Benyamin Lakitan

Beranda » 2014 » November

Monthly Archives: November 2014

Indonesia 140: Makam Sultan Bima di Dana Taraha


Makam beberapa sultan dan keturunan sultan Bima teletak di atas bukit di tengah kota Bima, hanya 1 kilometer dari Terminal Bus Kota Bima. Lokasi makam ini disebut Dana Taraha yang artinya adalah tanah tinggi. Saat ini jalan akses ke lokasi pemakaman ini sudah diaspal sehingga dapat dijangkau dengan kendaraan roda empat. Di depan kompleks pemakaman ini ada pelataran parkir. Dari pelataran parkir ini pengunjung dapat menikmati pemandangan kota Bima. Salah satu lokasi yang banyak dikunjungi untuk menikmati pemandangan saat matahari tenggelam.

Di kompleks pemakaman ini, bisa dilihat makam Sultan Bima Pertama yaitu Sultan Abdul Kahir, Sultan Bima kedua yaitu Sultan Abdul Khair Sirajuddin, Sultan Nurdin, Sultan Abdul Kahir II, dan perdana menteri Kesultanan Bima Abdul Sama Ompu Lamuni. Berdasarkan sejarahnya, Sultan Bima Pertama yang membawa ajaran Islam ke bagian timur pulau Sumbawa yang menjadi wilayah Kesultanan Bima.

Pemakaman Dana Taraha 1

Pemakaman Dana Taraha 2

Pemakaman Dana Taraha 3

Pemakaman Dana Taraha 4

Indonesia 138: Sunset at Takat Segele, Moyo


Takat Segele merupakan undakan pecahan karang keras (hard coral) yang sudah mati berada di tengah laut, namun tidak terlalu jauh dari Desa Labuhan Aji. Hanya sekitar 15 menit dengan perahu nelayan. Bentuk ‘pulau’ karang ini berubah-ubah setiap hari tergantung pada arus dan pasang-surut laut. Pada saat saya berkunjung, bentuknya memanjang seperti punggung ikan paus. Panjangnya hanya sekitar 20 meter dan lebarnya sekitar 2 meter pada sisi terlebar. Karena posisinya di sebelah barat Pulau Moyo, maka Takat Sagele merupakan tempat yang menarik untuk menikmati suasana saat matahari tenggelam (sunset).

Sunset at Takat Sagele 1

Sunset at Takat Sagele 2

Sunset at Takat Sagele 3

Sunset at Takat Sagele 4

Indonesia 137: Air Terjun Mata Jitu, Moyo


Obyek wisata alam yang menjadi ikon Pulau Moyo adalah Air Terjun Mata Jitu. Air terjun ini tersembunyi di tengah hutan tetapi tidak terlalu sulit dijangkau dari Desa Labuan Aji yang menjadi pintu masuk utama Pulau Moyo. Desa Labuan Aji terletak di sebelah utara Pulau Moyo. Butuh waktu sekitar 2,5 jam naik perahu nelayan dari Desa Ai Bari di daratan Sumbawa.

Untuk mencapai air terjun Mata Jitu, bisa dilakukan dengan berjalan kaki langsung dari Desa Labuan Aji buat mereka yang secara fisik memungkinkan. Perjalannya sedikit mendaki, tetapi tidak terlalu terjal. Pilihan lainnya adalah dengan naik sepeda motor (bisa disewa di Desa Labuhan Aji) separuh jalan, kemudian dilanjutkan dengan jalan kaki. Perjalanan ini akan melalui kebun jambu mente (cashew) yang ditanam masyarakat dan selanjutnya mengikuti jalan setapak di bawah kanopi/tajuk pohon hutan alami.

Saya sempat berenang di kolam alami di bawah air terjun ini. Airnya jernih dan sejuk menyegarkan, tidak dingin karena saat berkunjung masih musim kemarau. Namun, debit airnya relatif kecil sehingga tidak seluruh bidang air terjun dilalui air.

Mata Jitu 1

Mata Jitu 2

Mata Jitu 3

Mata Jitu 4

Indonesia 139: Kampung Nelayan Kolo, Bima


Kampung nelayan Kolo berlokasi di pantai utara Pulau Sumbawa, tidak jauh tapi sudah di luar Teluk Bima. Dekat dengan kampung nelayan ini ada lokasi rekreasi pantai yang banyak dikunjungi masyarakat lokal. Ada juga mercusuar yang posisinya dekat mulut Teluk Bima.

Nelayan Kolo umumnya menggunakan perahu bagan (atau di beberapa tempat lain disebut bagan apung). Karena bagannya dibuat di atas perahu, maka tentunya ia akan mengapung dan bersifat mobil, berbeda dengan bagan tancap yang tiangnya ditancapkan di dasar laut. Secara umum, nelayan menggunakan bagan tancap jika lautnya dangkal dan menggunakan bagan apung atau perahu bagan jika lautnya terlalu dalam sehingga tidak mungkin untuk menancapkan tiang dari bambu. Selain bagan nelayan disini juga menggunakan perahu khusus untuk memancing ikan tongkol, tenggiri, atau tuna.

Masyarakat Kolo sebetulnya tidak semuanya nelayan. Ada juga yang menggunakan perahu untuk berdagang sampai ke Batam dan Kepulauan Riau.

Kampung Nelayan Kolo 1

Kampung Nelayan Kolo 2

Kampung Nelayan Kolo 3

Kampung Nelayan Kolo 4

Kampung Nelayan Kolo 5

Kampung Nelayan Kolo 6

Kampung Nelayan Kolo 7

Kampung Nelayan Kolo 8

Kampung Nelayan Kolo 9

Kampung Nelayan Kolo 10

Kampung Nelayan Kolo 11

Indonesia 136: Lari Warna-warni di Jakarta


Akhir pekan adalah waktunya untuk rekreasi. Enaknya di Jakarta banyak pilihan aktivitas rekreatif yang menyenangkan dan menyehatkan. Sekarang lagi trendi lari pagi yang disertai taburan serbuk warna-warni yang populer dikenal sebagai ‘Color Run’. Foto-foto ini dijepret di lapangan parkir timur Gelora Bung Karno (GBK), minggu pagi, 23 November 2014.

ColorRun 1

ColorRun 2

ColorRun 3

ColorRun 4

ColorRun 5

ColorRun 6

Indonesia 135: Memandikan Kuda Pacu di Bima


Kuda merupakan hewan yang banyak dipelihara di Bima, baik untuk digunakan untuk sarana transportasi sehari-hari sebagai penarik delman (di Bima dikenal sebagai ‘benhur’) atau gerobak barang, maupun untuk pacuan tradisional yang diselenggarakan secara rutin dan berkala di Bima. Pada acara pacuan kuda ini sering juga diikuti oleh kuda dari berbagai pulau lainnya di Nusa Tenggara Barat (NTB) maupun Nusa Tenggara Timur (NTT), terutama dari Pulau Sumba dan Flores yang lokasinya berdekatan dengan Pulau Sumbawa. Uniknya, joki pada pacuan kuda tradisional ini adalah anak-anak. Mungkin karena kuda lokal di wilayah NTB dan NTT ini berukuran relatif kecil, sehingga butuh joki yang tidak terlalu berat badannya, tetapi cukup terampil menunggang kuda. Sayang saat saya berkunjung, tidak bertepatan waktunya dengan acara pacuan kuda tersebut.

Mandikan Kuda 0

Mandikan Kuda 1

Mandikan Kuda 2

Mandikan Kuda 3

Mandikan Kuda 4

Indonesia 134 : Usaha Garam Rakyat di Bima


Pada kawasan pantai yang landai di Kota Bima banyak dikelola oleh masyarakat untuk memproduksi garam. Banyak masyarakat yang memilih usaha produksi garam antara lain karena biaya investasi lahan dan peralatan serta ongkos produksinya yang relatif kecil sehingga terjangkau oleh kebanyakan masyarakat lokal. Selain itu, usaha produksi garam tradisional ini memiliki resiko yang juga lebih kecil dibandingkan dengan usaha tani. Selain untuk produksi garam, pada hamparan kawasan ini juga banyak masyarakat yang membuat tambak untuk budidaya ikan bandeng.

Hamparan lahan produksi garam tradisional yang luas dapat dilihat di lahan pantai sekitar Bandara Sultan Muhammad Salahudin, Bima. Usaha garam rakyat yang intensif dapat dijumpai di Kecamatan Bolo dan Woha, Kabupaten Bima. Pembuatan garam di Bima umumnya menggunakan sistem penguapan air laut dengan
memanfaatkan sinar matahari (Solar Evaporation). Luas kepemilikan lahan garam umumnya kurang dari 1 hektar/petani dengan total produksi sekitar 10-15 ton garam kasar per tahun.

Petani Garam Bima 1

Petani Garam Bima 2

Petani Garam Bima 3

Petani Garam Bima 4

Petani Garam Bima 5

Petani Garam Bima 6

%d blogger menyukai ini: