Benyamin Lakitan

Beranda » Article » Personal Project 2014

Category Archives: Personal Project 2014

Project 2014 ITBA 02: Menyoal Tridharma Perguruan Tinggi yang Pincang


Pendidikan akan meningkatkan dan memperkaya ilmu pengetahuan yang dikuasai seseorang; sedangkan penelitian utamanya diharapkan bermuara pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat. Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) ini yang kemudian diabdikan kepada masyarakat. Tridharma perguruan tinggi itu sangat indah. Sayangnya saat ini tiga kaki tridharma ini masih pincang. Boleh dibilang kegiatan pendidikan dan pengajaran masih sangat dominan di semua perguruan tinggi di Indonesia.

Apa yang terjadi jika dukungan terhadap pendidikan berjalan baik tetapi kegiatan penelitian tidak mendapat dukungan yang memadai? Jawaban lugunya adalah kualitas intelektual SDM akan meningkat tetapi teknologi domestik tidak berkembang. Dalam kaitan dengan kontribusinya terhadap pembangunan ekonomi, perguruan tinggi di Indonesia lebih nyata kontribusinya dalam menyiapkan SDM terdidik ketimbang teknologi yang dibutuhkan.

Tridharma - SINas
Skema Ketimpangan Tridharma yang berbuah SDM Terdidik tetapi Tenggantung pada Teknologi Asing dalam Mendorong Pembangunan Ekonomi (Lakitan, 2013)

Ketimpangan ini jarang mendapat perhatian di Indonesia. Mungkin juga di negara-negara berkembang lainnya. Tapi untuk sementara kita gak usah pusing dengan apa yang terjadi di negara lain, karena urusan negara kita sendiri saja sudah mumet banget kan? Tak banyak yang melihat persoalan ketimpangan ini sebagai masalah serius. Termasuk pakar pendidikan yang hebat-hebat di negeri ini. Saya kok melihat ini sebagai sesuatu yang serius untuk mendapat perhatian di republik ini. Mengapa?

Begini ceritanya: kalau kualitas intelektual SDM meningkat maka kebutuhan (dan ketergantungan!) SDM tersebut terhadap produk teknologi atau ambil contoh produk teknologi yang popular sekarang, yakni peralatan telekomunikasi komunikasi. Anak muda sekarang lebih suka menyebutnya ‘gadget’. Ketergantungan pada gadget ini akan semakin tinggi bagi SDM terdidik tersebut agar bisa unjuk kinerja. Betul kan? Kalau anda bilang pernyataan ini tidak betul, maka cerita saya hentikan sampai disini. Titik.

Tetapi saya yakin betul bahwa banyak diantara teman-teman yang membaca tulisan ini akan membenarkan pernyataan di atas. Lha, mana mungkin hari gini gak butuh gadget untuk bisa unjuk kinerja yang optimal apalagi untuk maksimal. Masih gak percaya? Silahkan cek ada apa di dalam tas kerja para profesional muda saat ini … I’m stunned if you do not find any gadget inside that bag! Saya akan terperangah-perangahnya jika tidak ada laptop, i-pad, i-pod, atau minimal telepon cerdas di dalam tas mereka!

Hebatnya lagi, produsen gadget itu selain sudah pasti akan menjaring kaum intelektual dan/atau professional yang memang butuh, juga secara super cerdas mengemas produknya agar lebih ‘user-friendly’ sampai anak TK pun mudah untuk menggunakannya. Pernah liat anak TK pake telepon seluler kan? Saat ini bukan cuma tenaga professional yang punya ketergantungan tinggi terhadap teknologi, tetapi juga sudah menjangkiti seluruh lapisan masyarakat. Di Jakarta, mayoritas asisten rumah tangga dan tukang sayur punya telepon seluler. Ini harusnya masuk dalam ‘Ripley’s Believe It or Not!’

Rasio antara jumlah telepon seluler dengan jumlah penduduk terus meningkat hampir di semua negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. Dari satu sisi ini bagus-bagus saja, tetapi harusnya sebagian dari ‘kita’ wajib merasa miris, karena diantara bejibun gadget yang digunakan masyarakat tersebut, adakah yang buatan Indonesia dengan mengaplikasikan teknologi sendiri? Dalam konteks ini, anda boleh memilih apakah memasukkan diri anda dalam kelompok ‘kita’ tersebut atau bukan. Gadget yang masih prototype atau masih digarap di laboratorium tak usah dihitung, karena sering ceritanya hanya berakhir sebagai artefak teknologi …

Kalau seandainya, umpamakan, mungkin ada yang kurang berkenan dengan pernyataan yang terakhir ini maka berarti bagus, berarti kita masih ada harapan. Tidak perlu maki-maki, karena makian pembelaan diri itu cuma akan mempertegas posisi anda berada dimana dalam rentang spektrum harapan tersebut.

Gadget tersebut hanyalah salah satu contoh. Pada dasarnya apapun profesi dari kaum intelektual tersebut dia akan butuh teknologi. Semakin sophisticated jenis pekerjaannya, maka semakin tinggi ketergantungan pada teknologi. Semakin tinggi tingkat intelektualitasnya, maka semakin tinggi pula ketergantungan pada teknologi untuk bisa unjuk kinerja sebagaimana yang ditumpukan kepadanya. Wis, sederhananya begini: keberhasilan pendidikan dalam ‘memproduksi’ SDM terdidik, profesional, atau intelektual adalah sangat baik. Dilihat secara parsial, tidak ada yang salah dengan ini. Acung dua jempol untuk ini. Akan tetapi menjadi salah jika keberhasilan ini tidak diimbangi dengan upaya sungguh-sungguh untuk mewujudkan kemandirian teknologi nasional. Jika ketimpangan ini tidak segera diseimbangkan, maka sekumpulan orang pintar yang dihasilkan itu hanya akah dilihat oleh produsen produk teknologi sebagai pasar yang sangat potensial.

Saat ini, sisi lain yang sering dilihat, digunjingkan, didiskusikan biasanya terkait dengan persoalan ketergantungan pada teknologi asing telah menghilangkan peluang kita untuk menikmati nilai tambah dari bahan baku industri yang melimpah tersedia dari bumi pertiwi (misalnya bahan tambang) atau mudah dan murah diproduksi (misalnya komoditas pertanian). Ini juga menjadi argumen untuk mendorong kemandirian teknologi nasional.

Biasanya pihak yang dituding sebagai biang keladi ketidakberhasilan kita membangun kemandirian teknologi nasional adalah pemerintah, alasannya karena pemerintah lebih suka membeli teknologi asing yang sudah tersedia daripada membiayai penelitian untuk mengembangkan teknologi yang dibutuhkan. Tak perlu ada pembelaan disini, karena banyak yang mensinyalir hal ini benar adanya. Para akademisi dan peneliti gandrung menggunakan alasan ini jika ditanya tentang mengapa iptek kita sampai saat ini tidak berkontribusi nyata terhadap pembangunan, secara sosial maupun ekonomi, hampir di semua sektor. Walaupun perlu diakui ada beberapa titik terang diantara sektor-sektor pembangunan tersebut. Berdasarkan observasi lapangan, teknologi domestik bidang kesehatan dan pertanian terlihat lebih baik kontribusinya dibanding bidang lainnya.

Sesungguhnya dunia usaha juga sama dengan perilaku pemerintah dalam hal impor teknologi ini. Badan usaha di Indonesia juga sangat doyan impor teknologi dan hanya memandang sebelah mata terhadap teknologi domestik. Lalu siapa yang salah dalam hal ini. Mari jangan main tuding-tudingan. Saya pernah diperagakan oleh teman dengan tampilan jari jemari tangannya saat melakukan tudingan. Ternyata (saya pura-pura terkejut :D) hanya telunjuk yang mengarah ke pihak yang dituding; sedangkan jari tengah, manis, dan kelingking semua mengarah ke diri pihak yang menuding; sedangkan ibu jari yang bijak menunjuk ke atas. Tafsirnya adalah sebelum menuding pihak lain, sebaiknya kita introspeksi diri sebanyak tiga kali lipat intensitasnya, selain kita diingatkan untuk bermunajat kepada ‘Yang Di Atas’.

Mungkin para akademisi, peneliti, dan perekayasa perlu melakukan introspeksi tersebut. Bukankah hampir semua alat, instrumen, atau mesin yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan penelitian juga adalah produk impor atau hasil aplikasi teknologi asing? Termasuk alat-alat penelitian yang sederhana? Bukankah hal ini juga dapat ditafsirkan bahwa lembaga riset dan perguruan tinggi juga lebih suka mengimpor teknologi asing daripada membuat sendiri?

Ah, sudahlah. Realitanya, menghentikan impor teknologi asing dan menggantikannya dengan teknologi domestik yang belum siap atau jauh kalah kompetitif rasanya juga hampir mustahil akan terjadi secara instan. Gimana kalau begini saja. Tingkatkan kemampuan kita untuk mengembangkan dan memproduksi teknologi yang dibutuhkan oleh pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat agar secara berangsur ketergantungan pada teknologi asing dapat dikurangi; paralel dengan itu, alokasi dana untuk penelitian secara berangsur juga terus ditingkatkan sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi nyata teknologi domestik terhadap pemenuhan kebutuhan dalam negeri yang telah berhasil dicapai dari tahun ke tahun. Pendekatan ini terkesan lebih realistis, intelek, dan bermartabat daripada memaksakan agar anggaran ditingkatkan tetapi tidak dibarengi dengan upaya meningkatkan kemanfaatan teknologi yang dihasilkan.

Lagi pula siapa yang berani menjamin bahwa pelipat-gandaan anggaran penelitian akan menghasilkan teknologi yang secara teknis lebih handal dan secara ekonomi lebih kompetitif bagi pemenuhan kebutuhan nasional. Sebagai contoh kasus, sejak 2009 anggaran pendidikan sesuai amanah konstitusi telah dialokasikan sebesar minimal 20 persen dari total APBN. Nah, perlu kita telaah, apakah kebijakan peningkatan alokasi anggaran setelah 5 tahun berjalan ini telah dirasakan berdampak nyata pada peningkatan produktivitas, kualitas, dan relevansi pendidikan kita? Wallahu a’lam bish-shawabi.

[Uraian ini akan dibaca ulang dan disunting lagi … entah kapan baru akan dianggap tuntas 😛 ]

Catatan: Tulisan ini merupakan ‘living document’ yang dinamis. Akan terus selalu ditambah dan diedit. Silahkan memberikan masukan, koreksi, atau pengkayaan materi yang dirasakan perlu diakomodir dalam project ini.

Iklan

Project 2014 ITBA 01: Pentingkah Iptek ?


Pentingkah iptek? Pertanyaan ini betul-betul terkesan bodoh. Tak masuk akal jika kaum intelektual masih meragukan pentingnya iptek. Iptek itu pasti penting. Kalau iptek tidak penting, mana mungkin seluruh orang tua yang secara ekonomi mampu berbondong-bondong mendaftarkan anak-anaknya untuk sekolah, mulai dari kelompok belajar, taman kanak-kanak, sampai ke perguruan tinggi; sebagian tidak puas cuma sampai S1 dan lanjut menyekolahkan anaknya sampai S3. Mungkin kalau ada jenjang S4, masih ada juga yang minat untuk sekolah. Orang tua yang secara ekonomi kurang mampupun memimpikan anak-anaknya bisa sekolah. Ungkapan orang tua seperti ini sering kita dengar:”Saya ingin anak saya bisa sekolah setinggi-tingginya supaya tidak susah hidupnya seperti saya”. Maknanya, orang percaya bahwa pendidikan dapat menaikkan tingkat penguasaan ilmu pengetahuan yang bisa menjadi bekalnya untuk mendapat atau menciptakan pekerjaan yang akan meningkatkan kesejahteraannya.

Institusi pendidikan didirikan agar ilmu pengetahuan bisa dikembangkan dan diajarkan kepada (kalau bisa) seluruh dan setiap individu warga negara setiap bangsa di dunia. Seluruh negara di dunia, tanpa terkecuali, mengalokasikan anggaran untuk penyelenggaraan pendidikan ini. Semua negara kepingin rakyatnya menjadi pintar. Pintar sering diasosiasikan dengan capaian jenjang pendidikan formal tertinggi yang dicapai seseorang. Rata-rata capaian jenjang pendidikan formal penduduk suatu negara sering dijadikan indikator utama kualitas sumberdaya manusia negara tersebut. Dari sisi lain, sadar juga kita bahwa pintar itu tak identik betul dengan capaian pendidikan formal tertinggi. Banyak individu yang super cerdas atau digolongkan jenius tapi drop-out dari institusi pendidikan formal. Gak usah dibikin daftarnya disini. Pasti lumayan panjang daftar tersebut.

[insert: contoh beberapa individu yang drop-out sekolah/kuliah tapi sukses dalam kehidupan nyata di berbagai bidang]

Terlepas dari memadai atau kurang memadai, pas atau gak pas, penggunaan jenjang pendidikan formal sebagai ukuran kecerdasan seseorang atau sebagai salah satu indikator utama kualitas SDM suatu negara, saya yakin mayoritas pakar dan masyarakat awam tetap sepakat bahwa pendidikan formal itu penting. Ada yang penasaran dan meragukan tentang pernyataan bahwa pendidikan formal itu penting? Jika ada silahkan dilakukan survei besar-besaran untuk membuktikan hal ini, biar bisa dijustifikasi secara ilmiah. Tapi kalo saya merasa itu cuma buang-buang uang dan waktu saja. Kalau ada yang bilang ini cuma opini dan tidak ilmiah, ya silahkan. Sama seperti melakukan ‘penelitian’ tentang pengaruh jenis pupuk yang sudah dikenal luas oleh petani terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman yang sudah turun-temurun dibudidayakan petani di lokasi sentra produksi tanaman tersebut. Tanpa melakukan ‘penelitian’ itupun mayoritas orang sudah tahu kalo dipupuk tanamannya akan tumbuh lebih subur dan hasilnya lebih tinggi (tentu jika faktor-faktor lainnya dikendalikan).

Di alam nyata, di Indonesia juga, niat bersekolah untuk meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan kadang dikhianati oleh beberapa individu, mungkin lumayan besar populasinya, yang lebih mengutamakan agar mendapatkan gelar akademik daripada meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan. Ungkapan pengakuan secara verbal dan terbuka mungkin agak sulit didapatkan untuk kasus ini, tetapi jika ada alat/metoda pendeteksi pengakuan ‘hati nurani’ yang jujur, kita bisa mendapatkan informasi tentang berapa persen besarnya pengkhianatan akademik ini. Terlepas dari besarannya secara kuantitatif, fenomena ini menjadi indikasi bahwa dari perspektif sosial, pendidikan itu juga dianggap penting.

Dari dimensi legal dan konstitusional, pendidikan itu juga dianggap strategis dan penting. Sikap Indonesia merupakan contoh yang sangat jelas dalam hal ini. Setelah direvisi, Undang-Undang Dasar tahun 1945 mengamanahkan secara tegas bahwa 20 persen anggaran belanja negara wajib di alokasikan untuk sektor pendidikan. Wis, ini kartu As, yang menjadi pernyataan tegas dan konstitusional dari Indonesia bahwa pendidikan itu sangat penting!

Dengan demikian maka ditinjau dari sudut manapun pendidikan itu penting, baik secara substansial untuk peningkatan penguasaan ilmu pengetahuan, secara ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan, untuk meningkatkan status sosial dalam struktur masyarakat modern, maupun secara legal dan konstitusional sebagai buah dari dinamika politik nasional.

OK, pendidikan itu penting. Tapi tidak serta merta bisa diekstrapolasi menjadi iptek itu penting kan? Maksudnya bukan secara teoritis dengan berbagai asumsinya, tetapi dalam konteks realita di Indonesia saat ini. Ilmu pengetahuan melahirkan teori yang menjadi prasyarat untuk pengembangan teknologi, tapi proses ini tak mengalir secara otomatis. Perlu ada upaya. Upaya ini adalah kegiatan penelitian dan pengembangan. Nah, disini persoalannya. Walaupun banyak perguruan tinggi di Indonesia telah dengan penuh semangat mendeklarasikan diri sebagai ‘research university’, namun realita berbicara lain. Akui sajalah, bahwa semua perguruan tinggi di Indonesia masih sangat dominan dharma pendidikan dan pengajaran, bukan penelitian.

Dalam obrolan santai maupun dalam forum yang formal, ketika saya mengungkapkan realita ini, lumayan banyak juga akademisi yang kurang berkenan. Kadang obrolan atau diskusi terkait isu ini menjadi sedikit menghangat, tidak sampai ke titik didih, tapi terasa lebih tinggi dari suhu kamar. Untung saya punya data untuk meyakinkan bahwa perguruan tinggi di Indonesia masih kalah produktif secara akademik di bandingkan perguruan tinggi di beberapa negara tetangga di ASEAN, misalnya Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Publikasi ASEAN
Perbandingan jumlah publikasi ilmiah beberapa negara ASEAN tahun 2002-2011 (Lakitan et al., 2012)

Jika penasaran artikel utuh yang membahas produktivitas ilmuwan Indonesia bisa dilihat disini: https://benyaminlakitan.com/2012/08/11/scientific-productivity-and-the-collaboration-intensity-of-indonesian-universities-and-public-rd-institutions/

Biasanya suhu obrolan dan diskusi menurun kembali setelah mencermati data tersebut. Sebuah realita yang sebetulnya lebih bermanfaat jika diposisikan untuk memicu dan memacu motivasi untuk bekerja lebih baik (maknanya lebih berkualitas dan lebih produktif) daripada terus berupaya untuk menyapu aib tersebut ke bawah karpet. Hanya hasil riset yang berkualitas akan berpeluang besar untuk dipublikasi pada jurnal ilmiah dengan reputasi baik atau peer-reviewed journal. Hanya jika budaya akademik telah tumbuh subur maka produktivitas ilmiah akan meningkat. Sayangnya sampai saat ini, persoalan akademik yang paling fundamentalpun, yakni persoalan etika akademik, masih menjadi wabah nyata belum tuntas ditangani. Plagiarisme dan fabrikasi data masih terjadi.

Memang ada upaya untuk menegakkan etika ilmiah. Misalnya ada profesor yang dicopot jabatan fungsionalnya karena menjiplak tulisan orang lain. Ada pula gelar doktor yang dicabut kembali setelah ketahuan yang bersangkutan nyontek hasil penelitian orang lain. Beberapa tahun belakangan ini banyak dosen yang mengajukan promosi untuk menjadi gurubesar tidak dipenuhi karena alasan etika dan/atau rendahnya mutu karya akademiknya. Semua langkah ini patut diacungi jempol, perlu didukung, dan lebih diintensifkan.

Selain isu produktivitas dan kualitas, adalagi isu yang tidak kalah pentingnya, yakni relevansi. Tapi nanti sajalah kita kupas isu-isu ini secara lebih detil. Sementara kita akui saja bahwa kegiatan riset dan pengembangan di Indonesia saat ini masih jauh dari harapan. Kalau ditanya: mengapa? Maka jawaban yang paling populer dari kalangan akademisi, peneliti, perekayasa, dan para pengembang teknologi lainnya adalah alokasi anggaran untuk riset di Indonesia masih sangat kecil. Angka keramat 0.08 persen dari GDP berulang-ulang dikumandangkan sebagai alasan utama dan kadang-kadang juga sepertinya penyebab satu-satunya. Kesimpulannya: pemerintah Indonesia belum memperhatikan dan menghargai iptek, berarti iptek dimata pemerintah itu ‘tidak’ (atau supaya lebih sopan kita sebut ‘belum’) dianggap penting.

Setujukah jika uraian di atas menggiring kita untuk meyakini bahwa di Indonesia: pendidikan formal dianggap sangat penting, tapi pengembangan iptek tidak penting? Sebagai clue bisa dibandingkan nilai alokasi dana APBN untuk kegiatan pendidikan dan pengajaran dengan total nilai yang dialokasikan untuk kegiatan penelitian dan pengembangan di semua kementerian dan lembaga pemerintah.

[Uraian ini akan dibaca ulang dan disunting lagi … entah kapan baru akan dianggap tuntas 😛 ]

Catatan: Tulisan ini merupakan ‘living document’ yang dinamis. Akan terus selalu ditambah dan diedit. Silahkan memberikan masukan, koreksi, atau pengkayaan materi yang dirasakan perlu diakomodir dalam project ini.

Project 2014 ITBA 00: Pengantar


SONY DSC
Pertama, dari awal sekali saya ingin menjelaskan bahwa walaupun tulisan ini pake judul ‘project’ tapi sepeserpun gak diniatkan untuk pake dana publik untuk melaksanakannya. Ini murni sebagai wadah untuk menyalurkan hasrat pribadi, yakni menulis. Saya sulit untuk bisa menahan hasrat untuk menulis. Sama sulitnya dengan menahan pipis saat sudah kebelet banget. Begitu kira-kira. Soal nanti ada yang mau membacanya atau tidak, itu persoalan lain.

Kedua, saya jelaskan kenapa pake 2014. Penjelesannya super sederhana, yakni karena ulah saya ini dimulai berbarengan dengan awal tahun 2014. Sehabis nonton kembang api di Bunderan HI, tiba-tiba saja saya kepikiran. Penjelasannya gitu aja. Titik.

Ketiga, sekarang lagi musim singkatan. Semua disingkat. Untuk efisiensi kata atau memang sengaja bikin orang lain bingung atau biar terkesan ekslusif untuk kalangan tertentu saja, yakni kalangan orang yang paham tentang singkatan itu. Saya tidak ‘fobi’ singkatan tapi juga tidak ‘cinta’ betul dengan singkatan. Dalam tulisan ini saya menggunakan singkatan ITBA cuma karena alasan malas kalau harus mengetik frasa ‘Inovasi Teknologi dalam Bahasa Awam’ berulang-ulang. Hey, sekaligus berarti sudah saya jelaskan juga bahwa ITBA itu singkatan dari Inovasi Teknologi dalam Bahasa Awam kan?

Kadang-kadang saya agak inovatif dalam cara memberikan penjelasan. Kadang-kadang membosankan. Mohon dimaklumi saja. Saya menulis lebih karena adanya gejolak dalam benak dan kadang bathin saya yang akan lebih menentramkan jiwa saya kalau itu disalurkan. Secara formal, pelajaran mengarang saya berakhir dengan berakhirnya mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 3 SMA. Itu kalau tidak silap. Kemudian saya praktekkan saat menulis skripsi, tesis, dan disertasi. Disela-sela tenggat waktu itu, kadang saya menulis puisi, cerpen, opini di koran, berbagai laporan praktikum, artikel ilmiah di jurnal. Ada yang dalam bahasa Inggris juga. Weleh. Oya, dulu juga sering tulis surat cinta untuk calon isteri saya waktu itu. Pacaran jarak jauh gitu. Ups, saya mulai ngelantur.

Substansi yang akan disampaikan disini adalah ‘berat’. Inovasi teknologi. Saya harus dan perlu serius. Biar lebih terkesan intelektual. Selanjutnya juga kalau serius mudah-mudahan para pakar dan intelektual berkenan membacanya juga. Walaupun memang tulisan ini lebih dirancang agar masyarakat awam juga bisa menikmatinya. Agar masyarakat awam tidak alergi mendengar kata ‘teknologi’ atau ‘inovasi’. Namun jika dipantau di ranah publik saat ini, hampir semua kalangan sudah menggunakan dan akrab dengan kata inovasi. Misalnya, juri lomba nyanyi juga bilang ke peserta seperti ini:”Wah, kalau minggu depan kamu tampil gak ada inovasi maka kamu bisa tereliminasi”.

Kata inovasi sudah mewabah. Kata inovasi digunakan dalam bahasa pergaulan sehari-hari, dituturkan oleh masyarakat dari berbagai kalangan, bukan cuma oleh komunitas iptek semata. Iklan produk komersial di media cetak dan media elektronik juga sering menyisipkan kata inovasi. Lha terus mengapa mesti repot? Masalahnya, jika kata inovasi itu diasosiasikan dengan konteks teknologi, maka ia harus dimaknai secara pas. Persoalannya, saat ini kata inovasi itu dalam komunitas iptek masih sering digunakan secara tidak pas. Sering ditukar-padankan dengan kata invensi. Padahal dalam pakem teknologi, invensi dan inovasi itu berbeda. Eits, bahasa yang saya gunakan mulai ribet. Apa itu tukar-padan? Tapi sudahlah gak perlu dibahas terlalu mendalam. Maksud saya kata inovasi sering ditukar dengan kata invensi atau sebaliknya. Kedua kata ini sering dianggap sepadan. Kata inovasi kadang diposisikan sebagai sinonim dari invensi. Nah ini jelas keliru. Perlu diluruskan.

Belum lagi pemahaman tentang makna inovasi di kalangan komunitas iptek di Indonesia juga kadang masih belum sama. Apalagi tentang ‘Sistem Inovasi’. Namun demikian, istilah sistem inovasi nasional (sering disingkat dengan SINas) atau sistem inovasi daerah (disingkat SIDa) sudah ditebar ke seluruh pelosok nusantara. Semua fasih melafaskan SINas dan SIDa, tetapi saya berprasangka bahwa dalam benak banyak pihak tersebut, pemahaman tentang sistem inovasi masih beranekaragam. Ada yang pemahamannya sudah pas, tapi tak sedikit juga yang belum.

Yang lebih merepotkan adalah jika pemahaman yang keliru atau kurang pas tentang inovasi dan sistem inovasi ini melekat dalam benak orang-orang yang oleh masyarakat dianggap sebagai pakar di bidang ini, atau pejabat yang berwenang memformulasikan kebijakan terkait inovasi dan sistem inovasi. Hal ini bukan mustahil terjadi, karena mereka yang dianggap pakar dan/atau mereka yang berwenang membuat kebijakan tersebut juga manusia kan? Mereka bisa keliru, bisa kurang paham, atau bisa juga diberi masukan yang keliru. Jika ini terjadi, maka pemahaman yang kurang pas ini dapat berkembang biak dengan cepat, karena para pakar mudah mempengaruhi komunitasnya dan para pembuat kebijakan berpotensi menggiring publik ke alur pemahaman yang keliru tersebut.

Wabah ‘keliru’ ini sulit diberantas jika arogansi jabatan dan/atau gengsi akademik telah merasuki jiwa para pakar dan pembuat kebijakan. Tidak jarang (maaf saya koreksi saja menjadi kadang-kadang ya …) ada pakar yang menggunakan tameng dengan pernyataan seperti ini:”Saya inikan guru besar yang telah menggeluti masalah ini sekian tahun” atau “Saya memperoleh gelar doktor di bidang ini dari universitas terkemuka di dunia” atau “Wah, saya jelek-jelek gini sudah dipercaya mengerjakan hal ini lebih dari 15 tahun” atau ungkapan lain yang serupa untuk mempertahankan pendapatnya yang keliru atau bisa juga untuk mengamankan ‘sumber pendapatannya’ (insert: smiley icon disini) dari orang yang dianggapnya sebagai pesaing. Bukan sebagai orang yang tulus membantu meluruskan pemahaman. Aneh? Ya, gak usah terlalu surprise, kehidupan memang kadang aneh.

Saya mau kasih anekdot. Tapi kalau kamu gampang marah atau tersinggung, maka bagian anekdot ini gak usah dibaca. Lewatkan saja. Begini: ada unta yang seumur hidupnya di gurun Saudi Arabia, tapi tetap saja gak bisa bahasa Arab. Jika anda tersenyum habis baca anekdot ini berarti anda orang baik dan bijak; tapi jika tersulut emosi, anda jangan marah-marah ke saya ya … karena sudah saya sarankan untuk tidak baca dan lewatkan saja bagian ini.

Pendek kata, pemahaman yang tepat tentang inovasi dan sistem inovasi itu penting. Ini alasan saya berpayah-payah untuk menyiapkan tulisan ini. Demi kebaikan aku dan kamu para sahabatku. Percayalah.

[Uraian ini akan dibaca ulang dan disunting lagi … entah kapan baru akan dianggap tuntas 😛 ]

Catatan: Tulisan ini merupakan ‘living document’ yang dinamis. Akan terus selalu ditambah dan diedit. Silahkan memberikan masukan, koreksi, atau pengkayaan materi yang dirasakan perlu diakomodir dalam project ini.

%d blogger menyukai ini: