Benyamin Lakitan

Beranda » 2014 » Oktober

Monthly Archives: Oktober 2014

Indonesia 131: Jakarta International Marathon 2014


Lomba marathon international yang diselenggarakan di Jakarta pada hari minggu tanggal 26 Oktober 2014. Start dan finish di Silang Monas. Ada empat kategori lomba, yakni full marathon (42,195 km), half marathon, 10 km, dan 5 km. Masing-masing kategori diikuti oleh peserta lokal dan asing, pria dan wanita. Untuk peserta full marathon, kelihatan sekali dominansi pelari dari Benua Afrika.

Jakarta Marathon 01
Jakarta Marathon 02
Jakarta Marathon 03<a
Jakarta Marathon 04
Jakarta Marathon 05
Jakarta Marathon 06
Jakarta Marathon 07
Jakarta Marathon 08
Jakarta Marathon 09
Jakarta Marathon 10

Iklan

Indonesia 130: Sendratari Jaka Tarub dan Nawangwulan


Tarian ini dibuat berdasarkan legenda Jaka Tarub yang mencuri selendang salah satu dari tujuh bidadari yang sedang mandi di sebuah telaga di tengah hutan.  Karena tidak punya selendang, maka Nawangwulan tidak bisa kembali ke kahyangan.  Jaka Tarub seolah berbaik hati dan menawarkan Nawangwulan untuk menginap di rumahnya.  Nawangwulan tidak tahu kalau Jaka Tarub yang mencuri selendangnya.  Selendang tersebut disembunyikan oleh Jaka Tarub di dalam lumbung padi.  Jaka Tarub akhirnya bisa menikahi Nawangwulan.  Mereka kemudian mendapat seorang putri yang diberi nama Nawangsih.

Nawangwulan punya kesaktian, yakni hanya membutuhkan sebutir beras untuk menanak nasi untuk keperluan makan mereka.  Nawangwulan minta supaya Jaka Tarub tidak menceritakan tentang kesaktian Nawangwulan ini kepada siapapun.  Jaka Tarub memang tidak menceritakannya kepada siapapun, tetapi karena penasaran ia membuka periuk saat beras ditanak.  Akibatnya Nawangwulan kehilangan kesaktiannya.  Sejak itu untuk memenuhi kebutuhannya, Nawangwulan menanak nasi seperti wanita biasa, tidak bisa lagi dengan hanya satu butir beras.  Oleh karena itu, persediaan padi di lumbung cepat habis.  Sialnya, karena padi di lumbung terus diambil, maka Nawangwulan menemukan selendangnya yang disembunyikan Jaka Tarub di bawah tumpukan padi di dalam lumbung.

Nawangwulan marah karena akhirnya tahu bahwa yang selama ini mencuri selendangnya adalah Jaka Tarub.  Karena kecewa dan marah, maka Nawang Wulan kemudian kembali ke kahyangan.  Hanya sesekali ia kembali ke bumi untuk menyusui anaknya Nawangsih …

Legenda Jaka Tarub dan Nawangwulan ini tertera dalam Babad Tanah Jawi.  Masayarakat Desa Widodaren, Gerih, Ngawi percaya bahwa kisah ini terjadi di desa mereka.

N Wulan J Tarub 01

N Wulan J Tarub 02

N Wulan J Tarub 03

N Wulan J Tarub 04

N Wulan J Tarub 05

N Wulan J Tarub 06

N Wulan J Tarub 07

N Wulan J Tarub 08

N Wulan J Tarub 09

N Wulan J Tarub 10

N Wulan J Tarub 11

N Wulan J Tarub 12

N Wulan J Tarub 13

N Wulan J Tarub 14

Planet Earth 75: Kyonggi Folk Song Performance in Jakarta


Pertujukan nyanyian tradisional Korea dengan kelompok penyanyi yang berasal dari Provinsi Kyonggi. Nyanyian tradisional Korea yang mendayu berbeda banget dengan K-pop yang enerjik yang sekarang banyak digemari remaja Indonesia. Gerakan penyanyi tradisional saat tampil sangat minimalis dan lamban, mengenakan baju tradisional dengan rok panjang menggembung sampai menyentuh lantai.

Kyonggi Folk Song 01

Kyonggi Folk Song 02

Kyonggi Folk Song 03

Kyonggi Folk Song 04

Kyonggi Folk Song 05

Kyonggi Folk Song 06

Kyonggi Folk Song 07

Kyonggi Folk Song 08

Publikasi 09: Identifikasi Teknologi yang Relevan untuk Mendukung Diversifikasi Usaha Pe(Tani) dan Diversifikasi Konsumsi Pangan di Indonesia


The term of food diversification generally covers two main issues: diversification of farming activities and food consumption. In Indonesia, diversification of food consumption has been the major issue, associated with effort to reduce dependency on rice as main staple food. Continuous efforts have been performed since 1960’s to develop alternative foods, comparable to rice, based on local food resources. However, these efforts have not yielded satisfactory results. Unexpectedly, rice consumption has continuously increased and by 2010 almost all of the population prefers to consume rice than any other staple food. As economy grows, wheat becomes preferred alternative. Unfortunately, almost 100 percent of wheat is imported. Unsuccessful food diversification program in Indonesia has been related to failure in recognizing fundamental problem. Shifting in food consumption pattern is not driven by technical factors (availability, quality, and price); instead, it is driven by social status labeled to each food. Social status of local non-rice foods are perceived as lower compared to rice. In contrast, wheat is considered to have higher social status than rice. General trend of food consumption shifting is from low to high social status as consumer’s income increases. Instead of diversification of food consumption, Indonesia should encourage diversification of farming activities as a viable way to improve farmers’ prosperity. Actually, constitutional mandate is to improve prosperity of farmers, and not specifically to achieve self-sufficient status in rice. Agricultural technology development should be directed toward green technology with its triple objectives: increasing income, socially inclusive, and ecologically-sound. In addition, packaging technology should be developed for local food non-rice-based products, coupled with aesthetic design for the package, such that it will create classy image and social status of the local food products. In case there is gap between food industry and farmers as supplier of raw materials, solution efforts should lean more toward development of food processing technologies that will match with specification of raw materials produced by farmers.

Diversifikasi pangan mencakup dua isu yang berbeda, yakni divesifikasi usaha tani dan diversifikasi konsumsi pangan. Di Indonesia, diversifikasi pangan lebih dimaknai sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada beras sebagai pangan pokok. Hal ini tercermin dari kebijakan, strategi, dan upaya yang dominan dilakukan untuk mengurangi konsumsi beras melalui penyediaan alternatif pangan yang berbasis pada sumberdaya lokal. Upaya mendorong diversifikasi konsumsi pangan telah dilakukan sejak tahun 1960-an, tetapi sampai sekarang tidak menunjukkan hasil yang memuaskan, bahkan sebaliknya pada tahun 2010 hampir seluruh rakyat Indonesia memilih beras sebagai pangan pokok yang utama. Pilihan selain beras, justeru adalah gandum yang hampir seluruhnya diimpor. Program diversifikasi konsumsi pangan yang tidak berhasil di Indonesia diyakini sebagai akibat penafsiran yang keliru tentang akar persoalan yang dihadapi. Pergeseran pola konsumsi pangan sesungguhnya bukan didorong oleh faktor teknis (ketersediaan, mutu, atau harga), tetapi lebih disebabkan oleh status sosial pangan. Status sosial pangan lokal non-beras dipersepsikan lebih rendah dibandingkan dengan beras; sebaliknya gandum dipersepsikan status sosialnya lebih tinggi. Pergeseran pola konsumsi adalah dari status sosial pangan yang lebih rendah ke yang lebih tinggi, seiring dengan peningkatan pendapatan/kesejahteraan konsumennya. Selain diversifikasi konsumsi pangan, selayaknya Indonesia lebih mendorong diversifikasi usaha tani (atau usaha lain yang dapat dilakukan petani) dalam rangka untuk meningkatkan kesejahteraannya. Perlu diingat bahwa amanah konstitusi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan petani, bukan mencapai status swasembasa beras. Teknologi yang perlu didorong adalah teknologi pertanian yang selaras dengan karakteristik teknologi hijau (green technology) untuk meningkatkan kesejahteraan petani, membuka peluang bagi seluruh aktor, dan menjamin pelestarian lingkungan. Selain itu, perlu juga dikembangkan teknologi kemasan produk pangan lokal yang tidak hanya secara fungsional efektif tetapi juga menarik bagi konsumen karena desainnya yang artistik, dengan tujuan utama meningkatkan status sosial pangan lokal non-beras. Pendekatan yang dipilih jika ada kesenjangan antara industri dengan petani adalah mengembangkan teknologi pengolahan pangan yang berbasis pada jenis dan spesifikasi bahan baku yang dihasilkan petani.

Untuk artikel lengkapnya bisa dibaca atau unduh disini: 2014 Lakitan – Teknovasi Indonesia Vol 3 No 1 Page 1-25

%d blogger menyukai ini: