Benyamin Lakitan

Beranda » Article » Renungan

Category Archives: Renungan

Bukan Tentang Iptek 01: Kecerdasan Mendengar


Di sekolah kita diajari bagaimana menulis atau mengarang, baik mengarang cerita maupun mengarang tulisan ilmiah. Punya bakat atau kesukaan menulis ataupun tidak, semua siswa dan mahasiswa dipaksa harus bisa mengarang, karena harus membuat karangan sebagai salah satu ukuran penguasaan bahasa Indonesia atau bahasa asing, atau membuat laporan -minimal laporan praktikum-, skripsi, tesis, atau disertasi. Resminya, kalau tak pandai menulis maka siswa atau mahasiswa harusnya tak bisa menyelesaikan sekolah atau kuliahnya. Tapi disinyalir ada juga pihak-pihak yang menyediakan jasa bantuan menulis bagi mahasiswa yang kurang atau tak pandai menulis tapi tetap ingin tamat kuliah. Ini persoalan lain.

Kalau kita ke toko buku atau berkunjung ke perpustakaan, maka dengan relatif mudah akan kita temukan buku-buku yang terkait dengan panduan untuk menyiapkan karya tulis; baik untuk pemula maupun untuk penulis yang ingin serius meningkatkan kualitas dan produktivitas kerjanya; baik yang dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris atau dari bahasa asing yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Pokoknya jika tentang menulis, maka ia secara formal diajarkan dan juga mendapat kemudahan bagi yang berminat untuk mempelajarinya.

Di sekolah kita juga diajari bagaimana mengemukakan pendapat secara lisan alias diajari bicara secara sistematis dan efektif, melalui kegiatan diskusi dan seminar. Mulai dari diskusi mata pelajaran/kuliah di kelas sampai pada seminar untuk mempertahankan disertasi program doktor. Di luar sekolah juga banyak forum diskusi dan seminar sebagai ajang unjuk bicara dan mengemukakan pendapat. Sehingga tak heran banyak orang Indonesia yang pandai bicara. Kita bisa lihat itu di warteg, di kantor, di DPR, di acara televisi. Banyak acara talk show di televisi kan? Adakah saluran televisi yang tidak punya acara talk show?

Kalau kita ke toko buku atau berkunjung ke perpustakaan, maka cukup besar kemungkinan kita akan dapat menemukan buku-buku tentang bagaimana caranya menjadi pembicara yang baik, yang bisa memukau atau memesona pemirsa, atau bagaimana menyiapkan presentasi yang efektif dan memikat, termasuk dalam menata sikap, penampilan, sistematika presentasi, penggunaan peralatan visual aid, software yang lagi nge-trend untuk presentasi, dan segala aspek lainnya dari A sampai Z.

Yang menarik adalah walaupun menulis itu mempunyai saudara kembarnya, yakni membaca; sedangkan berbicara itu juga punya saudara kembarnya, yakni mendengar; tetapi kedua saudara kembar tersebut sangat jarang diajarkan di sekolah, yakni bagaimana membaca dan mendengar secara efektif dan efisien. Buku-buku tentang cara mengasah kecerdasan membaca dan mendengar juga kayaknya langka. Atau jangan-jangan belum ada ya?

Tak heran jika banyak diantara kita tak rajin membaca. Budaya membaca kurang subur tumbuhnya di Indonesia. Tak heran jika banyak yang tertidur jika ada yang bicara tentang isu-isu yang serius, walaupun jelas terkait hajat hidup bangsa kita dan kita semua yang menjadi bagian di dalamnya. Ini mungkin karena tingkat kecerdasan mendengar masyarakat kita yang tak cukup terasah …

Iklan
%d blogger menyukai ini: