset, tentu topik riset perlu relevan dengan kebutuhan atau persoalan yang dihadapi mereka kan? Kemitraan yang mutualistik antara lembaga riset/universitas dengan dunia usaha akan tumbuh jika kepentingan kedua belah pihak bisa terakomodir.

      Di negara maju juga ada skim pembiayaan riset dari pemerintah yang hanya akan diberikan jika peneliti mampu menggandeng mitra swasta yang bersedia ikut membiayai riset tersebut dengan jumlah yang sebanding dengan dana yang disediakan dari pemerintah (matching grant). Kementerian Ristek juga penyediakan Insentif seperti ini (salah satu dari 4 skim Insentif SINas), yakni Peningkatan Kapasitas Iptek Sistem Produksi, tapi kurang diminati oleh para akademisi, peneliti, dan perekayasa kita … Riset Dasar dan Riset Terapan masih sangat dominan (sekitar 85% dari total proposal yang diajukan).

      Menurut pandangan saya, pembenahan perlu dilakukan dari dua sisi, yakni [1] penelitian perlu memberikan kemanfaatan yang nyata dan [2] pembiayaan penelitian perlu ditingkatkan baik dari sumber pendanaan pemerintah maupun swasta. Upaya kolektif ini perlu dimulai dari diri masing-masing aktor yang terkait … Semoga menjadi kenyataan.

  5. dian novriadhy berkata:

    Jadi penasaran, apakah penelitiannya tidak direncanakan dengan baik atau perencanaannya yang tidak berdasarkan hasil penelitian atau keduanya? Saya tidak punya data pasti, tapi nampaknya fungsional perencana sendiri sangat minim di Bappeda apalagi di SKPD lain yang memiliki subbag perencanaan, sama minimnya dengan fungsional peneliti di balitbangda. Jadi bagimana bisa peneliti menghasilkan penelitian yang menjawab kebutuhan kalau yang merencanakan saja tidak tahu bagaimana menerjemahkan kebutuhannya dalam bentuk program yang jelas. Ujung-ujungnya hasil penelitian dianggap mubazir dan tidak perlu ditambah anggarannya.

    • blakitan berkata:

      Kayaknya persoalannya ada di dua sisi. Banyak kebijakan dan perencanaan pembangunan di Indonesia yang tidak didasarkan atas hasil kajian kebijakan dan/atau penelitian ilmiah. Kebijakan dan perencanaan hanya didasarkan atas selera dan kepentingan individu atau golongan semata. Demikian juga dari sisi penelitian, banyak peneliti yang membuat proposal penelitian tanpa terlebih dahulu memahami betul persoalan yang akan diteliti dan tidak jarang pula hanya merupakan replikasi dari penelitian yang sudah banyak dilakukan. Dalam sebuah sistem, pembenahan tidak bisa dilakukan secara parsial.

      Penelitian oleh SKPD di lingkungan pemerintah daerah sebetulnya lebih diarahkan untuk kajian kebijakan (policy research). Hasilnya sebagai dasar bagi pimpinan daerah untuk memformulasikan kebijakan dan regulasi daerah. Ada Permendagri yang menjelaskan tentang tugas dan fungsi Badan Penelitian dan Pengembangan (BPP) Daerah.

  6. NINIK berkata:

    menurut saya . riset banyak dilakukan secara sendiri-sendiri , tidak terpadu, sehingga hasilnya kurang maksimal. Potensi yang ada di Perguruan tinggi belum termanfaatkan dengan baikl, tidak melembaga dan masih berjalan dengan ego kelompok. Komunikasi antar peneliti belum terjalin dengan baik, maka perlu dimulai dari lingkungan terkecil kita, bersama kita bisa bicara banyak secara nasional.

  7. Pudji Untoro berkata:

    Hilangkan ego sektoral para peneliti dan ego lembaganya dan harus mau dikoordinir oleh orang yang kompeten di bidangnya.

  8. blakitan berkata:

    M Dencik Nawawi Deden:

    Prof Ben, mhn ma’af …mgkn sy tdk memilih dr 4 pilihan itu … tp menurut sy, perhatian serta keseriusan Pemerintah dan DPR lah yg masih kurang terhadap Bidang Penelitian. Shg anggarannya selalu keci dan dipangkas …. Pada hal dinegara maju… Bidang Litbang cukup jadi perhatian utama dan dianggap penting…krn sangat besar andilnya dlm pengambilan keputusan dan kebijakan terutama di Bidang Ekonomi….

    Balasan:

    Pak Dencik, trims atas komentarnya. Pada jajak pendapat sebelumnya >75% responden setuju bahwa pemerintah tidak atau sangat tidak serius mendorong kegiatan penelitian. Sekarang ingin ditelusuri alasan/argumen mengapa tidak ada keseriusan tsb …

  9. blakitan berkata:

    Medy Parli Sargo:

    Saya vote untuk statetment “karena tidak berdampak nyata pada pembangunan perekonomian nasional”. Walaupun saya tidak setuju dengan statement itu, namun saya vote hanya karena diamsumsikan sebagai anggapan dari pihak pemerintah sendiri. Dalam pandangan saya, jika pemerintah beranggapan demikian, maka anggapan tersebut adalah keliru. Pemerintah tidak mau mengambil resiko tanpa mau berupaya terlebih dahulu mengembangkan sistem pengelolaan iptek yang didukung dengan anggaran cukup. Terus terang sikap seperti itu nampaknya dipengaruhi oleh pandangan para ekonom senior. Sesungguhnya pengembangan iptek melalui kegiatan penelitian bukan untuk mencari untung dalam jangka pendek (secara ekonomi). Mohon maaf Prof, jika pendapat saya keliru.

    Balasan:

    @Pak Medy: Trims untuk komentarnya. Memang ini tentang persepsi kita terhadap sikap pemerintah yang masih terkesan enggan meningkatkan anggaran penelitian. Bukan tentang apa yang menurut kita seharusnya pemerintah lakukan.

    Info: jajak pendapat terdahulu tentang keseriusan pemerintah membangun iptek: dari 93 vote, 75,27 % tidak serius dan sangat tidak serius; 21,50 % serius dan sangat serius; 3,23 % tidak tahu.

  10. blakitan berkata:

    Yanuar Rizal Asran:

    Saya setuju dengan pendapat terdahulu bahwa Pemerintah tidak mau mengambil resiko tanpa mau berupaya terlebih dahulu mengembangkan sistem pengelolaan iptek yang didukung dengan anggaran cukup. Belum menhargai hasil buah pikiran dari para peneli dan pakar untuk direalisasikan menjadi seuatu yang berguna untuk kemajuan pembangunan bangsa ini.

    Balasan:

    @Pak Rizal: terima kasih atas pandangannya.

  11. blakitan berkata:

    Basuni Hamzah:

    Barangkali saya ini klo ketemu jajak pendapat, saya adalah yang paling lelet…hahaha…..Tapi nampaknya semua pilihan ada skor (klo dari awal pola nya menngunakan skor, saya mungkin mengisinya membutuhkan waktu kurang dari satu menit. Nanti, klo ada jajak pendapat yang ‘serupa tapi tak sama’, nampaknya ada baiknya menggunakan pola skor. Tapi jadi menambah pekerjaan mengolah datanya. Mohon maaf klo ada salah kata. Wassalam.

    Balasan:

    @Pak Basuni: Ini lebih untuk menelusuri ‘persepsi’ publik, tidak untuk memilih jawaban yang ‘tepat’ atau ‘benar’. Memberikan ‘clue’ terlalu detil juga bisa menimbulkan bias karena dapat menggiring responden ke pilihan yang ‘diinginkan’ pembuat jajak pendapat. Selain itu, responden yang disasar adalah masyarakat umum yang sangat beragam jenjang pendidikan formalnya, sehingga pilihan dibuat sederhana yang dekat dengan opini yang berkembang di masyarakat … πŸ˜›

  12. blakitan berkata:

    Nainggolan Sipengelana:

    Karena banyak sektor pembangunan lain yang lebih perlu diprioritaskan. Alasannya karena sektor lain lebih mudah di korupsikan.. sedangkan kalau untuk penelitian maybe sulit karena lawan nya orang2 berpendidikan jadi susah mau neko sana dan neko sini… hahahha…

    Jawaban

    @Bang Nainggolan: trims atas partisipasinya.

  13. blakitan berkata:

    Agusdin Din:

    Riset yang dilakukan masih banyak sekedar pemenuhan kebutuhan project, misal buat memenuhi persyaratan kenaikan pangkat, dan menghabiskan dana, atau bahkan untuk mencari uang tambahan.

    Balasan:

    @Agusdin Din: Terima kasih atas komentarnya

  14. blakitan berkata:

    Bandi Hermawan:

    Awal desember yang lalu Kemenristek dan DRN telah menyampaikan rekomendasi peningkatan dana penelitian ke Bappenas. Dimulai dengan memasukan pembangunan IPTEK ke dalam RPJMN mendatang dalam buku tersendiri…mudah2an pembahasannya di DPR berjalan lancar

    Balasan:

    Amiin …

  15. Ashwin Sasongko berkata:

    Pak Ben, karena sejarah selalu berulang, lihat aja naik turunnya anggaran penelitian. Dulu kecil banget. Lalu tempat saya kerja, LEN LIPI dapat anggaran guede sekali, lalu Ristek melalui BPPT, BPIS dsb dapat anggaran yg luar biasa besar. Lalu thn 98 mengecil lagi. Dari situ saja bisa dilihat kenapa ini semua terjadi. He he, perlu bikin FGD pak Ben.

    • blakitan berkata:

      Wah, senang banget dapet tanggapan dari senior yang sangat berpengalaman dan mengalami langsung dinamika dukungan anggaran untuk iptek di Indonesia. Apakah ini dapat ditafsirkan bahwa dengan adanya peranan tokoh iptek pada waktu itu, dapat diyakinkan bahwa perlu anggaran yang besar untuk membangun iptek dan ini dikabulkan, tetapi sayangnya pada saat anggaran iptek ‘luar biasa besar’ tersebut, ternyata para pelaku iptek pada waktu itu tidak mampu membuktikan bahwa iptek dapat memajukan peradaban bangsa dan menyejahterakan rakyat Indonesia, sehingga akibatknya kepercayaan pemerintah pada komunitas iptek merosot tajam. Lalu alokasi anggaran iptek dipangkas habis-habisan seperti yang dialami saat ini … Dengan adanya pengalaman masa lalu yang seperti ini, tentu menjadi lebih sulit untuk kembali meyakinkan pengelola anggaran negara untuk menaikkan kembali alokasi anggaran iptek ya?

  16. daijun berkata:

    Dear Pak

    Penelitian adalah sebuah dasar untuk bisa mengembangkan segala sesuatu. Minimnya orang mengerti atau membuat skema penelitian. Sewaktu melakukan Penelitian Mandiri di Sumbawa, Saya melihat banyak anggaran dana yang salah kelola pada unit penelitian dan pengembangkan karena SDM kurang cekatan dan masih banyak dana yang nganggur. Pada dasarnya Penelitian sangat diperlukan akan tetapi peningkatan SDM adalah menjadi peranan pentingnya. Salam Jaya dari Samawa. Kembali hidup demi sebuah karya dan pengabdian tiada akhir untuk bangsa dan negara

    • blakitan berkata:

      Untuk menjadi peneliti yang baik tidak cukup hanya bermodalkan pengetahuan dan ketrampilan semata, juga perlu kepekaan dan keinginan untuk memahami realita persoalan dan/atau kebutuhan nyata masyarakat, industri, dan/atau pemerintah. Pengetahuan dan ketrampilan yang diasah juga harus relevan dengan realita persoalan dan kebutuhan tersebut. Dugaan saya, dana riset yang ‘nganggur’ tersebut adalah karena SDM setempat tidak memahami persoalan/kebutuhan sehingga tidak tahu apa yang perlu diteliti; dan/atau tidak menguasai pengetahuan/ketrampilan yang relevan dengan kebutuhan/persoalan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: