Benyamin Lakitan

Beranda » Article » Pangan & Pertanian » Realita 01: Peternakan di Wilayah Timur Pulau Flores

Realita 01: Peternakan di Wilayah Timur Pulau Flores


Dalam kebijakan umum pembangunan peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pulau Flores dan beberapa pulau kecil (Lembata, Alor, Solor, Adonara, dan Sabu Raijua) lebih diprioritaskan untuk budidaya ternak ruminansia kecil (kambing, domba, kuda, babi); sedangkan budidaya ruminansia besar (sapi, kerbau) diharapkan lebih berkembang di Pulau Timor, Sumba, dan Rote. Ditaksir ada sekitar 832,228 hektar padang pengembalaan tersedia untuk usaha ternak sapi, kuda, kerbau, dan kambing (Dinas Peternakan Provinsi NTT, 2013). Namun topografi wilayah timur Pulau Flores dominan perbukitan dan gunung dengan lereng yang curam. Padang pengembalaan ternak dalam hamparan yang luas tidak dijumpai.

Provinsi NTT telah bertekad untuk mendorong pembangunan peternakan, selain tanaman jagung, kayu cendana, dan perkoperasian. Namun demikian, untuk pengembangan peternakan telah dikenali beberapa kendala yang perlu diantisipasi, yakni persoalan-persoalan terkait produksi dan konsumsi, sarana produksi, ekonomi dan pemasaran, perilaku peternak, serta kelembagaan dan permodalan (Dinas Peternakan Provinsi NTT, 2013).

Berdasarkan hasil observasi langsung di lapangan (28 Februari s/d 5 Maret 2014) serta diskusi dengan beberapa narasumber dari instansi teknis yang menangani subsektor peternakan di tiga kabupaten di wilayah timur Pulau Flores, yakni Kabupaten Ende, Sikka, dan Flores Timur; unit pelaksana teknis kementerian terkait di Flores, dan pelaku lokal kegiatan usaha peternakan; maka terdeteksi ada beberapa isu penting yang perlu mendapat perhatian dalam upaya meningkatkan kontribusi teknologi terhadap pembangunan subsektor peternakan di wilayah timur Pulau Flores. Isu-isu tersebut terkait ketersediaan pakan, penurunan rata-rata bobot ternak, cara pemeliharaan yang tidak intensif, ternak dalam perspektif sosial budaya lokal, dan penanganan hasil ternak yang belum berkembang

Ketersediaan dan Kualitas Pakan

Isu yang paling dominan dikemukakan oleh berbagai pihak terkait usaha peternakan di wilayah timur Pulau Flores sebagai kendala pengembangan peternakan adalah ketersediaan pakan yang tidak mencukupi kebutuhan, tersedia mencukupi hanya selama musim hujan (sekitar 4 bulan) dan tidak mencukupi selama musim kemarau (sekitar 8 bulan). Transisi ketersediaan tentu terjadi pada periode peralihan musim. Ada juga yang mengungkapkan bahwa kadang pakan tersedia cukup tetapi kualitasnya rendah (berdasarkan kandungan nutrisinya).

Walaupun kondisi kekurangan pakan ini sudah dialami secara rutin dari tahun ke tahun, namun belum ada usaha dari peternak maupun pengusaha lokal untuk membudidayakan rumput pakan ternak. Demikian pula belum ada upaya untuk pengawetan tumbuhan pakan ternak yang dapat di panen pada musim hujan untuk digunakan pada musim kemarau. Sebagai bandingan, di daerah yang mempunyai empat musim, pakan ternak segar juga tidak tersedia selama musim dingin, tetapi peternak memanen rumput pada saat musim gugur yang kemudian disimpan dalam lumbung untuk dikonsumsi oleh ternak selama musim dingin.

Upaya mengatasi kekurangan pakan pada musim kemarau terkesan lebih terkendala oleh rendahnya motivasi peternak lokal untuk melakukan upaya ekstra dalam proses pemeliharaan ternaknya. Belum ada upaya untuk mengumpulkan dan menyimpan rumput pada musim hujan untuk digunakan sebagai pakan ternak pada musim kemarau. Pada musim hujanpun, peternak tidak melakukan upaya ekstra kecuali hanya membawa ternaknya ke lahan yang ditumbuhi rumput secara alami, mengikat ternaknya di lokasi tersebut, membiarkannya pada lokasi tersebut tidak hanya pada siang hari tetapi juga pada malam hari, dan hanya menggeser posisinya jika rumputnya sudah hampir habis dimakan ternak. Cara pemeliharaan ternak seperti ini disebut ‘ikat-pindah’.

Cara ikat-pindah ini dilakukan untuk ternak sapi, kambing, dan kuda. Ternak kerbau dan domba sangat jarang di jumpai di wilayah timur Pulau Flores. Ternak babi umumnya dikandangkan dan pakan diberikan ke kandang. Bahan pakan yang umum diberikan pada ternak babi adalah sisa makanan, batang pisang, umbi talas liar, singkong, dan hijauan pakan ternak yang tersedia secara lokal. Komposisi pakan seadanya seperti ini berkemungkinan tidak mengandung komposisi nutrisi yang optimal untuk tumbuh kembang ternak tersebut.

SONY DSC

Kualitas/Bobot Ternak Makin Menurun

Ternak yang dihasilkan masyarakat semakin menurun kualitasnya. Indikator kualitas ternak yang utama adalah bobot atau berat badannya pada saat mencapai usia layak jual (dewasa). Penurunan bobot ternak ini berlangsung secara gradual, yang diyakini akibat proses sortasi yang mengutamakan ternak yang besar dan berat yang dijual. Akibatnya, ternak-ternak yang berukuran lebih kecil yang tersisa untuk proses reproduksi pada siklus berikutnya. Konsekuensinya keturunannya juga cenderung lebih kecil. Setelah beberapa generasi, penurunan rata-rata bobot ternak ini menjadi fenomena yang mudah terdeteksi secara visual dan terverifikasi pada saat penimbangan bobot ternak yang dijual.

Dari sisi lain, jumlah pejantan ‘pemacek’ yang memenuhi standar juga sangat terbatas. Sebagai contoh, dalam populasi ternak yang dipelihara misionaris di Kabupaten Sikka, jumlahnya hampir mencapai 200 ekor betina tetapi hanya memiliki satu pejantan pemacek. Persoalan kekurangan pejantan dikeluhkan oleh banyak pihak. Mendatangkan pejantan dari luar daerah masih tidak mudah dilaksanakan karena selain mahal, juga sulit mendapatkannya. Upaya yang dilakukan adalah mendatangkan pejantan dari Pulau Timor, namun kualitasnya masih belum memenuhi harapan.

SONY DSC

Inseminasi buatan masih belum banyak dilakukan oleh masyarakat peternak lokal. Patut diduga bahwa inseminasi buatan ini tidak mendapat respon positif dari peternak lokal yang minim motivasi untuk melakukan upaya ekstra dalam memelihara ternak, selain tentu saja karena ini berarti menambah beban biaya pemeliharaan ternak. Fasilitas dan sumberdaya manusia untuk melakukan inseminasi buatan di daerah dirasakan masih sangat terbatas.

Pemeliharaan Tak Intensif

Cara pemeliharaan ikat-pindah merupakan cara pemeliharaan ternak yang sangat minim upaya dan menggantungkan sepenuhnya tumbuh kembang ternak pada ketersediaan pakan alami. Ironisnya, wilayah timur Pulau Flores (sebagaimana umumnya NTT) termasuk dalam zona iklim kering. Pada zona iklim ini, alam tidak dapat menyediakan tumbuhan untuk pakan ternak sepanjang tahun. Dengan demikian, maka ternak akan kekurangan pakan pada musim kemarau. Ternak menjadi kurus dan tumbuh kembangnya terhambat.

SONY DSC

Upaya untuk mengubah cara budidaya yang dilakukan peternakan saat ini menjadi cara budidaya yang intensif membutuhkan banyak jenis upaya. Banyak upaya teknis yang dapat dilakukan, misalnya melakukan kegiatan pemuliaan ternak untuk mendapatkan jenis ternak yang adaptif terhadap kondisi ekosistem setempat; melakukan pengawetan pakan ternak yang dipanen pada musim hujan untuk digunakan pada musim kemarau; atau mengupayakan ketersediaan air agar dapat melakukan budidaya tanaman pakan ternak. Namun semua upaya teknis ini tidak akan membuahkan hasil jika tidak diadopsi oleh peternak.

Upaya menumbuhkan motivasi peternak menggunakan atau berpartisipasi dalam upaya-upaya teknis tersebut dapat berhasil jika peternak meyakini bahwa upaya-upaya ini akan meningkatkan keuntungan bagi mereka. Kegiatan sosialisasi untuk menumbuhkan motivasi sering kurang berhasil. Peragaan atau demonstrasi lapangan juga masih sering kurang efektif. Kelihatannya perlu dipraktekkan langsung oleh pemerintah untuk melakukan upaya teknis tersebut dalam kondisi yang sebenarnya, mengaplikasikan praktek bisnis murni, dan membuktikan bahwa upaya tersebut memang menguntungkan.

Solusi persoalan ini tidak bisa hanya mengandalkan solusi teknis dan teknologis semata, tetapi perlu pembuktian keunggulan ekonomis, dan kesesuaian sosio-kultural dengan masyarakat peternak yang disasar.

Ternak Bukan Hanya Komoditas Ekonomi

Ternak bagi masyarakat wilayah timur Pulau Flores (juga bagi kebanyakan masyarakat NTT, mungkin juga untuk beberapa daerah di Indonesia) bukan hanya sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga diasosiasikan dengan status sosial keluarga. Oleh sebab itu, ternak sering dipotong dalam rangka atau merupakan bagian dari ritual acara adat maupun keagamaan.

Di Kabupaten Sikka dan Ende, kuda digunakan sebagai ‘mahar’ pada acara pernikahan dan untuk kepentingan adat. Kuda umumnya dipelihara bukan untuk kepentingan konsumsi. Sedangkan di Kabupaten Flores Timur, ternak yang digunakan untuk kepentingan adat adalah kambing, sehingga harga kambing sering lebih didasarkan atas panjang dan bentuk tanduknya dibanding berdasarkan berat badannya. Namun demikian, kambing juga umum dikonsumsi sebagaimana daerah lainnya. Ternak juga digunakan sebagai simbol status sosial di kabupaten lainnya di Pulau Flores, misalnya ternak kerbau di tiga kabupaten di wilayah Manggarai dan anjing di Kabupaten Ngada.

SONY DSC

Pemotongan ternak secara massal juga dilakukan oleh pemeluk agama katolik di beberapa kabupaten di Flores, misalnya pada ‘komuni pertama’ anak-anak usia sekitar 9-10 tahun.

Industri Pengolahan Hasil dan Transportasi Ternak

Produksi ternak di wilayah timur Pulau Flores masih belum surplus dan lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan daging di dalam wilayah sendiri, terutama di Kabupaten Flores Timur dan Sikka. Hasil ternak ruminansia hampir seluruhnya dipasarkan secara lokal dalam bentuk daging segar. Oleh sebab itu, industri pengolahan daging, termasuk pada skala rumah tangga, belum berkembang di wilayah ini. Kondisi ini berbeda dengan di Pulau Timor yang berperan sebagai sentra produksi daging di NTT maupun Indonesia. Di Timor telah berkembang industri kecil atau skala rumah tangga untuk pengolahan daging menjadi daging asap (dalam bahasa lokal disebut se’i), dendeng, dan abon.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: