Benyamin Lakitan
Follow Benyamin Lakitan on WordPress.com

Top 5 Posts

Pertanian Berbasis Sumberdaya & Kearifan Lokal 02 – Urgensi, Legalitas, Konsepsi


Pada kuliah pertama telah disampaikan tata tertib perkuliahan, ulasan ringkas tapi menyeluruh (overview) tentang substansi yang akan disampaikan, dan tata cara evaluasi hasil pembelajaran mata kulian ini.

Pada kuliah yang kedua ini disampaikan tentang urgensi, aspek legalitas, dan konsepsi dasar tentang pertanian yang berbasis sumberdaya dan kearifan lokal. Sejalan dengan berjalannya waktu, semakin menguatkan kekhawatiran terkait dengan kecenderungan yang tengah berlangsung saat ini. Teknologi pertanian semakin maju tetapi kemajuan tersebut tidak mempengaruhi tingkat kesejahteraan petani, sebagai aktor utama pembangunan pertanian, termasuk sebagai pelaku utama produksi pangan. Perkembangan teknologi dirasakan semakin menjauh dari realitas kebutuhan dan daya jangkau petani atau dengan kata lain teknologi yang dikembangkan sering tidak relevan dengan kebutuhan petani dan tidak sepadan dengan kapasitas adopsi petani. Akibatnya teknologi tidak mampu digunakan petani.

Harusnya teknologi dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, kapasitas adospi, dan preferensi petani, serta berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Upaya mewujudkan teknologi yang relevan bagi petani, akan lebih realistis jika teknologi dikembangkan berbasis pada kondisi sumberdaya lokal dan dikembangkan lanjut dari kearifan lokal yang sudah sangat dikenali petani.

Secara lengkap bahan kuliah ini bisa diunduh disini pertanian-berbasis-sumberdaya-kearifan-lokal-02

Iklan

Landscape Ecology 11-12: Ecology of Arid Landscape


Indonesia is mostly known as an Archipelagic country or a maritime continent with tropical humid climate. However, there is part of Indonesia, i.e. East Nusa Tenggara islands, can be classified as an arid ecosystem. Annual rainfall in this area is very low with very long dry period. Natural vegetation is limited and biodiversity is much less than typical tropical humid ecosystem. This course covers definition and description of arid landscape, aridity index and its use for classification of the arid zones, types of natural vegetation commonly observed in the arid climate, agricultural activities and animal husbandry, survival mechanisms of xerophytic plants, and classification of arid landscaped based on natural vegetation.

Slides for this course can be downloaded here: landscape-ecology-11-12

Slide 63: Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Program Studi Agroekoteknologi


Program studi agroekoteknologi atau agroteknologi merupakan program studi di lingkungan fakultas pertanian yang ‘diciptakan’ sebagai respon terhadap semakin merosotnya minat lulusan SMA yang berminat untuk mendaftar pada program-program studi konvensional yang ditawarkan oleh fakultas-fakultas pertanian di Indonesia setelah memasuki era abad ke 21. Namun pada tahun 2015 mulai banyak PTN yang ‘menghidupkan kembali’ program-program studi yang sebelumnya menjadi pilar penopang Program Studi Agroekoteknologi, yakni Program Studi Agronomi, Program Studi Ilmu Tanah, dan Program Studi Hama dan Penyakit Tumbuhan. Dengan adanya dinamika ini dan keharusan untuk minimal 60 persen matakuliah harus berbeda antara program studi yang ada dalam institusi yang sama, maka kurikulum S1 Program Studi Agroekoteknologi perlu ditata ulang.

Berikut ini bahan lokakarya dalam kaitan dengan revisi kurukulum tersebut. Bahan presentasi dapat diunduh disini: Lokakarya Revisi Kurikulum AET 2016

Paper 33: Menelusuri Realitas Kebutuhan Petani Menggunakan Grounded Theory dan Pengembangan Teknologi dengan Pendekatan Transdisciplinary


Satu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah banyaknya hasil riset dan pengembangan teknologi di Indonesia yang tidak atau belum dimanfaatkan oleh para pihak yang menjadi pengguna sasarannya, termasuk di bidang pertanian. Hal ini sering disebabkan karena substansinya tidak relevan dengan realita kebutuhan petani; atau secara substansial sudah relevan tetapi terlalu mahal investasi awal atau biaya operasional untuk penggunaannya; atau penggunaan teknologi tersebut tidak memberikan keuntungan lebih baik dibandingkan dengan praktek yang selama ini telah digunakan petani; atau secara teknis kalah andal dibandingkan dengan teknologi serupa yang sudah ada di pasar. Oleh sebab itu, selayaknya sebelum setiap riset direncanakan, perlu terlebih dahulu dipahami secara tepat dan komprehensif tentang realita kebutuhan dan kapasitas adopsi petani, analisis keekonomiannya, serta pembandingan keandalannya secara objektif dengan teknologi tersedia yang potensial menjadi kompetitornya. Upaya menelusuri realita kebutuhan petani dapat dilakukan dengan berpedoman pada prinsip grounded theory. Selanjutnya, berbasis pada pemahaman yang tepat dan komprehensif tentang kebutuhan ini, kemudian dikembangkan teknologi berbasis kebutuhan (demand-driven) melalui pendekatan transdisciplinary dengan mengintegrasikan perspektif ekologi, ekonomi, dan sosiokultural sebagai tiga pilar utama untuk mewujudkan keberlanjutan (sustainability) sistem produksi pertanian. Teknologi yang dihasilkan ditargetkan memenuhi kriteria: substantially-relevant, economically-profitable, dan socially-inclusive.

Secara lengkap makalahnya bisa dibaca atau diunduh disini: Menelusuri Realita Kebutuhan Petani Menggunakan Grounded Theory dan Transdisiplin

Matrikulasi ITN 02: Pertanian Produktif, Ekologis, dan Menyejahterakan


Persoalan pertanian saat ini bukanlah hanya terkait dengan upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman atau produksi nasional semata, tetapi harus juga secara komprehensif dan terintegrasi dengan upaya melestarikan fungsi ekosistem agar usaya produksi pertanian ini dapat berkelanjutan. Selanjutnya, usaha pertanian yang produktif dan akrab-ekologi belum tentu dapat dijamin keberlanjutannya, jika tidak mampu sekaligus membuka peluang bagi semua pihak yang potensial untuk dapat berpartisipasi langsung dan aktif.

Ibaratkan tungku dengan tiga kaki, pertanian berkelanjutan harus secara harmonis dan proporsional didukung oleh tiga pilar iptek, yakni teknologi yang secara substansial relevan, secara finansial terjangkau, dan secara sosial-politik bersifat inklusif.

Bahan matrikulasi tentang pertanian yang produktif, ekologis, dan menyejahterakan petani dapat dilihat, dibaca, atau diunduh disini: 20160114 Pertanian produktif, ekologis, dan menyejahterakan

Matrikulasi ITN 01: Soil-Water-Crop-Atmosphere Continuum


Fungsi tanah dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman, serta kegiatan produksi komoditas pertanian, telah banyak diajarkan di berbagai institusi pendidikan tinggi. Demikian juga dengan fungsi air dan unsur-unsur iklim. Tetapi umumnya pembelajaran dilakukan secara tercerai dan tidak dilihat sebagai sebuah sistem yang saling terkait, apalagi untuk memberikan penekanan tentang keterkaitan antara tanah, air, dan iklim yang mempengaruhi tumbuh kembang tanaman. Aspek keterkaitan ini sebetulnya merupakan pemahaman yang perlu diberikan sejak awal, terutama pada jenjang pendidikan magister, apalagi program doktor.

Bahan matrikulasi tentang keterkaitan tanah-air-tanaman-iklim dapat dilihat disini: 20160112 Soil-Water-Crop-Atmosphere Continuum

Pengantar Ilmu Pertanian 13: Pertanian Berkelanjutan


Pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) adalah sistem budidaya pertanian yang mengupayakan hasil yang optimal diimbangi dengan upaya melestarikan fungsi ekologis lingkungan dan peningkatan kesejahteraan petani pelakunya. Pertanian berkelanjutan menjaga keserasian antara tujuan ekonomi (produktivitas) dengan kesadaran ekologis (sustainabilitas) dan kesempatan bagi petani untuk berperan aktif (inklusivitas) sehingga dapat meningkatkan kesejahteraannya secara berkelanjutan. Pertanian berkelanjutan adalah pertanian dengan pendekatan ekosistem.

Keuntungan pertanian berkelanjutan antara lain: [1] Preservasi lingkungan, karena penggunaan agrokimia (pestisida, pupuk anorganik) ditekan seminimal mungkin, tidak menggunakan benih GMO, dan praktek pengelolaan tanah, air, dan sumberdaya alam lainnya yang dapat menyebabkan degradasi kualitas lingkungan; [2] Kesehatan masyarakat, karena residu agrokimia sangat minimal, produk yang dihasilkan aman dikonsumsi, proses budidaya aman bagi petani, dan tidak mencemari lingkungan perairan. Untuk ternak, antibiotik dan pemacu pertumbuhan yang digunakan juga tidak mengandung unsur atau senyawa yang beresiko bagi kesehatan manusia; [3] Kesejahteraan ternak (animal welfare), karena ternak diperlakukan dengan baik (care and respect). Kesehatan dan kenyamanan ternak diperhatikan. Ternak dapat bergerak bebas dan berprilaku alami (instinctive) di alam terbuka serta mengkonsumsi pakan sehat dan alami sehingga ternak tidak mengalami stres; dan [4] Kesejahteraan dan kenyamanan atmosfer kerja, karena petani/pekerja menerima upah yang wajar dan fair serta lingkungan kerja yang sehat.

Slide untuk materi kuliah ini bisa diunduh disini: Materi 13 Pertanian Berkelanjutan

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 5.435 pengikut lainnya

Calendar

Desember 2017
S S R K J S M
« Mei    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Visitor

free counters

Blog Stats

  • 247,667 hits
%d blogger menyukai ini: