Benyamin Lakitan

Beranda » Photography » Travel

Category Archives: Travel

Indonesia 154: Pantai Banua Patra, Balikpapan


Kota Balikpapan berada di semenanjung. Di titik paling ujung semenanjung Balikpapan inilah posisi Pantai Banua Patra. Lahan wilayah pantai ini merupakan bagian dari aset Pertamina, tetapi terbuka akses bagi publik, masyarakat Balikpapan dan pengunjung lainnya. Dari Pantai ini pengunjung bisa menikmati pemandangan matahari terbenam (sunset). Pada hari libur dan pada akhir pekan, lokasi pantai ini ramai dikunjungi, terutama oleh para remaja. Berbeda dengan umumnya pantai di pesisir Kota Balikpapan lainnya yang terdiri dari hamparan pasir, di Pantai Banua Patra banyak dijumpai batu-batu alam yang berukuran besar, yang melindungi garis pantai di ujung semanjung Balikpapan dari abrasi laut.

Pantai Banua Patra Balikpapan 1

Pantai Banua Patra Balikpapan 2

Pantai Banua Patra Balikpapan 3

Pantai Banua Patra Balikpapan 4

Pantai Banua Patra Balikpapan 5

Indonesia 147: Bukit Tangkiling, Kalimantan Tengah


Bukit Tangkiling terletak tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan Kota Palangka Raya dengan Kasongan (ibukota Kabupaten Katingan), Kalimantan Tengah. Jarak dari pusat Kota Palangka Raya kurang lebih 34 Km, atau dapat ditempuh kurang dari 30 menit.

Bukit Tangkiling merupakan bukit batu. Banyak batu berukuran besar (boulder) yang terdapat di lokasi ini. Salah satunya adalah Batu Banama yang berbetuk seperti perahu besar. Ada legenda yang dikaitkan dengan Batu Banama ini. Dalam kisah legenda tersebut, dahulu batu itu memang merupakan sebuah perahu, yang karena melakukan pelanggaran maka dikutuk menjadi batu.

Di lokasi ini juga terdapat banyak tempat bagi masyarakat untuk memberikan sesajian, berbentuk miniatur rumah, dan disebut oleh masyarakat lokal sebagai keramat. Selain itu, di punggung bukit ini juga telah dibangun sebuah pura yang dinamakan Pura Sali Paseban, dibangun tahun 2007.

Bukit ini sesungguhnya tidak terlalu tinggi, tetapi lumayan terjal untuk didaki.

Bukit Tangkiling 1 - Batu Banama

Bukit Tangkiling 2 - Keramat

Bukit Tangkiling 3 - Pura Sali Paseban

Bukit Tangkiling 4 - Rute Pendakian

Bukit Tangkiling 5 - Penjaga Bukit

Bukit Tangkiling 6 - Pemandangan dari Atas Bukit

Indonesia 142: Pelabuhan Bima


Pelabuhan laut masih merupakan prasarana transportasi yang penting bagi Kota Bima maupun Pulau Sumbawa. Fungsi pelabuhan laut termasuk sebagai gerbang perekonomian daerah setempat: pengiriman komoditas dan produk yang dihasilkan Sumbawa, pintu masuk bagi berbagai produk yang dibutuhkan masyarakat, penunjang mobilitas penduduk, dan pintu masuk bagi sebagian wisatawan yang berkunjung ke Sumbawa bagian Timur. Walaupun mungkin saat ini lebih banyak yang masuk melalui bandara dengan semakin terjangkaunya biaya perjalanan udara dan semakin meningkatkan frekuensi penerbangan dari dan ke Bima. Produk yang diangkut dari Pelabuhan Bima termasuk garam, bawang merah, dan ternak besar.

Pelabuhan Bima pertama dibangun pada tahun 1963. Saat ini mengelola lahan seluas sekitar 37 hektar. Pelabuhan ini memiliki dermaga samudera sepanjang 142 meter dan dermaga pelayaran rakyat sepanjang 50 meter untuk bongkar muat barang ekspedisi dan pelayaran, serta terminal penumpang sepanjang 200 meter untuk embarkasi dan debarkasi. Pengelolaan pelabuhan dilakukan oleh Pelindo III yang berkantor pusat di Surabaya.

Pelabuhan Bima 1

Pelabuhan Bima 2

Pelabuhan Bima 3

Pelabuhan Bima 4

Pelabuhan Bima 5

Pelabuhan Bima 6

Pelabuhan Bima 7

Indonesia 141: Asi Mbojo, Bima


Pada awal abad ke 17, masyarakat Bima masih memeluk agama Hindu. Kemudian setelah Raja Bima XXVII menikah dengan adik dari isteri Sultan Makassar Alauddin bernama Daeng Sikontu, ia memeluk agama Islam pada tahun 1640. Setelah memeluk agama Islam, ia diberi gelar Sultan, dan sejarah mencatatnya sebagai Sultan Bima I atau dikenal juga sebagai Sultan Abdul Kahir. Sejak itu, ajaran agama Islam menyebar luas di Bima dan sekarang menjadi agama mayoritas yang dianut masyarakat Bima.

Jejak perkembangan peradaban Islam di Bima terlihat dari keberadaan masjid di lingkungan istana Kesultanan Bima yang dibangun oleh Sultan Abdul Kadim Muhammad Syah, Sultan Bima VII pada tahun 1737. Masjid ini masih ada sampai sekarang, walaupun mungkin dengan berjalannya waktu masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Sekarang masjid ini dikenal sebagai Masjid Sultan Muhammad Salahuddin.

Istana Kesultanan Bima juga disebut Asi Mbojo, yang dalam bahasa lokal berarti tempat keluarnya sesuatu, yakni berupa hukum pemerintahan aturan-aturan dalam bermasyarakat dan sebagainya, semuanya terpusat di dalam Asi, bisa dikatakan istana sebagai pusat pemeritahan, sedangkan Mbojo adalah nama suku yang ada di Bima.

Istana ini sekarang sudah berubah fungsi menjadi museum, yang dulunya sempat tidak terwat, dan diambil alih oleh pemerintah pada tahun 1986 Bupati Bima H. Umar Harun, kemudian dijadikan museum, peninggalan kesultanan bima dapat dilihat juga di Istana, beberapa koleksi kesultanan Bima, yaitu mahkota emas Sultan, Keris Sultan, dan lain-lain.

Salah satu jejak peradaban Islam di Bima adalah Masjid Kesultanan Bima yang terletak di pusat Kota Bima. Masjid berusia tiga abad yang masih berdiri kokoh di tepi alun-alun kota, yang disebut warga setempat sebagai Lapangan Sera Suba, itu Pembangunan selanjutnya dilakukan oleh putranya, Sultan Abdul Hamid, yang mengubah bentuk atap rumah ibadah itu menjadi atap bersusun tiga, mirip atap Masjid Menara Kudus di Jawa Tengah.

Asi Mbojo 1

Asi Mbojo 2

Asi Mbojo 4

Asi Mbojo 5

Asi Mbojo 6

Indonesia 138: Sunset at Takat Segele, Moyo


Takat Segele merupakan undakan pecahan karang keras (hard coral) yang sudah mati berada di tengah laut, namun tidak terlalu jauh dari Desa Labuhan Aji. Hanya sekitar 15 menit dengan perahu nelayan. Bentuk ‘pulau’ karang ini berubah-ubah setiap hari tergantung pada arus dan pasang-surut laut. Pada saat saya berkunjung, bentuknya memanjang seperti punggung ikan paus. Panjangnya hanya sekitar 20 meter dan lebarnya sekitar 2 meter pada sisi terlebar. Karena posisinya di sebelah barat Pulau Moyo, maka Takat Sagele merupakan tempat yang menarik untuk menikmati suasana saat matahari tenggelam (sunset).

Sunset at Takat Sagele 1

Sunset at Takat Sagele 2

Sunset at Takat Sagele 3

Sunset at Takat Sagele 4

Indonesia 132: Sunrise at Tanjung Pasir, Moyo


Tanjung Pasir merupakan salah satu lokasi yang menarik di Pulau Moyo, sekaligus juga merupakan lokasi terdekat dari daratan Sumbawa. Dari kampung nelayan Ai Bari (di daratan Sumbawa) hanya butuh waktu sekitar 20 menit untuk mencapai Tanjung Pasir yang terletak diujung selatan Pulau Moyo. Secara visual, anda bisa melihat Pantai Tanjung Pasir ini dari Kampung Ai Bari. Sedangkan dari Kota Sumbawa Besar butuh waktu sekitar 1 jam jalan darat untuk mencapai Kampung Air Bari.

Di Tanjung Pasir ini hanya ada bangunan pos Balai Konservasi Sumber Daya Alam, tidak ada bangunan lain. Menurut info masyarakat, sebelumnya ada pihak yang membuat fasilitas akomodasi di lokasi ini tetapi sekarang sudah tidak ada lagi bekasnya.

Waktu yang paling pas untuk mengunjungi lokasi ini adalah sebelum matahari terbit, sehingga bisa menikmati momen matahari terbit (sunrise) dari pantai ini dengan silhuet Gunung Tambora.  Saat saya berada disini, ada bonus bulan yang kesiangan 🙂

Sunrise - Tanjung Pasir Moyo 1

Sunrise - Tanjung Pasir Moyo 2

Sunrise - Tanjung Pasir Moyo 3

Sunrise - Tanjung Pasir Moyo 4

Sunrise - Tanjung Pasir Moyo 5

Indonesia 129: Gunung Bromo, Jawa Timur


Gunung Bromo termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, berada dalam wilayah Propinsi Jawa Timur. Status sebagai taman nasional ditetapkan pada tahun 1982 dengan luas kawasan lebih dari 50 ribu hektar. Taman nasional ini merupakan kawasan perbatasan antara Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo, sehingga untuk memasuki wilayah ini dapat melalui salah satu dari 4 kabupaten tersebut.

Saya sudah pernah dua kali mengunjungi Gunung Bromo. Pertama melalui Malang dan menginap di Cemoro Lawang. Kedua melalui Pasuruan dan menginap di kota Pasuruan. Kelihatannya pintu masuk yang paling ideal adalah melalui Pasuruan karena sudah ada jalan aspal langsung ke Penanjakan, tempat favorit bagi wisatawan untuk menikmati matahari terbit dan sekaligus juga untuk menikmati pemandangan ke arah Gunung Batok, Gunung Bromo, dan Gunung Semeru di latar belakang.

Ada beberapa catatan penting jika ingin maksimal menikmati keindahan Gunung Bromo. Pertama, sebaiknya memesan terlebih dahulu kendaraan untuk memasuki wilayah ini, yakni kendaraan 4×4, karena butuh kendaraan ‘double gardan’ untuk jalanan yang terjal mendaki dan tutunan yang curam. Kendaraan biasa tidak diperkenankan memasuki wilayah ini. Kendaraan ini dapat disewa di Pasuruan, Probolinggo, maupun Malang. Sewa kendaraan tersebut adalah beserta sopirnya. Sebaiknya anda tidak mencoba menyetir sendiri walaupun mobil anda juga double gardan karena kondisi jalannya yang sempit, banyak tikungan tajam, dan ditepi jurang.

Kedua, pastikan bahwa anda akan sudah sampai ke puncak tempat melihat matahari terbit di bukit Penanjakan sebelum jam 5.00 pagi. Jika anda terlambat maka anda akan kehilangan kesempatan untuk menikmati matahari terbit dan kadang setelah matahari terbit kabut akan mulai menyelimuti kawasan ini sehingga menghalangi pandangan atau mengurangi visibilitas.

Ketiga, urutan spot yang dikunjungi adalah pertama ke Penanjakan, setelah itu melihat kawah Gunung Bromo, baru kemudian mengeksplorasi spot-spot yang lainnya. Untuk melihat kawah Bromo, dari tempat parkir mobil, dapat memilih untuk langsung berjalan kaki atau naik kuda (sewa) sampai ke pangkal tangga mendaki ke bibir kawah.

Keempat, jangan lupa bawa jaket atau baju hangat karena udara pada subuh hari di kawasan ini lumayan dingin, tapi kemudian lumayat panas pada saat matahari sudah bersinar terik. Wilayah ini tergolong gersang oleh sebab itu suhunya akan dingin pada malam hari tapi panas pada tengah hari.

Kelima, tidak perlu bawa bekal makanan karena di Penanjakan banyak warung jajanan dan di spot-spot yang lain juga ada masyarakat yang menjajakan makanan dan minuman.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

%d blogger menyukai ini: