Benyamin Lakitan

Beranda » Article » Working Visit

Category Archives: Working Visit

Indonesia 133: Agribisnis Bawang Merah di Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, NTB


Selain Brebes di Pulau Jawa dan Enrekang di Sulawesi Selatan, Kabupaten Bima sudah sejak lama dikenal sebagai salah satu sentra produksi bawang merah di Indonesia, tersebar di beberapa kecamatan, termasuk Kecamatan Belo. Bawang merah produksi Bima dikenal berkualitas baik dengan ukuran siung yang besar. Ada dua desa/kampung penghasil bawang merah utama di kawasan sentra produksi ini yang saya kunjungi, yakni Desa Ngali dan Desa Renda. Petani asal Ngali juga sudah tersebar di beberapa desa lain di wilayah ini untuk melakukan budidaya bawang merah.

Tanaman bawang merah ini dibudidayakan di lahan sawah pada musim kemarau, dimana selama musim hujan ditanami padi. Bawang merah butuh waktu sekitar 2 bulan untuk dapat dipanen. Ditanam dari umbi yang diproduksi khusus atau disisihkan dari panen sebelumnya. Bawang dapat ditanaman tiga kali dalam setahun. Dua kali untuk dipasarkan sebagai produk konsumsi dan sekali ditanam untuk bibit. Petani Kecamatan Belo menjual umbi bibit untuk berbagai daerah lainnya, selain tentu untuk pemenuhan kebutuhan sendiri. Petani di lokasi ini perlu pembinaan dalam aplikasi pestisida kimiawi agar dapat menghasilkan bawang merah yang bebas residu pestisida.

Petani Bawan Merah Ngali 1

Petani Bawan Merah Ngali 2

Petani Bawan Merah Ngali 3

Petani Bawan Merah Ngali 4

Petani Bawan Merah Ngali 5

Petani Bawan Merah Ngali 6

Petani Bawan Merah Ngali 7

Petani Bawan Merah Ngali 8

Petani Bawan Merah Ngali 9

Working Visit 07: Ideon Science Park


Ideon Science Park didirikan pada tahun 1983 atau baru 30 tahun yang lalu dan merupakan science park yang pertama di Swedia. ‘First sod cutting’ (penanda simbolis dimulainya pembangunan dengan bersama-sama menggali tanah dengan sekop) dilakukan oleh Gun Hellsvik, Nils Horjel, dan Nils Stjernquist. Merupakan awal dari proses joint venture antara universitas dengan industri. Inspirasinya bersumber dari apa yang berhasil dilakukan di Amerika Serikat tetapi disesuaikan dengan kondisi Swedia. Pendirian Ideon SP memanfaatkan kepakaran yang ada di Lund University untuk mendorong usaha baru yang berbasis sumberdaya lokal dan diharapkan akan menciptakan lapangan pekerjaan baru di wilayah setempat.

Pada tahun 1983, Ideon SP dimulai hanya dengan 5 perusahaan yang menempatinya, tetapi hanya dalam kurun waktu lima tahun telah meningkat menjadi sekitar 100 perusahaan (1988), tetapi kemudian stagnan sampai tahun 1996. Ketika Ericsson dengan 750 karyawannya pindah ke lokasinya sendiri di daearh Brunnshog, banyak yang memprediksi bahwa Ideon SP akan segera tamat riwayatnya, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Setelah disediakan gedung untuk perusahaan kecil, jumlah perusahaan di Ideon SP meningkat dari 110 menjadi 160 perusahaan hanya dalam kurun waktu 3 tahun. Sekarang (2013), jumlah perusahaan telah mencapai 345 perusahaan yang mempekerjakan sebanyak sekitar 2.700 orang menempati ruang kantor dan laboratorium seluas 120.000 meter persegi. Sekitar 76% perusahaan di Ideon SP mempunyai hubungan kerja dengan Lund University. Hanya sekitar 30 perusahaan yang pernah menempati Ideon SP yang tutup selama periode 30 tahun tersebut.

Kunjungan delegasi Ristek ke Ideon Science Park tetap selalu lengkap terdiri dari Mulyanto, Benyamin Lakitan, Shidki Wahab, Malikuz Zahar, dan Vemmie D. Koswara dan dengan setia didampingi pejabat/staf Kedubes RI Stockholm yakni Iskandar Hadrianto dan Agustin Arijanti. Dalam kunjungan ke Ideon ini kami dijamu makan siang di restoran dalam kawasan Ideon (yang merupakan tempat bertemu yang ideal antara para akademisi dari Lund University dengan pelaku bisnis yang berkantor di Ideon Science Park karena lokasinya di antara kampus dan kawasan Ideon). Selain itu juga mendapat pencerahan dari Dr. Sven-Thore Holm (yang pernah menyampaikan orasi inovasi pada Hakteknas ke 16 tahun 2011), Hans Moller (CEO Ideon Science Park), dan Prof Marie Lowegren (Director SKJ Center for Entrepreneurship, Lund University)

SONY DSC
Sven-Thore Holm (atas), Hans Moller (kiri) dan Prof Marie Lowegren (kanan)

Beberapa catatan penting yang direkam dari presentasi yang disampaikan maupun melalui obrolan santai adalah:

[1] Untuk dapat mewujudkan science park yang efektif dan produktif diperlukan pemahaman dan keyakinan para pihak terkait bahwa science park merupakan: (a) infrastruktur yang mutlak dibutuhkan agar kolaborasi tiga pihak akademisi, pelaku bisnis, dan pemerintah (triple helix) dapat diwujudkan; (b) komitmen politik dari eksekutif dan legislatif untuk mewujudkannya; dan (c) adanya tim profesional yang berdedikasi penuh untuk pengelolaannya;

[2] Pemilihan lokasi yang tepat untuk membangun science park adalah secara fisik dekat dengan perguruan tinggi ternama (sebagai sumber kepakaran) dan kawasan industri yang sudah ada atau kawasan terbuka yang dapat dikembangkan menjadi kawasan industri; dan

[3] Tidak ada formula science park yang sesuai untuk semua situasi dan kondisi. Oleh sebab itu, perlu disesuaikan dengan kondisi negara atau daerah dimana science park tersebut akan dibangun dan difungsikan. Sebaiknya sejak awal, pihak pelaku bisnis dilibatkan dalam proses pembentukan science park.

Pelajaran untuk Indonesia: [1] Konsepsi science park yang dipahami dan dianut oleh banyak pihak selama ini terkesan terlalu mengedepankan peran institusi pengembang teknologi dalam upaya mewujudkannya; sebaliknya dalam realitanya keberhasilan sebuah science park lebih ditentukan oleh peran dan partisipasi pelaku bisnis. Oleh sebab itu, dalam rencana pembangunan science park perlu sejak awal melibatkan dan mengakomodir kepentingan para pelaku bisnis; dan [2] Sebaiknya untuk saat ini, mitra bisnis potensial untuk membangunan science park adalah kelompok usaha/industri kecil dan menengah.

(Naskah oleh Benyamin Lakitan; Foto oleh Benyamin Lakitan dan Agustin Arijanti)

Working Visit 06: Lund University


Lund University didirikan pada tahun 1666 di Kota Lund, Swedia, yang pada awalnya merupakan bagian dari wilayah Denmark. Saat ini merupakan salah satu universitas terkemuka dan terbesar di Swedia dengan jumlah mahasiswa mencapai 47.000 orang, mempunyai profesor sekitar 820 orang, dan memperkerjakan sekitar sekitar 7.000 pegawai. Karena Lund merupakan kota kecil, maka wilayah kampus Lund University mencakup sekitar wilayah kota Lund. Anggaran yang dikelola universitas ini mencapai sekitar USD 1 milyar, dimana 1/3 untuk kegiatan pendidikan dan 2/3 untuk riset. Lund University mengelola 8 fakultas, yakni teknik, sains, hukum, ilmu sosial, ekonomi dan manajemen, kedokteran, kemanusiaan dan teologi, serta seni murni dan pertunjukan.

Delegasi Ristek yang berkunjung ke Lund University adalah Mulyanto, Benyamin Lakitan, Shidki Wahab, Malikuz Zahar, dan Vemmie D. Koswara didampingi pejabat/staf Kedubes RI Stockholm yakni Iskandar Hadrianto dan Agustin Arijanti. Kunjungan ini diterima langsung oleh President of Lund University, Prof Per Eriksson didampingi Kristina Eneroth (Vice President for International Relations), Richard Stenelo (Deputy Executive Director of External Relations), Marie Lowegren (Director of SKJ Center for Entrepreneurship). Juga turut hadir Annika Annerby Jansson (President of the Skane Regional Council) dan Sven-Thore Holm (General Manager Lundavision). Pertemuan dilakukan pada tanggal 31 Oktober 2013, jam 9.30 s/d 11.00 bertempat di Kantor President of Lund University.

SONY DSC

SONY DSC
Iskandar Hadrianto

SONY DSC
Prof Per Eriksson (kiri) dan Annika Annerby Jansson (kanan)

Beberapa informasi yang menarik yang diperoleh dari pertemuan tersebut adalah:

[1] Berdasarkan Rencana Strategis 2012-2016, strategi utama dalam pengelolaan dan pengembangan Lund University adalah kolaborasi lintas-batas, internasionalisasi, peningkatan kualitas akademik, serta peningkatan kapasitas pimpinan, dosen, dan karyawan;

[2] Dengan penuh kerendahan hati Prof Per Eriksson menyatakan:“We would like to become Wolrd Class University” dan pada kesempatan berikutnya beliau sekali lagi mengungkapkan:“We are trying to become World Class University”. Ungkapan ini datang dari seorang presiden universitas yang didirikan pada abad ke 17 dan telah menempati peringkat di sekitar 80 terbaik di dunia oleh berbagai lembaga pemeringkat perguruan tinggi. Oleh sebab itu, Lund Universiti menetapkan ada 4 area pembenahan yang diprioritaskan, yakni memperbaiki lingkungan belajar agar menjadi lebih atraktif, ekosistem yang lebih kondusif/suportif untuk kegiatan riset dan inovasi, memperbaiki infrastruktur akademik dan fasilitas riset, dan meningkatkan ‘visibility’ (dikenal luas secara global. Dalam konteks visibility, Prof Per Eriksson berkeyakinan bahwa sebuah universitas tidak hanya harus hebat tetapi juga harus dikenal luas oleh berbagai kalangan;

[3] Pihak Lund University menyadari betul bahwa semua keberhasilan hanya dapat dicapai jika berkolaborasi, terutama kerjasama antara universitas, dunia usaha, dan pemerintah (triple helix). Lund University menjalankan ‘Knowledge Triangle’, yakni interaksi antara tiga aktivitas yang saling terkait, yakni pendidikan, riset, dan inovasi.

[4] Dalam perspektif Lund University, sistem inovasi adalah mengkonversi riset menjadi produk atau jasa yang memberikan kemanfaatan bagi masyarakat (Lund University’s innovation system converts research into products and services that are benefit to society). Selama tahun 2012 Lund University memunculkan 104 ide, melaksanakan 70 proyek riset, menghasilkan 22 patent, 16 perusahaan, dan 6 investasi LUIS AB.

Pelajaran bagi Indonesia: [1] Universitas yang hebat tidak hanya mampu menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga mampu secara nyata berkontribusi dalam berbagai sektor pembangunan, terutama pembangunan perekonomian bangsa, disamping juga memperbaiki nilai-nilai sosial dan budaya bangsa; [2] sebaiknya perguruan tinggi di Indonesia tidak perlu repot membangun citra dan latah untuk menjadi world class university pada kondisi saat ini, lebih baik fokus pada upaya-upaya nyata untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional dan lokal; [3] Keberhasilan perguruan tinggi hanya akan dicapai jika mampu menjalin dan melaksanakan kerjasama yang efektif, efisien, dan mutualistik dengan berbagai aktor inovasi lainnya, yakni dunia usaha dan pemerintah.

SONY DSC

(Naskah oleh Benyamin Lakitan; Foto oleh Iskandar Hadrianto, Benyamin Lakitan, dan Agustin Arijanti)

Working Visit 05: Svenska Aeroplan Aktiebolaget (SAAB)


SAAB Group merupakan perusahaan Swedia yang bergerak di bidang pertahanan dan keamanan, termasuk pembuatan pesawat tempur/militer. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1937. Antara tahun 1947 s/d 1990 pernah juga memproduksi mobil sebagai spin-off nya. Pernah merger dengan perusahaan Scania-Vabis (produsen kendaraan komersial) membentuk SAAB-Scania pada tahun 1968 s/d 1995. Bisnis utama SAAB saat ini mencakup pembuatan pesawat terbang (terutama pesawat militer), sistem sensor, komponen/peralatan elektronik untuk kepentingan militer, simulasi dan training, sistem persenjataan, sistem keamanan, pengendalian lalu lintas penerbangan, kendaraan selam, dan lain-lain.

Pertemuan Delegasi Ristek (Mulyanto, Benyamin Lakitan, Shidki Wahab, Malikuz Zahar, dan Vemmie D. Koswara) didampingi staf Kedubes RI Stockholm (Agustin Arijanti) dengan pihak SAAB dilakukan pada tanggal 30 Oktober 2013, jam 10.00 s/d 11.30 bertempat di Kantor SAAB di Bromma. Pihak SAAB diwakili oleh oleh Orjan Borgefalk (Vice President, Industrial Cooperation for Market Area Asia Pacific) dan Jan Thornqvist (Manager, Head of National Security, Business Area Security and Defence Solutions).

SONY DSC
Orjan Borgefalk (kiri) dan Jan Thornqvist (kanan)

Beberapa informasi yang menarik antara lain:

[1] Kegiatan litbang secara simultan terus dilakukan selama proses pengembangan produk, dimulai pada tahan identifikasi kebutuhan produk (define), proses spesifikasi (specify), pengembangan (develop), produksi (maintain), dan penghentian produksi (phase-out). Berdasarkan kebutuhan produk dimunculkan berbagai ide/gagasan dengan hal-hal yang dibutuhkan untuk merealisasikannya, kemudian dilakukan seleksi terhadap gagasan-gagasan tersebut. Pada proses seleksi ini dilakukan diskusi dengan para pengguna potensialnya sehingga spesifikasi produk yang akan dekembangkan menjadi lebih jelas. Baru dilakukan kegiatan produksi, pemasaran, dan penjualan. Tahap phasing-out dilakukan jikan permintaan pasar terhadap produk tersebut telah menurun dan secara komersial sudah sulit untuk dipertahankan;

SAAB R&D Funnel

[2] Untuk menjaga agar produk yang dihasilkan tetap kompetitif, maka proporsi anggaran yang dialokasikan oleh SAAB untuk kegiatan R&D mencapai lebih dari 20% dari pendapatan dari penjualan produk dan kecenderungannya terus meningkat. Misalnya pada tahun 2010 baru 20%, 2011 naik menjadi 22%, dan pada 2012 menjadi 25%;

[3] Fokus dan strategi SAAB terkait R&D adalah dengan (a) kegiatan R&D dilakukan dengan berkolaborasi erat dengan (calon) pembeli/pengguna, (b) mendirikan pusat-pusat R&D di berbagai wilayah (mendekatkan diri pada pengguna potensial), (c) bekerjasama dengan perguruan tinggi, (d) mengembangkan program-program inovasi, dan (e) membentuk SAAB Venture untuk spin-in dan spin-out produk;

[4] SAAB Venture merupakan platform untuk percepatan pengembangan produk melalui: (a) investasi pada perusahaan kecil yang berpotensi untuk menjadi bisnis masa depan (spin-in), (b) pembuatan anak perusahaan baru untuk pengembangan produk yang bukan menjadi bisnis utama SAAB tetapi punya potensi komesial tinggi (spin-out), (c) membuat inkubator untuk mewadahi ide-ide inovatif dari internal SAAB, dan (d) investasi dalam bentuk Venture Capital di pasar (negara/wilayah) yang menjadi target; dan

[5] SAAB telah menjanjikan untuk memberikan beasiswa kepada Indonesia untuk pendidikan S2 sebanyak 200 orang. Saat ini sedang dimatangkan proses seleksinya. Bidang studi yang dipilih tidak harus sejalan dengan ruang lingkup bisnis SAAB.

Pelajaran bagi Indonesia: [1] Keberhasilan mewujudkan inovasi tidak dapat hanya terbatas pada penelitian untuk menghasilkan ide, gagasan, teori, prototipe, model, atau produk-antara lainnya, karena R&D tetap dibutuhkan selama proses pengembangan produk malah sampai tahap phasing-out produk komesial yang telah dihasilkan; [2] Untuk berhasil, dunia usaha perlu berkolaborasi erat dengan perguruan tinggi untuk teknis pengembangan produk dan sekaligus berkolaborasi erat dengan (calon) pengguna potensial produk yang akan dikembangkan. Pemahaman ini merupakan justifikasi bahwa dunia usaha berada pada posisi sentral dan strategis dalam mewujudkan sistem inovasi.

Catatan: tawaran beasiswa SAAB perlu direspon secara positif, segera, dan cerdas agar dapat menghasilkan sumberdaya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan dengan kebutuhan Indonesia, bukan sekedar menambah angka statistik penduduk Indonesia yang bergelar S2 saja.

(Naskah dan Foto oleh Benyamin Lakitan)

Working Visit 04: Swedish National Museum of Science & Technology


Museum ilmu pengetahuan dan teknologi Swedia ini didirikan tahun 1924 oleh the Royal Swedish Academy of Engineering Sciences bersama-sama dengan beberapa lembaga lainnya. Bangunan yang ada pada saat ini merupakan hasil rancangan arsitek Ragner Hjorth dengan gaya fungsionalistik. Dibuka untuk publik pada tahun 1936, dikelola oleh yayasan mulai pada tahun 1947, tetapi kemudian sejak 1946 pengelolaan dan pemeliharaannya dibiayai oleh pemerintah.

Nama Museum Iptek ini dalam bahasa Swedia adalah Tekniska Museet. Museum teknologi ini difungsikan sebagai aktualisasi dari upaya preservasi terhadap warisan sejarah teknologi dan industri Swedia. Luas total ruang pajang (galeri) pada museum ini mencapai sekitar 10.000 m2 untuk menampung sekitar 50.000 barang atau artefak teknologi, 600 meter rak buku untuk menampung 50.000 buku atau dokumen, plus sekitar 200.000 lembar gambar, dan 620.000 foto. Museum ini dikunjungi sekitar 170.000 pengunjung per tahun.

Kunjungan ke museum ini dilakukan pada hari Selasa 29 Oktober 2013. Beberapa hal yang menarik berdasarkan observasi pada saat kunjungan adalah:

[1] Mayoritas pengunjung adalah anak-anak usia sekolah dasar yang ditemani oleh orang tua atau datang berkelompok sesama anak usia SD tersebut, mengindikasikan bahwa ketertarikan pada ilmu pengetahuan dan teknologi telah tumbuh sejak usia dini;

[2] Walaupun untuk menikmati dan mengamati dari dekat benda atau artefak yang dipamerkan ini dikenakan biaya masuk, namun tidak secara ketat dibatasi bahwa yang dapat masuk ke dalam museum adalah pengunjung yang telah mempunyai tiket masuk (lokasi pembelian tiketnya sendiri sudah berada di dalam gedung). Kesannya pembelian tiket tersebut lebih diposisikan sebagai ‘donasi’ untuk meringankan pembiayaan dari pemerintah, tetapi tidak untuk membatasi hasrat pengunjung untuk mengakrabi iptek. Pengunjung yang membeli tiket ditandai dengan penempelan stiker kertas bulat berwarna tanpa tulisan atau tanda lain pada stiker tersebut;

[3] Sebagian besar benda yang dipamerkan boleh disentuh kecuali hanya beberapa yang diberi pembatas agar tidak tersentuh oleh pengunjung. Kesannya agar pengunjung bisa betul-betul mengoptimalkan keakrabannya dengan iptek;

[4] Sebagian besar benda yang dipamerkan adalah alat, instrumen, atau mesin yang memang dimanfaatkan dalam kehidupan nyata bukan alat peraga untuk memudahkan konsep pemahaman tentang teori atau fenomena tertentu, terutama yang inventornya adalah bangsa Swedia; dan

[5] Di dalam museum disediakan juga ruangan untuk orangtua/guru dan anak atau sesama anak untuk mendiskusikan apa yang dilihatnya.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Catatan: Bagus juga jika PP Iptek mengumpulkan hasil inovasi akar-rumput (grassroots innovations) di seluruh penjuru tanah air, walaupun berupa alat atau mesin sederhana, tetapi semua adalah hasil inovasi bangsa sendiri dan mungkin dapat mengilhami para perekayasa untuk mengembangkannya menjadi alat dan mesin yang lebih modern (lebih handal, lebih efisien). Yang pasti setiap inovasi akar-rumput tersebut sudah terbukti ada kebutuhan masyarakat untuk itu sehingga pasti berguna, hanya saja harus disesuaikan juga dengan kapasitas absorpsi dari masyarakat sebagai pengguna potensialnya.

(Naskah oleh Benyamin Lakitan; Foto oleh Benyamin Lakitan dan Mulyanto)

Working Visit 03: Kungliga Tekniska Hogskolan (KTH)


Padanan nama untuk Kungliga Tekniska Hogskolan (KTH) dalam bahasa Inggeris adalah Royal Institute of Technology. Kampus utama KTH berlokasi di Stockholm dan merupakan perguruan tinggi terbesar, tertua (didirikan tahun 1827), dan paling dikenal di dunia internasional yang ada di Swedia. Paling kurang 1/3 kegiatan riset dan pendidikan teknik pada tingkat universitas di Swedia diselenggarakan oleh KTH. Program pendidikan mencakup S1, S2, dan S3 dalam berbagai cabang ilmu teknik, termasuk arsitektur, manajemen industri, dan perencanaan perkotaan. Jumlah mahasiswa S1 mencapai lebih dari 12.500 mahasiswa, sedangkan untuk mahasiswa pasca sarjana mencapai lebih dari 1.800 mahasiswa.

Pertemuan Delegasi Ristek (Mulyanto, Benyamin Lakitan, Shidki Wahab, Malikuz Zahar, dan Vemmie D. Koswara) plus pejabat/staf Kedubes RI Stockholm (Iskandar Hadrianto dan Agustin Arijanti) dengan pihak KTH dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2013, jam 13.30 s/d 15.00 bertempat di Kampus KTH, Stockholm.

Beberapa informasi yang menarik diperoleh melalui presentasi yang disampaikan oleh Prof Ramon Wyss (Vice President of KTH for International Affairs) dan Prof Peter Goransson (Aeronautical and Vehicle Engineering) antara lain:

SONY DSC Prof Ramon Wyss (kiri) dan Prof Peter Goransson (kanan)

[1] Total anggaran riset dan pengembangan yang dikelola KTH mencapai 410 juta Euro dan hanya separuhnya yang berasal dari anggaran pemerintah, separuhnya lagi berasal dari sumber non-pemerintah yang didapatkan melalui proses yang kompetitif;

[2] Riset yang dilakukan di KTH bukan hanya untuk pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga riset untuk kepentingan industri (industrial-oriented research);

[3] KTH menjalin kerjasama dengan industri untuk peningkatan kualitas SDM industri sekaligus melaksanakan kerjasama penelitian melalui program S3 (Ph.D) yang khusus dirancang untuk ini. Industri mengirim staf untuk mengikuti pendidikan S3 dan mengusulkan topik riset untuk disertasinya dengan biaya penuh dari industri baik untuk proses pendidikan maupun pelaksanaan risetnya. Namun demikian, standar akademik tetap dipegang penuh oleh pihak KTH sesuai jenjang pendidikan yang ditempuh;

[4] Struktur organisasi KTH bersifat dinamis dan responsif terhadap kebutuhan, sekarang terdapat 10 fakultas, termasuk penambahan baru (atau pengembangan dari struktur sebelumnya) fakultas biotechnology (lebih fokus pada bioteknologi terkait kesehatan), pendidikan dan komunikasi untuk ilmu-ilmu perekayasaan (education and communication in engineering sciences) terutama dikaitkan untuk peningkatan pemahaman publik tentang ‘sustainability’, serta perekayasaan dan manajemen industrial (industrial engineering and management);

[5] Walaupun penduduk tumbuh, kesejahteraan masyarakat meningkat, dan aktivitas industri meningkat; namun konsumsi energi Swedia relatif stabil, malah emisi CO2 menurun, karena sumber energi yang lebih banyak digunakan adalah energi listrik yang dibangkitkan melalui energi air dan nuklir.

Pelajaran bagi Indonesia: [1] Perguruan tinggi perlu merancang kerjasama yang bersifat mutualistik (bukan sekedar seremonial) dengan industri melalui kegiatan riset yang berorientasi pada pengembangan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan atau dapat menjadi solusi bagi permasalahan teknis yang dihadapi oleh industri. Dengan demikian, maka kontribusi industri dalam pembiayaan penelitian dan pengembangan diharapkan dapat meningkat, sehingga ketergantungan pada pemerintah sebagai penyedia anggaran penelitian akan berkurang; [2] Struktur organisasi dan kurikulum pendidikan tinggi perlu bersifat dinamis menyesuaikan dengan realita kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi Indonesia. Setelah peran perguruan tinggi nyata dirasakan kontribusinya terhadap pembangunan nasional dan dalam menyelesaikan persoalan bangsa, seharusnya baru dicanangkan upaya ‘menuju world class university‘ yang sekarang latah dilakukan oleh banyak perguruan tinggi di Indonesia, baik PTN maupun PTS.

SONY DSC

(Naskah oleh Benyamin Lakitan; Foto oleh Benyamin Lakitan dan Agustin Arijanti)

Working Visit 02: VINNOVA – Swedish Government Institution for Innovation Systems


Vinnova adalah badan pemerintah Swedia yang mengurusi sistem inovasi yang mempunyai misi untuk mempromosikan pertumbuhan yang berkelanjutan melalui perbaikan kondisi untuk mendorong tumbuh-kembang inovasi dan sekaligus membiayai riset yang sesuai kebutuhan (needs-driven research). Visi Vinnova adalah menjadikan Swedia sebagai negara terkemuka dalam penelitian dan inovasi, serta menjadi tempat yang menarik untuk berinvestasi dan melakukan kegiatan bisnis.

Vinnova mendorong dan memfasilitasi kolaborasi antara badan usaha, universitas, lembaga riset, dan sektor publik (pemerintah) melalui stimulasi agar hasil riset dimanfaatkan, mendukung pembiayaan penelitian jangka panjang yang prospektif serta menyiapkan ‘ruang’ pertemuan antara para pihak yang terkait inovasi, termasul kerjasama internasional.

Setiap tahun Vinnova ikut terlibat membiayai berbagai inisiatif dengan nilai investasi sekitar 2 milyar SEK, dengan catatan bahwa aktor lain yang terlibat juga ikut membiayai minimal sebesar dukungan pembiayaan yang dialokasikan oleh Vinnova. Pengambilan keputusan untuk ikut membiayai diputuskan oleh panel pakar nasional dan internasional. Terhadap setiap kegiatan yang dibiayai dilakukan pemantauan selama kegiatan berjalan (ongoing monitoring) dan evaluasi terhadap hasil kegiatan. Vinnova secara reguler melakukan analisis dampak dari setiap kegiatan yang dilakukan atau ikut dibiayai oleh Vinnova.

Secara organisasi, Vinnova didirikan pada bulan January 2001, berada di bawah Ministry of Enterprise, Energy and Communications, memperkerjakan sekitar 200 staf yang dipimpin oleh Charlotte Brogren sebagai direktur jeneral-nya.

Pertemuan Delegasi Ristek (Mulyanto, Benyamin Lakitan, Shidki Wahab, Malikuz Zahar, dan Vemmie D. Koswara) plus pejabat/staf Kedubes RI Stockholm (Iskandar Hadrianto dan Agustin Arijanti) dengan pihak Vinnova dilakukan pada tanggal 28 Oktober 2013, jam 13.00 s/d 14.00 bertempat di Kantor Vinnova, Stockholm. Pihak Vinnova diwakili oleg Dr. Yoakim Appelquist (Direktur Kerjasama dan Jaringan Internasional). Ada beberapa isu penting yang disampaikan oleh Dr. Applequist, diantaranya adalah:

[1] Walaupun telah diakui dunia bahwa Swedia merupakan salah satu negara yang paling inovatif, namun pihak Vinnova mencermati bahwa pada tahun-tahun terakhir terasa bahwa walaupun dari sisi input (pembiayaan, SDM, fasilitas) untuk inovasi sangat baik, namun dari sisi outcomes dirasakan biasa-biasa saja (average). Untuk menjaga agar Swedia tetap kompetitif secara global maka banyak hal yang perlu terus diperbaiki dan ditingkatkan;

[2] Kendala yang mendapat perhatian dalam rangka meningkatkan kinerja inovasi Swedia antara lain adalah (a) ketergantungan yang tinggi pada hanya beberapa perusahaan multi-nasional (MNC), (b) pertumbuhan usaka kecil dan menengah (SME) yang dirasakan lamban, (c) Public sector lock-in, (d) Risk aversion, (e) short termism lean organization, dan (f) ketidakseimbangan antara pengetahuan yang dikembangkan dengan komersialisasi;

[3] Memahami kendala tersebut (butir 2), maka Vinnova merasa perlu melakukan upaya untuk antara lain meningkatkan dampak dari kegiatan dan hasil riset, serta lebih fokus pada permintaan ‘pasar’ di masa yang akan datang dan tidak terpaku pada pengembangan bidang-bidang yang dianggap sebagai prioritas pada saat ini;

[4] Keterbatasan anggaran yang dikelola oleh Vinnova menyebabkan lembaga ini secara cerdas mengembangkan program yang memberikan ‘Halo Effect’, yakni dengan memberikan dukungan pembiayaan yang tidak signifikan tetapi dapat mendongkrak reputasi lembaga yang dipilih Vinnova tersebut untuk mendapatkan sumber pembiayaan lain yang dilebih besar, sehingga kegiatan yang diberi stimulasi oleh Vinnova dapat memberikan dampak yang lebih besar.

Pelajaran bagi Indonesia: [1] Pemerintah melalui semua kementerian dan lembaga yang melakukan atau membiayai kegiatan penelitian dan pengembangan, perlu mendorong dan mengawal agar kegiatan riset yang didanai dari APBN (sebagian dari dana ini bersumber dari pajak masyarakat) fokus pada kegiatan riset untuk menghasilkan teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat, tidak hanya sebagai academic exercises; [2] Dana pemerintah untuk riset hanya diberikan jika ada dana yang sebanding atau lebih besar (matching grant) dari dunia usaha atau masyarakat untuk mendukung kegiatan riset yang sama; dan [3] Pemerintah perlu membangun wibawa agar dukungan pembiayaan kepada institusi pelaksana kegiatan riset lebih dilihat sebagai ‘pengakuan’ pemerintah atas kelayakan dan kredibilitas institusi yang bersangkutan, sehingga institusi yang bersangkutan dapat memperoleh sumber pembiayaan non-pemerintah dari berbagai mitra kerjanya (‘Halo Effect’).

Catatan: Fenomena ‘Halo Effect’ ini sudah dirasakan oleh beberapa pusat unggulan yang ditetapkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi. Walaupun alokasi dana dari Kementerian Riset dan Teknologi tidak terlalu besar, namun dengan penetapan sebagai pusat unggulan tersebut maka institusi yang bersangkutan mampu menjalin kerjasama dengan berbagai pihak dan mendapat dukungan pembiayaan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan dana yang dikucurkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi tersebut.

(Naskah oleh Benyamin Lakitan; Foto oleh Malikuz Zahar)

%d blogger menyukai ini: