Benyamin Lakitan

Beranda » 2015 » Februari

Monthly Archives: Februari 2015

CDC 03: Haruskah Menjadi PNS?


Setiap kali ada lowongan untuk menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) maka berbondong-bondong, ribuan atau malah puluhan ribu pencari kerja ikut melamar, baik untuk PNS pusat maupun PNS daerah. Fenomena ini patut untuk mendapat perhatian. Mengapa demikian? Mungkin ini pertanyaan yang perlu dijawab. Lalu, haruskan semua tenaga kerja menjadi PNS?

Di Indonesia, maupun di negara manapun, tidaklah mungkin semua penduduk usia kerjanya menjadi PNS. Negara tak akan mampu membayar gajinya. Jikalaupun mampu membayar gajinya, lalu apa yang mau dikerjakan dan siapa yang akan diurusi oleh pemerintah jika semuanya menjadi PNS atau menjadi aparatur pemerintahan lainnya?

Jelas bahwa tidak mungkin semua bisa ditampung untuk menjadi PNS. Tidak semua lulusan perguruan tinggi bisa menjadi PNS. Akan bagus jika semakin banyak lulusan perguruan tinggi yang sengaja tidak memilih menjadi PNS. Anak saya dua orang. Dua-duanya memilih untuk tidak menjadi PNS. Saya sebagai orang tua juga menghargai pilihan mereka. Tentu tidak ada yang salah dengan keinginan untuk mengabdi sebagai pegawai negeri, tetapi sesungguhnya banyak cara lain untuk mengabdikan diri bagi nusa dan bangsa kan?

Ada beberapa alasan yang membuat masih banyak lulusan perguruan tinggi yang berminat atau berniat untuk menjadi PNS, antara lain: (1) adanya kepastian pendapatan dan juga adanya pensiun setelah masa pengabdian selesai sebagai PNS; (2) lebih terjaminnya status sebagai pegawai walaupun tidak mampu unjuk kinerja, karena adanya peraturan yang ‘melindungi’ PNS dari pemecatan, kecuali jika melakukan tindak kriminal; (3) status sosial yang tinggi bagi PNS dalam kultur masyarakat Indonesia; (4) terbatasnya peluang dan/atau ketidaksiapan lulusan perguruan tinggi untuk berwirausaha.

Kentara betul bahwa pertimbangan untuk menjadi PNS lebih dominan berbasis pada aspek sosial-ekonomi. Sangat manusiawi. Beberapa kondisi saat ini akan tetap memposisikan PNS sebagai pilihan utama bagi sebagian besar pencari kerja, termasuk: (1) kenaikan gaji dan tunjangan PNS yang dilakukan akhir-akhir ini akan tambah meningkatkan daya tarik PNS; (2) belum kondusifnya aturan dan terbatasnya akses permodalan menyebabkan minat untuk berwirausaha belum tumbuh sebagaimana yang diharapkan; dan (3) bekal pengetahuan dan ketrampilan selama kuliah belum sejalan dengan kebutuhan untuk menjadi wirausaha.

Upaya mendorong minat kewirausahaan tentu tidak dengan cara menurunkan gaji PNS, tetapi dengan memberlakukan dan mengawal peraturan perundang-undangan dan kebijakan publik yang mampu mewujudkan iklim yang kondusif untuk kegiatan bisnis dan kewirausahaan, serta mempermudah akses bagi pelaku bisnis pemula untuk mendapatkan modal usaha. Perguruan tinggi juga perlu menyisipkan substansi atau merancang mata kuliah yang relevan dengan dinamika realita kebutuhan saat ini, serta menambah bekal ketrampilan agar lulusan lebih siap untuk berwirausaha.

Saya mengamati teman-teman saya waktu sekolah dulu di perguruan tinggi di negara maju. Mereka yang secara akademik berada di ‘papan-atas’, sekarang umumnya berkerja di industri atau perusahaan swasta (nasional atau multi-nasional). Mereka yang di ‘papan-tengah’, banyak yang kerja di pemerintahan, termasuk mengajar di perguruan tinggi. Mereka yang di ‘papan-bawah’ kelihatannya memilih bekerja di dunia ketiga, sebagai konsultan atau apalah. Tapi perlu dicatat bahwa ini hanya hasil observasi sepintas. Bukan hasil riset. Jadi tidak sahih untuk digeneralisir.

Maaf jika saya agak ngelantur. Tapi informasi berikut ini mungkin perlu disimak lebih serius. Ini tulisan Zhao Xinying di harian ‘China Daily’ versi on-line yang berjudul “Interest in civil service declines” yang terakhir di update pada tanggal 1 Desember 2014. Diberitakan bahwa minat untuk menjadi PNS di Cina mengalami penurunan pada tahun 2014 dibandingkan pada tahun sebelumnya. Padahal PNS di Cina juga dianggap sebagai pekerjaan terhormat dengan gaji yang layak dan lebih terjamin.

Pada tahun 2014, Pemerintah Cina menawarkan sebanyak 22.000 formasi PNS. Ada sekitar 1,41 juta orang yang memenuhi syarat (berdasarkan data ketenagakerjaan mereka), tetapi hanya 1,05 juta orang yang mengikuti tes. Bandingkan dengan tahun 2013, dimana hanya ditawarkan 19.000 formasi PNS, tetapi yang ikut tes mencapai 1,12 juta orang.

Penurunan minat untuk menjadi PNS di Cina ini disinyalir karena Cina sedang giat melakukan aksi pemberantasan korupsi. Profesor Liu Xutao yang melakukan risetnya di China National School of Administration menyatakan bahwa: “In the past, people liked to work as civil servants because they thought they could get a lot of ‘invisible welfare’ through their posts”. Bagian pernyataan ini sengaja saya tidak terjemahkan. Namun kira-kira maksudnya adalah pada masa sebelumnya, (sebagian) orang berusaha menjadi PNS karena dia pikir bisa mendapatkan ‘invisible welfare’ dari tugas atau jabatannya. Begitulah kira-kira. Ngertikan?

Kita tahu bahwa perekonomian Cina jauh lebih baik saat ini dibandingkan dengan sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Mungkin ini juga menyebabkan lebih banyak tenaga kerja yang dibutuhkan oleh industri dan dunia usaha di Cina dalam dasawarsa terakhir dengan gaji yang lebih baik. Dengan adanya alternatif pilihan ini, maka generasi muda Cina mulai menurun minatnya untuk menjadi PNS dan mulai memilih untuk kerja di perusahaan swasta.

Indonesia juga lebih giat memberantas korupsi dalam sekitar sepuluh tahun terakhir ini. (Mungkin anda dapat menerka mengapa saya menyebutnya ‘dalam sepuluh tahun terakhir ini’). Sudah lumayan banyak PNS yang ditangkap, selain politikus dan pelaku bisnis. Tapi berbeda dengan di Cina, di Indonesia minat menjadi PNS belum ada tanda-tanda akan menurun. Memang sudah sering terdengar beberapa PNS menghindari tugas sebagai bendahara atau pejabat pembuat komitmen. Tapi pelamar untuk menjadi PNS masih sangat tinggi.

Telah sering pula kita mendengar himbauan agar lulusan perguruan tinggi tidak semata-mata ingin menjadi PNS. Lulusan perguruan tinggi didorong agar menjadi wirausaha. Matakuliah kewirausahaan telah diajarkan. Penumbuhan minat kewirausahaan di kalangan mahasiswa difasilitasi melalui kegiatan kemahasiswaan. Tokoh bisnis diundang untuk memberi kuliah umum di perguruan tinggi untuk menginspirasi mahasiswa. Ada inkubator bisnis. Ada sentra HaKI di perguruan tinggi.

Usaha-usaha ini kelihatannya belum berdampak signifikan. Usaha-usaha ini kemungkinan tidak akan berdampak signifikan, jika pada tataran makro tidak dilakukan perbaikan, yakni antara lain pembenahan peraturan dan kebijakan publik agar iklim yang kondusif dapat diwujudkan dalam rangka mendorong tumbuh kembang usaha mikro, kecil, dan menengah. Saya berasumsi bahwa alumni yang baru lulus perguruan tinggi, akan memulai wirausahanya pada skala usaha tersebut.

Kemudahan akses untuk memperoleh modal awal untuk usaha juga sangat dibutuhkan. Dari sisi lain, moralitas yang baik perlu dibekalkan kepada para calon wirausaha baru ini, sehingga tidak mengemplang dana pinjaman modal usaha ini. Dalam konteks ini, perlu juga aturan yang jelas dan tindakan yang tegas bagi pengemplang. Tanpa kecuali juga bagi wirausaha pemula. Pelajaran hidup yang baik adalah melalui penerapan reward dan punishment yang konsisten tanpa pandang bulu. Begitukan?

Jakarta, 16 Januari 2014

CDC 02: Gugupkah Anda Menghadapi Wawancara?


Saya beberapa kali ketemu teman yang mau diwawancarai. Saya tanya: “Gimana? Siap diwawancara?”. Ada yang menjawab siap. Lalu saya salaman dengan yang bersangkutan dan mengucapkan selamat semoga wawancaranya berlangsung lancar sesuai harapan. Tangannya terasa dingin dan telapak tangannya basah keringatan. Ada juga yang menjawab lebih terbuka bahwa ia merasa gugup.

Gimana dengan anda? Pernah diwawancarai ketika melamar kerja, atau dalam proses promosi jabatan? Sebetulnya gugup merupakan hal yang lumrah. Bisa karena kurang merasa siap. Bisa juga karena ‘taruhan’-nya besar, misalnya mau diwawancara untuk pekerjaan yang sangat diimpikan, atau mau promosi jabatan yang menjadi cita-cita sejak awal karir.

Ada tiga sumber tekanan menjelang wawancara. Pertama, karena besarnya keinginan yang bersangkutan untuk mendapatkan pekerjaan/jabatan yang ditawarkan. Kedua, karena perasaan tidak siap, akibat tidak mempersiapkan diri secara maksimal atau merasa tidak memahami substansi yang diperkirakan akan ditanyakan. Ketiga, karena sama sekali tidak tahu atau tidak dapat menduga tentang apa yang menjadi ekspektasi dari pewawancara, yang dalam konteks ini merupakan representasi dari instansi/perusahaan yang akan mempekerjakan.

Karena banyak potensi sumber pemicu kegugupan maka wajar kalau anda (dan orang-orang lain juga) gugup ketika akan diwawancarai. Saya yakin dengan mengetahui bahwa gugup merupakan hal yang wajar, maka tingkat kegugupan anda pada saat akan diwawancarai di masa mendatang akan sedikit berkurang.

Persoalannya adalah jika anda gugup maka pada saat wawancara pengetahuan dan kemampuan anda memberikan jawaban atau menjelaskan secara verbal akan tergerus sesuai dengan tingkat kegugupan anda. Ibaratkan pengetahuan anda sebetulnya 90 persen, tapi karena gugup yang terungkapkan bisa melorot sampai hanya 60 persen. Oleh sebab itu, kegugupan perlu diminimalisir. Bagaimana caranya?

Banyak tulisan yang sudah dipublikasikan tentang siasat (tips) untuk mengurangi kegugupan saat wawancara atau siasat agar tampil lebih mengesankan saat diwawancara. Tapi pengamatan saya kebanyakan nasehat itu lebih bersifat praktikal. Misalnya dianjurkan untuk memastikan dimana lokasi tempat wawancara akan dilangsungkan dan datanglah lebih awal; pakailah pakaian yang rapih dan sopan; upayakan ada kontak pandang (eye contact) dengan pewawancara dan jangan menunduk; jabatlah tangan pewawancara saat datang dan pamit setelah selesai wawancara serta jangan lupa ucapkan terima kasih; dan banyak lagi nasehat praktikal lainnya. Ada yang sampai lebih dari 20 butir nasehatnya.

Siasat dan nasehat praktikal ini baik, tapi kalau kebanyakan maka saya khawatir teman yang akan diwawancarai malah menjadi sibuk menghapal butir-butir nasehat ini, lupa akan substansi yang akan ditanya-jawabkan dalam wawancara. Bisa juga perilaku mereka yang diwawancara akan cenderung manipulatif dan tidak menjadi dirinya sendiri. Pewawancara yang berpengalaman bisa ‘membaca’ perilaku yang alami atau yang dibuat-buat.

Walaupun siasat praktikal tadi mungkin berguna, tapi jangan lupa bahwa ini wawancara untuk merekrut karyawan atau memilih kandidat yang tepat untuk jabatan tertentu, bukan kontes kecantikan dan kegantengan (saya sebut untuk pria dan wanita biar tidak bias jender). Saya pernah mewawancarai beberapa orang dan mereka menampilan prosesi yang sama. Lalu saya berpikir, wah jangan-jangan mereka dari ‘spesies’ yang sama atau ikut pelatihan kepribadian di tempat yang sama.

Dengan segala kerendahan hati dan kondisi saya yang miskin pengalaman dan pengetahuan mengenai ihwal wawancara ini, saya cenderung menyarankan sebagai berikut:

Pertama, kerjakan pe-er dulu sebelum wawancara, yakni cari informasi yang banyak tentang tugas dan fungsi institusi (jika di pemerintahan) atau jenis dan lingkup bisnis utama (jika perusahaan) atau misi utama (jika lembaga non-profit). Lalu juga tugas pokok atau diskripsi pekerjaan yang dilamar. Dua hal ini perlu dipahami betul, sehingga semua jawaban atas pertanyaan wawancara dapat diarahkan/dikaitkan dengan ke dua hal tersebut. Dalam bahasa anak sekarang, jawaban kita akan ‘nyambung’ dengan ekspektasi pewawancara. Tidak ngalor-ngidul. Jawaban yang baik bukan yang panjang tapi ngalor-ngidul. Jawaban yang baik adalah ringkas dan langsung ke sasaran. Ingat: melakukan persiapan dan penambahan tingkat pemahaman substansial mengenai instansi dan diskripsi pekerjaan yang dilamar secara langsung (bukan secara tidak langsung ya …) akan meningkatkan rasa percaya diri.

Kedua, harus tampil percaya diri saat diwawancara. Selain persiapan dan kecukupan pengetahuan, rasa percaya diri bisa bertambah jika kita melakukan nasehat praktikal yang umum diberikan oleh para ‘pakar’ wawancara (atau umum ditulis di buku pintar untuk persiapan wawancara), termasuk pakaian rapih, datang tidak telat, dst. Sebetulnya jika kita percaya diri, maka kita bisa tampil secara alami saja, karena semua siasat perilaku tadi bisa muncul sendiri (dan terkesan alami, karena memang alami).

Ketiga, walaupun tidak ada daftar pertanyaan baku untuk setiap wawancara dan juga tidak ada keharusan bagi pewawancara untuk menanyakan hal yang sama kepada semua kandidat, tetapi dalam konteks rekrutmen pegawai atau memilih kandidat untuk posisi jabatan tertentu ada beberapa pertanyaan yang sangat sering ditanyakan. Misalnya, mengapa anda merasa ‘pantas’ untuk menjadi karyawan kami atau untuk menduduki jabatan tertentu? Adakah pengalaman anda yang terkait dengan posisi yang dilamar? Menurut anda sendiri, apa kelebihan dan kekurangan anda? Menurut saya, bagus jika anda siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan dalam wawancara.

Keempat, gunakan kesempatan wawancara ini untuk menunjukkan/mengekpresikan ketertarikan anda pada pekerjaan atau jabatan yang ditawarkan, tapi jangan berlebihan sehingga terkesan anda sepertinya kepepet banget. Cara mengekspresikan minat dan ketertarikan ini bisa dilakukan dengan mengajukan pertanyaan yang cerdas dan positif (jika diberi kesempatan), misalnya pertanyaan yang terkait dengan isu mutakhir atau program prioritas insititusi yang bersangkutan.

Kelima, bayangkan berapa banyak calon atau kandidat yang diwawancarai selain anda. Oleh sebab itu, harus berani punya pandangan yang berbeda (dan lebih cerdas!) dibandingkan dengan orang-orang yang diwawancarai lainnya. Jangan ikuti pola jawaban yang sama. Malah sebaiknya tidak perlu tanya-tanya dengan kandidat yang lain tentang pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara. Be different, be original.

Sebelum saya menutup tulisan ini, saya perlu memberi peringatan kepada anda bahwa kali ini saya agak sok tahu tentang isu ini. Tulisan ini hanya berdasarkan pengalaman langsung saya yang tidak banyak, bukan karena saya pakar wawancara. Oleh sebab itu, cerna dulu sebelum mengikuti ‘siasat’ ini. Yang penting lakukan saja apa yang anda yakin akan mengurangi kegugupan anda saat mengikuti wawancara. Jangan lupa berdo’a.

Jakarta, 5 Januari 2014

%d blogger menyukai ini: