Benyamin Lakitan

Beranda » Photography » Flora & Fauna » Indonesia 151: Budidaya Kepiting Soka di Tarakan

Indonesia 151: Budidaya Kepiting Soka di Tarakan


Tarakan terkenal dengan kepiting soka. Kepiting soka banyak disukai karena cangkangnya lunak dan dapat dimakan, sehingga tidak perlu repot untuk memecah cangkang kepiting yang biasanya sangat keras. Pertanyaannya adalah mengapa cangkang kepiting soka itu lunak banget? Apakah ini alami atau diberi perlakuan khusus supaya lunak?

Karena penasaran, maka saya menyempatkan diri melihat ke tambak dimana kepiting soka dihasilkan di Kota Tarakan.

Jawabannya ternyata tidak terlalu ribet. Masyarakat yang menangkap kepiting di laut atau hutan bakau menyortir kepiting hasil tangkapannya. Kepiting ukuran besar akan dijual langsung dalam keadaan hidup atau mati, tetapi yang berukuran kecil harganya lebih murah jika dijual dalam bentuk segar. Berdasarkan pertimbangan ekonomi, kepiting ukuran kecil ini dijual ke para pemilik tambak yang memproduksi (saya cenderung menggunakan istilah ‘produksi’ daripada ‘budidaya’ untuk kasus ini) kepiting soka, tapi harus dalam keadaan hidup karena akan digunakan sebagai ‘bibit’.

Bibit kepiting ini kemudian dibawa ke tambak untuk dijadikan kepiting soka. Cangkang yang keras harus ‘diganti’ dengan cangkang yang lunak (Jadi bukan cangkang yang semula keras diberi perlakuan agar cangkang tersebut menjadi lunak). Agar kepiting mengganti cangkangnya, maka kepiting tersebut diberi ‘perlakuan’ agar ia terpaksa mengganti cangkangnya. Nah, perlakuannya ini yang tidak tega saya diskripsikan disini. Kalau ibaratkan film, maka perlakuan ini masuk kategori vulgar.

Setelah diberi perlakuan, maka kepiting dimasukkan secara individual ke dalam keranjang persegi dan berlobang yang berukuran cukup leluasa untuk seekor kepiting. Keranjang yang telah berisi masing-masing satu ekor kepiting disusun dirakit yang diberi pengapung sehingga tidak tenggelam. Posisi masing-masing kerangjang, separuh tenggelam dan separuh di atas permukaan air. Kepiting diberi makan selama proses perangsangan untuk penggantian cangkang. Butuh waktu tunggu sekitar 10 sampai 20 hari untuk kepiting mengganti cangkangnya.

Selama periode dimana kepiting akan mengganti cangkangnya, maka observasi satu per satu dilakukan secara intensif, yakni 3 kali/hari (pagi, sore, dan malam). Hal ini sangat krusial, karena cangkang kepiting masih lunak hanya beberapa saat setelah ia keluar melepaskan diri dari cangkang lamanya yang keras. Saat kepiting keluar inilah kepiting tersebut dipanen, yakni saat cangkangnya masih lunak dan belum mulai untuk mengeras kembali. Setelah dipanen, kepiting soka ini perlu segera dibekukan agar proses pengerasan cangkang tidak berlanjut.

Ini cerita langsung dari lapangan. Saya akan koreksi jika ada kekeliruan. Mohon masukan/koreksi jika anda lebih memahami mengenai hal ini.

Kepiting Soka 0

Kepiting Soka 1

Kepiting Soka 2

Kepiting Soka 3

Kepiting Soka 4

Kepiting Soka 5

Kepiting Soka 6

Kepiting Soka 7

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: