Benyamin Lakitan

Beranda » 2015 » Oktober (Laman 2)

Monthly Archives: Oktober 2015

Iklan

Landscape Ecology 06: Landscape Ecology and Aesthetics


There is a closed but complicated relationship between aesthetics and ecological functions. Aesthetics and ecology may have either complementary or contradictory implications for a landscape. Intervention for aligning landscape aesthetics and ecological functions can be done through design and/or through knowledge. Ethical consideration should also be included. Works on this specific issue, need to go beyond only describing “what is”. It should also prescribe “what should be” done.

Interventions through landscape planning, design, and management; or through enhanced knowledge might establish desirable relationships between aesthetics and ecology. But the key outcome is to align ecological goals with aesthetic experiences to achieve culturally and ecologically sustainable landscapes. Landscape planning, design, and management that address the aesthetics of future landscape patterns can be powerful ways to protect and enhance ecological goals.

Slides on this issue, can be read and downloaded here: Landscape Ecology 06

Iklan

Landscape Ecology 05: Landscape Ecology of Urban Areas


Any individual residential garden most likely will not be sufficient in providing viable habitat for populations of the native animal species in urban areas such as birds, butterflies, and squirrel. However, a group of gardens could make a ‘patch’ that could serve sufficiently as habitat of these urban animals. Landscape ecology framework can be employed for such purposes. Management of public and private gardens at multiple spatial scales is necessary to maximize the potential of urban environments for biodiversity conservation.

Individual decision-making creates heterogeneity, which has some benefits in that it may contribute to high biodiversity, however, most likely with low density. Collective decision can only be generated through a social process, either formally or informally-organized. Social drivers are key for harnessing gardens for conservation. In order to make it works, integration of biological and social disciplines should be strengthened. Collaboration between ecologists, social scientists, urban planners and gardeners/urban residents has to be encouraged.

Slides for this issue can be seen and downloaded here: Landscape Ecology 05

Dasar-dasar Agronomi 05: Perbanyakan Tanaman: Bahan Tanam dan Pembibitan


Bahan tanaman adalah organ utuh atau potongan organ atau tanaman muda yang digunakan sebagai bahan yang ditanam untuk tujuan produksi atau kepentingan pertanian lainnya. Bahan tanaman dapat berupa: [1] Benih, untuk perbanyakan tanaman secara reproduktif; [2] Stek, umbi, bagian vegetatif lainnya untuk perbanyakan vegetatif; [3] Plantlet, bahan tanam yang dihasilkan dari aplikasi bioteknologi; dan [4] Bibit, berupa tanaman muda, baik yang ditanam dari biji, stek, umbi, plantlet, atau hasil cangkokan, sambungan, atau okulasi.

Preferensi bahan untuk perbanyakan vegetatif: [1] Anakan yang telah mempunyai akar; [2] Bahan tanam yang mempunyai mata tunas sebagai calon batang; [3] Bahan tanam yang mudah membentuk/tumbuh akar ketika ditanam; dan [4] Bersumber dari induk yang sudah memasuki fase reproduktif atau sudah diketahui kualitas dan potensi hasilnya.

Pembibitan dilakukan untuk beberapa pertimbangan: [1] Memudahkan pemeliharaan pada stadia awal budidaya tanaman, karena dilakukan hanya pada lahan yang relatif kecil; [2] Memudahkan perlindungan terhadap tanaman muda yang masih rawan terhadap kondisi lingkungan yang tidak optimal dan dari gangguan organisme/satwa pengganggu; [3] Memperbesar peluang hidup setelah dipindahkan di lapangan, dibandingkan dengan tanam langsung; dan [4] Meningkatkan keseragaman tanaman setelah ditanam di lapangan.

Secara lengkap materi bahan kuliah ini bisa dilihat dan diunduh disini: Materi 05 Dasar-dasar Agronomi

Slide 61: Menelusuri Realitas Kebutuhan Petani Menggunakan Grounded Theory dan Pengembangan Teknologi Berbasis Kebutuhan dengan Pendekatan Transdisciplinary


Pengembangan teknologi pertanian harusnya berbasis pada kebutuhan petani, sehingga akan lebih berpeluang untuk digunakan. Oleh sebab itu, sebelum kegiatan riset dan pengembangan dimulai, maka langkah awal yang perlu dilakukan adalah memahami kebutuhan petani. Upaya memahami petani dan pertanian dapat menggunakan grounded theory.

Grounded theory bukan merupakan pendekatan atau metodologi baru. Giat dianjurkan oleh Glaser and Strauss di era tahun 1960-an. Grounded theory Grounded Theory merupakan metodologi kualitatif yang bersifat generik, dapat digunakan untuk berbagai disiplin ilmu atau topik riset.

Berdasarkan pemahaman ini, teknologi dikembangkan. Memperhatikan bahwa persoalan dan pertimbangan dalam pengembangan teknologi yang semakin kompleks, maka pendekatan transdisiplin merupakan pilihan yang pas.

Secara lengkap slide presentasi ini bisa dilihat dan diunduh disini: 20151008 Grounded Theory & Transdisciplinary

Slide 60: Innovation System as an Avenue for Translating S&T Advancement into Economic Development


Contribution of indigenous technologies to economic growth and social welfare improvement in Indonesia has been insignificant, or at least far below expectation.

Technology will only contribute to economic growth or prosperity of the people if it is used in economic or business activities. National Innovation System (NIS) is a system designed for increasing interaction and communication between technology developers and users. Main objective is to drive technology developers (academicians, researchers) to create relevant, affordable, competitive, and profitable technologies as demanded by potential users.

However, there are still huge challenges in establishing NIS in Indonesia. Details on these issues can be read and downloaded here: 20151007 Innovation System as an Avenue

Diklat PPD-RPJMD: Perumusan Program


Secara umum, program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh suatu organisasi untuk mencapai sasaran dan tujuan serta untuk digunakan sebagai dasar untuk pertimbangan alokasi anggaran. Untuk kasus pembangunan daerah, maka organisasi pelaksananya untuk kegiatan yang bersifat spesifik adalah SKPD; sedangkan yang bersifat umum atau dilakukan oleh/bersama masyarakat, maka pelaksananya adalah Bappeda.

Lima ciri program yang baik adalah: [1] diformulasikan berdasarkan realitas kebutuhan masyarakat atau secara spesfik dirancang untuk menjadi solusi bagi permasalahan daerah (demand-driven); [2]
memberikan peluang yang luas bagi stakeholders untuk dapat berperan aktif (socially Inclusive); [3] secara langsung atau tidak langsung mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan kesejahteraan rakyat (economic growth and prosperity of the people); [4] sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development); dan [5] realistis untuk dilaksanakan secara mandiri (realistic and affordable).

Secara lengkap slide untuk materi diklat ini bisa dilihat dan diunduh disini: 2015 Diklat PPD-RPJMND – BenyaminLakitan – Perumusan Program

Diklat PPD-RPJMD: Perumusan Strategi dan Arah Kebijakan


Perencanaan pembangunan daerah perlu dilakukan dengan bijak, terutama pada kondisi Indonesia saat ini dimana keterbatasan anggaran pembangunan yang semakin dirasakan dan tuntutan masyarakat agar pembangunan yang dilakukan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat awam (publik). Oleh sebab itu, Pemerintah daerah perlu menetapkan arah kebijakan yang tepat dan diikuti dengan strategi yang jitu agar dapat merancang program yang tepat dan merealisasikannya melalui kegiatan-kegiatan yang secara konsisten selaras dengan arah kebijakan yang telah ditetapkan.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata cara penyusunan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah, strategi didefinisikan sebagai langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi; sedangkan kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh pemerintah daerah untuk mencapai tujuan.

Secara lengkap slide yang digunakan sebagai bahan diklat ini dapat dilihat dan diunduh disini: 2015 Diklat PPD-RPJMND – BenyaminLakitan – Perumusan Strategi dan Arah Kebijakan

%d blogger menyukai ini: