Benyamin Lakitan

Beranda » Photography » Architecture

Category Archives: Architecture

Indonesia 157: Masjid Andalusia, Sentul, Jawa Barat


Masjid ini berada dalam lingkungan Andalusia Islamic Center, Kawasan Perumahan Sentul City, Bogor, Jawa Barat. Selain untuk kegiatan ibadah sholat, juga menyediakan ruang pertemuan yang dapat digunakan untuk berbagai kepentingan masyarakat, termasuk untuk tempat resepsi pernikahan bagi pemeluk agama Islam. Di lingkungan ini juga ada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Tazkia. Lapangan parkir juga tersedia cukup luas.

Menara dan kubah serta interior masjid ini didominasi warna biru, dengan gaya arsitektur modern. Ornamen bangunan masjid ini didominasi dengan berbagai variasi bentuk-bentuk geometris.

Masjid Andalusia Sentul 1

Masjid Andalusia Sentul 2

Masjid Andalusia Sentul 3

Masjid Andalusia Sentul 4

Masjid Andalusia Sentul 5

Indonesia 146: Masjid Agung Sumbawa Besar


Mesjid Agung Nurul Huda yang berlokasi di pusat Kota Sumbawa Besar, bersebelahan dengan Istana Kesultanan Sumbawa. Masjid ini sebelumnya dikenal juga sebagai masjid jami’ atau ada juga masyarakat yang menyebutnya sebagai masjid makam, karena di halaman masjid ini ada beberapa makam keluarga Kesultanan Sumbawa. Masjid ini dibangun pada tahun 1886 dan telah direnovasi beberapa kali. Sekarang masjid ini statusnya tidak lagi merupakan masjid istana tetapi telah dikelola oleh masyarakat.

Masjid Sumbawa Besar 1

Masjid Sumbawa Besar 2

Masjid Sumbawa Besar 3

Masjid Sumbawa Besar 4

Masjid Sumbawa Besar 5

Indonesia 145: Istana Dalam Loka, Sumbawa Besar


Istana Kesultanan Sumbawa ini dikenal juga sebagai Istana Dalam Loka, berada di pusat Kota Sumbawa Besar. Istana ini dibangun pada tahun 1885 dengan menggunakan bahan kayu, tetapi masih awet sampai sekarang, berbentuk rumah panggung dengan luas sekitar 900 meter persegi, yang ditopang oleh 99 tiang. Pada awalnya istana ini merupakan tempat kediaman sultan, namun sekarang telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Istana Sumbawa Besar 1

Istana Sumbawa Besar 2

Istana Sumbawa Besar 3

Istana Sumbawa Besar 4

Istana Sumbawa Besar 5

Indonesia 141: Asi Mbojo, Bima


Pada awal abad ke 17, masyarakat Bima masih memeluk agama Hindu. Kemudian setelah Raja Bima XXVII menikah dengan adik dari isteri Sultan Makassar Alauddin bernama Daeng Sikontu, ia memeluk agama Islam pada tahun 1640. Setelah memeluk agama Islam, ia diberi gelar Sultan, dan sejarah mencatatnya sebagai Sultan Bima I atau dikenal juga sebagai Sultan Abdul Kahir. Sejak itu, ajaran agama Islam menyebar luas di Bima dan sekarang menjadi agama mayoritas yang dianut masyarakat Bima.

Jejak perkembangan peradaban Islam di Bima terlihat dari keberadaan masjid di lingkungan istana Kesultanan Bima yang dibangun oleh Sultan Abdul Kadim Muhammad Syah, Sultan Bima VII pada tahun 1737. Masjid ini masih ada sampai sekarang, walaupun mungkin dengan berjalannya waktu masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Sekarang masjid ini dikenal sebagai Masjid Sultan Muhammad Salahuddin.

Istana Kesultanan Bima juga disebut Asi Mbojo, yang dalam bahasa lokal berarti tempat keluarnya sesuatu, yakni berupa hukum pemerintahan aturan-aturan dalam bermasyarakat dan sebagainya, semuanya terpusat di dalam Asi, bisa dikatakan istana sebagai pusat pemeritahan, sedangkan Mbojo adalah nama suku yang ada di Bima.

Istana ini sekarang sudah berubah fungsi menjadi museum, yang dulunya sempat tidak terwat, dan diambil alih oleh pemerintah pada tahun 1986 Bupati Bima H. Umar Harun, kemudian dijadikan museum, peninggalan kesultanan bima dapat dilihat juga di Istana, beberapa koleksi kesultanan Bima, yaitu mahkota emas Sultan, Keris Sultan, dan lain-lain.

Salah satu jejak peradaban Islam di Bima adalah Masjid Kesultanan Bima yang terletak di pusat Kota Bima. Masjid berusia tiga abad yang masih berdiri kokoh di tepi alun-alun kota, yang disebut warga setempat sebagai Lapangan Sera Suba, itu Pembangunan selanjutnya dilakukan oleh putranya, Sultan Abdul Hamid, yang mengubah bentuk atap rumah ibadah itu menjadi atap bersusun tiga, mirip atap Masjid Menara Kudus di Jawa Tengah.

Asi Mbojo 1

Asi Mbojo 2

Asi Mbojo 4

Asi Mbojo 5

Asi Mbojo 6

Indonesia 126: Masjid At Taqwa Balikpapan


Masjid At Taqwa ini dibangun tahun 1922 M, berlokasi di pusat kota Balikpapan. Posisinya berdekatan dengan pasar Klandasan dan kegiatan bisnis lainnya, serta juga dekat dengan kantor pemerintahan, termasuk Kantor Walikota dan Gedung DPRD Kota Balikpapan.

Masjid ini terdiri dari 3 lantai, dimana lantai dasar dipergunakan untuk berbagai acara keagamaan; sedangkan lantai 1 dan 2 digunakan untuk melaksanakan sholat berjamaah. Masjid ini menjadi pusat kegiatan keislaman di Balikpapan. Sebagaimana umumnya arsitektur masjid di Indonesia, masjid ini memiliki sebuah kubah besar di bagian tengahnya. Ada 4 bangunan menara di keempat sisi bangunan utama masjid ini.

Foto-foto ini diambil pada malam hari dengan menggunakan ISO tinggi karena tidak menggunakan tripod.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Indonesia 125: Terminal Baru Bandara Balikpapan


Gedung terminal baru Bandara Sepinggan Balikpapan resmi dioperasikan pada hari Sabtu tanggal 22 Maret 2014. Bandara berkonsep futuristik dikombinasikan dengan interior bernuansa etnik Kalimantan ini dilengkapi sarana pengamanan transportasi udara kelas dunia. Total luas bangunan adalah 17 ribu meter persegi dan ditaksir mampu menampung 10 juta penumpang setahun.

Bandara ini pada awalnya dibangun pada masa sebelum kemerdekaan dan telah beberapa kali direnovasi dan diperluas. Saat ini, fisik terminal Bandara Sepinggan telah mengalami peningkatan hingga delapan kali lipat dibandingkan ukuran sebelumnya. Lokasi kawasan bandara diperuntukan bagi prasarana seperti area parkir, menara pemantau, penambahan garbarata yang sekarang mencapai 11 unit, dan juga airport boutique mall seluas 20 ribu meter persegi.

Bandara ini diberi nama Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, tetapi tetap lebih populer dikenal sebagai Bandara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Indonesia 112: Pembuatan Kapal Kampong Bugis, Gantong, Beltim


Komunitas Bugis merantau hampir ke seluruh pelosok nusantara dan sebagian besar membangun komunitas nelayan yang unggul. Dalam komunitas ini bukan cuma dibekali dengan kemampuan menangkap ikan di laut, tetapi juga dibekali kemampuan untuk membuat kapal kayu yang digunakan untuk menangkap ikan, seperti yang terlihat di Kampung Bugis, Desa Lenggang, Kecamatan Gantong, Kabupaten Belitung Timur.

Pembuatan kapal oleh masyarakat Bugis asal Bone di Belitung dilakukan dengan peralatan sederhana dan tidak dilakukan pada suatu galangan kapal khusus. Kapal dibangun di lahan sempit di antara rumah tinggal, yang penting dekat dengan air untuk akses peluncurannya ke laut. Menurut informasi dari salah seorang pembuat kapal, sebuah kapal dapat diselesaikan dalam waktu 3 bulan jika semua bahan yang dibutuhkan dan kucuran dana pembiayaan lancar, serta tenaga kerja (umumnya dari kalangan keluarga sendiri) tersedia.

Jenis kayu yang digunakan dan menjadi preferensi pembuat kapal adalah kayu seru, karena sifat kayunya yang relatif lentur dan ‘kenyal’, sehingga mudah mengikuti bentuk desain badan kapal yang banyak mengikuti garis lengkung.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

%d blogger menyukai ini: