Benyamin Lakitan

Beranda » Article » Project 2014 ITBA 01: Pentingkah Iptek ?

Project 2014 ITBA 01: Pentingkah Iptek ?


Pentingkah iptek? Pertanyaan ini betul-betul terkesan bodoh. Tak masuk akal jika kaum intelektual masih meragukan pentingnya iptek. Iptek itu pasti penting. Kalau iptek tidak penting, mana mungkin seluruh orang tua yang secara ekonomi mampu berbondong-bondong mendaftarkan anak-anaknya untuk sekolah, mulai dari kelompok belajar, taman kanak-kanak, sampai ke perguruan tinggi; sebagian tidak puas cuma sampai S1 dan lanjut menyekolahkan anaknya sampai S3. Mungkin kalau ada jenjang S4, masih ada juga yang minat untuk sekolah. Orang tua yang secara ekonomi kurang mampupun memimpikan anak-anaknya bisa sekolah. Ungkapan orang tua seperti ini sering kita dengar:”Saya ingin anak saya bisa sekolah setinggi-tingginya supaya tidak susah hidupnya seperti saya”. Maknanya, orang percaya bahwa pendidikan dapat menaikkan tingkat penguasaan ilmu pengetahuan yang bisa menjadi bekalnya untuk mendapat atau menciptakan pekerjaan yang akan meningkatkan kesejahteraannya.

Institusi pendidikan didirikan agar ilmu pengetahuan bisa dikembangkan dan diajarkan kepada (kalau bisa) seluruh dan setiap individu warga negara setiap bangsa di dunia. Seluruh negara di dunia, tanpa terkecuali, mengalokasikan anggaran untuk penyelenggaraan pendidikan ini. Semua negara kepingin rakyatnya menjadi pintar. Pintar sering diasosiasikan dengan capaian jenjang pendidikan formal tertinggi yang dicapai seseorang. Rata-rata capaian jenjang pendidikan formal penduduk suatu negara sering dijadikan indikator utama kualitas sumberdaya manusia negara tersebut. Dari sisi lain, sadar juga kita bahwa pintar itu tak identik betul dengan capaian pendidikan formal tertinggi. Banyak individu yang super cerdas atau digolongkan jenius tapi drop-out dari institusi pendidikan formal. Gak usah dibikin daftarnya disini. Pasti lumayan panjang daftar tersebut.

[insert: contoh beberapa individu yang drop-out sekolah/kuliah tapi sukses dalam kehidupan nyata di berbagai bidang]

Terlepas dari memadai atau kurang memadai, pas atau gak pas, penggunaan jenjang pendidikan formal sebagai ukuran kecerdasan seseorang atau sebagai salah satu indikator utama kualitas SDM suatu negara, saya yakin mayoritas pakar dan masyarakat awam tetap sepakat bahwa pendidikan formal itu penting. Ada yang penasaran dan meragukan tentang pernyataan bahwa pendidikan formal itu penting? Jika ada silahkan dilakukan survei besar-besaran untuk membuktikan hal ini, biar bisa dijustifikasi secara ilmiah. Tapi kalo saya merasa itu cuma buang-buang uang dan waktu saja. Kalau ada yang bilang ini cuma opini dan tidak ilmiah, ya silahkan. Sama seperti melakukan ‘penelitian’ tentang pengaruh jenis pupuk yang sudah dikenal luas oleh petani terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman yang sudah turun-temurun dibudidayakan petani di lokasi sentra produksi tanaman tersebut. Tanpa melakukan ‘penelitian’ itupun mayoritas orang sudah tahu kalo dipupuk tanamannya akan tumbuh lebih subur dan hasilnya lebih tinggi (tentu jika faktor-faktor lainnya dikendalikan).

Di alam nyata, di Indonesia juga, niat bersekolah untuk meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan kadang dikhianati oleh beberapa individu, mungkin lumayan besar populasinya, yang lebih mengutamakan agar mendapatkan gelar akademik daripada meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan. Ungkapan pengakuan secara verbal dan terbuka mungkin agak sulit didapatkan untuk kasus ini, tetapi jika ada alat/metoda pendeteksi pengakuan ‘hati nurani’ yang jujur, kita bisa mendapatkan informasi tentang berapa persen besarnya pengkhianatan akademik ini. Terlepas dari besarannya secara kuantitatif, fenomena ini menjadi indikasi bahwa dari perspektif sosial, pendidikan itu juga dianggap penting.

Dari dimensi legal dan konstitusional, pendidikan itu juga dianggap strategis dan penting. Sikap Indonesia merupakan contoh yang sangat jelas dalam hal ini. Setelah direvisi, Undang-Undang Dasar tahun 1945 mengamanahkan secara tegas bahwa 20 persen anggaran belanja negara wajib di alokasikan untuk sektor pendidikan. Wis, ini kartu As, yang menjadi pernyataan tegas dan konstitusional dari Indonesia bahwa pendidikan itu sangat penting!

Dengan demikian maka ditinjau dari sudut manapun pendidikan itu penting, baik secara substansial untuk peningkatan penguasaan ilmu pengetahuan, secara ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan, untuk meningkatkan status sosial dalam struktur masyarakat modern, maupun secara legal dan konstitusional sebagai buah dari dinamika politik nasional.

OK, pendidikan itu penting. Tapi tidak serta merta bisa diekstrapolasi menjadi iptek itu penting kan? Maksudnya bukan secara teoritis dengan berbagai asumsinya, tetapi dalam konteks realita di Indonesia saat ini. Ilmu pengetahuan melahirkan teori yang menjadi prasyarat untuk pengembangan teknologi, tapi proses ini tak mengalir secara otomatis. Perlu ada upaya. Upaya ini adalah kegiatan penelitian dan pengembangan. Nah, disini persoalannya. Walaupun banyak perguruan tinggi di Indonesia telah dengan penuh semangat mendeklarasikan diri sebagai ‘research university’, namun realita berbicara lain. Akui sajalah, bahwa semua perguruan tinggi di Indonesia masih sangat dominan dharma pendidikan dan pengajaran, bukan penelitian.

Dalam obrolan santai maupun dalam forum yang formal, ketika saya mengungkapkan realita ini, lumayan banyak juga akademisi yang kurang berkenan. Kadang obrolan atau diskusi terkait isu ini menjadi sedikit menghangat, tidak sampai ke titik didih, tapi terasa lebih tinggi dari suhu kamar. Untung saya punya data untuk meyakinkan bahwa perguruan tinggi di Indonesia masih kalah produktif secara akademik di bandingkan perguruan tinggi di beberapa negara tetangga di ASEAN, misalnya Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Publikasi ASEAN
Perbandingan jumlah publikasi ilmiah beberapa negara ASEAN tahun 2002-2011 (Lakitan et al., 2012)

Jika penasaran artikel utuh yang membahas produktivitas ilmuwan Indonesia bisa dilihat disini: https://benyaminlakitan.com/2012/08/11/scientific-productivity-and-the-collaboration-intensity-of-indonesian-universities-and-public-rd-institutions/

Biasanya suhu obrolan dan diskusi menurun kembali setelah mencermati data tersebut. Sebuah realita yang sebetulnya lebih bermanfaat jika diposisikan untuk memicu dan memacu motivasi untuk bekerja lebih baik (maknanya lebih berkualitas dan lebih produktif) daripada terus berupaya untuk menyapu aib tersebut ke bawah karpet. Hanya hasil riset yang berkualitas akan berpeluang besar untuk dipublikasi pada jurnal ilmiah dengan reputasi baik atau peer-reviewed journal. Hanya jika budaya akademik telah tumbuh subur maka produktivitas ilmiah akan meningkat. Sayangnya sampai saat ini, persoalan akademik yang paling fundamentalpun, yakni persoalan etika akademik, masih menjadi wabah nyata belum tuntas ditangani. Plagiarisme dan fabrikasi data masih terjadi.

Memang ada upaya untuk menegakkan etika ilmiah. Misalnya ada profesor yang dicopot jabatan fungsionalnya karena menjiplak tulisan orang lain. Ada pula gelar doktor yang dicabut kembali setelah ketahuan yang bersangkutan nyontek hasil penelitian orang lain. Beberapa tahun belakangan ini banyak dosen yang mengajukan promosi untuk menjadi gurubesar tidak dipenuhi karena alasan etika dan/atau rendahnya mutu karya akademiknya. Semua langkah ini patut diacungi jempol, perlu didukung, dan lebih diintensifkan.

Selain isu produktivitas dan kualitas, adalagi isu yang tidak kalah pentingnya, yakni relevansi. Tapi nanti sajalah kita kupas isu-isu ini secara lebih detil. Sementara kita akui saja bahwa kegiatan riset dan pengembangan di Indonesia saat ini masih jauh dari harapan. Kalau ditanya: mengapa? Maka jawaban yang paling populer dari kalangan akademisi, peneliti, perekayasa, dan para pengembang teknologi lainnya adalah alokasi anggaran untuk riset di Indonesia masih sangat kecil. Angka keramat 0.08 persen dari GDP berulang-ulang dikumandangkan sebagai alasan utama dan kadang-kadang juga sepertinya penyebab satu-satunya. Kesimpulannya: pemerintah Indonesia belum memperhatikan dan menghargai iptek, berarti iptek dimata pemerintah itu ‘tidak’ (atau supaya lebih sopan kita sebut ‘belum’) dianggap penting.

Setujukah jika uraian di atas menggiring kita untuk meyakini bahwa di Indonesia: pendidikan formal dianggap sangat penting, tapi pengembangan iptek tidak penting? Sebagai clue bisa dibandingkan nilai alokasi dana APBN untuk kegiatan pendidikan dan pengajaran dengan total nilai yang dialokasikan untuk kegiatan penelitian dan pengembangan di semua kementerian dan lembaga pemerintah.

[Uraian ini akan dibaca ulang dan disunting lagi … entah kapan baru akan dianggap tuntas 😛 ]

Catatan: Tulisan ini merupakan ‘living document’ yang dinamis. Akan terus selalu ditambah dan diedit. Silahkan memberikan masukan, koreksi, atau pengkayaan materi yang dirasakan perlu diakomodir dalam project ini.

Iklan

2 Komentar

  1. Iskandar Hadrianto berkata:

    Sebagai orang yg tidak pernah percaya thd jargon ‘transfer of technology’ (kecuali yg sunset, less friendly to nature & nenguntungkan patron dari sisi labor cost & proximity to resources) saya sangat setuju bhw penguasaan iptek (S&T) baru merupakan satu sisi dari mata uang logam (coin). Pengembangan iptek merupakan keniscayaan ;necessity) bagi sebuah bangsa utk memacu kreativitas, survival & membangun masa depan secara mandiri.

    Penggalakan universitas/PT riset merupakan dasar bagi pembangunan (sustainable development) apalagi
    jika bisa didukung adanya sineregy dgn private sectors/biz …dan tidak melulu sebatas applied science ttp juga pengembangan natural sciences atau pure/basic sciences.

    Kreativitas & Inovasi bisa muncul dari luar ‘academia ‘ ttp yg terstruktur dalam jalur biasanya tidak mandeg dlm applied krn memiliki ciri self-sustain & didukung oleh lingkungan yg curious (resercher) utk lebih mengembangkan lagi ke depan namun tetap bersandar pada sendi-sendi ‘moralitas’ dan etika keilmuan, i.e. non- GMO approach ( for the moment – dari psndangan pribadi saya sbg ‘man on the street in S&T)

    …dan yg paling penting adalah bagi mereka yg sdh bertekad menjadi teaching staff di PT haruslah memiliki motivation utk meneliti &self-sustained. Jika tidak nanti ilmu yg saya dapat = ilmu yg akan ditimba oleh cucu saya. Insya Allah itu hanya kekhawatiran saya yg tdk berdasar. Nyatanya waktu anak2 saya sekolah di Indonesia mereka jauh belajar matematikanya, i.e. Jika saya dulu mendapat aljabar, gonio, stereo … mereka memperoleh the so called modern mathematic & himpunan bilang an dsb. Yg tidak BERUBAH adalah theory penggaraman, dalil Avogadro, besaran Vector, Magdeburg ATM32 dsb…walaupun saat mereka saya tanya, jawabnya: “apaan tuch?” (Terima kasih kepada alm Pak Naryo-Stereo, Tri Pambudi-Fisika, Pak Sardjono & bu Sumiati: Kimia & Pak Pardi serta pak Harjono pak Giarto: aljabar, ilmu alam)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: