Benyamin Lakitan

Beranda » 2014 » Mei

Monthly Archives: Mei 2014

Indonesia 114: Nelayan Tanjong Binga, Belitung


Kampung nelayan terbesar di Kabupaten Belitung berlokasi di Tanjung Binga. Hampir seluruh nelayan di lokasi ini adalah suku Bugis. Nelayan di kampung ini tidak hanya menjual hasil tangkapannya dalam bentuk ikan basah, tetapi juga mengolah hasil tangkapannya tersebut menjadi ikan asin. Sepanjang garis pantai di kampung nelayan ini dibangun para-para untuk tempat menjemur ikan.

Nelayan Tanjung Binga menggunakan perahu yang dikombinasikan dengan bagan. Perahu-bagan ini memungkinkan mobilitas nelayan dalam menangkap ikan. Tidak seperti bagan yang dibangun langsung di atas laut yang bersifat statis.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Iklan

Indonesia 113: Tambat Labu, Belitung Timur


Perahu nelayan yang tambat di Tambat Labu adalah kapal berukuran sedang jenis ‘mesin-dalam’. Nelayan di lokasi ini mayoritas adalah nelayan Bugis. Jumlah kapal yang tambat lumayan banyak. Sulit mendapatkan data yang pasti untuk jumlah kapal nelayan yang secara rutin berlabuh disini. Taksiran saya ada sekitar 100-an kapal.

Di lokasi ini ada gudang kecil untuk penyimpanan ikan yang berpendingin. Ikan yang telah disortir dimasukkan dalam box yang kemudian disimpan sementara dalam gudang ini.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Indonesia 112: Pembuatan Kapal Kampong Bugis, Gantong, Beltim


Komunitas Bugis merantau hampir ke seluruh pelosok nusantara dan sebagian besar membangun komunitas nelayan yang unggul. Dalam komunitas ini bukan cuma dibekali dengan kemampuan menangkap ikan di laut, tetapi juga dibekali kemampuan untuk membuat kapal kayu yang digunakan untuk menangkap ikan, seperti yang terlihat di Kampung Bugis, Desa Lenggang, Kecamatan Gantong, Kabupaten Belitung Timur.

Pembuatan kapal oleh masyarakat Bugis asal Bone di Belitung dilakukan dengan peralatan sederhana dan tidak dilakukan pada suatu galangan kapal khusus. Kapal dibangun di lahan sempit di antara rumah tinggal, yang penting dekat dengan air untuk akses peluncurannya ke laut. Menurut informasi dari salah seorang pembuat kapal, sebuah kapal dapat diselesaikan dalam waktu 3 bulan jika semua bahan yang dibutuhkan dan kucuran dana pembiayaan lancar, serta tenaga kerja (umumnya dari kalangan keluarga sendiri) tersedia.

Jenis kayu yang digunakan dan menjadi preferensi pembuat kapal adalah kayu seru, karena sifat kayunya yang relatif lentur dan ‘kenyal’, sehingga mudah mengikuti bentuk desain badan kapal yang banyak mengikuti garis lengkung.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Indonesia 111: Nelayan Kater Pantai Serdang, Desa Baru, Beltim


Berbeda dengan nelayan di Pantai Burong Mandi yang membiarkan perahunya di air saat ditambat, nelayan Pantai Serdang, Desa Baru seluruhnya menarik perahunya ke darat saat sedang tidak digunakan untuk melaut. Nelayan Pantai Serdang juga menggunakan perahu kater bermesin.

Bulan Mei adalah musim ikan tenggiri, sehingga jenis ikan yang bernilai ekonomi tinggi yang banyak berhasil ditangkap nelayan adalah jenis ikan ini, walaupun ada beberapa jenis ikan lainnya juga terlihat di tempat penampungan ikan hasil tangkapan nelayan.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Indonesia 110: Nelayan Pantai Burong Mandi, Belitung Timur


Nelayan yang mangkal di Pantai Burong Mandi bisa dibilang semuanya menggunakan perahu kater. Perahu kater tradisional menggunakan layar, tapi sekarang perahu kater yang digunakan nelayan Pantai Burong Mandi sudah menggunakan mesin. Perahu-perahu ini dicat warna-warni sehingga terlihat indah dan mungkin dikira orang sebagai perahu untuk wisata. Apalagi Pantai Burong Mandi juga memang merupakan salah satu lokasi wisata yang tidak jauh dari Kota Manggar, ibukota Kabupaten Belitung Timur. Perahu-perahu dicat sebetulnya bagi nelayan lebih untuk tujuan agar perahu kayu tersebut lebih awet karena kayunya menjadi tidak menyerap air.

Sebagian besar perahu nelayan di Pantai Burong Mandi tidak ditarik ke darat saat tidak digunakan, Hanya diikat dengan tali pada jangkar yang diletakkan di pasir pantai. Mungkin ini menjadi indikasi bahwa laut disini relatif tenang, atau bisa juga karena akan menjadi lebih siap jika ada wisatawan yang ingin menyewa untuk rekreasi di laut. Hanya mesinnya yang ‘portable’ (bisa dilepas dari badan perahu) yang diangkat ke darat.

Hasil tangkapan nelayan disini dijual kepada ‘boss’, yakni pihak yang meminjamkan modal untuk bekal melaut. Boss yang menampung hasil tangkapan nelayan kemudian menjual ikan hasil tangkapan yang terkumpul kepada pihak lain yang akan mengirim ikan tersebut ke kota-kota besar atau diekspor. Terkesan ada hubungan yang mutualistik antara nelayan dengan boss. Nelayan bisa mendapatkan dana secara instan dan setiap saat akan melaut, serta mendapatkan kepastian untuk penjualan hasil tangkapan; sebaliknya boss mendapat keuntungan ganda, yakni dari bagian yang diperoleh karena meminjamkan modal operasional dan marjin keuntungan dari beli-jual ikan hasil tangkapan.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Indonesia 109: Dermaga Malang Lepau, Belitung Timur


Dermaga Malang Lepau dibangun sebagai dermaga untuk pendaratan ikan di Belitung Timur, lokasinya tidak jauh di sebelah utara kota Manggar. Pendaratan ikan di satu dermaga diharapkan dapat memudahkan bagi nelayan dan pembeli ikan untuk melakukan transaksi dan memudahkan bagi pemerintah untuk melakukan pemantauan dan pendataan tentang perikanan tangkap. Namun demikian, nelayan di daerah ini terbiasa untuk langsung mendaratkan ikan hasil tangkapannya dan menambatkan perahunya di sepanjang garis pantai yang landai berpasir (sebagian pantai di wilayah ini berbatu besar).

SONY DSC
Dermaga Malang Lepau
SONY DSC
Perahu ditambat di dermaga – perahu jenis ‘mesin-dalam’
SONY DSC
Perahu ditambat di pantai
SONY DSC
Alat tangkap – bubu
SONY DSC
Alat tangkap – pancing
SONY DSC
Ikan tenggiri hasil tangkapan
SONY DSC
Bersama nelayan Malang Lepau

Indonesia 108: Hutan-Timah-Sawit di Belitung


Pulau Belitung terkenal sebagai Pulau Laskar Pelangi, diadopsi dari buku dan film yang sukses tentang suka duka dan perjuangan anak-anak Belitung untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Ada anak nelayan, ada anak pekerja di perusahaan penambangan timah. Belitung (dan juga Bangka) di masa lalu sangat dikenal sebagai pulau timah, tetapi saat ini cadangan/deposit timah sudah jauh berkurang. Namun demikian, kegiatan penambangan masih terus berlangsung. Oleh sebab itu, banyak sekali bekas galian timah (dikenal sebagai ‘kolong’) hampir di seluruh Pulau Belitung. Sekarang sebagian lahan yang sudah tidak aktif ditambang, telah ditanami kelapa sawit. Mudah-mudahan proses transformasi hutan –> tambang timah –> kebun sawit ini merupakan pilihan terbaik dan menyejahterakan bagi masyarakat Belitung.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

%d blogger menyukai ini: