Benyamin Lakitan

Beranda » 2014 » Juli

Monthly Archives: Juli 2014

Indonesia 129: Gunung Bromo, Jawa Timur


Gunung Bromo termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, berada dalam wilayah Propinsi Jawa Timur. Status sebagai taman nasional ditetapkan pada tahun 1982 dengan luas kawasan lebih dari 50 ribu hektar. Taman nasional ini merupakan kawasan perbatasan antara Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo, sehingga untuk memasuki wilayah ini dapat melalui salah satu dari 4 kabupaten tersebut.

Saya sudah pernah dua kali mengunjungi Gunung Bromo. Pertama melalui Malang dan menginap di Cemoro Lawang. Kedua melalui Pasuruan dan menginap di kota Pasuruan. Kelihatannya pintu masuk yang paling ideal adalah melalui Pasuruan karena sudah ada jalan aspal langsung ke Penanjakan, tempat favorit bagi wisatawan untuk menikmati matahari terbit dan sekaligus juga untuk menikmati pemandangan ke arah Gunung Batok, Gunung Bromo, dan Gunung Semeru di latar belakang.

Ada beberapa catatan penting jika ingin maksimal menikmati keindahan Gunung Bromo. Pertama, sebaiknya memesan terlebih dahulu kendaraan untuk memasuki wilayah ini, yakni kendaraan 4×4, karena butuh kendaraan ‘double gardan’ untuk jalanan yang terjal mendaki dan tutunan yang curam. Kendaraan biasa tidak diperkenankan memasuki wilayah ini. Kendaraan ini dapat disewa di Pasuruan, Probolinggo, maupun Malang. Sewa kendaraan tersebut adalah beserta sopirnya. Sebaiknya anda tidak mencoba menyetir sendiri walaupun mobil anda juga double gardan karena kondisi jalannya yang sempit, banyak tikungan tajam, dan ditepi jurang.

Kedua, pastikan bahwa anda akan sudah sampai ke puncak tempat melihat matahari terbit di bukit Penanjakan sebelum jam 5.00 pagi. Jika anda terlambat maka anda akan kehilangan kesempatan untuk menikmati matahari terbit dan kadang setelah matahari terbit kabut akan mulai menyelimuti kawasan ini sehingga menghalangi pandangan atau mengurangi visibilitas.

Ketiga, urutan spot yang dikunjungi adalah pertama ke Penanjakan, setelah itu melihat kawah Gunung Bromo, baru kemudian mengeksplorasi spot-spot yang lainnya. Untuk melihat kawah Bromo, dari tempat parkir mobil, dapat memilih untuk langsung berjalan kaki atau naik kuda (sewa) sampai ke pangkal tangga mendaki ke bibir kawah.

Keempat, jangan lupa bawa jaket atau baju hangat karena udara pada subuh hari di kawasan ini lumayan dingin, tapi kemudian lumayat panas pada saat matahari sudah bersinar terik. Wilayah ini tergolong gersang oleh sebab itu suhunya akan dingin pada malam hari tapi panas pada tengah hari.

Kelima, tidak perlu bawa bekal makanan karena di Penanjakan banyak warung jajanan dan di spot-spot yang lain juga ada masyarakat yang menjajakan makanan dan minuman.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Iklan

Indonesia 128: Tari Kecak Bali


Tari Kecak merupakan tarian kolosal yang sangat dikenal di Bali, sering ditampilkan sebagai pertunjukkan khusus maupun bagian dari acara makan malam. Semakin banyak penari yang terlibat maka semakin menarik. Dalam tarian ini juga karang ditampilkan unsur api, sehingga kadang juga disebut tari api (fire dance). Tari kecak juga dikategorikan sebagai sendratari, yakni gabungan drama dan tari, dengan menampilkan lakon pewayangan, seperti cerita Rama dan Sinta.

Uniknya, tari kecak tidak diiringi dengan musik sebagaimana kebanyakan seni tari tradisional maupun modern lainnya. Tari kecak hanya diriuhkan oleh suara mulut dan teriakan, mungkin menirukan suara monyet. Nama tari kecak diambil dari bunyi suara mulut secara kolosal tersebut.

Tari ini diciptakan dan dipopulerkan oleh Wayan Limbak pada tahun 1930-an dengan berbasis pada cerita Ramayana. Kemudian versi cerita yang lain diciptakan oleh I Wayan Dibia, yakni Kecak Subali dan Sugriwa (1976) dan Kecak Dewa Ruci (1982).

Tari kecak pada foto-foto ini diambil pada acara makan malam yang sertai tampilan budaya Bali di Hotel Nusa Dua Beach. Tidak terlalu kolosal karena panggungnya juga sempit sehingga penari tidak membentuk lingkaran utuh. Posisi meja makan di depan panggung juga tidak memberikan sudut bidik yang maksimal untuk memotret tarian ini.

Mungkin suatu saat saya akan menonton pertunjukan tari kecak yang di Uluwatu.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

%d blogger menyukai ini: