Benyamin Lakitan

Beranda » Article » Published Opinion

Category Archives: Published Opinion

My Opinion 29: Kesejahteraan Petani dan Kedaulatan Pangan


Petani harus diposisikan sebagai subjek, bukan objek atau hanya diperlakukan sebagai komponen mesin produksi. Petani perlu diberi insentif agar termotivasi untuk meningkatkan produksi pangan. Bentuk insentif yang paling efektif ialah peningkatan kesejahteraannya. Bukankah tujuan utama pembangunan ialah untuk menyejahterakan rakyat? Rakyat yang kesejahteraannya paling perlu diprioritaskan melalui pembangunan sektor pertanian tentunya adalah petani.

Ukuran keberhasilan pembangunan pertanian sering dikaitkan dengan keberhasilan mencapai swasembada pangan atau terwujudnya kondisi ketahanan pangan. Mari kita cermati definisi ketahanan pangan versi Food and Agriculture Organization (FAO) berikut ini, Food security exists when all people, at all times, have physical and economic access to sufficient, safe and nutritious food that meets their dietary needs and food preferences for an active and healthy life.

Ringkasnya, ketahanan pangan tercapai jika semua konsumen mendapatkan pangan yang cukup, tetapi tak sedikit pun menyinggung kesejahteraan petani sebagai produsen pangan. Banyak yang menyatakan `toh’ petani selain produsen juga konsumen pangan. Itu betul 100%. Namun, persoalannya bukan di situ.

Persoalannya ialah jika jasa para petani dalam memproduksi pangan tidak diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan, mereka cenderung akan menjadi petani subsisten. Petani akan memproduksi pangan hanya untuk kebutuhan sendiri, tidak akan termotivasi untuk berpartisipasi dalam program pemerintah untuk meningkatkan produksi pangan nasional.

Untuk tambahan pendapatannya, petani cenderung melakukan diversifikasi pekerjaan, misalnya membudidayakan tanaman perkebunan (karet, kopi, dan sekarang sawit). Justifikasinya ialah banyak lahan sawah yang tadinya ditanami padi sekarang dikonversi menjadi lahan kebun sawit. Opsi lain yang dipilih petani setelah kebutuhan pangan pokoknya dirasakan mencukupi ialah memilih pekerjaan tambahan sebagai buruh konstruksi (untuk wilayah sekitar perkotaan) atau pekerjaan informal lain di kota.

Jika petani ditanya tentang alasannya mengapa tidak penuh mendedikasikan pekerjaannya pada budi daya tanaman pangan, salah satu jawaban yang mungkin patut direnungkan ialah, “Tidak ada satu orang di desa kami yang naik haji karena bertanam padi, tapi yang mampu naik haji itu adalah para petani yang punya kebun kopi atau sawit … ”

Secara lengkap artikelnya bisa didownload disini

Iklan

My Opinion 28: Tiga Tantangan Satu Tujuan Inovasi Pertanian


Paling tidak ada tiga tantangan besar yang membutuhkan inovasi pertanian, yakni [1] tantangan untuk meningkatkan produksi pangan dan komoditas pertanian lainnya (tantangan agronomis); [2] tantangan untuk menurunkan kehilangan hasil pada fase pascapanen (tantangan pascapanen); dan [3] tantangan untuk memenuhi kebutuhan konsumen/penduduk yang terus tumbuh (tantangan demografis).

Teknologi dapat memberikan kontribusi terhadap upaya menjawab tiga tantangan tersebut. Namun teknologi bukan merupakan solusi tunggal bagi tantangan-tantangan tersebut, karena masing-masing tantangan bersifat multi dimensi dan tidak hanya bersifat teknis semata. Oleh sebab itu, perlu didukung regulasi dan kebijakan publik yang sesuai; alokasi anggaran yang memadai; dan sumberdaya manusia dengan keahlian yang relevan, memahami dan sensitif terhadap realita persoalan, serta mempunyai intergitas tinggi.

Demikian pula, tidak semua strata dan jenis teknologi akan efektif berkontribusi. Hanya teknologi yang relevan secara teknis dan sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna yang akan berpeluang untuk secara nyata berkontribusi dalam upaya menjawab tiga tantangan tersebut.

Satu hal lagi yang tidak boleh diabaikan adalah amanah konstitusi yang secara jelas dan tegas menyatakan bahwa pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia dan memajukan peradaban. Hal ini juga selaras dengan semangat kebijakan pembangunan yang bersifat inklusif, yakni memberikan kesempatan bagi semua pihak untuk berpartisipasi dan sekaligus juga untuk membuka peluang bagi para pihak tersebut untuk ikut menikmati hasil-hasil pembangunan, yakni berupa peningkatan kesejahteraannya.

Selayaknya apa yang sudah diamanahkan oleh konstitusi untuk menyejahterakan rakyat perlu dijalankan secara konsisten dan persisten, baik demi alasan legal-formal maupun karena mengikuti hati nurani.

Artikel lengkapnya dapat dibaca disini

My Opinion 27: Riset dan Pangan


Sayang, terdapat jurang lebar antara preferensi pengembang teknologi dan penggunanya dilapangan. Banyak pengembagan teknologi merasa punya prestise lebih kalau menggeluti teknologi mutakhir meski diimpor dari negara yang punya kondisi agroklimat berbeda. Akhirnya saat digunakan, teknologi berbiaya tinggi itu cuma teronggok jadi tontonan. Lebih parah lagi sebagian periset dan akademisi lebih sibuk meriset sesuai keinginan sendiri, bukan berangkat dari persoalan riil di lapangan. Akibatnya banyak riset hannya berujung pada laporan yang fungsinya sekedar pertanggungjawaban keuangan. Jika budaya periset dan akademisi seperti itu, mana mungkin teknologi berkontribusi positif pada pencapaian ketahanan pangan?

Naskah lengkap bisa dilihat disini

My Opinion 26: Persoalan Pangan Tidak Pernah Tuntas


Persoalan pangan selalu menghantui kita. Seolah telah ditakdirkan sebagai persoalan abadi yang selamanya akan dihadapi bangsa ini. Padahal, negara ini mempunyai lahan yang sangat luas dan lautan yang membentang menyimpan berbagai sumber bahan pangan, tetapi mengapa garampun masih perlu mengimpor? Mengapa kebutuhan semua bahan pangan pokok masih belum mampu dipenuhi dari produksi sendiri, kecuali mungkin beras?

Pemerintah kelihatannya telah melakukan banyak upaya untuk menuntaskan persoalan ini. Cukup signifikan juga dana yang sudah dialokasikan dari tahun ke tahun untuk mengatasi permasalah pangan, baik yang langsung disalurkan melalui departemen teknis yang menanganinya, maupun melalui kementerian/lembaga lain yang mendukung pembangunan pangan nasional.

Memang ada beberapa kemajuan yang telah dilaporkan, terutama terkait dengan peningkatan kemampuan memproduksi beras. Akan tetapi persoalan pangan tak dapat direduksi hanya menjadi persoalan beras. Gandum nyaris 100 persen masih impor dan komoditas pangan pokok lainnya juga masih bergantung pada impor.

Persoalan pangan merupakan persoalan nyata dan serius. Namun pernahkah terpikir bahwa mungkin ada persoalan fundamental yang selama ini kurang mendapat perhatian dalam memformulasikan kebijakan, mengatur strategi, menetapkan program, dan mengeksekusi kegiatan yang terkait dengan pembangunan pangan nasional?

Lengkapnya bisa dibaca disini

My Opinion 25: Pangan 2050


Tulisan ini saya buat tahun 2009. Sekarang sudah 2012. Ada bagian substansi pemikian yang dituangkan pada tulisan ini masih sangat relevan hingga saat ini …

Penduduk terus tumbuh, berarti kebutuhan pangan akan terus meningkat.
Lahan pertanian subur semakin sempit karena dikonversi untuk kepentingan lain atau terdegradasi akibat tercemar atau salah kelola.
Minat tenaga kerja menggeluti pertanian semakin menurun, demikian pula lulusan SMA yang makin tidak tertarik mendalami ilmu-ilmu pertanian.

Lengkapnya bisa dibaca disini

My Opinion 24: Aspects of Intelligence for a Leader


When I posted on my facebook wall the simple question “Is intelligence necessary for every leader?” most of the respondents agreed that a leader must be intelligent, have appropriate experience, and be well behaved and committed to improving the prosperity of the people.

This shows that a leader needs not only to be smart academically, but also needs to demonstrate emotional and spiritual intelligence.

Full article can be read here

My Opinion 23: Menakar Ketahanan Pangan Nasional


Keberhasilan pembangunan ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada keberhasilan meningkatkan produksi. Tetapi, perlu ditakar secara komprehensif berdasarkan tiga pilar utama, yakni produksi yang cukup, distribusi yang lancar dan merata, serta konsumsi pangan yang aman dan berkecukupan gizi bagi seluruh individu masyarakat.

Di antara ketiga pilar ini, upaya meningkatkan produksi selalu mendapat perhatian semua pihak, dibandingkan dengan dua pilar lainnya. Malah seolah-olah jika produksi sudah berhasil ditingkatkan melampaui kebutuhan pangan nasional, atau populer dikenal sebagai swasembada, maka perjuangan menuju tercapainya kondisi ketahanan pangan dianggap sudah berhasil dituntaskan.

Tercapainya swasembada pangan tidak otomatis berarti kondisi ketahanan pangan telah berhasil dicapai. Ketahanan pangan secara formal/legal didefinisikan sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutu, aman, merata, dan terjangkau (Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan) ….

Secara lengkap bisa dibaca disini

%d blogger menyukai ini: