Benyamin Lakitan

Beranda » Article » CDC - Unsri » CDC 04: Mempersiapkan Diri untuk Pengembangan Karir

CDC 04: Mempersiapkan Diri untuk Pengembangan Karir


Sohib saya, Profesor Nuni Gofar, pernah minta kepada saya untuk menulis tentang ‘merencanakan karir lebih awal’. Niatnya tentu agar alumni UNSRI dan lulusan perguruan tinggi lainnya (yang membaca tulisan ini) agar lebih siap untuk berkompetisi dalam mendapatkan pekerjaan yang layak. Pekerjaan yang layak tersebut diharapkan dapat menjadi fondasi yang kokoh untuk membangun karir yang cemerlang di kemudian hari.

Mendapatkan ‘tantangan’ ini, sel-sel kelabu dalam tempurung kepala saya langsung merespon secara sistematis. Begini kira-kira proses yang terjadi dalam benak saya: Secara spontan langsung mensimulasi diri saya menjadi Profesor Nuni Gofar, untuk mencoba memahami mengapa sohib saya yang baik hati dan tidak sombong tersebut galau dengan isu daya saing alumni ini. Well, mungkin beliau tidak galau, tapi peduli.

Lalu ting-tong muncul beberapa pertanyaan: (1) Mengapa dirasa perlu merencanakan karir lebih awal? – Ini terkait rasionalitas tentang pentingnya ini dilakukan; (2) Apa target yang ingin diraih dengan merencanakan karir lebih awal ini? – Ini tentang kondisi yang ingin diwujudkan; (3) Dimana posisi alumni UNSRI dalam kancah dinamika dunia kerja saat ini? – Ini titik awal berkaitan dengan potensi daya saing alumni saat ini yang harus diketahui; (4) Kapan ini harus dimulai? – Ini titik awal berkaitan dengan dimensi waktu. Logikanya akhir masa studi digunakan sebagai titik referensi awal untuk karir; dan (5) Bagaimana mengeksekusi rencana karir tersebut? – Ini merupakan aksi yang perlu dilakukan untuk menggeser dari posisi kondisi saat ini menuju kondisi yang disasar. Ups, mudah-mudahan ini tidak terkesan terlalu akademik ya ….

Hey, tunggu dulu. Apakah kita memang mau merencanakan karir? atau sebetulnya menyiapkan diri agar lebih mantab dalam menempuh perjalanan panjang yang disebut ‘karir’ itu? Bingung? Baik, saya urai kebingungan ini. Untuk membuat rencana rute karir, kita perlu tahu dimana titik awalnya kan? OK, dengan percermatan yang seksama kita bisa mengetahui titik awal tersebut. Toh, ini adalah realita yang bisa dirasakan saat ini. Bukan sesuatu yang tidak nyata atau tidak pasti.

Lalu apakah kita tahu kondisi atau status yang mau disasar? Walaupun masing-masing individu punya sasaran masing-masing yang cenderung beragam, tetapi pada tingkat individu tentu setiap alumni boleh punya cita-cita (tapi boleh juga tidak!). Nah, bukankah cita-cita itu merupakan kondisi atau status yang akan disasar. Jadi kondisi yang ingin diwujudkan tersebut bisa dideskripsikan per individu.

Great! Sekarang kita tahu posisi awal dan masing-masing individu boleh menentukan sendiri sasarannya. Selanjutnya, apakah kita tahu atau bisa memprediksi dengan akurat kondisi ‘jalan’ karir yang akan dilalui, berapa banyak orang lain yang akan menempuh jalan yang sama (yan nota bene adalah para kompetitor anda!). Lalu, apakah sasaran itu akan tetap menarik dan mempesona dengan berjalannya waktu? Karena anda butuh waktu toh untuk menempuh perjalanan karir dari titik awal ke posisi akhir. Waktu bisa mengubah segalanya kan?

Jika perjalanan panjang itu penuh dinamika dan ketidakpastian. Bagaimana anda dapat membuat strategi dan rencana yang jitu? Mungkin anda akan mengatakan bahwa yang namanya rencana, ya pasti ada resiko gagal. Betul! Seratus persen betul!

Persoalannya adalah anda akan kehilangan banyak waktu sebelum diterpa kegagalan tersebut. Persoalannya adalah tidak semua orang dapat mengatasi kegagalan dengan baik. Jika anda orang yang sangat rasional, maka anda akan belajar dari kegagalan tersebut dan memperbaikinya (jika kegagalan itu disebabkan oleh diri anda sendiri bukan karena faktor luar). Jika anda orang yang spiritualitasnya tinggi, maka anda mungkin akan tawakal menerima kegagalan ini. Tetapi ada juga yang frustasi dan depresi menerima kegagalan.

Bagaimana jika saya tawarkan alternatif lain? Saya memperkirakan akan selalu banyak kemungkinan yang akan terjadi selama perjalanan seseorang meniti karirnya, baik karena dinamika lingkungan kerjanya maupun karena dinamika intra-personal, umpamanya rasa jenuh dan berbagai persoalan pribadi lainnya. Saya mengalami hal ini, yakni kejenuhan kerja setelah merasa aktivitas kerja menjadi hanyalah rutinitas. Mungkin Profesor Nuni Gofar, sohib saya yang baik hati dan tidak sombong itu juga pernah mengalami.

Alternatifnya begini: Daripada menguras energi untuk menyiapkan rencana yang kemungkinan gagalnya selalu ada dan bisa membuat anda kecewa setiap kali terjadi kenyataan yang tak sesuai rencana anda, maka mungkin lebih baik mengambil posisi untuk selalu siap mengantisipasi dinamika perubahan kebutuhan dan tantangan yang terjadi sejak sebelum anda memulai dan dilanjutkan sepanjang karir anda di dunia kerja. Berarti paling tidak harus dimulai sejak kuliah S1 atau diploma.

Sejak kuliah anda perlu mulai ngintip apa keahlian dan/atau ketrampilan yang dibutuhkan dunia kerja. Padukan dengan minat anda. Nah, setelah itu anda mulai mempersiapkan diri. Misalnya dengan memilih program studi yang sesuai, meningkatkan kemampuan bahasa asing, meningkatkan keterampilan penggunaan program-program komputer untuk memperlancar pekerjaan, dan mengasah kemampuan interaksi dan komunikasi sosial.

Lalu setelah kerja, anda akan mengenali lebih baik tuntutan pekerjaan anda. Jika anda memilih menjadi dosen (atau untuk konteks saat ini, ungkapan yang pas adalah: Jika anda beruntung bisa menjadi dosen); maka anda perlu secepatnya berusaha untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dan S3. Tentu tidak hanya untuk menambah gelar, tetapi yang lebih penting adalah untuk meningkatkan kapasitas intelektual/akademik anda. Ini yang akan menjadi modal utama untuk karir di dunia akademik. Jika anda memilih profesi yang lain tentu andapun harus meningkatkan kapasitas keahlian atau ketrampilan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pekerjaan.

Jangan terlalu cepat memutuskan untuk menikmati keberhasilan. Kalau anda sudah merasa berhasil, maka kemungkinan perjalan karir andapun sudah mendekati terminal terakhir. Ungkapan rasa syukur atas apa yang sudah dicapai memang perlu diekspresikan, tetapi jangan lama-lama terbuai dalam suasana ini. Anugerah Ilahi atas kebugaran fisik, kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual juga perlu disyukuri yakni dengan cara terus-menerus mengasahnya agar lebih banyak memberikan kemanfaatan bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

Pada akhirnya tentu anda boleh ‘menggantungkan cita-cita setinggi langit’ dan berupaya keras dan sistematis untuk mencapainya serta menyiapkan diri untuk selalu bangkit kembali jika mengalami kegagalan; atau anda boleh juga memilih untuk melaksanakan setiap amanah yang diberikan dalam menjalani karir dengan sebaik-baiknya dan seikhlas mungkin. Lalu setelahnya baru anda menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Ilahi. Percayalah, walaupun air mengalir berliku-liku tapi pada akhirnya akan sampai ke laut juga.

By the way, saya belum tanya kepada sohib saya –Profesor Nuni Gofar yang baik hati dan tidak sombang itu- apakah beliau punya rencana karir sebagai pemandu kerja dan cita-cita yang diidamkan sejak awal? Atau menjalani karir dengan penuh kesungguhan dan ikhlas, lalu mengikuti saja perjalanan karir seperti air yang mengalir?

Jika bertemu beliau, silahkan tanya langsung ya …

Jakarta, 23 Januari 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: