Benyamin Lakitan

Beranda » Article » CDC - Unsri » CDC 02: Gugupkah Anda Menghadapi Wawancara?

CDC 02: Gugupkah Anda Menghadapi Wawancara?


Saya beberapa kali ketemu teman yang mau diwawancarai. Saya tanya: “Gimana? Siap diwawancara?”. Ada yang menjawab siap. Lalu saya salaman dengan yang bersangkutan dan mengucapkan selamat semoga wawancaranya berlangsung lancar sesuai harapan. Tangannya terasa dingin dan telapak tangannya basah keringatan. Ada juga yang menjawab lebih terbuka bahwa ia merasa gugup.

Gimana dengan anda? Pernah diwawancarai ketika melamar kerja, atau dalam proses promosi jabatan? Sebetulnya gugup merupakan hal yang lumrah. Bisa karena kurang merasa siap. Bisa juga karena ‘taruhan’-nya besar, misalnya mau diwawancara untuk pekerjaan yang sangat diimpikan, atau mau promosi jabatan yang menjadi cita-cita sejak awal karir.

Ada tiga sumber tekanan menjelang wawancara. Pertama, karena besarnya keinginan yang bersangkutan untuk mendapatkan pekerjaan/jabatan yang ditawarkan. Kedua, karena perasaan tidak siap, akibat tidak mempersiapkan diri secara maksimal atau merasa tidak memahami substansi yang diperkirakan akan ditanyakan. Ketiga, karena sama sekali tidak tahu atau tidak dapat menduga tentang apa yang menjadi ekspektasi dari pewawancara, yang dalam konteks ini merupakan representasi dari instansi/perusahaan yang akan mempekerjakan.

Karena banyak potensi sumber pemicu kegugupan maka wajar kalau anda (dan orang-orang lain juga) gugup ketika akan diwawancarai. Saya yakin dengan mengetahui bahwa gugup merupakan hal yang wajar, maka tingkat kegugupan anda pada saat akan diwawancarai di masa mendatang akan sedikit berkurang.

Persoalannya adalah jika anda gugup maka pada saat wawancara pengetahuan dan kemampuan anda memberikan jawaban atau menjelaskan secara verbal akan tergerus sesuai dengan tingkat kegugupan anda. Ibaratkan pengetahuan anda sebetulnya 90 persen, tapi karena gugup yang terungkapkan bisa melorot sampai hanya 60 persen. Oleh sebab itu, kegugupan perlu diminimalisir. Bagaimana caranya?

Banyak tulisan yang sudah dipublikasikan tentang siasat (tips) untuk mengurangi kegugupan saat wawancara atau siasat agar tampil lebih mengesankan saat diwawancara. Tapi pengamatan saya kebanyakan nasehat itu lebih bersifat praktikal. Misalnya dianjurkan untuk memastikan dimana lokasi tempat wawancara akan dilangsungkan dan datanglah lebih awal; pakailah pakaian yang rapih dan sopan; upayakan ada kontak pandang (eye contact) dengan pewawancara dan jangan menunduk; jabatlah tangan pewawancara saat datang dan pamit setelah selesai wawancara serta jangan lupa ucapkan terima kasih; dan banyak lagi nasehat praktikal lainnya. Ada yang sampai lebih dari 20 butir nasehatnya.

Siasat dan nasehat praktikal ini baik, tapi kalau kebanyakan maka saya khawatir teman yang akan diwawancarai malah menjadi sibuk menghapal butir-butir nasehat ini, lupa akan substansi yang akan ditanya-jawabkan dalam wawancara. Bisa juga perilaku mereka yang diwawancara akan cenderung manipulatif dan tidak menjadi dirinya sendiri. Pewawancara yang berpengalaman bisa ‘membaca’ perilaku yang alami atau yang dibuat-buat.

Walaupun siasat praktikal tadi mungkin berguna, tapi jangan lupa bahwa ini wawancara untuk merekrut karyawan atau memilih kandidat yang tepat untuk jabatan tertentu, bukan kontes kecantikan dan kegantengan (saya sebut untuk pria dan wanita biar tidak bias jender). Saya pernah mewawancarai beberapa orang dan mereka menampilan prosesi yang sama. Lalu saya berpikir, wah jangan-jangan mereka dari ‘spesies’ yang sama atau ikut pelatihan kepribadian di tempat yang sama.

Dengan segala kerendahan hati dan kondisi saya yang miskin pengalaman dan pengetahuan mengenai ihwal wawancara ini, saya cenderung menyarankan sebagai berikut:

Pertama, kerjakan pe-er dulu sebelum wawancara, yakni cari informasi yang banyak tentang tugas dan fungsi institusi (jika di pemerintahan) atau jenis dan lingkup bisnis utama (jika perusahaan) atau misi utama (jika lembaga non-profit). Lalu juga tugas pokok atau diskripsi pekerjaan yang dilamar. Dua hal ini perlu dipahami betul, sehingga semua jawaban atas pertanyaan wawancara dapat diarahkan/dikaitkan dengan ke dua hal tersebut. Dalam bahasa anak sekarang, jawaban kita akan ‘nyambung’ dengan ekspektasi pewawancara. Tidak ngalor-ngidul. Jawaban yang baik bukan yang panjang tapi ngalor-ngidul. Jawaban yang baik adalah ringkas dan langsung ke sasaran. Ingat: melakukan persiapan dan penambahan tingkat pemahaman substansial mengenai instansi dan diskripsi pekerjaan yang dilamar secara langsung (bukan secara tidak langsung ya …) akan meningkatkan rasa percaya diri.

Kedua, harus tampil percaya diri saat diwawancara. Selain persiapan dan kecukupan pengetahuan, rasa percaya diri bisa bertambah jika kita melakukan nasehat praktikal yang umum diberikan oleh para ‘pakar’ wawancara (atau umum ditulis di buku pintar untuk persiapan wawancara), termasuk pakaian rapih, datang tidak telat, dst. Sebetulnya jika kita percaya diri, maka kita bisa tampil secara alami saja, karena semua siasat perilaku tadi bisa muncul sendiri (dan terkesan alami, karena memang alami).

Ketiga, walaupun tidak ada daftar pertanyaan baku untuk setiap wawancara dan juga tidak ada keharusan bagi pewawancara untuk menanyakan hal yang sama kepada semua kandidat, tetapi dalam konteks rekrutmen pegawai atau memilih kandidat untuk posisi jabatan tertentu ada beberapa pertanyaan yang sangat sering ditanyakan. Misalnya, mengapa anda merasa ‘pantas’ untuk menjadi karyawan kami atau untuk menduduki jabatan tertentu? Adakah pengalaman anda yang terkait dengan posisi yang dilamar? Menurut anda sendiri, apa kelebihan dan kekurangan anda? Menurut saya, bagus jika anda siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan dalam wawancara.

Keempat, gunakan kesempatan wawancara ini untuk menunjukkan/mengekpresikan ketertarikan anda pada pekerjaan atau jabatan yang ditawarkan, tapi jangan berlebihan sehingga terkesan anda sepertinya kepepet banget. Cara mengekspresikan minat dan ketertarikan ini bisa dilakukan dengan mengajukan pertanyaan yang cerdas dan positif (jika diberi kesempatan), misalnya pertanyaan yang terkait dengan isu mutakhir atau program prioritas insititusi yang bersangkutan.

Kelima, bayangkan berapa banyak calon atau kandidat yang diwawancarai selain anda. Oleh sebab itu, harus berani punya pandangan yang berbeda (dan lebih cerdas!) dibandingkan dengan orang-orang yang diwawancarai lainnya. Jangan ikuti pola jawaban yang sama. Malah sebaiknya tidak perlu tanya-tanya dengan kandidat yang lain tentang pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara. Be different, be original.

Sebelum saya menutup tulisan ini, saya perlu memberi peringatan kepada anda bahwa kali ini saya agak sok tahu tentang isu ini. Tulisan ini hanya berdasarkan pengalaman langsung saya yang tidak banyak, bukan karena saya pakar wawancara. Oleh sebab itu, cerna dulu sebelum mengikuti ‘siasat’ ini. Yang penting lakukan saja apa yang anda yakin akan mengurangi kegugupan anda saat mengikuti wawancara. Jangan lupa berdo’a.

Jakarta, 5 Januari 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: