Benyamin Lakitan

Beranda » Photography » Flora & Fauna

Category Archives: Flora & Fauna

Indonesia 155: Hutan Mangrove Margomulyo, Balikpapan


Hutan mangrove Margomulyo ini berada dalam wilayah Kota Balikpapan, sehingga mudah untuk dikunjungi. Wilayah ini merupakan wilayah konservasi untuk melestarikan ekosistem hutan bakau tropis dengan segala spesies flora dan fauna yang terdapat didalamnya. Wilayah hutan mangrove ini belum sepenuhnya terbuka untuk publik, sehingga jika akan memasuki hutan ini perlu melapor kepada petugas penjaga pintu masuk ke kawasan konservasi ini. Sebetulnya belum ada tarif resmi bagi pengunjung, tetapi sepatutnya pengunjung memberikan kontribusinya baik dengan cara tidak merusak atau mencemari ekosistem ini dengan tidak membuang sampah plastik atau sampah yang sulit terurai secara alami. Jika ikhlas, dapat juga memberikan kontribusi berupa sumbangan semampunya untuk pemeliharaan kawasan ini.

Pada saat kami berkunjung, kami bisa melihat ada beberapa monyet bekantan (Nasalis larvatus) di kawasan konservasi ini.

Mangrove Balikpapan 1

Mangrove Balikpapan 2

Mangrove Balikpapan 3

Mangrove Balikpapan 4

Mangrove Balikpapan 5

Mangrove Balikpapan 6

Mangrove Balikpapan 7

Mangrove Balikpapan 8

Indonesia 152: Penangkaran Buaya di Teritip, Balikpapan


Nama resmi lokasi wisata ini adalah Taman Satwa dan Budaya Teritip, berada tidak jauh dari Kota Balikpapan, merupakan salah satu tempat rekreasi/wisata yang cukup ramai dikunjungi terutama pada hari libur. Memang disini ada beberapa satwa lain yang bisa dilihat dan ada fasilitas untuk pertunjukan budaya dengan arsitektur bangunan khas kalimantan. Namun atraksi utamanya adalah penangkaran buaya. Ada jenis buaya muara dan ada juga dua spesies buaya yang terancam punah, yakni buaya air tawar dan buaya supit. Penangkaran ini beroperasi sejak tahun 1991 dan beroperasi di atas lahan seluas 5 ha.

Memberi makan buaya-buaya merupakan atraksi yang menarik, selain ada juga dua ekor gajah yang sudah dilatih. Gajah ini berasal dari Lampung. Di lokasi ini, ada juga dijual sate buaya, jika anda ingin mencobanya.

Terbuka untuk publik setiap hari antara jam 8.00 pagi hingga 5.00 sore. Harga tiket (Desember 2014) adalah Rp 15.000 per penmgunjung.

Teritip 2

Teritip 3

Teritip 4

Teritip 5

Teritip 6

Indonesia 151: Budidaya Kepiting Soka di Tarakan


Tarakan terkenal dengan kepiting soka. Kepiting soka banyak disukai karena cangkangnya lunak dan dapat dimakan, sehingga tidak perlu repot untuk memecah cangkang kepiting yang biasanya sangat keras. Pertanyaannya adalah mengapa cangkang kepiting soka itu lunak banget? Apakah ini alami atau diberi perlakuan khusus supaya lunak?

Karena penasaran, maka saya menyempatkan diri melihat ke tambak dimana kepiting soka dihasilkan di Kota Tarakan.

Jawabannya ternyata tidak terlalu ribet. Masyarakat yang menangkap kepiting di laut atau hutan bakau menyortir kepiting hasil tangkapannya. Kepiting ukuran besar akan dijual langsung dalam keadaan hidup atau mati, tetapi yang berukuran kecil harganya lebih murah jika dijual dalam bentuk segar. Berdasarkan pertimbangan ekonomi, kepiting ukuran kecil ini dijual ke para pemilik tambak yang memproduksi (saya cenderung menggunakan istilah ‘produksi’ daripada ‘budidaya’ untuk kasus ini) kepiting soka, tapi harus dalam keadaan hidup karena akan digunakan sebagai ‘bibit’.

Bibit kepiting ini kemudian dibawa ke tambak untuk dijadikan kepiting soka. Cangkang yang keras harus ‘diganti’ dengan cangkang yang lunak (Jadi bukan cangkang yang semula keras diberi perlakuan agar cangkang tersebut menjadi lunak). Agar kepiting mengganti cangkangnya, maka kepiting tersebut diberi ‘perlakuan’ agar ia terpaksa mengganti cangkangnya. Nah, perlakuannya ini yang tidak tega saya diskripsikan disini. Kalau ibaratkan film, maka perlakuan ini masuk kategori vulgar.

Setelah diberi perlakuan, maka kepiting dimasukkan secara individual ke dalam keranjang persegi dan berlobang yang berukuran cukup leluasa untuk seekor kepiting. Keranjang yang telah berisi masing-masing satu ekor kepiting disusun dirakit yang diberi pengapung sehingga tidak tenggelam. Posisi masing-masing kerangjang, separuh tenggelam dan separuh di atas permukaan air. Kepiting diberi makan selama proses perangsangan untuk penggantian cangkang. Butuh waktu tunggu sekitar 10 sampai 20 hari untuk kepiting mengganti cangkangnya.

Selama periode dimana kepiting akan mengganti cangkangnya, maka observasi satu per satu dilakukan secara intensif, yakni 3 kali/hari (pagi, sore, dan malam). Hal ini sangat krusial, karena cangkang kepiting masih lunak hanya beberapa saat setelah ia keluar melepaskan diri dari cangkang lamanya yang keras. Saat kepiting keluar inilah kepiting tersebut dipanen, yakni saat cangkangnya masih lunak dan belum mulai untuk mengeras kembali. Setelah dipanen, kepiting soka ini perlu segera dibekukan agar proses pengerasan cangkang tidak berlanjut.

Ini cerita langsung dari lapangan. Saya akan koreksi jika ada kekeliruan. Mohon masukan/koreksi jika anda lebih memahami mengenai hal ini.

Kepiting Soka 0

Kepiting Soka 1

Kepiting Soka 2

Kepiting Soka 3

Kepiting Soka 4

Kepiting Soka 5

Kepiting Soka 6

Kepiting Soka 7

Indonesia 150: Konservasi Hutan Bakau Tarakan


Hutan bakau atau hutan mangrove adalah hutan di lahan rawa payau yang dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini umum dijumpai di pantai teluk yang terlindung dari ombak besar atau di muara sungai di mana sedimentasi lumpur terbentuk. Tidak banyak jenis spesies tumbuhan yang dapat tumbuh baik pada ekosistem hutan bakau ini, karena harus mampu beradaptasi pada kondisi pantai berlumpur (tergenang atau jenuh air, sehingga aerasi tanahnya buruk dan miskin oksigen), pengaruh salinitas tinggi dari air laut, dan terpaan ombak.

Spesies yang umum dijumpai mempunyai karakteristik antara lain mempunyai sistem perakaran tunjang untuk tetap dapat berdiri tegak menghadapi terpaan ombak (Rhizophora spp.), mempunyai akar napas yang muncul dari dalam lumpur ke permukaan sebagai cara menyerap oksigen langsung dari udara (Avicennia spp. dan Sonneratia spp.). Untuk mengatasi salinitas yang tinggi, tumbuhan bakau mengeluarkan kelebihan garam melalui kelenjar di bawah daunnya, mengembangkan sistem perakaran yang hampir tak tertembus air garam, atau garam diakumulasikan di daun tua dan akan terbuang bersama gugurnya daun.

Fungsi utama hutan bakau adalah untuk melindungi pantai dari abrasi atau pengikisan, selain menjadi habitat utama bagi beberapa spesies fauna.

Indonesia mempunyai kawasan hutan bakau terluas di dunia. Luas hutan bakau Indonesia ditaksir antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar atau mencapai 25 persen dari total luas mangrove dunia. Di Indonesia, hutan-hutan mangrove yang luas terdapat di pantai timur Sumatera, pantai barat dan selatan Kalimantan, pantai utara Jawa, dan pantai barat daya Papua, terutama di sekitar Teluk Bintuni. Mangrove di Papua mencapai luas 1,3 juta ha, sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia.

Namun untuk melihat langsung hutan bakau yang masih alami dan mudah dicapai, maka anda dapat mengunjungi Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan di dalam kota Tarakan. Kendaraan anda bisa parkir langsung di depan pintu gerbang hutan mangrove ini. Beberapa hotel berada pada jarak tempuh berjalan kaki kurang dari 15 menit. Total luas kawasan konservasi ini mencapai sekitar 22 hektar. Selain melihat berbagai spesies tumbuhan hutan bakau, pengunjung juga bisa melihat monyet bekantan di habitat aslinya disini dan beberapa jenis satwa lainnya.

Mangrove Tarakan 1

Mangrove Tarakan 2

Mangrove Tarakan 3

Mangrove Tarakan 4

Mangrove Tarakan 5

Mangrove Tarakan 6

Mangrove Tarakan 7

Mangrove Tarakan 8

Mangrove Tarakan 9

Indonesia 149: Bekantan di Tarakan


Bekantan (Nasalis larvatus) hanya dijumpai di Pulau Kalimantan (selain di wilayah Indonesia, juga di wilayah Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam). Merupakan satwa endemik di hutan bakau, rawa, dan hutan pantai. Bekantan menghabiskan sebagian besar waktunya di atas pohon dan hidup dalam kelompok yang berjumlah sampai sekitar 30-an ekor dengan hanya satu jantan dewasa dalam setiap kelompok. Jantan yang beranjak dewasa akan memisahkan diri dari kelompoknya.

Bekantan merupakan maskot fauna Provinsi Kalimantan Selatan. Berkurangnya kawasan hutan yang menjadi habitat bekantan dan penangkapan liar telah menyebabkan populasi satwa ini diperkirakan terus menurun di habitat alaminya. Sekarang sudah dikategorikan sebagai satwa yang ‘terancam punah’.

Bekantan 01

Bekantan 02

Bekantan 03

Bekantan 04

Bekantan 05

Bekantan 06

Bekantan 07

Bekantan 08

Indonesia 122: Pasar Tradisional di Lantai Bawah Hotel Berbintang


Belum pernah saya melihat ada pasar basah tradisional yang menjual ikan, daging, ayam, dan sayuran yang terintegrasi dalam satu bangunan dengan hotel berbintang, kecuali di Balcony City, Balikpapan. Selain itu di komplek bangunan ini ada juga mall. Namun mall-nya sepi pengunjung dan banyak toko yang tutup. Beberapa restoran masih buka, tersebar di berbagai lantai, tidak mengumpul di satu lantai.

Saya lebih fokus untuk melakukan observasi pada bagian pasar tradisional yang menjual ikan dan pangan laut lainnya. Di pasar ini dijual berbagai jenis ikan basah, sebagian juga ada yang dalam kondisi hidup, tetapi sangat terbatas yang menjual produk ikan olahan. Ada yang menjual potongan sirip ikan pari yang diasap. Jenis ikan yang dijual termasuk ikan laut hasil tangkapan (tenggiri, bawal, ikan karang, udang, kepiting, dan cumi); ikan budidaya air payau (bandeng); dan ikan air tawar (gabus, lele).

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Indonesia 121: Sembilang, Samboja, Kutai Kartanegara


Kegiatan ekonomi yang utama di Desa Tanjung Sembilang, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara adalah dari sektor perikanan, mencakup perikanan tangkap maupun budidaya. Di wilayah desa ini banyak dijumpai tambak tradisional untuk budidaya udang dan ikan air payau, seperti bandeng. Tambak di desa ini masih sangat tradisional, tanpa aerator untuk meningkatkan kadar oksigen air tambak.

Penangkapan ikan dilakukan dengan beragam cara, termasuk menggunakan jaring trawl. Hasil tangkapan sangat beragam, termasuk udang, kepiting, ubur-ubur, dan ikan. Penyortiran hasil tangkapan dilakukan oleh para perempuan di desa ini. Perempuan yang menyortir hasil tangkapan ini ada yang diupah tapi ada juga dari anggota keluarga nelayan yang menangkap. Jenis tangkapan yang mempunya nilai ekonomi utama adalah udang dan kepiting. Udang setelah disortir berdasarkan jenis dan ukurannya, kemudian dijual dalam bentuk basah (tapi sudah mati); sedangkan kepiting sebagian dijual masih dalam keadaan hidup. Kepiting hidup diikat dengan lidi daun kelapa muda (sehingga masih lentur) agar tidak melarikan diri dan capitnya membahayakan konsumen.

Udang ‘rebon’ yang halus dan berukuran kecil umumnya dikeringkan atau diolah lebih lanjut menjadi bahan pangan tradisional, misalnya terasi. Ikan yang lebih besar diolah menjadi ikan asin dan dijemur di bawah cahaya matahari. Ikan ‘runcah’ (sisa, kecil, tidak layak jual) dikeringkan. Setelah kering dijual sebagai bahan baku pembuatan pakan ternak maupun ikan budidaya.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

%d blogger menyukai ini: