Benyamin Lakitan

Beranda » Article » Conference Paper

Category Archives: Conference Paper

Paper 33: Menelusuri Realitas Kebutuhan Petani Menggunakan Grounded Theory dan Pengembangan Teknologi dengan Pendekatan Transdisciplinary


Satu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah banyaknya hasil riset dan pengembangan teknologi di Indonesia yang tidak atau belum dimanfaatkan oleh para pihak yang menjadi pengguna sasarannya, termasuk di bidang pertanian. Hal ini sering disebabkan karena substansinya tidak relevan dengan realita kebutuhan petani; atau secara substansial sudah relevan tetapi terlalu mahal investasi awal atau biaya operasional untuk penggunaannya; atau penggunaan teknologi tersebut tidak memberikan keuntungan lebih baik dibandingkan dengan praktek yang selama ini telah digunakan petani; atau secara teknis kalah andal dibandingkan dengan teknologi serupa yang sudah ada di pasar. Oleh sebab itu, selayaknya sebelum setiap riset direncanakan, perlu terlebih dahulu dipahami secara tepat dan komprehensif tentang realita kebutuhan dan kapasitas adopsi petani, analisis keekonomiannya, serta pembandingan keandalannya secara objektif dengan teknologi tersedia yang potensial menjadi kompetitornya. Upaya menelusuri realita kebutuhan petani dapat dilakukan dengan berpedoman pada prinsip grounded theory. Selanjutnya, berbasis pada pemahaman yang tepat dan komprehensif tentang kebutuhan ini, kemudian dikembangkan teknologi berbasis kebutuhan (demand-driven) melalui pendekatan transdisciplinary dengan mengintegrasikan perspektif ekologi, ekonomi, dan sosiokultural sebagai tiga pilar utama untuk mewujudkan keberlanjutan (sustainability) sistem produksi pertanian. Teknologi yang dihasilkan ditargetkan memenuhi kriteria: substantially-relevant, economically-profitable, dan socially-inclusive.

Secara lengkap makalahnya bisa dibaca atau diunduh disini: Menelusuri Realita Kebutuhan Petani Menggunakan Grounded Theory dan Transdisiplin

Iklan

Paper 32: Inovasi Akar-Rumput dan Teknologi Tepat Guna sebagai Pengungkit Ekonomi Kerakyatan


Pembangunan yang hanya berorientasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi semata sudah semakin kehilangan kredibilitasnya dan mulai secara sadar ditinggalkan banyak negara. Keyakinan akan pentingnya melakukan pembangunan dengan menyeimbangkan pertumbuhan dengan aspek keberlanjutannya, menyeimbangkan kepentingan ekonomi dengan kesadaran ekologis, telah semakin berkembang. Sayangnya realisasi dari keyakinan ini baru kentara pada tataran kebijakan formal, tetapi belum sepenuhnya dihayati dalam implementasinya di lapangan, terutama oleh pada pelaku bisnis. Masih banyak indikasi bahwa pertimbangan ekologis yang dikalahkan oleh kepentingan ekonomi, terutama di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Lebih lanjut, saat ini, selain isu keberlanjutan kegiatan ekonomi, juga mulai banyak dimunculkan keinginan agar pembangunan ekonomi harus pula bersifat inklusif, yakni dengan melibatkan secara langsung atau memberi kesempatan yang lebih luas kepada semua pihak terkait untuk ikut berperan aktif dalam pembangunan dan sekaligus berpeluang untuk ikut menikmati hasil pembangunan, yang indikasinya dapat diukur dari peningkatan kesejahteraan rakyat dan menurunnya kesenjangan antara masyarakat yang kaya dan yang miskin. Pembangunan ekonomi memang harus tetap tumbuh, tetapi tidak lagi didorong agar tumbuh secara spektakuler untuk jangka pendek. Pertumbuhan ekonomi yang lebih diinginkan adalah pertumbuhan yang wajar tetapi lebih terjamin keberlanjutannya dan dapat dinikmati hasilnya oleh rakyat banyak.

Makalah lengkapnya bisa diunduh disini: 20141105 GRI dan TTG sebagai Pengungkit Ekonomi Kerakyatan

Paper 31 : Inclusive and Sustainable Management of Suboptimal Lands for Productive Agriculture in Indonesia


Inclusive Agriculture - LSO

There are uncountable research activities and technology development efforts have been carried out in Indonesia; however, very limited economically and/or socially beneficial technologies have been created. Very few indigenous technologies have been used in producing goods and providing services, including in agricultural sector. This problem is rooted on facts that most of the technologies developed are not relevant to real needs and/or problems of domestic farmers. Even if the technologies are substantially relevant; in many cases, they are not finacially affordable by domestic farmers, do not significantly increase profit if used, and/or less competitive compared to similar available technologies in the market. Limited availability of resources, at present and even more scarse in the future, elevates expectation on technology to contribute in establishing inclusive, productive, and sustainable agricultural development. To assure that developed technology will be relevant to the needs and contribute to agricultural development, farmers ought to be play significant active roles during priority setting, planning, and developing the technology. The real issues at present are increase in food demand as consequence of population growth and conversion of arable lands for uses in other sectors. These trends have led to intensifying agricultural activities on suboptimal lands. Efforts to increase agricultural productivity in suboptimal lands should not jeopardize sustainable function of the ecosystem and participation of local farmers. Sustainability and inclusivity should be maintained while increasing productivity. Traditional knowledge and local wisdom have to be treated as reference for developing technology for establishing productive agriculture on suboptimal lands.

Full paper can be seen and downloaded here –> Benyamin Lakitan – Inclusive and Sustainable Management of Suboptimal Lands for Productive Agriculture in Indonesia

Paper 30 : Sustainable Management Of Suboptimal Wetlands For Strengthening Bioindustry In Indonesia


Bioindustri-LSO

Managing suboptimal wetlands for productive, inclusive, yet sustainable agriculture is very challenging. At present, local community manages this wetland for cultivating rice and few other adaptable crops, catching fishes and other aquatic biotas from public waters, and raising livestock (duck and buffalo). Rice-centered agriculture, as commonly practiced by local farmers, seems to be not very promising. Recently, Government of Indonesia encourages establishment of bioindustry-oriented agribusiness. Transforming current traditional agriculture into bioindustry-oriented agribusiness should be executed by gradually inserting newly introduced practices while continuing traditional ones so that local community will not be left behind. The transformation requires capacity in absorbing and implementing some relevant technologies such as fermentation and biorefinery. Targeted products of bioindustry might be started with simpler and familiar products such as processed animal feed and organic fertilizers, fermented foods and drinks, biofuels at time it is economically feasible, and finally move forward to more sophisticated biorefinery industries.

Full paper can be seen and downloaded here –> 20140916 Sustainable Management of SubOptimal Wetlands for Strengthening BioIndustry in Indonesia – Edited

Paper 29: Kebijakan Inovasi Teknologi untuk Pengelolaan Lahan Suboptimal Berkelanjutan


SONY DSCIndonesia saat ini tidak lagi punya banyak pilihan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional selain memanfaatkan lahan-lahan suboptimal yang masih tersedia dan memungkinkan untuk dikelola sebagai lahan produksi pangan, karena upaya peningkatan produktivitas sudah semakin sulit secara teknis agronomis dilakukan dan juga semakin tidak ekonomis untuk diusahakan. Namun demikian, perlu dipahami bahwa lahan-lahan yang tergolong suboptimal mempunyai beragam karakteristik dan potensinya. Oleh sebab itu, perlu diprioritaskan pada pengembangan teknologi yang secara teknis relevan untuk masing-masing karakteristik lahan suboptimal tersebut, secara ekonomis terjangkau oleh petani setempat, serta diharapkan juga selaras dengan preferensi dan sosio-kultural masyarakat setempat.

Dua pendekatan yang dapat secara paralel dan interaktif dilakukan adalah [1] optimalisasi sifat fisik, kimia, dan (mikro)biologi tanah yang dibarengi dengan optimalisasi pengelolaan sumberdaya air agar efektif dan lebih efisien; dan [2] seleksi jenis komoditas yang sesuai dan pengembangan varietas yang adaptif secara spesifik untuk masing-masing karakteristik lahan suboptimal. Untuk mewujudkan keberlanjutan pengelolaan lahan suboptimal, maka semua upaya teknis dan teknologis yang dilakukan harus pula mempertimbangkan kemungkinan dampak ekologisnya, kesesuaian sosiokultural dengan masyarakat lokal, selain tentunya menguntungkan secara ekonomi bagi petani sebagai pelaku utamanya.

Makalah lengkapnya bisa dibaca atau diunduh disini

Paper 28: Kebijakan Sistem Inovasi dalam Membangun Pusat Unggulan Perternakan


Perlu diakui bahwa masih banyak persoalan budidaya dan industri pengolahan hasil peternakan yang belum terselesaikan, baik dari dimensi teknis, ekonomi, dan sosial. Dari sisi lain, banyak pula riset yang telah dilakukan oleh akademisi di perguruan tinggi dan peneliti/perekayasa di lembaga riset pemerintah maupun non-pemerintah. Pertanyaan awal yang muncul adalah apakah intensitas penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan masih rendah? Ataukah karena kualitas kegiatan penelitian tersebut yang belum prima; karena kendala teknis, metodologis, ketersediaan fasilitas riset, sumber pembiayaan, dan/atau kapasitas/integritas pelakunya? Atau lebih disebabkan karena pengabaian relevansi antara substansi yang diteliti dengan realita kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi?

Jawaban diplomatis yang sangat mungkin muncul adalah bahwa masing-masing komponen tersebut (intensitas, kualitas, dan relevansi) berkontribusi terhadap kebelum-berhasilan dalam membangun sistem produksi dan pengolahan hasil peternakan yang mampu memenuhi kebutuhan konsumsi domestik. Saat ini, rasanya terlalu awal untuk membicarakan tentang ekspor hasil/produk peternakan.

Mungkin juga saat ini tidak perlu menguras energi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Lebih baik energi tersebut dicurahkan sepenuhnya pada hal-hal yang mendasar yang perlu mendapat perhatian. Misalnya, sejak awal konstitusi Indonesia mengamanahkan bahwa pembangunan iptek (artinya termasuk semua kegiatan riset dan pengembangan yang dilakukan) untuk memajukan peradaban serta kesejahteraan umat manusia dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan (menjaga) persatuan bangsa.

Oleh sebab itu, sesuai amanah konstitusi, maka semua kegiatan riset dan pengembangan harusnya bermuara pada dihasilkannya ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan dengan realita kebutuhan dan/atau tepat untuk menjadi solusi bagi persoalan nyata yang dihadapi; sehingga teknologi yang dihasilkan tersebut lebih berpeluang untuk digunakan. Perlu dipahami bahwa hanya teknologi yang digunakan saja yang dapat secara nyata berkontribusi terhadap upaya menyejahterakan umat dan memajukan peradaban bangsa.

Pendapat Edgerton (2006) berikut ini patut untuk direnungkan: “History is changed when we put into in the technology that counts, not only the famous spectacular technologies but also the low and ubiquitous ones”. Dengan kata lain, jika ingin mengubah sejarah maka para akademisi, peneliti, dan perekayasa perlu mengembangkan teknologi yang bermanfaat dan digunakan. Tidak harus hanya berorientasi pada teknologi canggih, tetapi juga perlu mengembangkan teknologi sederhana yang memang dibutuhkan. Pernyataan ini menekankan bahwa untuk mengubah sejarah bukanlah persoalan kecanggihan atau sederhananya teknologi yang dikembangkan, tetapi diyakini lebih ditentukan oleh apakah teknologi yang dihasilkan digunakan atau tidak digunakan …..

Makalah lengkap bisa dibaca dan di-download disini

Paper 27: Technopreneurship as a Strategic Mechanism for Commercializing University-created Technologies


Higher education institution (HEI) is no longer just a social institution for educating high school graduates, advancing knowledge, and improving skills of human resources. Currently, the HEI is also expected to conduct research and develop technology for directly contributing to economic development. In doing so, in many developed countries, HEI is allowed to create spin-off companies or to receive royalty from its developed technologies which are used by business enterprises for commercial purposes.

Commercialization of technology (and expertise) has become part of HEI activities in developed countries. However, in many developing countries, faculty members and university administrators are still reluctant to involve in commercialization activities …

Full paper can be downloaded here

%d blogger menyukai ini: