Benyamin Lakitan

Beranda » Article » Sisipan

Category Archives: Sisipan

Sisipan 35: Kuliah Umum di Universitas Teknologi Sumbawa


Selalu sangat menyenangkan bagi saya untuk berbagi ilmu terutama jika peserta yang hadir terlihat sangat antusias. Kali ini saya menyampaikan tentang peran riset dalam mewujudkan ketahanan pangan di kampus Universitas Teknologi Sumbawa, dihadapan dosen dan mahasiswa.

Materi yang disampaikan bisa dilihat atau diunduh DISINI

BL-UTS 05a

BL-UTS 05c

BL-UTS 01

Iklan

Sisipan 34: Tambak di Pesisir Sumbawa


Pantai Pulau Sumbawa sesuai untuk dikembangkan menjadi sentra budidaya udang dan telah pernah sukses sejak tahun 2000-an, walaupun mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Produksi udang dari wilayah ini bisa menyumbangkan sekitar 20 persen dari produksi udang budidaya secara nasional. Berdasarkan telaah Kementerian Kelautan dan Perikanan, lahan yang potensial untuk dibuat tambak di Pulau Sumbawa mencapai lebih dari 10.000 hektar, namun baru sekitar 2.199 hektar yang telah dimanfaatkan untuk tambak budidaya udang secara produktif. Potensi lahan yang cocok untuk pengembangan tambak udang tersebut di Kecamatan Lunyuk, Alas, Buer Alas Barat, Utan, Rhee, Moyo Hilir, Lape Marongge, Plampang, Empang, dan Tarano. Udang Sumbawa sudah diekspor ke negara-negara Uni Eropah, Amerika, Jepang, dan Kanada.

Tambak Sumbawa Besar 1

Sisipan 33: Tenun dan Batik Sasambo, Produk Kreatif Masyarakat Kota Bima


Indonesia kaya akan ragam kain tenun, sebagian masih dirajut secara manual dengan hanya menggunakan alat tenun sederhana, atau lebih populer dikenal sebagai ATBM (alat tenun bukan mesin). Alat tenun ini umumnya dibuat sendiri oleh masyarakat dengan rangka kayu. Kain tenun yang dihasilkan oleh masing-masing daerah pada awalnya biasanya sangat spesifik corak dan warnanya, tetapi kemudian menjadi lebih beragam baik warna maupun coraknya (kadang karena dipengaruhi oleh pemintaan pasar).

Di Bima, saya melihat masih ada juga masyarakat yang menenun dengan ATBM ini. Disamping itu juga mulai dikembangkan batik khas Bima. Tenun dan batik ini dikenal sebagai tenun dan batik ‘Sasambo’. Pusat Pengembangan Industri Kreatif Tenun dan Batik Sasambo ini berlokasi di sebelah Hotel Muthmainnah Kota Bima, yang sekaligus juga menjadi pusat pemasaran tenun dan batik ini.

Untuk menyelesaikan kain tenun sepanjang 6 meter dibutuhkan waktu sekitar satu bulan. Bahan kain ini kemudian bisa dibuat menjadi kemeja atau jenis pakaian lainnya. Kemeja dengan menggunakan bahan kain tenun Bima ini pernah dipakai oleh presiden RI periode yang lalu, sehingga populer dikenal sebagai kemeja tenun dengan nama presiden yang dimaksud.

Tenun Bima 1

Tenun Bima 2

Tenun Bima 3

Tenun Bima 0

Sisipan 32: Pidato Pengukuhan sebagai Guru Besar Tahun 1998


Paling tidak sejak 1990-an saya sudah berkeyakinan bahwa pembangunan pertanian harus tidak hanya untuk mengejar peningkatan produksi dan produktivitas, tapi perlu dibarengi dengan upaya pelestarian fungsi ekosistem (ekologis) dan meningkatkan kesejahteraan petani (inklusif). Pandangan tentang pertanian produktif, ekologis, dan inklusif ini antara lain saya sampaikan dalam pidato pengukuhan saya sebagai guru besar ilmu pertanian pada Universitas Sriwijaya pada tanggal 29 April 1998. Dalam pidato pengukuhan ini juga saya sudah mengingatkan bahwa Indonesia tidak bisa terus menerus hanya menggantungkan produksi pangan di daratan, tetapi harus meningkatkan upaya mengelola sumberdaya kelautan sebagai sumber pangan. Sebelumnya, pada tahun 1989 saya mengorganisir seminar di Cornell University dan menulis makalah tentang pembangunan pertanian yang berkelanjutan.

Secara lengkap pidato pengukuhan tersebut bisa dibaca dan diunduh disini:1998 Pertanian Ekologis-Produktif yang Memberdayakan Petani

Sisipan 31: High-level and Forward-looking Meeting on Visionaries Unbound: The Future of Securing Livelihoods.


Around 30 selected participants with a diverse set of backgrounds and perspectives from public, private, research and non-profit sectors and from different world regions were invited to reflect on the future means people will deploy to secure the necessities of life. The meeting took place at the Rockefeller Foundation Bellagio Center in Lombardy, Italy from 4-8 August, 2014 and was jointly organized by the Rockefeller Foundation, the Development Centre of the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) and the Economist Intelligence Unit.

Bellagio Group 20140805

Sisipan 30: Invasi Sawit ke Lahan Rawa


Kalau waktu kuliah dulu diajarkan bahwa tanaman sawit itu sesuai untuk dikembangkan di lahan-lahan kering yang kurang subur, maka hal ini masih 100% betul. Akan tetapi, yang tidak disinggung adalah bahwa ternyata budidaya tanaman sawit bisa merambah lahan-lahan rawa lebak dan pasang surut juga. Sekarang invasi sawit ke lahan rawa ini menggusur tanaman padi atau tanaman budidaya lainnya.

SONY DSC
Sawit di rawa lebak Kalimantan Selatan

SONY DSC
Kebun kelapa yang sebentar lagi akan mengalami tranformasi menjadi kebun sawit di rawa pasang surut Sumatera Selatan

Sisipan 29: Gunung Karangetang, Sulawesi Utara


Gunung Karangetang (atau Api Siau) terletak di ujung utara Pulau Siau Utara. Tinggi puncaknya mencapai 1784 meter dari permukaan laut. Gunung ini merupakan salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia, dengan lebih dari 40 letusan yang direkam sejak 1675 dan banyak tambahan kecil letusan yang tidak didokumentasikan.

SONY DSC

%d blogger menyukai ini: