Benyamin Lakitan

Beranda » 2014 » April

Monthly Archives: April 2014

Indonesia 99: Kesenian Lengger – Jember


Kesenian Lengger merupakan kesenian asli masyarakat Jember. Masyarakat Jember sendiri merupakan campuran antara etnis Jawa dan Madura. Masyarakat campuran ini di Jember dikenal sebagai masyarakat Pendalungan. Kesenian ini diasosiasikan dengan budaya masyarakat perkebunan, karena kesenian Lengger muncul dalam komunitas ini dan ditampilkan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil perkebunan yang memuaskan.

Sayangnya kesenian ini kurang diminati oleh generasi muda, karena pelaku kesenian ini umumnya sudah lanjut usia. Mungkin minimnya minat ini terkait dengan jarangnya kesenian ini diminta untuk tampil dalam berbagai acara di daerah ini. Saat ini, Universitas Jember tengah mendorong agar kesenian ini tidak punah, yakni dengan menampilkan kesenian ini pada acara yang dilakukan di universitas ini.

Dalam tradisi awalnya kesenian Lengger ditampilkan dalam format semalam suntuk dan hanya pada malam hari dalam bentuk tarian, nyanyian, musik tradisional, dan diselingi dengan adegan atau celetukan lucu sebagai upaya menghibur masyarakat, menggunakan bahasa lokal. Namun saat ini, formal pertunjukan telah dibuat fleksibel, tergantung dari keinginan pihak penanggap (yang mengundang) dan tidak lagi tabu untuk ditampilkan pada siang hari.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Indonesia 98: Perahu Nelayan Tanjung Papuma, Jawa Timur


Masyarakat yang bermukim di pesisir pantai selatan sekitar tanjung Papuma sebagian adalah nelayan yang secara rutin pergi melaut untuk menangkap ikan. Nelayan pada umumnya melaut dengan menggunakan perahu bermotor dengan ukuran kecil yang dicat berwarna-warni. Karena badan perahu dibuat dari kayu, maka pengecatan perahu selain sebagai upaya memperindah tampilan, penciri agar mudah dikenali, dan juga agar perahu lebih awet karena dengan pengecatan mencegah kayu menyerap air yang menyebabkan pelapukan. Ikan yang ditangkap umumnya langsung dijual oleh nelayan kepada pembeli yang sudah menunggu di pantai tempat pendaratan ikan. Di pesisir pantai ini, banyak dijumpai warung makan yang menyajikan hidangan laut (seafood) yang masih sangat segar.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Sisipan 28: Fullmoon & Bonfire at Papuma Beach


SONY DSC

Indonesia 97: Bulan Purnama di Papuma, Jember, Jawa Timur


Jarang berkesempatan motret di bawah cahaya bulan purnama (tapi motret bulannya sih sudah lumayan sering…). Ini pas bulan purnama saat lagi acara outdoor di Papuma. Beberapa foto ini diambil dengan ‘long-exposure’, pake tripod, tanpa flash; tapi ada yang diambil tanpa tripod dengan ‘normal’ speed. Bagi teman yang sering motret dengan cepat bisa mengetahui foto mana dengan long-exposure dan yang mana dengan normal speed. Silahkan menebak bagi yang penasaran …

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Indonesia 96: Pantai Malikan, Jember, Jawa Timur


Tanjung Papuma berada di pesisir selatan Jawa Timur, atau persisnya di Kabupaten Jember. Menjorok ke laut dengan satu sisinya menghadap ke timur sehingga bisa melihat matahari terbit (sunrise) dan sisi lainnya menghadap ke barat sehingga bisa melihat matahari terbenan (sunset).

Sisi yang menghadap ke timur mempunyai hamparan pasir putih dengan garis pantai yang cukup panjang dan dengan ombak yang lebih kecil karena terlindungi oleh pulau-pulau karang yang berada di depan menghalangi ombak besar dari Samudera Hindia. Pulau-pulau batu tersebut berfungsi sebagai pemecah ombak. Perahu nelayan banyak ditambatkan di sisi berpantai pasir putih ini. Berdasarkan karakteristiknya ini maka pantai sisi menghadap ke timur ini dinamakan Pantai Pasir Putih.

Sisi yang menghadap ke barat lebih terbuka langsung ke Samudera Hidia, sehingga ombaknya besar. Untuk sisi sebelah barat ini masyarakat dilarang untuk berenang karena gulungan ombak bisa membahayakan jika orang nekat berenang di sisi menghadap ke barat ini. Bagian pantai yang menghadap ke barat ini dinamakan Pantai Malikan.

Dua pantai ini, Pasir Putih dan Malikan, yang kemudian disingkat menjadi Papuma (Pasir Putih + Malikan). Foto-foto di bawah ini diambil pada sisi menghadap ke barat: Pantai Malikan.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Indonesia 95: Pantai Papuma, Jember, Jawa Timur


Pantai Papuma merupakan salah satu lokasi wisata yang banyak dikunjungi di wilayah selatan Jawa Timur, terutama oleh turis lokal. Lokasinya terletak di Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, 45 km arah selatan kota Jember, waktu tempuh sekitar 1 jam karena kondisi trafik. Jalan menuju lokasi ini sudah baik, sehingga memudahkan pengunjung untuk mencapai lokasi ini. Tiket untuk memasuki lokasi wisata ini juga relatif murah.

Pantai Papuma menghadap ke arah timur, sehingga pengunjung direkomendasikan untuk datang sebelum matahari terbit. Pemandangan saat matahari terbit (sunrise) agar tidak terlewatkan. Ombak laut dipantai ini cukup besar karena langsung menghadap ke Samudera Hindia; dan banyak bebatuan sehingga tidak semua wilayah pantai ini diperbolehkan untuk berenang.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Slide 49: Kode Etik Pelaku Penelitian


Ada 4 lapis persoalan yang perlu dibenahi dalam pelaksanaan kegiatan riset/penelitian dan pengembangan iptek di Indonesia (dan juga di banyak negara lain di dunia), yakni yang paling fundamental adalah [1] penegakan etika penelitian, sehingga isu-isu yang marak belakangan ini seperti plagiarisme dapat dikikis habis, disamping juga perilaku pabrikasi dan falsifikasi data dan berbagai praktik riset lain yang patut dipertanyakan (questionable research practices); [2] pemilihan topik/isu yang lebih relevan dengan realita persoalan dan/atau kebutuhan nyata sehingga iptek yang dihasilkan akan lebih berpeluang untuk diimplementasikan dan bermanfaat bagi masyarakat dan negara, sebagaimana yang diamanahkan oleh konstitusi UUD 1945 pasal 31 ayat (5); [3] peningkatan kualitas/mutu penelitian sehingga teknologi yang dihasilkan lebih kompetitif; dan baru setelah itu [4] peningkatan produktivitas kegiatan riset dan pengembangan. Bukan sebaliknya … seperti yang dianut sekarang, yakni yang penting memperbanyak jumlah publikasi, paten, atau jenis HKI lainnya dengan mengorbankan mutu, relevansi, dan kadang dilakukan secara tidak beretika …

Slide lengkap bisa dilihat, dibaca, dan diunduh disini

%d blogger menyukai ini: