Benyamin Lakitan

Beranda » Article » CDC - Unsri » CDC 03: Haruskah Menjadi PNS?

CDC 03: Haruskah Menjadi PNS?


Setiap kali ada lowongan untuk menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) maka berbondong-bondong, ribuan atau malah puluhan ribu pencari kerja ikut melamar, baik untuk PNS pusat maupun PNS daerah. Fenomena ini patut untuk mendapat perhatian. Mengapa demikian? Mungkin ini pertanyaan yang perlu dijawab. Lalu, haruskan semua tenaga kerja menjadi PNS?

Di Indonesia, maupun di negara manapun, tidaklah mungkin semua penduduk usia kerjanya menjadi PNS. Negara tak akan mampu membayar gajinya. Jikalaupun mampu membayar gajinya, lalu apa yang mau dikerjakan dan siapa yang akan diurusi oleh pemerintah jika semuanya menjadi PNS atau menjadi aparatur pemerintahan lainnya?

Jelas bahwa tidak mungkin semua bisa ditampung untuk menjadi PNS. Tidak semua lulusan perguruan tinggi bisa menjadi PNS. Akan bagus jika semakin banyak lulusan perguruan tinggi yang sengaja tidak memilih menjadi PNS. Anak saya dua orang. Dua-duanya memilih untuk tidak menjadi PNS. Saya sebagai orang tua juga menghargai pilihan mereka. Tentu tidak ada yang salah dengan keinginan untuk mengabdi sebagai pegawai negeri, tetapi sesungguhnya banyak cara lain untuk mengabdikan diri bagi nusa dan bangsa kan?

Ada beberapa alasan yang membuat masih banyak lulusan perguruan tinggi yang berminat atau berniat untuk menjadi PNS, antara lain: (1) adanya kepastian pendapatan dan juga adanya pensiun setelah masa pengabdian selesai sebagai PNS; (2) lebih terjaminnya status sebagai pegawai walaupun tidak mampu unjuk kinerja, karena adanya peraturan yang ‘melindungi’ PNS dari pemecatan, kecuali jika melakukan tindak kriminal; (3) status sosial yang tinggi bagi PNS dalam kultur masyarakat Indonesia; (4) terbatasnya peluang dan/atau ketidaksiapan lulusan perguruan tinggi untuk berwirausaha.

Kentara betul bahwa pertimbangan untuk menjadi PNS lebih dominan berbasis pada aspek sosial-ekonomi. Sangat manusiawi. Beberapa kondisi saat ini akan tetap memposisikan PNS sebagai pilihan utama bagi sebagian besar pencari kerja, termasuk: (1) kenaikan gaji dan tunjangan PNS yang dilakukan akhir-akhir ini akan tambah meningkatkan daya tarik PNS; (2) belum kondusifnya aturan dan terbatasnya akses permodalan menyebabkan minat untuk berwirausaha belum tumbuh sebagaimana yang diharapkan; dan (3) bekal pengetahuan dan ketrampilan selama kuliah belum sejalan dengan kebutuhan untuk menjadi wirausaha.

Upaya mendorong minat kewirausahaan tentu tidak dengan cara menurunkan gaji PNS, tetapi dengan memberlakukan dan mengawal peraturan perundang-undangan dan kebijakan publik yang mampu mewujudkan iklim yang kondusif untuk kegiatan bisnis dan kewirausahaan, serta mempermudah akses bagi pelaku bisnis pemula untuk mendapatkan modal usaha. Perguruan tinggi juga perlu menyisipkan substansi atau merancang mata kuliah yang relevan dengan dinamika realita kebutuhan saat ini, serta menambah bekal ketrampilan agar lulusan lebih siap untuk berwirausaha.

Saya mengamati teman-teman saya waktu sekolah dulu di perguruan tinggi di negara maju. Mereka yang secara akademik berada di ‘papan-atas’, sekarang umumnya berkerja di industri atau perusahaan swasta (nasional atau multi-nasional). Mereka yang di ‘papan-tengah’, banyak yang kerja di pemerintahan, termasuk mengajar di perguruan tinggi. Mereka yang di ‘papan-bawah’ kelihatannya memilih bekerja di dunia ketiga, sebagai konsultan atau apalah. Tapi perlu dicatat bahwa ini hanya hasil observasi sepintas. Bukan hasil riset. Jadi tidak sahih untuk digeneralisir.

Maaf jika saya agak ngelantur. Tapi informasi berikut ini mungkin perlu disimak lebih serius. Ini tulisan Zhao Xinying di harian ‘China Daily’ versi on-line yang berjudul “Interest in civil service declines” yang terakhir di update pada tanggal 1 Desember 2014. Diberitakan bahwa minat untuk menjadi PNS di Cina mengalami penurunan pada tahun 2014 dibandingkan pada tahun sebelumnya. Padahal PNS di Cina juga dianggap sebagai pekerjaan terhormat dengan gaji yang layak dan lebih terjamin.

Pada tahun 2014, Pemerintah Cina menawarkan sebanyak 22.000 formasi PNS. Ada sekitar 1,41 juta orang yang memenuhi syarat (berdasarkan data ketenagakerjaan mereka), tetapi hanya 1,05 juta orang yang mengikuti tes. Bandingkan dengan tahun 2013, dimana hanya ditawarkan 19.000 formasi PNS, tetapi yang ikut tes mencapai 1,12 juta orang.

Penurunan minat untuk menjadi PNS di Cina ini disinyalir karena Cina sedang giat melakukan aksi pemberantasan korupsi. Profesor Liu Xutao yang melakukan risetnya di China National School of Administration menyatakan bahwa: “In the past, people liked to work as civil servants because they thought they could get a lot of ‘invisible welfare’ through their posts”. Bagian pernyataan ini sengaja saya tidak terjemahkan. Namun kira-kira maksudnya adalah pada masa sebelumnya, (sebagian) orang berusaha menjadi PNS karena dia pikir bisa mendapatkan ‘invisible welfare’ dari tugas atau jabatannya. Begitulah kira-kira. Ngertikan?

Kita tahu bahwa perekonomian Cina jauh lebih baik saat ini dibandingkan dengan sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Mungkin ini juga menyebabkan lebih banyak tenaga kerja yang dibutuhkan oleh industri dan dunia usaha di Cina dalam dasawarsa terakhir dengan gaji yang lebih baik. Dengan adanya alternatif pilihan ini, maka generasi muda Cina mulai menurun minatnya untuk menjadi PNS dan mulai memilih untuk kerja di perusahaan swasta.

Indonesia juga lebih giat memberantas korupsi dalam sekitar sepuluh tahun terakhir ini. (Mungkin anda dapat menerka mengapa saya menyebutnya ‘dalam sepuluh tahun terakhir ini’). Sudah lumayan banyak PNS yang ditangkap, selain politikus dan pelaku bisnis. Tapi berbeda dengan di Cina, di Indonesia minat menjadi PNS belum ada tanda-tanda akan menurun. Memang sudah sering terdengar beberapa PNS menghindari tugas sebagai bendahara atau pejabat pembuat komitmen. Tapi pelamar untuk menjadi PNS masih sangat tinggi.

Telah sering pula kita mendengar himbauan agar lulusan perguruan tinggi tidak semata-mata ingin menjadi PNS. Lulusan perguruan tinggi didorong agar menjadi wirausaha. Matakuliah kewirausahaan telah diajarkan. Penumbuhan minat kewirausahaan di kalangan mahasiswa difasilitasi melalui kegiatan kemahasiswaan. Tokoh bisnis diundang untuk memberi kuliah umum di perguruan tinggi untuk menginspirasi mahasiswa. Ada inkubator bisnis. Ada sentra HaKI di perguruan tinggi.

Usaha-usaha ini kelihatannya belum berdampak signifikan. Usaha-usaha ini kemungkinan tidak akan berdampak signifikan, jika pada tataran makro tidak dilakukan perbaikan, yakni antara lain pembenahan peraturan dan kebijakan publik agar iklim yang kondusif dapat diwujudkan dalam rangka mendorong tumbuh kembang usaha mikro, kecil, dan menengah. Saya berasumsi bahwa alumni yang baru lulus perguruan tinggi, akan memulai wirausahanya pada skala usaha tersebut.

Kemudahan akses untuk memperoleh modal awal untuk usaha juga sangat dibutuhkan. Dari sisi lain, moralitas yang baik perlu dibekalkan kepada para calon wirausaha baru ini, sehingga tidak mengemplang dana pinjaman modal usaha ini. Dalam konteks ini, perlu juga aturan yang jelas dan tindakan yang tegas bagi pengemplang. Tanpa kecuali juga bagi wirausaha pemula. Pelajaran hidup yang baik adalah melalui penerapan reward dan punishment yang konsisten tanpa pandang bulu. Begitukan?

Jakarta, 16 Januari 2014

Iklan

1 Komentar

  1. agusdin berkata:

    Menarik sekali tulisannya Prof.
    Memang menarik membahas dan mungkin melakukan sedikit riset kenapa masyarakat (kita) lebih tertarik untuk menjadi PNS, mungkin juga karena dunia pendidikan (kita) yang membentuk pola fikir untuk menjadi PNS selain juga dari lingkungan dan keluarga.
    kalau berbicara di tataran universitas, sepertinya agak terlambat, karena jika dilihat hanya berapa persen matakuliah yang berperan untuk menjadikan mahasiswa menjadi seorang enterpreanur.
    sepertinya SMK (yang dicanangkan pemerintah sekarang) lebih baik mengarahkan masyarakat (siswa) untuk menjadi enterpreanur.
    sebenarnya saya fikir sangat komplek permasalahannya
    IMHO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: