Benyamin Lakitan

Beranda » 2015 » November

Monthly Archives: November 2015

Pengantar Ilmu Pertanian 13: Pertanian Berkelanjutan


Pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) adalah sistem budidaya pertanian yang mengupayakan hasil yang optimal diimbangi dengan upaya melestarikan fungsi ekologis lingkungan dan peningkatan kesejahteraan petani pelakunya. Pertanian berkelanjutan menjaga keserasian antara tujuan ekonomi (produktivitas) dengan kesadaran ekologis (sustainabilitas) dan kesempatan bagi petani untuk berperan aktif (inklusivitas) sehingga dapat meningkatkan kesejahteraannya secara berkelanjutan. Pertanian berkelanjutan adalah pertanian dengan pendekatan ekosistem.

Keuntungan pertanian berkelanjutan antara lain: [1] Preservasi lingkungan, karena penggunaan agrokimia (pestisida, pupuk anorganik) ditekan seminimal mungkin, tidak menggunakan benih GMO, dan praktek pengelolaan tanah, air, dan sumberdaya alam lainnya yang dapat menyebabkan degradasi kualitas lingkungan; [2] Kesehatan masyarakat, karena residu agrokimia sangat minimal, produk yang dihasilkan aman dikonsumsi, proses budidaya aman bagi petani, dan tidak mencemari lingkungan perairan. Untuk ternak, antibiotik dan pemacu pertumbuhan yang digunakan juga tidak mengandung unsur atau senyawa yang beresiko bagi kesehatan manusia; [3] Kesejahteraan ternak (animal welfare), karena ternak diperlakukan dengan baik (care and respect). Kesehatan dan kenyamanan ternak diperhatikan. Ternak dapat bergerak bebas dan berprilaku alami (instinctive) di alam terbuka serta mengkonsumsi pakan sehat dan alami sehingga ternak tidak mengalami stres; dan [4] Kesejahteraan dan kenyamanan atmosfer kerja, karena petani/pekerja menerima upah yang wajar dan fair serta lingkungan kerja yang sehat.

Slide untuk materi kuliah ini bisa diunduh disini: Materi 13 Pertanian Berkelanjutan

Iklan

Pengantar Ilmu Pertanian 12: Aplikasi Bioteknologi di Bidang Pertanian


Bioteknologi merupakan aplikasi teknologi yang menggunakan sistem biologis, organisme hidup, atau derivatifnya untuk membuat atau memodifikasi produk atau proses untuk tujuan tertentu. Secara substansial bioteknologi sudah sangat lama diaplikasikan dalam bidang pertanian, produksi pangan, dan kesehatan. Namun demikian, istilah bioteknologi pertama digunakan oleh Karoly Ereky (perekayasa Hungaria) pada tahun 1919. Bioteknologi ‘modern’ mulai pesat berkembang sejak akhir abad ke 20, ditandai dengan mulai berkembangnya rekayasa genetik dan kultur jaringan/sel.

Aplikasi bioteknologi sudah sangat umum dilakukan di bidang kesehatan, produksi pangan dan pertanian, produksi produk non-pangan dari tanaman (bioplastik, biofuel, senjata biologis), dan pengelolaan lingkungan (bioremediasi).

Isu populer dan kontroversial terkait aplikasi bioteknologi antara lain adalah penggunaan genetically-modified organism (disingkat GMO). GMO adalah organisme (termasuk tanaman, ternak, dan ikan) yang DNA-nya telah dimodifikasi dengan teknik rekayasa genetik. Umumnya dilakukan untuk menambahkan /memodifikasi suatu sifat/karakteristik baru pada organisme tertentu yang tidak terjadi secara alami atau sulit dilakukan dengan teknik pemuliaan secara konvensional.

Slide panduan untuk topik ini bisa diunduh disini: Materi 12 Aplikasi Bioteknologi di Bidang Pertanian

Landscape Ecology 9-10: Ecology of Mangrove Forest


Mangroves are various large and extensive types of trees (up to medium height) and shrubs that grow in saline coastal sediment habitats in the Tropics and Subtropics. Located mainly between latitudes 25°N and 25°S. Remaining mangrove forest areas of the world was estimated around 137,760 km² in 2000, and declining since then. Found in 118 countries and territories.

Mangroves frequently perceived at three different meanings: [a]most broadly to refer to the habitat, i.e. mangrove forest biome, mangrove swamp and mangrove forest; [b] to refer to all trees and large shrubs in the mangrove swamp; and [c] narrowly to refer to the mangrove within the family of Rhizophoraceae, or even more specifically just to trees of the genus Rhizophora.

Mangrove trees are salt tolerant (halophytes), adapted to live in harsh coastal conditions, characterized by: [a] A complex salt filtration system to cope with salt water immersion; [b] A complex root system to withstand wave action; and [c] Adaptable to the low oxygen (anoxic) conditions of waterlogged mud. About 110 species are considered ‘mangroves’, in the sense of being a tree that grows in such a saline swamp, though only a few are from the mangrove plant genus, Rhizophora.
A given mangrove swamp typically features only a small number of tree species. It is not uncommon for a mangrove forest to feature only three or four tree species.

The mangrove biome, or mangal, is a habitat characterized by depositional coastal environments, where fine sediments were accumulated in areas protected from high-energy wave action. The saline conditions tolerated by various mangrove species range from brackish water, through pure seawater (3.0 to 4.0%), to water concentrated by evaporation to over twice the salinity of ocean seawater (up to 9.0 %). The high salinity creates major limitations to number of species able to thrive in this habitat.

Complete slides on this topic can be downloaded here: Landscape Ecology 09-10

Pengantar Ilmu Pertanian 11: Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman


Secara garis besar, organisme pengganggu tanaman dipilah menjadi hama, pathogen, dan gulma. Hama tanaman adalah serangga atau hewan lainnya yang menyebabkan gangguan pertumbuhan, kerusakan morfologis, atau kematian tanaman dan menyebabkan kerugian bagi petani atau pemelihara tanaman. Hama tanaman terdiri dari invertebrata (serangga, nematoda, gastropoda) dan vertebrata (mamalia, burung). Hama pada ternak lebih sering disebut sebagai parasit.

Pathogen tanaman adalah mikroorganisme atau agen biologi yang menyebabkan infeksi atau penyakit pada tanaman. Pathogen tanaman antara lain virus, bakteri, jamur/fungi, atau parasit. Pathogenisitas dan virulensi merupakan ukuran kemampuan (kapasitas) pathogen untuk menyebabkan penyakit.

Gulma adalah tumbuhan liar yang menjadi kompetitor bagi tanaman budidaya dalam mendapatkan unsur hara, air, serta ruang untuk tumbuh dan mendapatkan cahaya matahari, sehingga tidak dikehendaki keberadaannya di lahan budidaya tanaman. Semakin invasif, gulma semakin tidak dikehendaki keberadaannya karena sulit untuk dikendalikan.

Hama, pathogen, dan gulma dapat dikendalikan secara kimia, fisika, maupun biologi. Pengendalian secara kimia dengan menggunakan pestisida (insektisida, fungisida, bakterisida, herbisida). Pengendalian secara fisik dengan menggunakan perangkap, pelindung fisik, dan penangkapan langsung. Sedangkan pengendalian secara biologi dengan memanfaatkan musuh alami hama dan pathogen tanaman.

Pengendalian Hama Terpadu (PHT) adalah pengendalian populasi organisme pengganggu tanaman dengan pendekatan ekologis memadukan beberapa cara yang kompatibel satu sama lain sehingga lebih efektif dan berdampak (negatif yang) minimal terhadap lingkungan. PHT diawali dengan pemilihan varietas tanaman yang sehat dan tahan terhadap beberapa hama dan pathogen, mengutamakan pengendalian hayati menggunakan musuh alami, serta melakukan pengamatan secara rutin dan melakukan tindakan segera. PHT mengedepankan pendekatan ekologis dan menghindari penggunaan pestisida.

Bahan kuliah ini bisa diunduh disini: Materi 11 Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman

Pengantar Ilmu Pertanian 10: Pengelolaan Lahan dan Air untuk Pertanian


Pengelolaan sumberdaya lahan adalah proses mengelola penggunaan sumberdaya lahan untuk berbagai kepentingan, termasuk untuk produksi pangan dan budidaya pertanian. Pengelolaan lahan untuk tujuan ekonomi sekarang perlu diselaraskan dengan upaya pelestarian fungsi ekologis lingkungan dan memberi peluang bagi masyarakat untuk berperan aktif serta ikut menikmati kemanfaatannya. Dorongan untuk meningkatkan produktivitas lahan harus selalu mempertimbangkan aspek keberlanjutan (sustainability) dan inklusivitas sosial.

Walaupun teknologi telah memungkinkan budidaya tanaman tanpa menggunakan lahan atau media tanah, sebagaimana halnya budidaya tanaman dengan sistem hidroponik dan aeroponik. Namun dengan rendahnya harga produk pertanian (terutama tanaman pangan) dan untuk menghemat ongkos produksi, maka pada saat ini pertanian di Indonesia masih sangat bergantung pada ketersediaan lahan.

Lahan subur semakin habis digunakan, lahan yang tersedia umumnya adalah lahan-lahan suboptimal sehingga memerlukan perbaikan kualitas lahannya. Perbaikan lahan bisa bersifat: [1] Perbaikan Kimia Tanah: pemupukan (penambahan ketersediaan unsur hara), pengapuran (menetralkan pH tanah), dan penyiraman/irigasi (meningkatkan kelembaban/ketersediaan air); [2] Perbaikan Fisika Tanah: perbaikan tekstur tanah (memperbaiki densitas dan aerasi tanah), perbaikan sistem drainase tanah (agar tidak tergenang atau jenuh-air/waterlogged), alterasi permukaan lahan (untuk mengurangi resiko erosi permukaan); dan [3] Perbaikan Biologi Tanah: meningkatkan populasi mikroba dan fauna tanah yang bermanfaat dan mengurangi mikroba patogenik.

Pengelolaan sumberdaya air adalah aktivitas perencanaan, pengembangan, distribusi, dan pengaturan agar sumberdaya air digunakan secara optimum dalam memenuhi berbagai keperluan. Sumberdaya air dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, termasuk untuk kebutuhan air minum, aktivitas rumah tangga, industri, rekreasi, transportasi, pembangkit listrik, dan yang paling besar adalah untuk budidaya pertanian (termasuk perikanan dan peternakan).

Upaya utama pemeliharaan sumberdaya air adalah [1] Optimalisasi atau penghematan penggunaan air untuk berbagai kepentingan; dan [2] Menjaga agar sumberdaya air tidak tercemari oleh berbagai sumber polutan sebagai akibat dari aktivitas manusia.

Bahan kuliah ini dapat diunduh disini: Materi 10 Pengelolaan Lahan dan Air untuk Pertanian

%d blogger menyukai ini: