Benyamin Lakitan

Beranda » Article » CDC – Unsri

Category Archives: CDC – Unsri

CDC 04: Mempersiapkan Diri untuk Pengembangan Karir


Sohib saya, Profesor Nuni Gofar, pernah minta kepada saya untuk menulis tentang ‘merencanakan karir lebih awal’. Niatnya tentu agar alumni UNSRI dan lulusan perguruan tinggi lainnya (yang membaca tulisan ini) agar lebih siap untuk berkompetisi dalam mendapatkan pekerjaan yang layak. Pekerjaan yang layak tersebut diharapkan dapat menjadi fondasi yang kokoh untuk membangun karir yang cemerlang di kemudian hari.

Mendapatkan ‘tantangan’ ini, sel-sel kelabu dalam tempurung kepala saya langsung merespon secara sistematis. Begini kira-kira proses yang terjadi dalam benak saya: Secara spontan langsung mensimulasi diri saya menjadi Profesor Nuni Gofar, untuk mencoba memahami mengapa sohib saya yang baik hati dan tidak sombong tersebut galau dengan isu daya saing alumni ini. Well, mungkin beliau tidak galau, tapi peduli.

Lalu ting-tong muncul beberapa pertanyaan: (1) Mengapa dirasa perlu merencanakan karir lebih awal? – Ini terkait rasionalitas tentang pentingnya ini dilakukan; (2) Apa target yang ingin diraih dengan merencanakan karir lebih awal ini? – Ini tentang kondisi yang ingin diwujudkan; (3) Dimana posisi alumni UNSRI dalam kancah dinamika dunia kerja saat ini? – Ini titik awal berkaitan dengan potensi daya saing alumni saat ini yang harus diketahui; (4) Kapan ini harus dimulai? – Ini titik awal berkaitan dengan dimensi waktu. Logikanya akhir masa studi digunakan sebagai titik referensi awal untuk karir; dan (5) Bagaimana mengeksekusi rencana karir tersebut? – Ini merupakan aksi yang perlu dilakukan untuk menggeser dari posisi kondisi saat ini menuju kondisi yang disasar. Ups, mudah-mudahan ini tidak terkesan terlalu akademik ya ….

Hey, tunggu dulu. Apakah kita memang mau merencanakan karir? atau sebetulnya menyiapkan diri agar lebih mantab dalam menempuh perjalanan panjang yang disebut ‘karir’ itu? Bingung? Baik, saya urai kebingungan ini. Untuk membuat rencana rute karir, kita perlu tahu dimana titik awalnya kan? OK, dengan percermatan yang seksama kita bisa mengetahui titik awal tersebut. Toh, ini adalah realita yang bisa dirasakan saat ini. Bukan sesuatu yang tidak nyata atau tidak pasti.

Lalu apakah kita tahu kondisi atau status yang mau disasar? Walaupun masing-masing individu punya sasaran masing-masing yang cenderung beragam, tetapi pada tingkat individu tentu setiap alumni boleh punya cita-cita (tapi boleh juga tidak!). Nah, bukankah cita-cita itu merupakan kondisi atau status yang akan disasar. Jadi kondisi yang ingin diwujudkan tersebut bisa dideskripsikan per individu.

Great! Sekarang kita tahu posisi awal dan masing-masing individu boleh menentukan sendiri sasarannya. Selanjutnya, apakah kita tahu atau bisa memprediksi dengan akurat kondisi ‘jalan’ karir yang akan dilalui, berapa banyak orang lain yang akan menempuh jalan yang sama (yan nota bene adalah para kompetitor anda!). Lalu, apakah sasaran itu akan tetap menarik dan mempesona dengan berjalannya waktu? Karena anda butuh waktu toh untuk menempuh perjalanan karir dari titik awal ke posisi akhir. Waktu bisa mengubah segalanya kan?

Jika perjalanan panjang itu penuh dinamika dan ketidakpastian. Bagaimana anda dapat membuat strategi dan rencana yang jitu? Mungkin anda akan mengatakan bahwa yang namanya rencana, ya pasti ada resiko gagal. Betul! Seratus persen betul!

Persoalannya adalah anda akan kehilangan banyak waktu sebelum diterpa kegagalan tersebut. Persoalannya adalah tidak semua orang dapat mengatasi kegagalan dengan baik. Jika anda orang yang sangat rasional, maka anda akan belajar dari kegagalan tersebut dan memperbaikinya (jika kegagalan itu disebabkan oleh diri anda sendiri bukan karena faktor luar). Jika anda orang yang spiritualitasnya tinggi, maka anda mungkin akan tawakal menerima kegagalan ini. Tetapi ada juga yang frustasi dan depresi menerima kegagalan.

Bagaimana jika saya tawarkan alternatif lain? Saya memperkirakan akan selalu banyak kemungkinan yang akan terjadi selama perjalanan seseorang meniti karirnya, baik karena dinamika lingkungan kerjanya maupun karena dinamika intra-personal, umpamanya rasa jenuh dan berbagai persoalan pribadi lainnya. Saya mengalami hal ini, yakni kejenuhan kerja setelah merasa aktivitas kerja menjadi hanyalah rutinitas. Mungkin Profesor Nuni Gofar, sohib saya yang baik hati dan tidak sombong itu juga pernah mengalami.

Alternatifnya begini: Daripada menguras energi untuk menyiapkan rencana yang kemungkinan gagalnya selalu ada dan bisa membuat anda kecewa setiap kali terjadi kenyataan yang tak sesuai rencana anda, maka mungkin lebih baik mengambil posisi untuk selalu siap mengantisipasi dinamika perubahan kebutuhan dan tantangan yang terjadi sejak sebelum anda memulai dan dilanjutkan sepanjang karir anda di dunia kerja. Berarti paling tidak harus dimulai sejak kuliah S1 atau diploma.

Sejak kuliah anda perlu mulai ngintip apa keahlian dan/atau ketrampilan yang dibutuhkan dunia kerja. Padukan dengan minat anda. Nah, setelah itu anda mulai mempersiapkan diri. Misalnya dengan memilih program studi yang sesuai, meningkatkan kemampuan bahasa asing, meningkatkan keterampilan penggunaan program-program komputer untuk memperlancar pekerjaan, dan mengasah kemampuan interaksi dan komunikasi sosial.

Lalu setelah kerja, anda akan mengenali lebih baik tuntutan pekerjaan anda. Jika anda memilih menjadi dosen (atau untuk konteks saat ini, ungkapan yang pas adalah: Jika anda beruntung bisa menjadi dosen); maka anda perlu secepatnya berusaha untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dan S3. Tentu tidak hanya untuk menambah gelar, tetapi yang lebih penting adalah untuk meningkatkan kapasitas intelektual/akademik anda. Ini yang akan menjadi modal utama untuk karir di dunia akademik. Jika anda memilih profesi yang lain tentu andapun harus meningkatkan kapasitas keahlian atau ketrampilan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pekerjaan.

Jangan terlalu cepat memutuskan untuk menikmati keberhasilan. Kalau anda sudah merasa berhasil, maka kemungkinan perjalan karir andapun sudah mendekati terminal terakhir. Ungkapan rasa syukur atas apa yang sudah dicapai memang perlu diekspresikan, tetapi jangan lama-lama terbuai dalam suasana ini. Anugerah Ilahi atas kebugaran fisik, kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual juga perlu disyukuri yakni dengan cara terus-menerus mengasahnya agar lebih banyak memberikan kemanfaatan bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

Pada akhirnya tentu anda boleh ‘menggantungkan cita-cita setinggi langit’ dan berupaya keras dan sistematis untuk mencapainya serta menyiapkan diri untuk selalu bangkit kembali jika mengalami kegagalan; atau anda boleh juga memilih untuk melaksanakan setiap amanah yang diberikan dalam menjalani karir dengan sebaik-baiknya dan seikhlas mungkin. Lalu setelahnya baru anda menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Ilahi. Percayalah, walaupun air mengalir berliku-liku tapi pada akhirnya akan sampai ke laut juga.

By the way, saya belum tanya kepada sohib saya –Profesor Nuni Gofar yang baik hati dan tidak sombang itu- apakah beliau punya rencana karir sebagai pemandu kerja dan cita-cita yang diidamkan sejak awal? Atau menjalani karir dengan penuh kesungguhan dan ikhlas, lalu mengikuti saja perjalanan karir seperti air yang mengalir?

Jika bertemu beliau, silahkan tanya langsung ya …

Jakarta, 23 Januari 2015

Iklan

CDC 03: Haruskah Menjadi PNS?


Setiap kali ada lowongan untuk menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) maka berbondong-bondong, ribuan atau malah puluhan ribu pencari kerja ikut melamar, baik untuk PNS pusat maupun PNS daerah. Fenomena ini patut untuk mendapat perhatian. Mengapa demikian? Mungkin ini pertanyaan yang perlu dijawab. Lalu, haruskan semua tenaga kerja menjadi PNS?

Di Indonesia, maupun di negara manapun, tidaklah mungkin semua penduduk usia kerjanya menjadi PNS. Negara tak akan mampu membayar gajinya. Jikalaupun mampu membayar gajinya, lalu apa yang mau dikerjakan dan siapa yang akan diurusi oleh pemerintah jika semuanya menjadi PNS atau menjadi aparatur pemerintahan lainnya?

Jelas bahwa tidak mungkin semua bisa ditampung untuk menjadi PNS. Tidak semua lulusan perguruan tinggi bisa menjadi PNS. Akan bagus jika semakin banyak lulusan perguruan tinggi yang sengaja tidak memilih menjadi PNS. Anak saya dua orang. Dua-duanya memilih untuk tidak menjadi PNS. Saya sebagai orang tua juga menghargai pilihan mereka. Tentu tidak ada yang salah dengan keinginan untuk mengabdi sebagai pegawai negeri, tetapi sesungguhnya banyak cara lain untuk mengabdikan diri bagi nusa dan bangsa kan?

Ada beberapa alasan yang membuat masih banyak lulusan perguruan tinggi yang berminat atau berniat untuk menjadi PNS, antara lain: (1) adanya kepastian pendapatan dan juga adanya pensiun setelah masa pengabdian selesai sebagai PNS; (2) lebih terjaminnya status sebagai pegawai walaupun tidak mampu unjuk kinerja, karena adanya peraturan yang ‘melindungi’ PNS dari pemecatan, kecuali jika melakukan tindak kriminal; (3) status sosial yang tinggi bagi PNS dalam kultur masyarakat Indonesia; (4) terbatasnya peluang dan/atau ketidaksiapan lulusan perguruan tinggi untuk berwirausaha.

Kentara betul bahwa pertimbangan untuk menjadi PNS lebih dominan berbasis pada aspek sosial-ekonomi. Sangat manusiawi. Beberapa kondisi saat ini akan tetap memposisikan PNS sebagai pilihan utama bagi sebagian besar pencari kerja, termasuk: (1) kenaikan gaji dan tunjangan PNS yang dilakukan akhir-akhir ini akan tambah meningkatkan daya tarik PNS; (2) belum kondusifnya aturan dan terbatasnya akses permodalan menyebabkan minat untuk berwirausaha belum tumbuh sebagaimana yang diharapkan; dan (3) bekal pengetahuan dan ketrampilan selama kuliah belum sejalan dengan kebutuhan untuk menjadi wirausaha.

Upaya mendorong minat kewirausahaan tentu tidak dengan cara menurunkan gaji PNS, tetapi dengan memberlakukan dan mengawal peraturan perundang-undangan dan kebijakan publik yang mampu mewujudkan iklim yang kondusif untuk kegiatan bisnis dan kewirausahaan, serta mempermudah akses bagi pelaku bisnis pemula untuk mendapatkan modal usaha. Perguruan tinggi juga perlu menyisipkan substansi atau merancang mata kuliah yang relevan dengan dinamika realita kebutuhan saat ini, serta menambah bekal ketrampilan agar lulusan lebih siap untuk berwirausaha.

Saya mengamati teman-teman saya waktu sekolah dulu di perguruan tinggi di negara maju. Mereka yang secara akademik berada di ‘papan-atas’, sekarang umumnya berkerja di industri atau perusahaan swasta (nasional atau multi-nasional). Mereka yang di ‘papan-tengah’, banyak yang kerja di pemerintahan, termasuk mengajar di perguruan tinggi. Mereka yang di ‘papan-bawah’ kelihatannya memilih bekerja di dunia ketiga, sebagai konsultan atau apalah. Tapi perlu dicatat bahwa ini hanya hasil observasi sepintas. Bukan hasil riset. Jadi tidak sahih untuk digeneralisir.

Maaf jika saya agak ngelantur. Tapi informasi berikut ini mungkin perlu disimak lebih serius. Ini tulisan Zhao Xinying di harian ‘China Daily’ versi on-line yang berjudul “Interest in civil service declines” yang terakhir di update pada tanggal 1 Desember 2014. Diberitakan bahwa minat untuk menjadi PNS di Cina mengalami penurunan pada tahun 2014 dibandingkan pada tahun sebelumnya. Padahal PNS di Cina juga dianggap sebagai pekerjaan terhormat dengan gaji yang layak dan lebih terjamin.

Pada tahun 2014, Pemerintah Cina menawarkan sebanyak 22.000 formasi PNS. Ada sekitar 1,41 juta orang yang memenuhi syarat (berdasarkan data ketenagakerjaan mereka), tetapi hanya 1,05 juta orang yang mengikuti tes. Bandingkan dengan tahun 2013, dimana hanya ditawarkan 19.000 formasi PNS, tetapi yang ikut tes mencapai 1,12 juta orang.

Penurunan minat untuk menjadi PNS di Cina ini disinyalir karena Cina sedang giat melakukan aksi pemberantasan korupsi. Profesor Liu Xutao yang melakukan risetnya di China National School of Administration menyatakan bahwa: “In the past, people liked to work as civil servants because they thought they could get a lot of ‘invisible welfare’ through their posts”. Bagian pernyataan ini sengaja saya tidak terjemahkan. Namun kira-kira maksudnya adalah pada masa sebelumnya, (sebagian) orang berusaha menjadi PNS karena dia pikir bisa mendapatkan ‘invisible welfare’ dari tugas atau jabatannya. Begitulah kira-kira. Ngertikan?

Kita tahu bahwa perekonomian Cina jauh lebih baik saat ini dibandingkan dengan sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Mungkin ini juga menyebabkan lebih banyak tenaga kerja yang dibutuhkan oleh industri dan dunia usaha di Cina dalam dasawarsa terakhir dengan gaji yang lebih baik. Dengan adanya alternatif pilihan ini, maka generasi muda Cina mulai menurun minatnya untuk menjadi PNS dan mulai memilih untuk kerja di perusahaan swasta.

Indonesia juga lebih giat memberantas korupsi dalam sekitar sepuluh tahun terakhir ini. (Mungkin anda dapat menerka mengapa saya menyebutnya ‘dalam sepuluh tahun terakhir ini’). Sudah lumayan banyak PNS yang ditangkap, selain politikus dan pelaku bisnis. Tapi berbeda dengan di Cina, di Indonesia minat menjadi PNS belum ada tanda-tanda akan menurun. Memang sudah sering terdengar beberapa PNS menghindari tugas sebagai bendahara atau pejabat pembuat komitmen. Tapi pelamar untuk menjadi PNS masih sangat tinggi.

Telah sering pula kita mendengar himbauan agar lulusan perguruan tinggi tidak semata-mata ingin menjadi PNS. Lulusan perguruan tinggi didorong agar menjadi wirausaha. Matakuliah kewirausahaan telah diajarkan. Penumbuhan minat kewirausahaan di kalangan mahasiswa difasilitasi melalui kegiatan kemahasiswaan. Tokoh bisnis diundang untuk memberi kuliah umum di perguruan tinggi untuk menginspirasi mahasiswa. Ada inkubator bisnis. Ada sentra HaKI di perguruan tinggi.

Usaha-usaha ini kelihatannya belum berdampak signifikan. Usaha-usaha ini kemungkinan tidak akan berdampak signifikan, jika pada tataran makro tidak dilakukan perbaikan, yakni antara lain pembenahan peraturan dan kebijakan publik agar iklim yang kondusif dapat diwujudkan dalam rangka mendorong tumbuh kembang usaha mikro, kecil, dan menengah. Saya berasumsi bahwa alumni yang baru lulus perguruan tinggi, akan memulai wirausahanya pada skala usaha tersebut.

Kemudahan akses untuk memperoleh modal awal untuk usaha juga sangat dibutuhkan. Dari sisi lain, moralitas yang baik perlu dibekalkan kepada para calon wirausaha baru ini, sehingga tidak mengemplang dana pinjaman modal usaha ini. Dalam konteks ini, perlu juga aturan yang jelas dan tindakan yang tegas bagi pengemplang. Tanpa kecuali juga bagi wirausaha pemula. Pelajaran hidup yang baik adalah melalui penerapan reward dan punishment yang konsisten tanpa pandang bulu. Begitukan?

Jakarta, 16 Januari 2014

CDC 02: Gugupkah Anda Menghadapi Wawancara?


Saya beberapa kali ketemu teman yang mau diwawancarai. Saya tanya: “Gimana? Siap diwawancara?”. Ada yang menjawab siap. Lalu saya salaman dengan yang bersangkutan dan mengucapkan selamat semoga wawancaranya berlangsung lancar sesuai harapan. Tangannya terasa dingin dan telapak tangannya basah keringatan. Ada juga yang menjawab lebih terbuka bahwa ia merasa gugup.

Gimana dengan anda? Pernah diwawancarai ketika melamar kerja, atau dalam proses promosi jabatan? Sebetulnya gugup merupakan hal yang lumrah. Bisa karena kurang merasa siap. Bisa juga karena ‘taruhan’-nya besar, misalnya mau diwawancara untuk pekerjaan yang sangat diimpikan, atau mau promosi jabatan yang menjadi cita-cita sejak awal karir.

Ada tiga sumber tekanan menjelang wawancara. Pertama, karena besarnya keinginan yang bersangkutan untuk mendapatkan pekerjaan/jabatan yang ditawarkan. Kedua, karena perasaan tidak siap, akibat tidak mempersiapkan diri secara maksimal atau merasa tidak memahami substansi yang diperkirakan akan ditanyakan. Ketiga, karena sama sekali tidak tahu atau tidak dapat menduga tentang apa yang menjadi ekspektasi dari pewawancara, yang dalam konteks ini merupakan representasi dari instansi/perusahaan yang akan mempekerjakan.

Karena banyak potensi sumber pemicu kegugupan maka wajar kalau anda (dan orang-orang lain juga) gugup ketika akan diwawancarai. Saya yakin dengan mengetahui bahwa gugup merupakan hal yang wajar, maka tingkat kegugupan anda pada saat akan diwawancarai di masa mendatang akan sedikit berkurang.

Persoalannya adalah jika anda gugup maka pada saat wawancara pengetahuan dan kemampuan anda memberikan jawaban atau menjelaskan secara verbal akan tergerus sesuai dengan tingkat kegugupan anda. Ibaratkan pengetahuan anda sebetulnya 90 persen, tapi karena gugup yang terungkapkan bisa melorot sampai hanya 60 persen. Oleh sebab itu, kegugupan perlu diminimalisir. Bagaimana caranya?

Banyak tulisan yang sudah dipublikasikan tentang siasat (tips) untuk mengurangi kegugupan saat wawancara atau siasat agar tampil lebih mengesankan saat diwawancara. Tapi pengamatan saya kebanyakan nasehat itu lebih bersifat praktikal. Misalnya dianjurkan untuk memastikan dimana lokasi tempat wawancara akan dilangsungkan dan datanglah lebih awal; pakailah pakaian yang rapih dan sopan; upayakan ada kontak pandang (eye contact) dengan pewawancara dan jangan menunduk; jabatlah tangan pewawancara saat datang dan pamit setelah selesai wawancara serta jangan lupa ucapkan terima kasih; dan banyak lagi nasehat praktikal lainnya. Ada yang sampai lebih dari 20 butir nasehatnya.

Siasat dan nasehat praktikal ini baik, tapi kalau kebanyakan maka saya khawatir teman yang akan diwawancarai malah menjadi sibuk menghapal butir-butir nasehat ini, lupa akan substansi yang akan ditanya-jawabkan dalam wawancara. Bisa juga perilaku mereka yang diwawancara akan cenderung manipulatif dan tidak menjadi dirinya sendiri. Pewawancara yang berpengalaman bisa ‘membaca’ perilaku yang alami atau yang dibuat-buat.

Walaupun siasat praktikal tadi mungkin berguna, tapi jangan lupa bahwa ini wawancara untuk merekrut karyawan atau memilih kandidat yang tepat untuk jabatan tertentu, bukan kontes kecantikan dan kegantengan (saya sebut untuk pria dan wanita biar tidak bias jender). Saya pernah mewawancarai beberapa orang dan mereka menampilan prosesi yang sama. Lalu saya berpikir, wah jangan-jangan mereka dari ‘spesies’ yang sama atau ikut pelatihan kepribadian di tempat yang sama.

Dengan segala kerendahan hati dan kondisi saya yang miskin pengalaman dan pengetahuan mengenai ihwal wawancara ini, saya cenderung menyarankan sebagai berikut:

Pertama, kerjakan pe-er dulu sebelum wawancara, yakni cari informasi yang banyak tentang tugas dan fungsi institusi (jika di pemerintahan) atau jenis dan lingkup bisnis utama (jika perusahaan) atau misi utama (jika lembaga non-profit). Lalu juga tugas pokok atau diskripsi pekerjaan yang dilamar. Dua hal ini perlu dipahami betul, sehingga semua jawaban atas pertanyaan wawancara dapat diarahkan/dikaitkan dengan ke dua hal tersebut. Dalam bahasa anak sekarang, jawaban kita akan ‘nyambung’ dengan ekspektasi pewawancara. Tidak ngalor-ngidul. Jawaban yang baik bukan yang panjang tapi ngalor-ngidul. Jawaban yang baik adalah ringkas dan langsung ke sasaran. Ingat: melakukan persiapan dan penambahan tingkat pemahaman substansial mengenai instansi dan diskripsi pekerjaan yang dilamar secara langsung (bukan secara tidak langsung ya …) akan meningkatkan rasa percaya diri.

Kedua, harus tampil percaya diri saat diwawancara. Selain persiapan dan kecukupan pengetahuan, rasa percaya diri bisa bertambah jika kita melakukan nasehat praktikal yang umum diberikan oleh para ‘pakar’ wawancara (atau umum ditulis di buku pintar untuk persiapan wawancara), termasuk pakaian rapih, datang tidak telat, dst. Sebetulnya jika kita percaya diri, maka kita bisa tampil secara alami saja, karena semua siasat perilaku tadi bisa muncul sendiri (dan terkesan alami, karena memang alami).

Ketiga, walaupun tidak ada daftar pertanyaan baku untuk setiap wawancara dan juga tidak ada keharusan bagi pewawancara untuk menanyakan hal yang sama kepada semua kandidat, tetapi dalam konteks rekrutmen pegawai atau memilih kandidat untuk posisi jabatan tertentu ada beberapa pertanyaan yang sangat sering ditanyakan. Misalnya, mengapa anda merasa ‘pantas’ untuk menjadi karyawan kami atau untuk menduduki jabatan tertentu? Adakah pengalaman anda yang terkait dengan posisi yang dilamar? Menurut anda sendiri, apa kelebihan dan kekurangan anda? Menurut saya, bagus jika anda siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan dalam wawancara.

Keempat, gunakan kesempatan wawancara ini untuk menunjukkan/mengekpresikan ketertarikan anda pada pekerjaan atau jabatan yang ditawarkan, tapi jangan berlebihan sehingga terkesan anda sepertinya kepepet banget. Cara mengekspresikan minat dan ketertarikan ini bisa dilakukan dengan mengajukan pertanyaan yang cerdas dan positif (jika diberi kesempatan), misalnya pertanyaan yang terkait dengan isu mutakhir atau program prioritas insititusi yang bersangkutan.

Kelima, bayangkan berapa banyak calon atau kandidat yang diwawancarai selain anda. Oleh sebab itu, harus berani punya pandangan yang berbeda (dan lebih cerdas!) dibandingkan dengan orang-orang yang diwawancarai lainnya. Jangan ikuti pola jawaban yang sama. Malah sebaiknya tidak perlu tanya-tanya dengan kandidat yang lain tentang pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara. Be different, be original.

Sebelum saya menutup tulisan ini, saya perlu memberi peringatan kepada anda bahwa kali ini saya agak sok tahu tentang isu ini. Tulisan ini hanya berdasarkan pengalaman langsung saya yang tidak banyak, bukan karena saya pakar wawancara. Oleh sebab itu, cerna dulu sebelum mengikuti ‘siasat’ ini. Yang penting lakukan saja apa yang anda yakin akan mengurangi kegugupan anda saat mengikuti wawancara. Jangan lupa berdo’a.

Jakarta, 5 Januari 2014

CDC 01: Pentingkah IPK untuk Karir Anda?


Jawaban atas pertanyaan ini rasanya relevan untuk para mahasiswa, terutama mahasiswa baru; tetapi sudah agak terlambat untuk diketahui bagi para alumni. Mudah-mudahan para alumni sudah tahu jawabannya sejak mereka masih mahasiswa dulu. Kalau tidak demikian, para alumni mungkin sedang mendapatkan jawabannya saat ini dari pengalaman langsung yang dihadapinya …

Menurut anda bagaimana? IPK itu penting atau tidak penting? Anda boleh jawab sekarang di dalam hati. Kalau boleh saya menduga, jawaban anda akan kurang lebih seperti ini: “Penting sih, tapi …”
Saya lulus S1 pada Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya tahun 1982. Pada waktu itu, istilah IPK (Indek Prestasi Kumulatif) sudah digunakan. IPK saya di atas rata-rata. Soal berapa banyak atau sedikit lebihnya dari nilai rata-rata IPK angkatan saya adalah tidak penting untuk diungkap disini. Karena saya ingin fokus berbagi pandangan tentang posisi IPK dalam mempengaruhi karir anda ke depan. Saya cerita ini agar anda tahu bahwa saya sudah kerja setelah lulus S1 selama lebih dari 30 tahun. Periode yang cukup untuk evaluasi dampak jangka pendek, menengah, dan panjangnya.

Kalau anda saat ini percaya bahwa IPK itu penting, tentu ada argumentasi yang mendukungnya; sebaliknya juga jika anda yakin IPK itu tidak penting, tentu anda juga siap dengan argumentasinya. Kontroversi pandangan mengenai penting tidaknya IPK boleh saja terjadi dan wajar terjadi. Tahu kenapa? Ya, karena IPK bukan satu-satunya yang menentukan karir seseorang.

IPK tinggi dan orangnya sukses, ini kayaknya terjadi karena IPK tinggi tersebut memang mencerminkan kapasitas intelektual dari yang bersangkutan. Bagaimana jika IPK tinggi tapi karir yang bersangkutan tidak sukses? Ada beberapa kemungkinan: (1) dia bekerja di luar bidang ilmunya; (2) dia pintar tapi kurang gaul, bahasa kerennya kurang punya kemampuan berinteraksi sosial; (3) nilai IPK yang tinggi tersebut didapatkan secara tidak jujur; dan (4) sudah nasib yang bersangkutan seperti itu. Alasan yang terakhir ini mungkin tidak bermutu ya? Tapi toh kita percaya juga pada takdir kan?

Apakah ada orang yang IPK-nya rendah tapi sukses banget? Ya, tentu ada! Banyak yang putus kuliah atau putus sekolah tapi karirnya sukses. Tidak usah kasih contoh dari luar negeri, karena sekarang ada contoh yang spektakuler di dalam negeri, yakni ibu Susi Pudjiastuti! Kalau anda tidak tahu beliau, kayaknya anda termasuk yang kurang gaul. (Mestinya saya kasih ikon senyum disini).

Selanjutnya, adakah orang yang IPK-nya rendah dan tidak, kurang, atau belum sukses? Tentu ada dan kemungkinannya lebih banyak. Misalnya, karena yang bersangkutan tidak bisa lolos seleksi administrasi pada saat melamar jadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) ataupun melamar untuk karyawan perusahaan swasta.

Soal tidak lolos seleksi administrasi ini, saya jadi ingat artikel debat tentang kaitan IPK dengan kesuksesan karir (Great Career Success Debate: How important is my GPA to employers?) yang diterbitkan Koran elektronik USA Today tanggal 13 Februari 2013 antara Profesor Patrick O’Brien (selanjutnya saya singkat POB) dengan Dr. Susan Davis-Ali (disingkat SDA, bukan singkatan untuk Surya Dharma Ali ya …). POB selain profesor juga wirausaha. SDA adalah dosen Carlson School of Management, University of Minnesota, Amerika Serikat.

POB yakin betul bahwa IPK itu penting, terutama jika anda ingin berkarir di perusahaan besar (Saya yakin, untuk kasus Indonesia, juga penting jika ingin berkarir sebagai PNS), karena pada seleksi awal (adminitratif) dilakukan saringan yang umumnya berdasarkan IPK, sebagai cara yang praktis dan sekaligus sebagai bentuk kepercayaan terhadap institusi pendidikan tinggi yang meluluskan pelamar kerja yang bersangkutan. Alasan yang terakhir ini betul-betul jurus jitu untuk melepaskan panitia seleksi dari macam-macam tuntutan dikemudian hari jika ada yang tidak puas.

Tetapi alasan kepraktisan lebih cenderung merupakan realita sebenarnya. Bayangkan untuk penerimaan kurang dari 50 orang, pelamarnya di Indonesia bisa mencapai 5.000 orang, bahkan lebih. Namun apapun alasan sebenanya, dalam konteks ini POB betul bahwa IPK yang tinggi itu diuntungkan. Saya punya pengalaman mewawancarai calon pegawai atau calon pejabat untuk posisi tertentu. Sangat sulit untuk menetapkan secara ‘tanpa keraguan’ bahwa ini adalah 10 kandidat terbaik dari 50 calon yang diwawancarai, atau merekomendasikan 3 orang calon pejabat dari 20 orang yang diwawancarai. SDA juga tidak dapat menampik pentingnya IPK tinggi pada seleksi massal seperti ini.

Informasi lain yang menarik adalah hasil penelitian Paul Oehrlein dari Illinois Wesleyan University, Amerika Serikat, yang dipublikasi tahun 2009. Ia menyimpulkan bahwa pada awal karirnya, alumni dengan IPK tinggi akan menerima pendapatan awal lebih tinggi dibandingkan rekannya dengan IPK lebih rendah. Pendapatan yang lebih tinggi ini juga diterima oleh alumni dengan IPK tinggi yang diperoleh dengan cara/strategi mengambil mata kuliah yang ‘ringan’. Namun, pada karir selanjutnya mereka yang berani memilih mata kuliah yang lebih ‘berat’ walaupun susah mendapakan nilai yang bagus terlihat akan lebih unggul.

Mata kuliah yang ‘ringan’ dimaksud kemungkinan lebih mengasah kemampuan mengingat (memorizing); sedangkan mata kuliah yang ‘berat’ lebih mengasah kemampuan menganalisis (analizing). Apakah anda termasuk yang mengejar IPK tinggi dengan memilih mata kuliah yang ringan tersebut? Walaupun ini tidak melanggar aturan apapun, namun sebaiknya ambillah mata kuliah yang anda yakini akan lebih berguna bagi karir yang ingin ditempuh.

IPK tinggi itu penting. Saya percaya itu. Tapi ada beberapa catatan. Pertama, IPK itu harus diperoleh dengan menjunjung tinggi kejujuran akademik, tidak boleh nyontek dan plagiat; sehingga IPK tersebut memang merupakan indikator kemampuan intelektual dari yang bersangkutan.

Kedua, IPK tinggi tidak dapat menjamin kesuksesan karir seseorang dalam jangka panjang. Oleh sebab itu masih perlu dilengkapi dengan kemampuan komunikasi dan interaksi sosial (atau bahasa kerennya ‘kecerdasan emosional’). Kemampuan ini bisa diasah selama kuliah melalui kegiatan ekstra kurikuler dan lebih perlu ditajamkan lagi pada saat sudah bekerja.

Ketiga, sebetulnya yang lebih penting adalah seberapa banyak ilmu pengetahuan yang berhasil diserap selama kuliah, seberapa luas dan intensif jaringan yang mampu dibangun selama kuliah, dan citra positif yang terekam dalam benak orang-orang di sekitar kita.
Mudah-mudahan IPK anda berkorelasi positif dengan tiga catatan tersebut.

Jakarta, 30 Desember 2014

%d blogger menyukai ini: