Benyamin Lakitan

Beranda » Article » CDC - Unsri » CDC 01: Pentingkah IPK untuk Karir Anda?

CDC 01: Pentingkah IPK untuk Karir Anda?


Jawaban atas pertanyaan ini rasanya relevan untuk para mahasiswa, terutama mahasiswa baru; tetapi sudah agak terlambat untuk diketahui bagi para alumni. Mudah-mudahan para alumni sudah tahu jawabannya sejak mereka masih mahasiswa dulu. Kalau tidak demikian, para alumni mungkin sedang mendapatkan jawabannya saat ini dari pengalaman langsung yang dihadapinya …

Menurut anda bagaimana? IPK itu penting atau tidak penting? Anda boleh jawab sekarang di dalam hati. Kalau boleh saya menduga, jawaban anda akan kurang lebih seperti ini: “Penting sih, tapi …”
Saya lulus S1 pada Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya tahun 1982. Pada waktu itu, istilah IPK (Indek Prestasi Kumulatif) sudah digunakan. IPK saya di atas rata-rata. Soal berapa banyak atau sedikit lebihnya dari nilai rata-rata IPK angkatan saya adalah tidak penting untuk diungkap disini. Karena saya ingin fokus berbagi pandangan tentang posisi IPK dalam mempengaruhi karir anda ke depan. Saya cerita ini agar anda tahu bahwa saya sudah kerja setelah lulus S1 selama lebih dari 30 tahun. Periode yang cukup untuk evaluasi dampak jangka pendek, menengah, dan panjangnya.

Kalau anda saat ini percaya bahwa IPK itu penting, tentu ada argumentasi yang mendukungnya; sebaliknya juga jika anda yakin IPK itu tidak penting, tentu anda juga siap dengan argumentasinya. Kontroversi pandangan mengenai penting tidaknya IPK boleh saja terjadi dan wajar terjadi. Tahu kenapa? Ya, karena IPK bukan satu-satunya yang menentukan karir seseorang.

IPK tinggi dan orangnya sukses, ini kayaknya terjadi karena IPK tinggi tersebut memang mencerminkan kapasitas intelektual dari yang bersangkutan. Bagaimana jika IPK tinggi tapi karir yang bersangkutan tidak sukses? Ada beberapa kemungkinan: (1) dia bekerja di luar bidang ilmunya; (2) dia pintar tapi kurang gaul, bahasa kerennya kurang punya kemampuan berinteraksi sosial; (3) nilai IPK yang tinggi tersebut didapatkan secara tidak jujur; dan (4) sudah nasib yang bersangkutan seperti itu. Alasan yang terakhir ini mungkin tidak bermutu ya? Tapi toh kita percaya juga pada takdir kan?

Apakah ada orang yang IPK-nya rendah tapi sukses banget? Ya, tentu ada! Banyak yang putus kuliah atau putus sekolah tapi karirnya sukses. Tidak usah kasih contoh dari luar negeri, karena sekarang ada contoh yang spektakuler di dalam negeri, yakni ibu Susi Pudjiastuti! Kalau anda tidak tahu beliau, kayaknya anda termasuk yang kurang gaul. (Mestinya saya kasih ikon senyum disini).

Selanjutnya, adakah orang yang IPK-nya rendah dan tidak, kurang, atau belum sukses? Tentu ada dan kemungkinannya lebih banyak. Misalnya, karena yang bersangkutan tidak bisa lolos seleksi administrasi pada saat melamar jadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) ataupun melamar untuk karyawan perusahaan swasta.

Soal tidak lolos seleksi administrasi ini, saya jadi ingat artikel debat tentang kaitan IPK dengan kesuksesan karir (Great Career Success Debate: How important is my GPA to employers?) yang diterbitkan Koran elektronik USA Today tanggal 13 Februari 2013 antara Profesor Patrick O’Brien (selanjutnya saya singkat POB) dengan Dr. Susan Davis-Ali (disingkat SDA, bukan singkatan untuk Surya Dharma Ali ya …). POB selain profesor juga wirausaha. SDA adalah dosen Carlson School of Management, University of Minnesota, Amerika Serikat.

POB yakin betul bahwa IPK itu penting, terutama jika anda ingin berkarir di perusahaan besar (Saya yakin, untuk kasus Indonesia, juga penting jika ingin berkarir sebagai PNS), karena pada seleksi awal (adminitratif) dilakukan saringan yang umumnya berdasarkan IPK, sebagai cara yang praktis dan sekaligus sebagai bentuk kepercayaan terhadap institusi pendidikan tinggi yang meluluskan pelamar kerja yang bersangkutan. Alasan yang terakhir ini betul-betul jurus jitu untuk melepaskan panitia seleksi dari macam-macam tuntutan dikemudian hari jika ada yang tidak puas.

Tetapi alasan kepraktisan lebih cenderung merupakan realita sebenarnya. Bayangkan untuk penerimaan kurang dari 50 orang, pelamarnya di Indonesia bisa mencapai 5.000 orang, bahkan lebih. Namun apapun alasan sebenanya, dalam konteks ini POB betul bahwa IPK yang tinggi itu diuntungkan. Saya punya pengalaman mewawancarai calon pegawai atau calon pejabat untuk posisi tertentu. Sangat sulit untuk menetapkan secara ‘tanpa keraguan’ bahwa ini adalah 10 kandidat terbaik dari 50 calon yang diwawancarai, atau merekomendasikan 3 orang calon pejabat dari 20 orang yang diwawancarai. SDA juga tidak dapat menampik pentingnya IPK tinggi pada seleksi massal seperti ini.

Informasi lain yang menarik adalah hasil penelitian Paul Oehrlein dari Illinois Wesleyan University, Amerika Serikat, yang dipublikasi tahun 2009. Ia menyimpulkan bahwa pada awal karirnya, alumni dengan IPK tinggi akan menerima pendapatan awal lebih tinggi dibandingkan rekannya dengan IPK lebih rendah. Pendapatan yang lebih tinggi ini juga diterima oleh alumni dengan IPK tinggi yang diperoleh dengan cara/strategi mengambil mata kuliah yang ‘ringan’. Namun, pada karir selanjutnya mereka yang berani memilih mata kuliah yang lebih ‘berat’ walaupun susah mendapakan nilai yang bagus terlihat akan lebih unggul.

Mata kuliah yang ‘ringan’ dimaksud kemungkinan lebih mengasah kemampuan mengingat (memorizing); sedangkan mata kuliah yang ‘berat’ lebih mengasah kemampuan menganalisis (analizing). Apakah anda termasuk yang mengejar IPK tinggi dengan memilih mata kuliah yang ringan tersebut? Walaupun ini tidak melanggar aturan apapun, namun sebaiknya ambillah mata kuliah yang anda yakini akan lebih berguna bagi karir yang ingin ditempuh.

IPK tinggi itu penting. Saya percaya itu. Tapi ada beberapa catatan. Pertama, IPK itu harus diperoleh dengan menjunjung tinggi kejujuran akademik, tidak boleh nyontek dan plagiat; sehingga IPK tersebut memang merupakan indikator kemampuan intelektual dari yang bersangkutan.

Kedua, IPK tinggi tidak dapat menjamin kesuksesan karir seseorang dalam jangka panjang. Oleh sebab itu masih perlu dilengkapi dengan kemampuan komunikasi dan interaksi sosial (atau bahasa kerennya ‘kecerdasan emosional’). Kemampuan ini bisa diasah selama kuliah melalui kegiatan ekstra kurikuler dan lebih perlu ditajamkan lagi pada saat sudah bekerja.

Ketiga, sebetulnya yang lebih penting adalah seberapa banyak ilmu pengetahuan yang berhasil diserap selama kuliah, seberapa luas dan intensif jaringan yang mampu dibangun selama kuliah, dan citra positif yang terekam dalam benak orang-orang di sekitar kita.
Mudah-mudahan IPK anda berkorelasi positif dengan tiga catatan tersebut.

Jakarta, 30 Desember 2014

Iklan

2 Komentar

  1. sihobisnasoetion berkata:

    terimah kasih penjelasannya pak benyamin.. perkenalkan saya Obis turyansyah mahasiswa dari muara kelingi, sekarang sedang menempuh studi di Fakultas hukum Unsri.. Cukup menarik saat membicarakan Ipk, Ipk memang cukup penting tapi yg penting adalah bukan berapa nilai yg kamu dptkan di kuliah tp apa nilai yg kamu dptkan dikuliah itu sendiri, sebab itu saya & teman2 saya sadar betul akan kemurnian dan kejujuran dari nilai ipk yg didapatkan, apa lagi kami kuliah di fakultas hukum yg mengedepankan kejujuran untuk memajukan hukum di indonesia yg saat ini Acakadut”. kalau masih kuliah saja sudah tidak jujur bagaimana nantinya saat di dunia kerja? itulah yg selalu kami pegang saat ini. dan selalu saling mengingatkan satu sama lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: