Benyamin Lakitan

Beranda » 2014 » Februari

Monthly Archives: Februari 2014

Sisipan 22: S3 Pertanian Unsri 2014 Kelas Metodologi Penelitian


SONY DSC
Bersama mahasiswa S3 Pertanian Universitas Sriwijaya yang mengambil mata kuliah Metodologi Penelitian 2014
SONY DSC

Iklan

Course Material 10 : S3 Pertanian Unsri – Filosofi Roadmap Penelitian


Setiap roadmap penelitian dibuat secara khusus, yakni: [1] berbasis pada realita kondisi saat ini untuk [2] subyek yang secara spesifik ditetapkan yang [3] diarahkan untuk mencapai sasaran yang dikehendaki dengan [4] mempertimbangkan kondisi dan potensi sumberdaya yang tersedia dan [5] mengantisipasi dinamika lingkungan eksternal untuk [6] rentang waktu yang ditetapkan. Oleh sebab itu, sangat tidak rasional jika menyontek roadmap yang dibuat orang lain …

The Roadmap

Roadmap penelitian tidak boleh didasarkan atas keinginan dan keahlian individu atau kelompok terbatas. Jika ada keahlian yang dibutuhkan tapi tidak dimiliki di lingkungan internal, maka perlu mengundang pihak/individu lain untuk membantu. Roadmap harus mengedepankan prinsip efektif dan efisien untuk mencapai sasaran, serta terbuka untuk kolaborasi. Roadmap bukan milik pribadi. Roadmap merupakan panduan bersama dan terbuka …

Roadmap harus dibuat secara cerdas (‘S-M-A-R-T’), yakni harus spesifik (S), terukur (measurable-M), mampu dilaksanakan (achievable-A), realistis (R), dan ditargetkan untuk rentang waktu tertentu (time-based-T).

Smart Roadmap

Cari menyajikan atau menampilkan roadmap sangat bervariasi, tergantung pada kreativitas dan citarasa seni yang membuat. Upaya ini dilakukan agar roadmap menjadi menarik (eye-catchy) dan memancing pihak-pihak terkait untuk lebih memperhatikannya sebagai panduan. Namun demikian, pada akhirnya tetap saja roadmap dapat menjadi panduan yang jelas, mudah dipahami, dan tidak memberikan penafsiran ganda.

Tampilan Roadmap 1

Tampilan Roadmap 2

Tampilan Roadmap 3

Slide materi kuliah ini secara lengkap bisa dilihat dan diunduh disini

Course Material 09 : S3 Pertanian Unsri – Publikasi pada Jurnal Internasional


Paling tidak ada 3 alasan utama tentang pentingnya mempublikasikan tulisan hasil penelitian ataupun ulasan pada jurnal internasional, yakni: [1] Mayoritas jurnal internasional saat ini telah memiliki versi on-line selain edisi cetak sehingga dapat diakses oleh peneliti/akademisi dari seluruh penjuru dunia; [2] Meningkatkan reputasi akademik peneliti/dosen jika mampu mempublikasikan hasil penelitiannya pada peer-reviewed journal tingkat internasional; dan [3] Memenuhi persyaratan formal untuk memperoleh gelar akademik atau promosi jabatan fungsional akademik atau peneliti.

Namun demikian, untuk dapat mempublikasikan tulisan pada jurnal internasional perlu upaya penyiapan manuskrip yang serius karena setiap tulisan tersebut akan dicermati dan dinilai kelayakannya untuk dipublikasikan oleh pakar di bidangnya masing-masing, termasuk penyiapan tabel dan gambar yang informatif dengan tampilan yang jelas dan jika mungkin juga indah.

Pollen

Skema BL

Selain itu, akan butuh waktu relatif lama sebelum tulisan disetujui (accepted) untuk dipublikasikan. Oleh sebab itu, dianjurkan sebelum manuskrip dikirim ke jurnal internasional perlu terlebih dahulu dilakukan internal review, yakni diskusi yang dilakukan bersama rekan sejawat untuk penyempurnaan manuskrip.

Proses percermatan/penilaian yang dilakukan oleh pengelola jurnal internasional dapat dalam format blind review, dimana penilai tidak mengetahui siapa penulis artikel yang dinilai dan sebaliknya penulis tidak tahu siapa yang menilai tulisannya; atau secara open review, dimana baik penilai maupun penulis mengetahui siapa yang menilai dan siapa yang menulis artikelnya. Tentu masing-masing cara ini punya keunggulan dan kelemahannya.

Sesungguhnya setelah artikel dipublikasikan juga akan mungkin terjadi post-publication review, yang walaupun tidak terstruktur dan terjadi atas dasar minat atau ketertarikan semata, tetapi proses ini tetap penting maknanya. Biasanya disampaikan dalam bentuk kritik dan komentar yang disampaikan oleh pembaca artikel.

alur peer review

Perkembangan media on-line yang sangat pesat telah memberikan dampak kurang positif bagi jurnal ilmiah, yakni dengan munculnya ‘predatory journal’, yang sepertinya ilmiah tetapi sesungguhnya hanya menjadi cara untuk mencari uang bagi pihak-pihak tertentu, dengan cara mengenakan biaya yang mahal bagi para penulis yang ingin tulisannya diterbitkan pada jurnal kualitas rendah ini. Jurnal ilmiah internasional yang baik tercermin selain dari citation index juga dari partisipasi penulisnya yang datang dari berbagai penjuru dunia.

Distribusi Authors

Tumbuh suburnya jurnal internasional on-line ini juga telah membuka peluang jasa baru, yakni journal indexing. Jasa indexing ini untuk memudahkan bagi peneliti/akademisi untuk mencari publikasi di bidang masing-masing atau malah lebih spesifik lagi, misalnya berkaitan dengan isu/topik penelitian tertentu. Ada beberapa situs untuk indexing ini yang telah dikenal dan punya reputasi ilmiah yang baik, misalnya Thompson Reuters, Scopus, Google Scholar, EBSCO, dan lain-lain.

Slide yang lengkap untuk bahan kuliah ini bisa dilihat dan diunduh disini

Course Material 08 : S3 Pertanian Unsri – Etika Penulisan & Publikasi Ilmiah


Menulis dan mempublikasikan hasil penelitian bukan merupakan pilihan bagi peneliti dan akademisi, tapi merupakan kewajiban, apalagi jika penelitian tersebut dibiayai dari dana publik yang dikelola oleh pemerintah. Mempublikasikan hasil penelitian merupakan bentuk pertanggungjawaban peneliti/akademisi kepada publik.

Selain merupakan tanggung jawab formal dan moral, publikasi hasil penelitian juga memberikan dampak sangat positif bagi peneliti/akademisi yang bersangkutan; karena berdasarkan publikasi tersebut, peneliti/akademisi menjadi dikenal (mudah2an juga menjadi terkenal). Reputasi peneliti/akademisi dibangun berdasarkan kualitas dan kemanfaatan hasil penelitiannya yang dipublikasikan tersebut. Oleh sebab itu, tidak sepatutnya peneliti/akademisi menganggap kewajiban untuk publikasi sebagai tambahan beban. Publikasi perlu diposisikan sebagai sarana untuk memperkenalkan atau mempromosikan diri kepada komunitas akademik maupun kepada publik.

Namun realitanya masih menyedihkan di Indonesia, karena publikasi ilmiah yang dihasilkan peneliti/akademisi Indonesia masih sangat sedikit.

Penulisan dan publikasi ilmiah wajib dilakukan secara beretika. Publikasi tidak boleh berbasis pada data fiktif (fabrikasi) atau manipulatif (falsifikasi); bebas dari jiplakan atas ide atau tulisan orang lain (plagiarisme); dan tidak boleh mempublikasikan hasil penelitian yang sama pada lebih dari satu jurnal atau prosiding (duplikasi/replikasi).

Pelanggaran etika penulisan dan publikasi ilmiah ini masih sering terjadi di Indonesia, bukan cuma oleh mahasiswa S1 atau S2 dan dosen muda, tetapi juga dilakukan oleh kandidat doktor dan profesor. Oleh sebab itu, materi etika penelitian, penulisan, dan publikasi ilmiah perlu diintensifkan pengajarannya pada semua jenjang pendidikan di Indonesia.

AA Banyu Perwita

M Zuliansyah

Ipong S Azhar

Untuk slide materi kuliah ini bisa dilihat dan diunduh disini

Course Material 07 : S3 Pertanian UNSRI – Etika Penelitian


Walaupun isu/topik yang diteliti sangat relevan dan penting, secara keilmuan juga sangat maju, kemungkinan pula akan menghasilkan teknologi yang super canggih, pelaksanaannya menggunakan peralatan riset yang sangat sophisticated, sampel datanya sangat besar, analisis statistiknya sangat kompleks, dan menghabiskan biaya milyaran rupiah. Semua ini menjadi tidak bermakna jika penelitian ini dilakukan secara tidak beretika. Misalnya, terjadi fabrikasi data, falsifikasi material yang digunakan, atau melakukan plagiarisme dengan mencuri ide/gagasan orang lain atau diam-diam menjiplak karya peneliti lain.

aib utama penelitian

Etika sangat penting dalam dunia akademik, termasuk dalam semua aspek kegiatan penelitian, mulai dari konseptualisasi ide, perencanaan penelitian, prosedur pelaksanaannya, pengumpulan dan analisis data, dan publikasi hasil penelitiannya.

Selain kapasitas akademiknya yang tinggi, peneliti juga harus dapat dipercaya. Peneliti yang profesional sadar betul bahwa ia mempunyai tiga lapis tanggung jawab, yakni tanggung jawab terhadap diri sendiri, komunitas akademik, dan kepada publik.

Slide pelengkap untuk materi kuliah ini bisa dilihat dan diunduh disini

Publikasi 08: Kapasitas Absorpsi Masyarakat Lokal dan Upaya Difusi Teknologi Perikanan di Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat


Kepulauan Raja Ampat, Indonesia merupakan kawasan laut yang memiliki keragaman biologi dan potensi perikanan yang tinggi, sehingga menjadi sasaran untuk kegiatan konservasi ekosistem laut dan sekaligus juga menjadi sumberdaya perikanan dan kelautan yang penting bagi Indonesia, khususnya masyarakat Papua Barat. Harmonisasi kepentingan ekologi dan ekonomi, dibarengi dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal setempat, merupakan kunci keberhasilan dan keberlanjutan pembangunan wilayah ini.

Kajian ini dirancang untuk memahami tentang teknologi yang tepat untuk diintroduksikan dan ekosistem inovasi yang perlu diwujudkan agar pembangunan berkelanjutan dan menyejahterakan masyarakat lokal dapat diformulasikan dengan baik, sebagai dasar untuk regulasi dan/atau kebijakan publik yang akan direkomendasikan.

Hasil kajian ini mengindikasikan bahwa kapasitas absorpsi masyarakat lokal perlu ditingkatkan sebagai prakondisi yang perlu diwujudkan sebelum teknologi diintroduksikan. Paralel dengan upaya ini, teknologi tersedia juga perlu diadaptasi agar lebih terjangkau secara teknis dan finansial oleh masyarakat lokal, sehingga kesepadanan baru antara teknologi yang diintroduksi dan kapasitas absorpsi lebih cepat tercapai dan absorpsi teknologi dapat terjadi lebih awal. Adaptasi teknologi perlu menggunakan teknologi tradisional yang saat ini digunakan sebagai referensi. Walaupun pada tahap inisiasinya dibutuhkan intervensi pemerintah, namun selanjutnya diharapkan proses paralel antara peningkatan kapasitas masyarakat dan adaptasi teknologi dapat berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan sebagai dampak positif sifat mutualistik dari kedua upaya ini. Regulasi dan kebijakan publik dibutuhkan untuk mengawal agar intervensi pemerintah tersebut dapat diformulasikan secara tepat dan diimplementasikan secara konsisten.

partisipasi 4 pihak

Kesepadanan Teknologi - Kapasitas Absorpsi

Artikel lengkapnya bisa dibaca dan diunduh disini

%d blogger menyukai ini: