Benyamin Lakitan

Beranda » Photography » Culture

Category Archives: Culture

Indonesia 156: Oriental Circus Indonesia


Oriental Circus Taman Safari Indonesia sedang mengadakan pertunjukan di Balikpapan, di bulan Desember 2014. Lumayan ramai penontonnya, karena bertepatan waktu dengan libur akhir tahun. Materi pertunjukan relatif beragam, tapi tidak ada yang terlalu spektakuler. Ada badut, ada akrobat, dan ada pertunjukan hewan mulai dari burung, simpanse, harimau, singa, dan gajah. Ada juga tarian api (fire dance) dan trapeze.

Oriental Circus @ Balikpapan 01

Oriental Circus @ Balikpapan 02

Oriental Circus @ Balikpapan 03

Oriental Circus @ Balikpapan 04

Oriental Circus @ Balikpapan 05

Oriental Circus @ Balikpapan 06

Oriental Circus @ Balikpapan 07

Oriental Circus @ Balikpapan 08

Iklan

Indonesia 148: Tarian Tradisional Kalimantan Tengah


Sepertinya tarian tradisional Kalimantan Tengah berakar pada tradisi dan budaya Dayak, seperti yang terkesan dari tarian yang ditampilkan pada acara Launching Konservasi Katingan untuk Borneo yang diselenggarakan di Kasongan, 28 November 2014.

Tarian ini bersifat dinamis. Kostum yang digunakan oleh penari pria banyak menggunakan bahan alami (misalnya kulit kayu) dengan asesori tanduk, taring, dan tulang hewan lokal serta bulu burung setempat. Badan penari pria juga dipenuhi tattoo khas dayak, walaupun nampaknya bukan tattoo permanen. Kostum penari wanita didominasi warna merah menyala dan hijau, juga dilengkapi dengan asesori bulu burung walaupun hanya sedikit.

Tari Kalteng 1

Tari Kalteng 2

Tari Kalteng 3

Tari Kalteng 4

Tari Kalteng 5

Indonesia 147: Bukit Tangkiling, Kalimantan Tengah


Bukit Tangkiling terletak tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan Kota Palangka Raya dengan Kasongan (ibukota Kabupaten Katingan), Kalimantan Tengah. Jarak dari pusat Kota Palangka Raya kurang lebih 34 Km, atau dapat ditempuh kurang dari 30 menit.

Bukit Tangkiling merupakan bukit batu. Banyak batu berukuran besar (boulder) yang terdapat di lokasi ini. Salah satunya adalah Batu Banama yang berbetuk seperti perahu besar. Ada legenda yang dikaitkan dengan Batu Banama ini. Dalam kisah legenda tersebut, dahulu batu itu memang merupakan sebuah perahu, yang karena melakukan pelanggaran maka dikutuk menjadi batu.

Di lokasi ini juga terdapat banyak tempat bagi masyarakat untuk memberikan sesajian, berbentuk miniatur rumah, dan disebut oleh masyarakat lokal sebagai keramat. Selain itu, di punggung bukit ini juga telah dibangun sebuah pura yang dinamakan Pura Sali Paseban, dibangun tahun 2007.

Bukit ini sesungguhnya tidak terlalu tinggi, tetapi lumayan terjal untuk didaki.

Bukit Tangkiling 1 - Batu Banama

Bukit Tangkiling 2 - Keramat

Bukit Tangkiling 3 - Pura Sali Paseban

Bukit Tangkiling 4 - Rute Pendakian

Bukit Tangkiling 5 - Penjaga Bukit

Bukit Tangkiling 6 - Pemandangan dari Atas Bukit

Indonesia 146: Masjid Agung Sumbawa Besar


Mesjid Agung Nurul Huda yang berlokasi di pusat Kota Sumbawa Besar, bersebelahan dengan Istana Kesultanan Sumbawa. Masjid ini sebelumnya dikenal juga sebagai masjid jami’ atau ada juga masyarakat yang menyebutnya sebagai masjid makam, karena di halaman masjid ini ada beberapa makam keluarga Kesultanan Sumbawa. Masjid ini dibangun pada tahun 1886 dan telah direnovasi beberapa kali. Sekarang masjid ini statusnya tidak lagi merupakan masjid istana tetapi telah dikelola oleh masyarakat.

Masjid Sumbawa Besar 1

Masjid Sumbawa Besar 2

Masjid Sumbawa Besar 3

Masjid Sumbawa Besar 4

Masjid Sumbawa Besar 5

Indonesia 145: Istana Dalam Loka, Sumbawa Besar


Istana Kesultanan Sumbawa ini dikenal juga sebagai Istana Dalam Loka, berada di pusat Kota Sumbawa Besar. Istana ini dibangun pada tahun 1885 dengan menggunakan bahan kayu, tetapi masih awet sampai sekarang, berbentuk rumah panggung dengan luas sekitar 900 meter persegi, yang ditopang oleh 99 tiang. Pada awalnya istana ini merupakan tempat kediaman sultan, namun sekarang telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Istana Sumbawa Besar 1

Istana Sumbawa Besar 2

Istana Sumbawa Besar 3

Istana Sumbawa Besar 4

Istana Sumbawa Besar 5

Indonesia 144: Kampung Nelayan Pulau Bungin, Sumbawa


Pulau Bungin merupakan kampung/desa nelayan di Kecamatan Alas, sekitar 2 jam perjalanan darat dari Kota Sumbawa Besar. Pulau Bungin memang adalah pulau kecil yang berada di laut dangkal yang tidak jauh dari garis pantai sebelah utara Pulau Sumbawa. Seluruh wilayah ‘daratan’ pulau ini sudah dibangun rumah, malah rumah tersebut telah melampaui garis pantai semula yang mengelilingi pulau kecil ini. Lahan terbuka yang agak luas di Pulau Bungin adalah halaman Masjid atau sekolah. Saat ini sudah ada jalan akses dari daratan Sumbawa ke Pulau Bungin, dibangun dengan menguruk laut dangkal hanya selebar badan jalan.

Pemukiman di pulai ini sangat padat. Total jumlah penduduk sekitar 3.400 jiwa, menempati kawasan yang luasnya hanya sekitar 8,5 hektar, sehingga sering disebut sebagai kawasan dengan penduduk terpadat di dunia. Karena penduduknya terus tumbuh, sedangkan seluruh lahan sudah dibangun rumah, maka setiap keluarga baru yang akan membangun rumah harus mereklamasi laut dangkal di sekitar pulau, yakni menguruk laut tersebut dengan batu karang yang sudah mati. Masih sering dijumpai juga beberapa keluarga dari kerabat dekat terpaksa hidup dalam satu rumah.

Masyarakat Bungin mayoritas keturunan Suku Bajo yang bekerja sebagai nelayan, menangkap ikan dengan cara memanah langsung ikan hidup di laut, menangkap lobster, atau teripang. Masyarakat nelayan disini membuat sendiri perahunya untuk melaut menangkap ikan.

Pulau Bungin Sumbawa 1

Pulau Bungin Sumbawa 2

Pulau Bungin Sumbawa 3

Pulau Bungin Sumbawa 4

Pulau Bungin Sumbawa 5

Pulau Bungin Sumbawa 6

Indonesia 143: ‘Benhur’ sebagai Sarana Transportasi Rakyat di Bima


Delman di Bima dikenal sebagai ‘benhur’, bentuknya berbeda dengan delman di Jakarta atau di Pulau Jawa pada umumnya. Benhur lebih sederhana desainnya dan menggunakan roda dari ban mobil ukuran kecil dengan rangka badannya dari kayu. Sebutan benhur biasanya hanya untuk delman yang didesain untuk angkutan manusia dan di beri atap untuk melindungi penumpang dari panas dan hujan; sedangkan jenis yang khusus digunakan untuk angkutan barang disebut sebagai ‘gerobak’ yang badannya hanya berupa bak dari kayu tanpa atap.

Sampai saat ini (2014) benhur dan gerobak ini masih menjadi sarana transportasi orang dan barang yang utama di Kota Bima. Pilihan sarana transportasi ini terkait dengan banyaknya kuda yang dapat dimanfaatkan sebagai hewan penarik, biaya pembuatannya tidak rumit dan relatif tidak mahal, dan biaya operasionalnya murah karena tidak menggunakan bahan bakar minyak (BBM), sehingga ongkos yang dibebankan kepada penumpang juga relatif murah dan terjangkau oleh masyarakat. Keuntungan lain adalah lebih akrab lingkungan karena tidak menghasilkan polusi udara. Walaupun demikian, kotoran kuda akan sering terlihat di jalan raya yang dilalui benhur.

Benhur Bima 1

Benhur Bima 2

Benhur Bima 3

Benhur Bima 4

Benhur Bima 5

%d blogger menyukai ini: