Benyamin Lakitan

Beranda » Article » Course Materials » Landscape Ecology 01: Definition, Terms, and Scope

Landscape Ecology 01: Definition, Terms, and Scope


Landscape ecology is the science of studying and improving the relationships between spatial pattern and ecological processes on a multitude of scales and organizational levels. In short, landscape ecology is an ecology at landscape level.

Landscape is spatially heterogeneous areas characterized by a mosaic of patches that differ in size, shape, contents, and history. Patch is elements that make up a landscape. Arrangement and composition of the patches that compose a landscape is called as landscape pattern; while spatial relationships among landscape elements (patches) is landscape Structure. Furthermore, landscape function describes how the elements act and interact. Landscape Change is alteration of the structure and function of the landscape over time. Lastly, landscape Management is the management of structure and function to achieve a desired condition.

Researches in landscape ecology mostly focused on spatial heterogeneity, broader spatial extents than those traditionally studied in ecology, and role of humans in creating and affecting landscape patterns and processes.

Full slides on this issues can be downloaded here: Landscape Ecology 01

Iklan

2 Komentar

  1. Caro Lina berkata:

    one of a powerful tool to “see through” a region. apakah ada contoh (di indonesia) penggunaan cara pandang landscape ecology sebagai dasar perancangan kebijakann dan implementasinya? sangat senang bila saya dapat memperoleh informasi tersebut. saya tertarik untuk dapat lebih mengerti.

    • blakitan berkata:

      Hai Lina, saya sekarang mulai menikmati kembali suasana kampus. Ini materi kuliah untuk mahasiswa asing yang mengikuti program pertukaran mahasiswa (student exchange). Ekologi lansekap relatif baru berkembang. Dulu waktu saya kuliah S1, ekologi itu fokus pada interaksi sebatas individu, populasi, sampai komunitas dengan lingkungan biotik, fisik, dan kemudian ditambah sosial. Sejak 80-an, makin banyak ekologis merasa interaksi level komunitas itu tidak lagi memadai untuk menjelaskan fenomena yang sebenarnya terjadi. Burung melakukan migrasi lintas kontinen. Asap di Sumatera dan Kalimantan berdampak pada penyakit ISPA di negara tetangga. Dinamika perubahan iklim tak dapat diisolir hanya pada wilayah tertentu saja. Lalu ‘unit terkecil’ ekologi yang semula adalah individu mungkin relevan dalam bahasan tingkat populasi dan komunitas. Kemajuan teknologi kemudian memungkinkan orang melihat pada level bentang wilayah yang lebih luas dan mengamati kenyataan bahwa ada POLA sebaran, bentuk, dan ukuran ‘patches’ dalam satuan lansekap mempengaruhi PROSES interaksi yang terjadi … Lalu kelompok ekologis yang menekuni hal ini merasa perlu ada disiplin ilmu ekologi yang menjelaskan dan mendalami ekologi pada level lansekap, region, kontinen, global.
      Mengenai apakah ada contohnya di Indonesia? Perlu saya cek dulu … tapi biasanya kita agak terlambat dalam memanfaatkan setiap ‘scientific tool’ baru dalam formulasi kebijakan …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: